
Pintu di buka, tampak sekretaris Bima datang bersama 2 orang berpakaian formal dengan jas hitam pekat sambil menenteng tas dan membawa beberapa dokumen di tangan mereka.
Celine terbelalak kaget saat melihat sosok pria yang dimaksud oleh Bima, dia adalah Edi free yang menjelek-jelekkan Bima sewaktu di cafe Milik Celine waktu itu.
Gadis itu menatap Bima dengan penuh pertanyaan namun hanya dibalas dengan senyuman tipis oleh Bima sambil menatap ide yang masih belum memperhatikan mereka berdua di dalam ruangan itu.
"apa dia yang kau maksud?" bisik Celine ke telinga Bima.
"Ya , dia yang aku maksud, permainan akan segera kita mulai heheheh," kekeh Bima sambil menatap Celine yang duduk sangat dekat dengan dirinya.
"Kemari, ikut aku kita belakangi mereka, aku sangat ingin melihat wajah terkejut pria bodoh yang sudah menjelek-jelekkan ku di depan publik," ajak Bima sambil memegang tangan Celine dan membawanya berdiri ke dekat meja kerjanya sambil membelakangi mereka.
"Hei kau ini semakin hari semakin menjadi-jadi ya, " ucap Celine.
"Maksudmu?" tanya Bima masih belum melepaskan tangannya.
Celine mengangkat tangan mereka berdua yang saling berpegangan dan menunjukkannya ke wajah Bima sambil mengangkat satu alisnya yang berarti dia menanyakan apa maksud Bima yang sering menggenggam tangan nya.
"Hahahah ayolah Cel, ini cuma pegangan tangan kau bahkan sudah melihat tubuhku," bisik Bima yang sontak membuat Celine membelalakkan matanya mendengar perkataan vulgar dari Bima.
Plaaakkk
Satu pukulan kuat mendarat di bahu Bima membuat pria itu sedikit meringis kesakitan akibat pukulan maut dari Celine.
"Awhhh... sakit Cel kenapa di tabok sih," gerutu Bima sambil mengusap usap punggungnya.
"Kamu ngomongnya sembarangan ihhh nyebelin!" gerutu Celine.
"Heheheh kan emang benar Cel, aku ngucapin fakta Loh, kan kemarin kamu emang udah lihat itu yang di bawah loh.... kamu malah udah ci... hemph..." Mulut Bima langsung di tutup oleh Celine karena sedari tadi mengoceh tentang kejadian memalukan di kamar mereka di rumah Aiden.
"Jangan ngomong aneh aneh atau kujahit mulutmu nanti, dasar mesum!!!" geram Celine sambil menatap Mata Bima dengan tatapan kesal.
"Heheheh iya iya nggak deh, " ucap Bima terkekeh.
Mereka berdua asik bercanda di depan bmmeja kerja Bima Tanpa memperdulikan kehadiran tamu di belakang mereka.
"Tuan perwakilan dari London sudah tiba," ucap sekretaris Bima.
"Ekhmm... Persilahkan mereka duduk," ucap Bima sambil memperbaiki posisinya, dia Dan Celine masih berdiri membelakangi mereka bertiga.
Kedua perwakilan London itu duduk di kursi tamu.
"Apa ada yang bisa saya bantu lagi tuan?" tanya Sekretaris Bima.
"Tidak, pergilah, tetapi standby di depan ruanganku dengan dua orang penjaga, aku akan melakukan sesuatu nanti," ucap Bima.
"Baik tuan, saya permisi," ucap pria itu sambil menunduk hormat lalu keluar dari ruangan Bima.
Edi pria yang dimaksud Bima menatap mereka berdua dengan tatapan bingung sambil sesekali menggelengkan kepalanya.
"Sepertinya aku mengenal suara ini? tapi tak mungkin itu Celine, ahhh tak mungkin, dan suara pria itu... hmmm tak mungkin, dari pakaiannya saja mereka benar benar berbeda," batin Edi sambil menatap mereka.
"Ready for the Show?" bisik Bima ke telinga Celine.
"Hmmm... terserah padamu, dasar kekanakan," ledek Celine.
