Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
38


__ADS_3

Aiden tampak berjalan sambil menenteng banyak tas belanjaan yang diberikan Ken dan Bima sambil sesekali mengelus bahunya dengan wajah kesal. Di belakangnya tampak Ken dan Bima menyeringai setelah mengerjai pria berkulit cokelat eksotis itu.


"Sial sekali aku!" gerutu Aiden sambil mengelus punggungnya yang pegal karena ulah mereka.


Beberapa menit yang lalu Aiden dihukum oleh Ken dan Bima karena telah membuat mereka berdua menemani seorang gadis genit berkeliling di pasar itu selama 30 menit yang bagi mereka sudah seperti 300 tahun.


Aiden dipukuli oleh Ken dan Bima mereka sangat kesal dengan kelakuan teman mereka yang minim akhlak itu.


Aiden disuruh push up sampai 100 kali tanpa berhenti padahal baru saja ia disuruh menggendong kedua pria itu secara bergantian sambil berkeliling di pasar untuk membeli pakaian dan kebutuhan mereka selama disana.


Padahal bisa saja mereka memesan dan meminta anak buah mereka mengirim keperluan mereka, namun Ken dan Bima tampaknya belum puas mengerjai pria tampan sahabat mereka itu.


Brugggg....


Aiden meletakkan semua barang belanjaan mereka dan duduk selonjoran di atas meja dengan wajah lelah.


"Arghhh....aku lelah!" kesal Aiden yang kini sudah membaringkan tubuhnya di atas meja.


"Pffthh.....hahahha, begitu saja kau lelah!" ledek Bima.


"Terserah kalian saja," ucap Aiden tidak peduli ia memejamkan matanya dan menarik nafas sejenak.


" Banyak sekali belanjaan kalian kak," ucap Luna melihat paper bag dan kantongan berisi belanjaan milik mereka.


"Untuk kebutuhan kami selama disini, ah....


aku juga membeli beberapa untuk Gama dan pakaian untukmu," ucap Ken sambil mengangkat tiga paper bag.


"Terima ini, aku tidak tahu seleramu Lun, kalau Gama aku tahu pasti, semoga kalian suka, dan Fer ini untukmu, berikan juga pada simbokmu," ucap Ken memberikan paper bag ke tangan mereka masing-masing.


"Wah aku dapat jackpot hari ini hahahahah," tawa Luna saat menerima paper bag yang di berikan Ken dengan senyum sumringah.


"Kau seperti dapat hadiah besar saja," ucap Bima geleng-geleng kepala melihat tingkah gadis itu.


Gama sendiri terkikik geli saat melihat reaksi istrinya, ia tahu istrinya ini terlalu polos.


"Menggemaskan sekali," batin Gama sambil tersenyum.


"Terimakasih Ken," ucap Ferdi terharu.


"Tak perlu sungkan, kita kan teman!" ucap Ken sambil tersenyum ramah yang dibalas anggukan oleh Ferdi.


"Luna kapan Yuna pulang bukankah sudah lama mereka pergi?" tanya Ferdi.

__ADS_1


"Ah iya aku belum sempat menghubungi Bibi Ina, astaga kenapa aku sampai lupa," ucap Luna yang baru teringat dengan adiknya.


Luna mengambil ponsel baru yang diberikan Gama padanya, jauh-jauh hari ia sudah mencatat nomor penting di bukunya kalau-kalau ponselnya hilang atau seperti sebelumnya jatuh ke sungai.


Luna menghubungi Bibi Ina, namun tidak di jawab. Hingga beberapa kali ia menghubungi namun tetap juga tidak di jawab oleh Bibi Ina, Luna juga menghubungi ponsel Paman Budi namun hasilnya tidak diangkat.


"Astaga, kenapa mereka tidak menjawab," gumam Luna mulai panik karena biasanya jika ia menghubungi pasti akan cepat di jawab oleh mereka.


Luna menggenggam erta ponselnya, ia menggigit ujung jarinya dan kakinya gemetar.


"Fer bagaimana ini, kenapa mereka tidak bisa dihubungi," ucap Luna panik, hatinya mulai risau dan jantungnya berdegup tak karuan. Ferdi yang mengerti keadaan temannya membisikkan sesuatu pada Gama yang membuat pria itu terbelalak kaget.


"Gama, bisa kau peluk dia? dia mempunyai gangguan kecemasan akut, aku takut dia akan drop, terakhir dia begini saat menemukan Yuna pingsan karena ingin bunuh diri di kamarnya," bisik Ferdi khawatir, ia tak mau bertindak gegabah karena ia tau gadis itu sudah punya suami sekarang.


Beberapa bulan lalu setelah Luna menemukan Yuna tergeletak di hutan, ia merawat gadis itu, keadaan mulai membaik. Namun karena Yuna berusaha mencari jati dirinya ia malah depresi dan malah ingin mengakhiri hidupnya sendiri dengan menelan banyak obat-obatan entah obat jenis apa yang ia makan saat itu.


