
"Kak buka gih," ucap Andin yang sedikit takut.
"Kamu aja Din, gak lihat kakak luka luka begini?" ucap Aiden.
"Ck... dasar lemah!" ejek Andin sambil mencebikkan bibirnya, tak mungkin Rose yang buka pintu, tangannya sedang berlumuran cairan pembersih Luka meski dia memakai sarung tangan tapi pekerjaannya tanggung.
"Haisshh.... dasar mulut bebek!" ejek Aiden.
"Mending mulut bebek dari pada mulut ember, Wleeekk!" balas Andin meledek Aiden.
Aiden mencebikkan bibirnya kesal, Rose hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka berdua.
Brakk... Brakkk... Brakkk
Pintu di gedor semakin kuat, Andin mendekat, dia melihat dua pengawal berjaga di depan pintu, dia menepuk jidatnya sendiri.
"Kenapa aku capek-capek buka sendiri kan ada pengawal, aduh Andin kamu kok ketularan dodol sih!" gerutu Andin.
"Bang bisa bantu bukain pintunya ya, aku takut," bisik Andin pada salah satu pengawal Alex yang berdiri di sampingnya.
"Baik nona," ucapnya.
Ceklek...
kunci pintu dibuka tiba-tiba....
Gubraaakk....
Begitu pintu dibuka terlihat seorang pria berlari dengan wajah merah padam masuk ke dalam rumah dengan kecepatan kilat sambil memegangi perutnya berlari menuju belakang.
"Lah si Ferdi kenapa??" ucap Andin yang terkejut melihat ternyata Ferdi yang menggedor-gedor pintu apartemen itu.
"huffft kirain si Clara yang tiba-tiba datang," ucap Aiden menghembuskan nafas lega ternyata bukan Clara.
"Kenapa si Ferdi ya? mukanya merah, dia megang perutnya, jangan-jangan.... oh ya ampuuunnnn!!!" teriak Andin Panik.
Brakkk
"Aiden terjungkal ke lantai mendengar teriakan Andin yang begitu memekakkan telinga.
"Arghhh... awhhh... shhh Anddiiiinnnnn suaraamu kecilin dong!!!"kesal Aiden sambil mengusap-usap pantatnya yang membentur lantai yang keras, selalu saja pantatnya yang jadi korban.
"Din kenapa? jangan ribut,Luna lagi istirahat," ucap Rose memperingatkan.
"Ah... maaf maaf, itu kak Si Ferdi pasti habis makan yang pedas, waduh bisa bahaya ini dia gak bisa makan makanan pedas, asam lambungnya tinggi, dia bakal mencret- mencret deh kayaknya," jelas Andin.
"Kak Andin, kak Ferdi mana...haahh.. haaahhh... haahhhh" tanya Anna yang berlari mengejar Ferdi sambil membawa barang pesanan mereka.
Anna berjalan belakangan di kawal pengawal perempuan.
"Di belakang Na, Ferdi makan yang pedas?" tanya Andin yang dianggukkan oleh Anna.
"Waduh kok bisa dek, kamu tau kan Ferdi gak bisa makan pedas," ucap Andin khawatir.
"Tau kak, tapi pelayan salah ngasih menu tadi, pas kak Ferdi makan baru ketahuan mana di telan lagi," ucap Anna.
__ADS_1
"Ha? aduh, banyak gak dek?" tanya Andin.
"cuma sesuap kak," ucap Anna.
"Hah syukurlah," ucap Andin.
Sementara mereka sibuk dengan drama mereka di apartemen, Bima dan teman temannya menyisir area sekitar markas.
brakkk
"Haisshh sial kenapa si jal4ng itu sampai lolos," umpat Bima kesal sambil memukul dashboard mobilnya.
"Sudah jangan menggerutu, cepat kita cari dia!" ucap Mark.
Mereka menyusuri jalanan, mobil mobil yang lalu lalang membuat pergerakan mereka semakin lambat. Ken dan Alex berada di jalan lain untuk mencari keberadaan Clara.
"Kenapa jalanan ini melambat!!" umpat Bima.
Pletaakkk
Kepala Bima di pukul oleh seseorang dari belakang dia adalah Gama yang kesal mendengar celotehan pria itu.
"Kau bisa dia tidak, jangan mengumpat terus dodol, kepalaku pusing mendengar umpatanmu!" ketus Gama.
"Ya maaf Gam!!" balas Bima sambil mencebikkan bibirnya.
Mereka terus mencari, hingga di persimpangan jalan mereka melihat sosok Clara sedang berjalan terseok-seok, dia berpenampilan seperti orang gila untuk menutupi identitasnya.
"Mark itu dia!!" teriak Bima.
"Ck... kau diam saja,itu perempuan itu ayo kejar, jangan sampai dia hilang!" ucap Bima.
"Tenang akan ku ikuti," ucap Mark mulai melajukan mobilnya mendekati Clara yang berjalan di gang sepi dekat dengan jalan raya.
..
..
..
"Sialan kau Bima, aku akan menghabisi kalian semua, aku akan menghabisi kalian, ck... arhhh,ini juga tergores, sial sial sial!!!" gerutu wanita itu sambil memegang pahanya yang tergores kaca, goresannya cukup dalam hingga membuat kulitnya berdarah.
