Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
121


__ADS_3

Pyarrrr


Deg.....deg....deg


Bagai terkena tamparan yang sangat keras Ken tersengal dengan ucapan Luna. Dia benar benar menyesali perbuatannya.


Bima bergerak cepat dia tidak mau dicueki oleh Luna. Dengan cepat Bima menarik tangan Luna dan membawanya ke ruang perpustakaan.


"Na kita perlu bicara," ucap Bima seraya menarik Luna dengan pelan agar gadis itu tidak kesakitan.


Luna diam dan menurut saja, dia tidak menolak hanya saja wajahnya kesal karena ditarik tiba-tiba oleh Bima.


Dalam ruangan itu Bima berbicara pada Luna empat mata.


"Na kakak minta maaf atas ucapan kakak tadi, please jangan diamkan kakak, kakak cuma khawatir dengan suamimu dia punya trauma besar, kami nggak mau dia kenapa-kenapa itu saja," jelas Bima oanajng lebar.


" Tapi kakak seharusnya gak boleh ngomong begitu, gimana coba perasaan kakak kalau ada yang mengatakan hal seperti itu di depan kakak," gerutu Luna.


"Iya kakak salah makanya kakak minta maaf," ucap Bima dengan wajah memelas.


"Huuffttt fuuuhh, Luna maafin kalau kakak juga minta maaf sama kak Alex!"ucap Luna.


Bima seketika itu tersenyum, wajahnya kembali ceria .


"Baiklah kakak akan minta maaf sekarang, kakak janji gak bakal ulangin lagi" ucap Bima sambil mengangkat tangannya berjanji di depan Luna.


Luna tersenyum," Baiklah Kak, maaf juga sudah berkata kasar pada kakak, Luna kesal tadi," ucapnya yang juga menyadari kata katanya yang kasar.


Bima tersenyum, dia benar-benar senang dengan sosok gadis itu, rasanya seperti memeiliki seorang adik yang harus dilindungi.


"Ga apa apa, toh kakak juga salah, kalau gitu kakak bicara sama Alex dulu ya," ucap Bima dengan senyum sumringah.


"Iya kak," jawab Luna sambil tersenyum manis.


"Uhhh gemesnya adik kecilku ini!" Seru Bima sambil mengacak acak rambut Luna.


Bima keluar dari ruang baca, dia berpapasan dengan Ken yang ternyata menunggu mereka di luar sedari tadi.


"Bro kau harus berusaha mengambil hatinya, dia terlanjur sakit hati, " ucap Bima sambil menepuk bahu Ken.


Ken menghela nafas, dia masuk ke dalam ruang baca persis seperti anak kuliah yang akan menghadapi sidang akhir menegangkan.


Melihat kedatangan Ken, Luna cepat-cepat melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu, dia benar-benar sakit hati dengan ucapan kakaknya.


Belum sempat Luna keluar, Ken menahan tangannya hingga gadis itu terdiam lalu melepaskan tangan Ken dengan kasar.


"Lepas tuan!" Ucap Luna dengan tegas tanpa menatap Ken.

__ADS_1


"Nggak sebelum kamu bicara sama kakak!" Ucap Ken tak kalah tegas, dia tetap menggenggam tangan Luna dengan erat tidak mau membiarkan gadis itu pergi.


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan tuan!" Tegas Luna lagi dengan wajah benar benar kecewa.


"Luna! Aku kakakmu bukan tuanmu!" Ucap Ken sedikit berteriak.


"Lepaskan aku....lee.....paasss......kaaannn!!" Rintih Luna sambil berusaha melepaskan pegangan Ken di pergelangan tangannya.


"Nggak, kita harus bicara Na," ucap Ken dengan nada memaksa.


"Nggak mau, hiks hiks hiks, kau jahat kau ....kau sangat jahat, lepaskan aaakuuuu, aku bukan siapa siapa bagimu hiks hiks hiks,"Luna menangis sambil berjongkok dia atas lantai sementara tangannya yang satu di pegang oleh Ken dengan erat.


Ken melepaskan tangannya dari pergelangan Luna, dia mendekat dan ikut berjongkok di samping Luna.


Tampak bahu gadis itu bergetar dengan hebatnya, dia menangis tersedu-sedu.


"Maaf Na, maaf kakak mengaku salah, maaf, maaf kan kakak Na, kakak nggak bermaksud menyakiti kamu, " ucap Ken seraya memeluk Luna yang menangis tersedu-sedu.


"Hiks hiks hiks kakak jahat, kakak nggak menginginkan Luna disini, kakak jahat hiks hiks hiks huhuh...." Luna menangis tersedu-sedu menumpahkan segala kesedihannya di depan sang kakak.


Siapa yang tidak sakit hati saat dikatai orang asing oleh kakaknya sendiri.


