
Gama dan yang lainnya berlari dan menghampiri Luna dan si kembar, para pengawal langsung mengevakuasi tubuh Laura dan mengikatnya lalu membawanya masuk ke dalam gedung dimana Tomi, Jerry dan Sarah di sekap dan diikat dengan penjagaan ketat.
“Sayang, kamu baik baik saja?” tanya Gama sambil memeluk istrinya, dia benar benar khawatir dan kaget saat melihat Luna terkulai di atas tanah beberapa saat lalu.
“Sebenarnya ada apa? Kenapa dia bisa sampai ke tempat ini? Apa yang dilakukan jal4ng itu?” tanya Ken dengan nada dingin.
“ Tenang kak Ken, ini semua rencana luna hehehe,” kekeh Wanita dua anak itu sambil tersenyum manis ke arah mereka semua.
Mereka terkejut bukan main mendengar jawaban Luna, bagaimana bisa Lina merencanakan itu semua pikir mereka. Akhirnya Luna menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi saat mereka di dalam gedung itu tadi.
Luna yang mengawasi mereka semua, tiba tiba teringat dengan penyusup yang masuk ke dalam ruah besar Park. Dia benar benar ingin menyelesaikan semua masalah yang menghampiri mereka dalam sekali serangan, oleh karena itu Luna dengan liciknya mengirimkan lokasi keberadaan mereka dengan menggunakan nomor palsu dan berbuat seolah olah kalau dia ingin bekerja sama dengan Laura.
Laura yang mudah terpancing dan dikuasai dengan keinginan balas dendam yang begitu kuat membuat dia dengan begitu saja percaya pada panggilan misterius dan pesan misterius itu.
Luna memanggil salah satu pengawal mereka untuk berbicara pada wanita licik itu, dia dengan sengaja mengirimkan foto foto dimana merea berada sekarang.
Kemudian bekerja sama dengan pelayan di rumah besar Park untuk membiarkan wanita itu lolos dari rumah besar Park.
Luna terus menerus memancing Laura hingga wanita itu mengikuti arahannya dan malah datang mengantarkan nyawanya pada mereka.
Para anak buah di perintahkannya untuk tidak ikut campur dan membiarkan apa saja yang dilakukan wanita itu selama tidak membahayakan nyawa Luna dan Christan.
Padahal cukup mudah bagi para pengawal itu untuk melumpuhkan Laura. Luna yang dengan sengaja meletakkan pistol gelembung sabun di kursi mobilnya membuat para pengawal tenang namun berusaha sebaik mungkin untuk berakting agar Laura tidak curiga.
Mendengar penjelasan Luna membuat semuanya bernafas lega tapi lain halnya dengan Gama dia malah marah dan kesal pada istrinya karena telah membahayakan nyawanya sendiri dan juga anak mereka.
“Kau selalu bertindak sendirian, kenapa kau tidak bilang kalau akan melakukan hal itu, kau selau melakukan sesuatu yang ada di luar rencana kita, kau pikir aku tidak takut Luna?” ucap Gama dengan nada sedikit meninggi, wajahnya benar benar marah, yang lain hanya bisa diam jika Gama sudah marah seperti ini.
__ADS_1
“Aku tau kau punya kemampuan yang hebat bahkan melebihi orang lain tapi tak bisakah kau setidaknya mengandalkan ku untuk menyelesaikan itu na? Setidaknya beritahu padaku kalau kau akan melakukan hal seperti itu, kau .... ahhhh kau benar benar membuatku kecewa,” ucap Gama sambil mengusap kasar wajahnya, dia berjalan menjauh dari mereka.
“Gama, tenang dulu, dia juga melakukan hal itu untuk membereskan semua maslah ini dengan cepat,” ucap Ken yang membela adiknya. Luna hanya bisa diam dan menunduk, dia tau kalau risiko yang dia timbulkan memang sangat berbahaya apalagi itu akan melibatkan nyawa mereka.
“Nggak Ken, aku gak bisa terima kalau dia seenaknya, apalagi melibatkan anak anak, tadi saja Christo sudah berjuang di sana, sekarang Christan juga ikut dan dia malah membahayakan nyawanya, aku sebagai seorang ayah dan suami merasa kecewa dan tidak berguna,” ucap Gama mengungkapkan kekecewaannya.
