
"Mengejutkan!" kata itu yang terbersit saat aku mendengar cerita tentang dirimu dahulu, semoga kamu bisa bahagia saat ini dan untuk selamanya.
...****************...
Ferdi mendorong kursi roda Gama menuju tukang pangkas langganannya di desa itu. Jaraknya cukup dekat dengan alun-alun desa.
Gama mendengarkan dengan seksama cerita yang belum sempat ditanyakan Gama pada Luna.
"Menurut cerita orang-orang kampung, Luna itu sewaktu usianya tujuh tahun lebih dia ditemukan Luntang lantang di jalanan kota Bali tanpa ada yang mendampingi," ucap Ferdi mulai bercerita.
"Tidak ada yang tahu asal usul gadis itu darimana, bahkan warga kampung awalnya membantu Kakek dan Nenek Frans orang yang menemukan Luna, untuk melapor ke polisi, namun tak ada satu laporan pun tentang anak hilang yang wajahnya sama dengan Luna," jelas Ferdi.
"Luna ditemukan sudah hampir mati di pinggir jalan, tubuhnya penuh luka, wajahnya lebam seperti terkena pukulan dan benturan benda keras, dan yang lebih parah di kedua pergelangan kakinya ada rantai besi yang mengikat dengan sangat kuat bahkan kakinya sampai lecet," ucap Ferdi.
"Rantai besi? apa kau tau kalau Luna itu?" ucapnya terputus.
"Aku tau, tapi hanya aku, kakek, nenek, Andin dan adik angkat Luna yang tau," jelas Ferdi.
"Ku harap kau tidak memberitahukan hal ini pada orang lain, karena luka itu sebuah trauma bagi Luna, jika hujan tiba, kakinya akan terasa nyeri bahkan sangat sakit kuharap kau bisa menjaganya saat itu terjadi, dia akan sangat tersiksa," jelas Ferdi.
Gama cukup terkejut mendengar ucapan Ferdi, bahkan gadis itu menyembunyikan traumanya dengan baik.
"Lalu?" ucap Gama mencari tahu lebih banyak lagi.
"Luna mengalami amnesia, dia tidak ingat dengan orang-orang di masa lalunya sebelum ia ditemukan, namun dokter mengatakan bahwa lebih baik dia lupa daripada harus mengingat kembali kejadian yang mungkin membuat mentalnya down," ucap Ferdi.
"Setelah di rawat oleh kakek dan nenek Frans Luna perlahan membaik, awalnya ia tidak mau bicara, tidak mau makan, takut bertemu orang lain dan selalu panik dan histeris saat hujan datang, beberapa kali dokter harus datang untuk menyuntikkan obat penenang pada gadis kecil itu," tambah Ferdi.
"Kami tidak tau apa yang terjadi padanya dahulu, satu yang membuat kami penasaran, nenek mengatakan bahwa jika hujan datang dan Luna tidur, ia akan bergumam memanggil kakaknya, hanya saja saat ditanya ia tidak ingat," jelas Ferdi.
Kini mereka sudah sampai di tukang pangkas yang dimaksud Ferdi.
"Kita sudah sampai, nanti saja kuceritakan," ucap Ferdi sambil melirik orang-orang ya g berada di dalam tempat pangkas itu.
"Baiklah," ucap Gama mengerti.
"Pak tolong pangkas teman saya, dibersihin aja wajahnya," ucap Ferdi pada tukang pangkas itu.
Gama di pangkas dan dicukur, namun pikirannya tidak lepas dari istrinya Luna, banyak hal mengejutkan yang belum ia ketahui. Saat mendengar cerita Ferdi tadi, ia merasa hatinya sakit saat mengetahui kebenaran tentang Luna.
Bagaimana bisa gadis itu bertahan selama ini, apa yang dikatakan Ferdi benar, sebaiknya Luna tidak usah mengingat masa lalunya jika itu akan membahayakan dirinya.
"Mengejutkan sekali, hmmmm dia saja bisa bertahan dengan trauma sebesar itu, sedangkan aku? ck.... ternyata kau memang benar-benar bodoh Gama, pantas saja Luna selalu meledekku," batin Gama mengingat semua cerita yang diucapkan Ferdi.
"Tapi tak pernah sekalipun kulihat raut sedih di wajah Luna, apa dia menahannya selama ini?" batin Gama.
Tukang pangkas memotong rambut dan mencukur kumis serta jenggot Gama yang sudah panjang.