"Berani sekali kalian membuatku jadi seperti ini, tunggu pembalasanku!!!" geramnya lagi.
Clara berhasil melarikan diri setelah membuka ikatan tangannya dengan menggunakan belati yang berhasil diambilnya lagi saat di apartemen Alex tadi.
Dia memecahkan kaca jendela dan terjun bebas ke dalam tempat sampah yang berisi penuh dengan kain dan kertas membuatnya tetap selamat.
Clara terus berjalan entah kemana pokoknya dia bisa menghindar dari anak buah Bima sejauh mungkin, hingga tiba di dekat rel kereta Api.
Dorr
Suara tembakan pistol terdengar menggelegar membuat beberapa warga ketakutan, namun mereka langsung diamankan oleh pengawal yang dibawa oleh Gama, Ken dan Alex.
"Berhenti kau Clara!!" teriak Bima keluar dari mobil berusaha mengejar Clara.
__ADS_1
Bagaimana pun dia pernah menaruh hati pada wanita itu, dia setidaknya masih memiliki sedikit rasa iba meski perasaan sudah dihancurkan berkeping-keping oleh wanita itu.
"Buat apa hah, kau akan membunuhku kan? sebelum itu terjadi aku akan membunuhmu terlebih dahulu, aku akan membunuh kalian semua hahahhahahahaha," teriak Clara dengan tawa jahatnya.
"Kau sudah gila Clara, aku yang jadi korban kerakusan kalian disini, aku yang akan memberikan hukuman untukmu!!!" teriak Bima kesal dia berjalan mendekat semakin dekat dan mengajar Clara.
Ting... Ning... Ning...Ning.. Ning... Ning
Suara peringatan Kereta api akan lewat berbunyi, membuat mereka panik apalagi melihat Clara yang sangat dekat dengan rel kereta api.
"Hahahah itu tidak akan terjadi Bima, bagaimana pun aku berterima kasih padamu karena cinta bodohmu itu aku setidaknya bisa merasakan sedikit rasa dicintai oleh seseorang," ucap Clara dengan mata berkaca-kaca.
" hahhaah sensasi yang menyenangkan,tapi itu tidak cukup untukku Bima aku butuh kepuasan aku butuh di puaskan makanya aku menghianatimu dan mencari lelaki lain dan dia adalah Niel, hanya dia yang bisa memuaskan hasrat ku," ucap Clara dengan tatapan tak biasa.
Bima tertegun, dia benar-benar semakin hancur saat mendengar apa yang dikatakan Clara, bagaimana bisa wanita yang kelihatan polos itu sudah terjatuh sangat dalam dan jauh.
"Lalu kenapa harus aku Clara... arhhhh kenapa harus aku yang jadi korban kalian,kau tau aku sakit, hatiku hancur berkeping-keping saat melihat semua kelakuan bejat kalian, aku tulus mencintaimu tapi apa?!!" teriak Bima.
"Kau mengubah rasa cinta di hatiku menjadi rasa benci yang teramat besar!!!" teriak Bima menumpahkan segala sesuatu ya g sangat sesak di dalam dadanya.
Jujur saja jika ditanya, Bima masih memiliki rasa cinta itu dalam dirinya,dia terlanjur mencintai Clara terlalu dalam hingga hatinya menjadi korban atas keegoisan wanita itu.
"Hahahahah, baguslah dengan begitu aku bisa mati dengan tenang, terimakasih Bima terimakasih sudah mengajariku apa itu cinta walau sebentar aku merasa bahagia, aku sudah hancur hiks hiks hiks... aku sudah hancur Bim... maafkan aku, " lirih Clara dengan deraian Ari mata.
tuutttt.... tuutttt.... tuuuttttt
Bunyi kereta api semakin dekat, begitu juga dengan Clara yang semakin dekat dengan rel kereta api itu.
"Sampai jumpa, semoga kau bahagia Bima maafkan aku menyakitimu!!" teriak Clara dan.....
Srakkkkkkk
Clara melompat ke rel kereta api tepat saat kereta api itu sudah mendekat.
Tuuuuuuttttttttt..............
Kritang... klotang... Trang... tang.
"Claraaaaaaaa..!!!!" teriak Bima, air matanya lolos begitu saja saat melihat tubuh Clara dihantam begitu saja dengan kereta besi berkecepatan tinggi itu.
Tubuh Clara remuk dia terseret hingga 50 meter, Masinis harus menghentikan kereta apinya secara dadakan.
Bima, dan sahabat sahabatnya membeku menatap tubuh Clara hancur di depan mata mereka sendiri.
Mereka langsung menghampiri Bima yang menangis tersedu-sedu, dia benar terpuruk dan hancur saat ini.
"Arhhhh kenapa kau meminta maaf, seharusnya jangan katakan apa-apa agar aku bisa membencimu seumur hidupku arhhh... aku sakit, aku benar-benar hancur Clara!!!" teriak Bima menangis.
"Aku tidak tau harus bagaimana arhhhh.... " Bima menangisi dirinya sendiri.
.
.
.
__ADS_1
like, vote dan komen 😉😉😉