"Nikmati saja, ini akan menyenangkan Cel," bisik Bima lagi dan dibalas anggukan kepala oleh Celine.
__ADS_1
Bima dan Celine membalikkan tubuh mereka menatap kedua perwakilan itu. Disaat yang bersamaan Mata Bima bertemu dengan Edi yang menatap mereka dengan seribu pertanyaan di kepalanya.
Bima tersenyum menyeringai menatap Edi yang hampir mengalami serangan jantung saat melihat Celine dan Bima memutar tubuh mereka.
"Apaaa!!!" pekik Edi sambil terlonjak kaget saat melihat seringai di wajah Bima dan itu benar benar menyeramkan menurutnya.
Edi berdiri, namun seketika kakinya lemas karena dia menyadari dan ingat betul dnegan kesalahan besar yang telah dia lakukan saat di CelCaf beberapa hari lalu.
Brukkk
Edi terjatuh ke atas lantai membuat rekan kerjanya ikut terkejut dengan reaksi pria itu saat melihat Bima dan Celine disana.
"Edi ada apa denganmu?" tanya rekan kerja laki lakinya sambil menghampiri Edi yang tampak pucat dan gemetaran Karen Bima dan Celine berjalan sambil bergandengan tangan menghampiri mereka.
"Ma..maafkan aku George See... sepertinya aku telah melakukan kesalahan besar... di...dia.. ahhh tak mungkin dia presdirnya, di...dia hanya orang miskin yang memanfaatkan Celine," ucap Edi dengan suara bergetar ketakutan.
Plaakkk
Edi menampar wajahnya sendiri saat melihat Bima dan Celine sudah duduk sambil memandang dirinya disana.
"Awhhh... aku tidak bermimpi... tidak mungkin," gumam Edi bergetar ketakutan sekaligus panik sebab dia dipercayakan oleh perusahaannya untuk menjalin hubungan kerja sama dengan Antariksa grup namun semuanya berada di ujung tanduk sekarang ini.
"Halo, kau bertemu lagi dengan pria miskin ini," ucap Bima dengan santai sambil mengangkat tangannya dan tersenyum tipis di depan Edi.
"Kenapa kalian disana, duduklah bukannya kau ingin menjalin kerja sama dengan perusahaan milik pria yang pintar memanfaatkan wanita ini?" sindir Bima secara terang terangan.
Edi menenggak Salivanya sendiri, jika Bima kemarin tidak terlalu menanggapi perkataannya maka kali ini Edi benar benar di kalahkan dalam banyak hal.
Mulai dari pakaian branded keluaran terbaru dari London yang dipakai Bima berpasangan dengan pakaian yang dipakai Celine, Sepatu, Dad, Jam tangan, Cincin pernikahan di jari mereka masing-masing bahkan parfum pria itu semuanya benar benar jauh di atas Edi.
Sebenarnya Bima tidak terlalu suka dengan hal berlebihan seperti ini, namun untuk membalas mulut Edi yang terlalu suka mengejek dan menjelekkan orang lain maka Bima melakukan tindakan seperti ini.
Edi berusaha bangkit berdiri meskipun tulang-tulangnya serasa remuk melihat tatapan Celine dan Bima. jantungnya berdegup kencang gugup bercampur takut kini menjadi satu membuatnya sampai pucat pasi bahkan berkeringat dingin.
Edi duduk sambil merem4s jari jarinya.
"Apa tujuan kalian kesini? mengganggu waktuku bersama istriku saja," ucap Bima. mendengar kata-kata Bima sontak Celine membelalakkan matanya sebab, Bima memperkenalkan dirinya sebagai istri dari seorang presiden direktur antariksa grup.
"Ah... sebelumnya kami meminta maaf karena telah mengganggu waktu kalian tuan, nyonya," ucap George.
Celine menatap Bima saat di panggil dengan sebutan Nyonya yang menurutnya sangat berlebihan.
"Astaga apa yang dilakukan pria ini, apa dia tidak takut publik mengetahui hal ini,dia bisa d dalam masalah kalau sampai mengenalkan ku pada klien bisnisnya," batin Celine yang masih menatap Bima.