Luna menunduk dan diam, dia tau dia salah karena memang itu cukup beresiko tapi dia hanya tak ingin Laura terus terusan meneror hidup mereka, lebih baik jika mereka selesaikan maslah itu secepatnya.
“Tapi Gam, dia juga nggak salah, dia hanya mempercepat pekerjaan kita,” ucap Bima membela Luna.
“Haissshhhh kalian tidak akan mengerti, kalian tidak akan tau sakitnya kalau aku sampai kehilangan dia dan anak anakku, kalian pikir aku ini apa hah? Kalau dia mati aku juga akan mati,” teriak Gama meluapkan kemarahannya.
Dia memijit pelipisnya, dia benar kesal karena perbuatan istrinya. “Sayang.... ma..maaf,” ucap Luna sambil berusaha menatap Gama.
“Ahhh kau membuatku benar benar kecewa Luna, aku .... aku merasa gagal menjadi seorang suami, aku benar benar merasa tidak berguna.... haishhhh... terserahlah, lakukan saja semua sesuka hatimu, aku tak akan peduli lagi, kau selalu berbuat seenak hati,” ketus Gama.
“Cepat bawa Celine ke tempat dokter George dia butuh penanganan, Sekap saja para bajingan itu disana, ayo pulang, aku sudah muak disini, tak ada yang benar benar mengandalkanku sebagai seorang suami,” ketus Gama sambil membuka pintu mobil untuk si kembar.
Luna masuk ke dalam kursi penumpang, dia merasa benar benar sedih saat ini, ingin dia menangis tapi gengsinya terlalu tinggi.
Yang lain hanya bisa mendesah berat melihat pertengkaran mereka tanpa bisa berbuat apa apa.
“Aku jadi merasa bersalah pada Luna,” ucap Celine pada Bima yang memasukkannya ke dalam mobil dan duduk di samping istrinya dengan Aiden dan Mark di kursi depan.
Alex dan Ken pergi belakangan, mereka mengurus keempat manusia tanpa akhlak yang dengan beraninya mengantarkan nyawa mereka kepada kawanan serigala lapar.
“Jangan merasa bersalah sayang, Memang yang dikatakan Gama itu benar, Luna bisa membahayakan nyawanya dan si Kembar kalau bertindak seperti itu,” jelas Bima sambil memperbaiki jaketnya di tubuh istrinya.
__ADS_1
Mereka semua berangkat menuju tujuan mereka masing masing, Aiden dan yang lainnya berangkat menuju rumah sakit, sedangkan keluarga kecil Park pulang menuju rumah Aiden.
Sepanjang perjalanan tak ada pembicaraan di dalam mobil Gama. Luna melirik suaminya yang bahkan tidak mau melihatnya, si kembar juga tidak bis berbuat apa apa.
“Sa... sayang.... ma...maaf,” lirih Luna, dia memberanikan dirinya untuk berbicara meskipun dia takut Gama akan marah pada dirinya. Namun Gama tidak menanggapinya, dia bersikap sangat dingin berbeda jauh dengan saat mereka pertama bertemu dulu.
“Gama....” panggil Luna lagi sambil memainkan kukunya, dia benar benar tidak tau harus berkata apa pun lagi, jika bisanya dia merasa tindakan yang dilakukannya benar maka kali ini dia sadar dan tidak bisa membantah.
“Diamlah, aku sedang mengemudi, tak perlu berbicara denganku,” jawab Gama dengan suara ketus tanpa menoleh.
Deghh....
Luna terkejut, ini kali pertama Gama bersikap seperti itu pada dirinya. Kekecewaan Gama sudah pada tingkat paling akut sepertinya.
“Tapi aku...” lanjut Luna.
“DIAMLAH LUNA, ATAU AKU AKAN PERGI DARI SINI SEKARANG,” ucap Gama dengan menekankan kata katanya.
Hati Luna terasa sakit saat mendengar itu, dia benar benar tidak menyangka kalau apa yang dilakukannya justru akan membuat suaminya sakit hati dan kecewa.
Tanpa sadar, air mata Luna mengalir dengan deras, dia menahan isak tangisnya agar tidak di dengar kedua putra dan suaminya. Dadanya terasa sesak, ingin dia berteriak saat ini.
Gama hanya fokus ke jalanan, dia benar benar memasang wajah kesal dan kecewa.
.
.
__ADS_1
.
Like, Vote dan Komen ya.