"Maaf sayang, kakak salah, jangan nangis maaf ya, kakak gak akan ulangi, kakak mohon jangan nangis lagi," pinta Ken dengan suara lirih, baginya melihat Luna menangis adalah salah satu hal menyakitkan yang sama sekali tidak ingin dihadapinya.


"Jelaskan kenapa kakak bilang seperti itu, Luna merasa gak berguna loh kak, Luna ngerasa kalau Luna gak berhak ngambil keputusan apa pun yang terkait dengan suami Luna, Luna ..ahhhh....huhuhu,.Luna sedih kalau digituin!" Rengek Luna, air matanya masih mengalir dengan deras membasahi pipinya.


"Kakak khawatir pada suamimu, kakak gak mau dia kembali sakit karena traumanya, makanya kakak sampai lupain kamu, maaf sayang kakak gak bermaksud buat kamu sedih, maaf banget," ucap Ken sambil memeluk adiknya dengan erat.


"Apa kakak sesayang itu sama Gama? " Tanya Luna yang kini mulai tenang dan membalas pelukan Ken.


"Tentu kakak sayang pada sahabat-sahabat kakak Luna," ucap Ken.


"Tapi kakak gak sayang sama Luna," ucap Luna.


"Kakak sayang loh, sayang banget malah, maafin kakak ya please!!" Pinta Ken dengan wajah memohon pada Luna.


Dia menatap wajah Luna dengan penuh penyesalan.


"Iya dimaafin deh," ucap Luna sambil tersenyum lembut.


"Terimakasih adek kakak yang cantik," ucap Ken seraya memeluk adiknya sekali lagi.


"Maaf juga ya kak udah cuekin kakak tadi," ucap Luna yang juga menyesal, sebenarnya dia tidak tahan kalau bersikap cuek pada kakak kakaknya tapi rasa kecewa menguasai dirinya beberapa saat lalu.


"Kamu baik-baik saja kan, selama bersama Alex?" Tanya Ken setelah melepaskan pelukan mereka.


"Luna baik kak, kak Alex menjaga Luna dengan benar, dia sangat baik, kuharap kakak mau menerimanya, dia sudah banyak berkorban untuk kita, kalau nggak ada kak Alex mungkin Luna udah hilang entah kemana kak," ujar Luna.

__ADS_1


"Tanpa Kak Alex mungkin Gama tidak akan selamat setahun lalu, tanpa dia kami juga tidak akan bertemu seperti ini," jelas Luna.


"Apa kamu bahagia dengan pernikahan mu?" Tanya Ken.


"Tentu saja aku bahagia kak, ini pertama kalinya aku merasakan jatuh cinta, ternyata rasanya menyenangkan seperti saat ini," ujar Luna sambil bergelayut manja di lengan kakaknya.


"Wahh adik ku sudah dewasa ya, padahal kakaknya belum juga dapat jodoh heheheh," tukas Ken sambil mencolek hidung adiknya.


"Makanya cari jodoh kakakku sayang," ucap Luna.


"Nanti kalau dapat yang seperti kami dan Mama, kakak pasti akan langsung bawa ke pelaminan heheh," ujar Ken.


"Wahh kriterianya sulit ya hahahah, kalau begitu kakak bakalan jadi jomblo berkarat dong hahahahah," ledek Luna sambil tertawa.


"Hehh jangan doain begitu dong, kamu ini, ngomong-ngomong kapan kakak gendong ponakan heemmm? Kakak pengen banget nih gendong ponakan dari kamu pasti gemesin," goda Ken.


Luna tersentak, dia menatap Ken dengan wajah merona. Bagaimana mau punya pnakan buka segel aja belum pikir Luna.


" Loh kok merona sih, apa kamu belum itu....emmmm ya gitu," goda Ken sambil menaikkan satu alisnya.


Bughh


"Ihkkk kak Ken apaan sih, otaknya itu perlu disterilkan seperti nya huhhh," kesal Luna sambil menyikut perut kakaknya.


"Awooo..ya udah maaf jangan malu, tapi kakak pengen loh gendong baby yang mirip sama kamu dan Gama pasti seru hahahahah," balas Ken lagi dengan setengah berteriak karena Luna sudah lari menjauh dari Ken.


Luna menutup telinganya sambil berlari meninggalkan Ken dalam ruangan itu.


"Ishhh kak Ken bisa bisanya bahas itu, gerutu Luna sambil menghentakkan kakinya ke lantai.


Ken menatap kepergian Luna, dia tersenyum karena berhasil menggoda adik kesayangannya itu.


"Ternyata Gama benar-benar mencintai adikku, sekarang aku tenang kalau harus meninggalkan mereka suatu saat nanti," batin Ken sambil meremas jarinya yang bergetar dan terasa kebas.


.


.


cieee yang udah baikan 😊😊😊 by the way ada apa dengan Ken???



.


.


.

__ADS_1


jangan lupa like, vote banyak banyak, komen banyak banyak , kasih hadiah banyak banyak, kalau boleh kasih tip banyak banyak hahhaah😂😂😂


__ADS_2