Luna yang tengah bersiap ke pasar untuk jualan seperti biasa memanggil adiknya namun tak disahut oleh gadis itu. Luna merasa curiga, ia langsung menerobos ke dalam kamar Yuna yang memang tidak dikunci.


Luna begitu terkejut saat melihat wajah pucat dan lemah Yuna yang tergeletak di pinggir tempat tidurnya dengan banyak pil yang berserakan yang entah dia dapat darimana.


Melihat keadaan adiknya begitu lemas, membangkitkan traumanya saat kematian kakek dan neneknya serta membuka luka lama yang dia sendiri tidak tau apa itu.


Luna menelepon Ferdi saat itu, ia tidak bisa berbuat apa-apa, ia sangat cemas, ingin rasanya ia berlari membawa tubuh Yuna keluar namun kakinya gemetar lemah.


"Luna!" panggil Gama tegas, Luna menatap ke arah Gama dengan wajah cemas, tubuh, tangan dan kakinya bergetar tak karuan.


Aiden yang tadinya tiduran kini bangkit saat mendengar suara Gama, ia terkejut saat melihat wajah Luna yang pucat.


Ken dan Bima tak kalah terkejut, Ferdi membisikkan hal yang sama pada mereka bertiga, mereka juga tak kalah terkejut mendengar semua itu, bagaimana seorang gadis yang mereka lihat kuat, dan terkesan ketus itu ternyata mengalami gangguan mental separah itu.


Luna menatap Gama dengan mata sayup, Gama menarik tangan Luna yang duduk di sampingnya lalu memeluknya sambil menenangkan gadis itu.


"Shhh....tenanglah, jangan panik, tunggu sebentar lagi, tenang ya," ucap Gama sambil menepuk punggung gadis itu.


Luna membalas pelukan Gama dengan erat, rasanya kepalanya begitu berat, ia mengingat potongan memori masa kecilnya yang terlihat samar-samar, Luna menangis histeris membuat mereka semua panik.


"Luna, kau kenapa?" ucap Ken panik.


"Luna, tenanglah jangan takut ada kami disini!" ucap Gama menenangkan istrinya.


"Luna, tenang dulu ya kita akan bantu cari adikmu jangan khawatir!" ucap Bima.


"Luna tarik nafas dulu lalu buang, tapi jangan buang dari mulut jangan dari bawah nanti bau...eh...ups ...heheh," kekeh Aiden yang kini mendapat tatapan tajam dari keempat pria di dekatnya termasuk Ferdi.

__ADS_1


"Luna lihat aku!" ucap Gama sambil memegang kedua bahu gadis itu dan menatapnya dengan intens.


Mata sembab Luna bertatapan dengan mata lembut Gama.


"Tenang, kau harus tenang, jangan panik oke, kami disini bersamamu kau tidak sendirian," ucap Gama.


Luna menatap Gama lalu menatap mereka semua satu persatu.


Ken, Aiden, Bima dan Ferdi mengangguk pelan sambil tersenyum saat Luna melihat mereka. Luna merasa tenang, ia kembali menatap suaminya.


"Sekarang tarik nafas dulu lalu buang," ucap Gama.


"Huffft....fuuhhhhhh.... huffft... fuhhhhh," Luna langsung melakukan apa yang dipinta oleh Gama.


Beberapa saat kemudian Luna kembali tenang.


"Sekarang katakan apa yang terjadi?" ucap Gama.


"Paman dan Bibi tidak bisa dihubungi, biasanya jika aku menelepon, mereka pasti akan langsung mengangkat, sudah sampai berapa kali aku menghubungi tapi tak ada jawaban, aku takut Yuna kenapa-kenapa," lirih Luna sambil menatap mereka satu-persatu.


"Hemmm...memangnya kapan mereka akan tiba?" tanya Aiden.


"seharusnya hari ini," ucap Luna.


"Sebaiknya kita pulang dulu ke rumah agar bisa membicarakannya dengan tenang, mungkin juga mereka sudah di rumah," ucap Bima.


"Iya kita pulang dulu, jangan panik ya Luna, tenang kami ada disini untukmu," ucap Ken, entah mengapa hatinya merasa sakit saat melihat gadis itu menangis.


"Kak Ken hiks...hiks...ini sakit,"


Kenangan bersama gadis kecil kesayangannya kembali terputar saat melihat Luna menangis, ada rasa ingin melindungi gadis itu saat melihatnya menangis hingga kata-kata itu keluar dari mulut seorang Ken.


"Gam, aku....aku melihat potongan memori masa kecilku, tapi... kabur, tidak jelas arghh....." lirih Luna sambil memegang kepalanya yang terasa nyeri.


Gama memegang tangan gadis itu dengan erat, Ken, Aiden dan Bima menatap bingung sebab mereka belum tahu kondisi Luna sebenarnya.


.


.


.


jangan Lupa like, vote dan komen 😊😉😉😉😊

__ADS_1


__ADS_2