Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
57


__ADS_3

Gama, Luna, Anna, Ferdi dan ketiga manusia tampan sudah sampai di Jakarta. Dengan menaiki pesawat pribadi milik Gama mereka mendarat dengan aman di Ibu Kota Negara Indonesia itu.


Mereka disambut oleh dua puluh bodyguard yang sudah menunggu kedatangan mereka.


Luna dan Gama berada dalam satu mobil yang sama.


Ferdi dan Anna duduk di mobil lain begitu juga dengan Ken, Aiden dan Bima. Mobil mereka dikawal ketat sesuai dengan arahan oleh Mark yang tidak ingin tuannya mengalami masalah meskipun memang tidak akan ada yang berani berbuat masalah pada singa lapar itu.


Luna menatap kota itu dengan berbinar-binar, selama ini ia hanya bisa melihat kota metropolitan itu dari layar kaca, kini ia bisa menginjakkan kakinya secara langsung disana, sungguh sebuah hal yang baru bagi gadis itu.


"Wah padat sekali ya!" celetuk Luna yang duduk di samping Gama namun matanya tertuju pada buruk pikuk Ibu kota yang sangat padat meskipun mereka tiba pukul 11 malam.


"Apa kau pernah kesini?" tanya Gama.


Luna menoleh ke arah Gama sambil menggelengkan kepalanya.


"Tidak pernah, aku hanya melihatnya dari televisi, bahakan naik pesawat pun merupakan pengalaman pertamaku heheheh," celetuk Luna dengan wajah cerianya.


"Kalau begitu nikmatilah," ucap Gama sambil tersenyum lembut, sangat lembut sampai membuat supir pribadi dan bodyguard yang mendampingi mereka terkejut bukan main saat melihat senyuman pria tampan itu.


Namun mereka menahan keterkejutan mereka dan tetap fokus dengan jalanan.


"Baru kali ini aku melihat tuan tersenyum seperti itu, bahkan senyumannya sangat tulus," batin supir pribadi yang sudah belasan tahun mengabdi pada keluarga Park.


"Lakukan tugasmu dengan baik jika tak ingin kehilangan nyawamu!" ucap Gama yang langsung berubah datar saat ia mengetahui bahwa anak buahnya melirik mereka padahal cuma sekali namun langsung diketahui oleh Gama.


"Ba...baik tuan!" ucap mereka berdua ketakutan saat melihat perubahan wajah tuannya.


"Kau bicara denganku?" tanya Luna memalingkan wajahnya pada Gama sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Bukan, aku bicara dengan makhluk halus tadi," kilah Gama, mana mungkin ia marah pada gadis yang telah mencuri hatinya itu.


"Ck....dasar pembual, kau harus mengubah sifat kasarmu itu, mereka memang bekerja padamu tapi bukan berarti kau bisa seenak jidat membentak dan mengancam mereka, dasar om-om kurang umur!" ketus Luna sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya dengan tatapan sebal ke arah Gama.


"Ya maaf, aku hanya tidak ingin orang lain melirikmu," jujur saja Gama tidak suka jika miliknya di pandang oleh orang lain.


"Tuh kan dasar aneh, lalu apa gunanya mata kalau bukan untuk melihat ck...ck...ck sepertinya kau harus belajar lagi Gam, aku semakin tidak yakin kalau kau itu benar-benar seorang Presdir," celetuk Luna.


"Ck....terserah," Gama sedikit kesal dengan istrinya yang sangat polos itu, tapi di satu sisi ia bersyukur punya seorang istri yang menegurnya jika ia salah bahkan selalu blak blakan dengan perasaannya.


"Idih ngambek, pak supir, Pak pengawal omongan Gama jangan di ambil hati ya," ucap Luna pada kedua pria di depan mereka.


"eh...i...iya nona," jawab mereka dengan gugup saat melihat tatapan tajam Gama dari belakang kursi yang sangat kelihatan dari spion mobil.


Anna dan Ferdi yang duduk di mobil lain juga menatap takjub dengan kota yang sangat padat itu.


Gama membawa mereka menuju rumah utama keluarga Park yang selama ini ia tinggali sendiri bersama asisten dan para pekerja di rumah itu.


Rombongan mereka tiba, tampak Ken, Aiden, Bima, Ferdi dan Anna sudah memasang wajah bantal, mereka rasanya ingin cepat-cepat terlelap dan mengarungi dunia mimpi.

__ADS_1


Pelayan menyambut kedatangan mereka dan langsung mengarahkan mereka ke kamar yang sudah di siapkan.


Ken, Aiden, Bima, Anna dan Ferdi kini sudah terlelap di dalam kamar masing-masing.


Lain halnya dengan Luna yang sangat semangat, apalagi ia sangat banyak bicara saat melihat banyak hal yang belum pernah ia temui di desa.


Gama masih menemani Luna di luar, ia dengan sabar mendengarkan ocehan Luna yang jika orang lain dengar pasti mengatakan kalau ia sangat norak dan kampungan.


Tapi ya memang Luna dari kampung, gadis itu memang akan selalu mengungkapkan rasa penasarannya apalagi jika ia tertarik dengan sesuatu hal.


Luna menunjuk pohon, bunga, ukiran dan sebagainya sehingga ia terlihat seperti seorang manusia yang sudah lama bertapa di gua.


"Gama itu tanaman apa? " ucapnya sambil menunjuk sebuah pohon besar yang menjulang tinggi ke langit tepat di samping rumah besar nan mewah itu.


"Itu pohon Cemara Luna," jawab Gama kesekian kalinya.


"Wah tinggi sekali ya, lalu kenapa mereka semua berdiri disitu?" tanya Luna sambil menunjuk pengawal yang tampak berjaga di setiap sudut rumah mewah itu.