"Hmmm... langsung saja pada poinnya, jangan membuat waktuku berkurang, waktu kalian cuma 5 menit dan sudah termakan tiga menit jadi tinggal 2 menit tersisa," ucap Bima yang sontak membuat mereka berdua gelagapan.
"Tapi tu..tuan kami bahkan belum memulai," ucap George dengan wajah panik, Edi sendiri hanya diam tak bisa berbuat apa apa.
"Waktumu tinggal 1 menit," ucap Bima dengan santai namun tatapan matanya begitu dingin.
"Menyeramkan sekali pria ini, dia seperti punya dua kepribadian, sebentar lembut sebentar lagi sangat dingin seperti puncak gunung Everest," batin Celine.
"Ahhh.... kenapa begini tuan, kami datang dnegan cara baik baik tetapi begini tuan memperlakukan kami!" ucap George yang malah marah dan berteriak ke arah Bima.
"Cih ternyata begini cara kerja perusahaan besar di Indonesia, kalau begini lebih baik tidak perlu menjalin kerja sama dengan perusahaan kalian!" ucap George.
Celine terkejut mendengar ucapan George, dia menepuk pundak Bima sehingga pria itu menoleh kepada dirinya sambil tersenyum dan mengangkat alisnya.
__ADS_1
"Apa kau tidak masalah?" bisik Celine.
"Tenang saja," bisik Bima.
Bima menata George dan Edi, "Aku memang tidak berencana menjalin kerja sama dengan perusahaan murahan kalian itu, kau pikir aku tidak tau kalau perusahaan kalian dalam masalah krisis sekarang?" ucap Bima sambil menaikkan satu alisnya.
"Siapa bilang!!" ucap George, karena info terakhir yang dia terima Perusahaan masih baik baik saja.
Drrttt...
Ponsel George berbunyi, " Halo ada apa?" tanya George.
"Perusahaan dalam Krisis secara tiba tiba, kalian harus berhasil mendapatkan kerja sama itu!" ucap Si penelpon.
George terkejut bukan main, dia menatap Bima sambil mematikan ponsel.
"Ku pikir yang tidak beradab itu hanya Pria bajingan di samping mu itu, ternyata kau juga sama!" Senggak Bima.
"Heh curut!" ucap Bima sambil melemparkan tatapan tajam ke arah Edi.
"Kau lihat siapa yang tidak berguna sekarang kan!" ucap Bima.
"BERANI SEKALI KAU MENGATAIKU DI DEPAN SEMUA ORANG BANGSAAAAATTTT!!!!!" bentak Bima sambil menunjuk Edi, teriakan peia itu menggelegar di dalam ruangan itu bahkan sampai membuat penjaga dan sekretaris Bima terkejut di depan ruangan pria itu.
Glekkk
George dan Edi menenggak Saliva mereka dnegan kasar.
Sraakkkkk
Bima melemparkan dokumen yang mereka bawa tadi ke wajah mereka berdua hingga memukul wajah mereka dnegan cukup keras.
"KELUAR DARI RUANGAN KU!!"ucap Bima menekankan kata katanya.
"Ta..tapi tuan,sa..saya mohon beri kami kesempatan!" ucap George.
"Kau bicaralah Edi, bukannya ini tugasmu!!"bentak George, namun Edi hanya bisa diam.
"Keluar sekarang, aku tak akan membantu perusahaan yang telah merendahkan diriku!" ucap Bima.
"Pengawal!" panggil Bima.
Dua pria bertubuh besar masuk dan segera menyeret kedua orang itu keluar dari dalam ruangan Bima.
"Kami mohon tuan!" ucap George meronta-ronta namun Bima tak menghiraukannya.
Bima duduk bersandar sambil memijit pelipisnya, " Huffft fuhhhhh..... hah dasar berengsek!" umpat Bima.
Celine menatap Bima dengan tatapan terkejut.
"Kau waras kan?" tanya Celine sambil memegang kening Bima.
.
.
.
__ADS_1
like, vote dan komen 😊😉😉😊