"Mereka sedang melakukan tugasnya Luna," jawab Gama lagi dengan nada lembut.


Para pelayan yang mendampingi mereka sangat terkejut mendengar tuan mereka bisa berbicara selembut itu apalagi dengan seorang wanita yang mereka ketahui bahwa ia adalah nyonya baru di rumah itu.


"Nona ini pasti akan membawa warna baru dalam rumah yang gelap ini," batin seorang pelayan yang sudah bekerja dengan keluarga Park selama puluhan tahun.


"Wah lalu ini apa?"


Luna kini berdiri di belakang salah satu bodyguard yang berdiri tegak di dekat pintu masuk rumah. Gadis itu menunjuk sebuah kabel hang terpasang di tubuh pria itu.


"Kau jelaskan lah," ucap Gama pada penjaga itu.


"Ah ini namanya earphone nona, kami menggunakannya untuk saling berkomunikasi satu sama lain agar bisa menjaga keamanan rumah ini dengan baik," jawab penjaga itu setelah memundurkan tubuhnya sedikit memberi jarak antara dirinya dengan Luna.


"Ohhh....wah canggih sekali," celetuk Luna lalu matanya mengarah ke kamera pengawas di depan rumah itu padahal kamera itu sangat kecil tapi mata Luna bisa melihat benda kecil itu.


Gama mengikuti arah pandangan Luna, ia sedikit terkejut saat Luna tau letak kamera tersembunyi yang sebenarnya terhubung langsung ke komputer miliknya.


Luna menoleh pada Gama, belum sempat ia bertanya Gam sudah menarik tangannya dan membisikkan sesuatu pada Luna.


"Ohh...oke oke," ucap Luna pelan manggut-manggut mengerti dengan ucapan Gama.


Para pengawal dan pelayan penasaran dengan apa yang di bicarakan oleh tuan dan nona mereka. Mereka melirik tempat yang dilihat oleh Luna namun mereka tak menemukan apa-apa disana.


"Hufftt hampir saja ia membongkar rahasia rumah ini, matanya tajam seperti mata elang, dia persis dengan Ken," batin Gama.


Ken juga sama seperti Luna saat pertama kali datang ke rumah itu saat usianya 15 tahun. Dengan cepat Ken mengetahui letak kamera tersembunyi yang hanya di ketahui oleh Gama dan keluarganya.


Luna dan Gama masuk ke dalam rumah,Luna rasanya tidak lelah sama sekali padahal jam sudah menunjukkan pukul satu malam, dua jam lebih dia mengelilingi rumah itu dengan perasaan takjub.


"Luna apa kau tidak lelah?" tanya Gama yang mulai mengantuk.

__ADS_1


"Tidak, memangnya sudah jam berapa? apa kau lelah?" tanya Luna.


"Aku sedikit lelah, ini sudah pukul satu malam," jawab Gama.


Saat ini mereka berada di ruang perpustakaan, mata Luna semakin berbinar saat melihat banyak buku disana tersusun dengan rapi dari bagian atas hingga bawah dengan warna-warna yang sudah disusun sedemikian rupa.


"Apa!!"


Luna membelalakkan matanya saat mendengar ucapan Gama. Bagaimana ia bisa tidak sadar kalau ini sudah jam satu malam.


Luna mendekati Gama sambil menepuk jidatnya sendiri dan merutuki dirinya yang sampai tidak fokus dengan waktu.


"Bodoh kau Luna, dasar bodoh....aduhh...dasar kampungan!!" ledek Luna pada dirinya sendiri.


Tingkah Luna membuat para pelayan yang menemani mereka mengulum senyum karena tidak tahan dengan tingkah gadis cantik itu.


"Aduh kalian jadi tidak istirahat, maafkan aku ya," ucap Luna pada lima pelayan dan dua pengawal yang mendampingi mereka.


"Tidak apa nyonya, sudah menjadi tugas kami," jawab kepala pelayan.


"Aduh maaf banget, ya sudah ayo semuanya istirahat," ucap Luna.


"Silahkan ikut saya nona," ucap Kepala pelayan wanita separuh baya itu pada Luna.


"Kalian beristirahatlah Bi Eni, kami akan ke kamar di lantai satu," ujar Gama pada Bi Eni kepala pelayan itu.


"Baik tuan, kalau begitu kami permisi, Selamat Malam tuan, nyonya," ucap Bi Eni sambil membungkuk hormat diikuti oleh pelayan dan penjaga lainnya.


Gama menuntun Luna menuju kamarnya di lantai satu, kamar yang ia gunakan selama ini.


Pakaian dan kebutuhan mereka sudah disiapkan di dalam kamar itu dan sangat lengkap tentu ini atas perintah Mark.


Karena kamar itu sudah disesuaikan untuk kebutuhan Gama maka Luna tidak terlalu repot membantu mengangkat tubuh Gama.


Seperti biasa Luna akan memijat kaki Gama sebentar, walaupun Gama menolak Luna tetap bersikukuh untuk melakukannya.


Luna selalu membawa minyak terapi dan obat Gama di dalam tasnya sebagai persediaan. Pijatan lembut Luna berhasil membuat Gama terlelap. Pria itu sepertinya sangat kelelahan.


Setelah dirasa cukup, Luna menyelesaikan pijatannya dan memperbaiki selimut suaminya. Ia juga sudah lelah, Luna membaringkan tubuhnya di samping Gama.


Entah karena sengaja atau memang sudah biasa, Gama langsung memeluk tubuh Luna begitupun juga Luna yang membalas pelukan itu.


Mereka terlelap.


.


.


.

__ADS_1


like, vote dan komen 😊😉


maaf up lambat


__ADS_2