Luna datang dengan membawa kantong plastik dan beberapa belanjaannya yang di beli dari langganannya di desa itu.
"Udah selesai Fer?" tanya Luna pada Ferdi yang menunggu di kursi di depan ruko tukang pangkas.
"Belum, sebentar lagi mungkin, duduk dulu Lun," ucap Ferdi pada Luna.
__ADS_1
"Suami kamu ternyata gak seram-seram amat Lun," ucap Ferdi.
"Emang iya, kamu sih yang keburu takut, udah kubilang dia gak gigit kok heheheh," kekeh Luna.
"Astaga Luna, suami sendiri dinistakan!" ledek Ferdi.
"Eheheheh, ya elah selagi bisa ya kan hahahah," tawa Luna terbahak-bahak, Ferdi hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah absurd temannya itu.
"Pak ini udah selesai!" ucap tukang Pangkas sambil mendorong kursi roda Gama menuju tempat duduk Luna dan Ferdi.
Luna dan Ferdi menoleh ke arah Gama, Luna menyergitkan keningnya clingak clinguk mencari seseorang.
"Pak suami saya mana? kenapa malah bawa orang lain? kayaknya si bapak salah deh!" ucap Luna bangkit berdiri sambil melihat sekitar tempat tukang pangkas itu.
"Iya pak, tadi saya bawa temen saya kenapa bawa tuan ini?" ucap Ferdi.
Gama menepuk jidatnya sendiri melihat kedua manusia itu malah tidak mengenalinya.
"Loh Ibu sama Bapak gimana sih masa gak kenal sama pria ini?" heran tukang pangkas.
"Lah emang kita harus kenal gitu sama dia?" ketus Luna yang malah masuk ke dalam ruko dan mencari suaminya.
"Ferdi, Gama dimana sih? kamu bawa kesini kan? kok gak ada?" ucap Luna sedikit panik.
"Ya gak tau, si bapaknya kali yang umpetin Gama," ucap Ferdi.
"Ekhmm...Luna ini aku, masa gak kenal sama suami sendiri!" ucap Gama.
Luna dan Ferdi yang mengenali suara Gama terbelalak kaget, mata mereka melotot dan mulut mereka menganga untung gak ada lalat yang masuk.
Wajah tampan berkharisma, dengan potongan rambut pendek, wajah bersih tanpa kumis dan jenggot, mata tajam, alis tebal, hidung mancung bibir merah muda tipis, menjadi sebuah maha karya yang sangat indah dan sangat sedap dipandang mata.
"Mulutnya di tutup bau tau!" ledek Gama.
Luna dan Ferdi sangat terkejut melihat wajah tampan blasteran Korean Indonesia itu.
"Et dah Ferdi kayaknya aku harus bawa topeng kemana-mana deh," ujar Luna sambil berjalan mendekati Gama, matanya tidak lepas dari wajah tampan dan segar suaminya itu.
"Lah napa bawa topeng Lun?"di tanya Ferdi heran.
"Kamu lihat gak sih mukanya tampan banget, bisa-bisa jadi janda muda aku kalau cewek cewek di luar sana ngelihat wajahnya dia, makanya harus ditutupi aja," celetuk Luna yang tanpa sadar memegang wajah suaminya.
"Pfftthh....hahahhaha berarti aku juga harus bawa topeng dong karna aku gak mau jadi duda muda karna istriku ini juga cantik sekali!" balas Gama sambil tertawa terbahak-bahak di hadapan Luna.
"Pfhttt.......hahahahah, bener itu, jadi kalian kalau ke kota pakai topeng aja biar gak ada yang lihat hahahhahah, dasar pasutri somplak !" ejek Ferdi yang mendapat tatapan tajam dari Luna.
"Ihk....Ferdi genduttt...." kesal Luna sambil mencubit lengan pria itu.
"Awhhh sakit Luna," rintih Ferdi.
"Hahahaha, rasain rese banget sih," ujar Luna.
"Oh iya ini uang pangkas nya pak, makasih ya udah buat om-om ini jadi muda lagi hahahah," celetuk Luna sambil memberikan uang pangkas.
__ADS_1
"Eh terimakasih Bu, emang suami ibu udah ganteng kali dari Sononya, hati-hati Bu banyak pelakor loh bertebaran dimana-mana," ucap tukang pangkas itu.
"Pak pelakor mana berani nyentuh saya kan udah ada pawangnya," ucap Gama terkekeh sambil melirik Luna, ia tersenyum manis membuat hati Luna dag dig dug tak karuan, rasanya seperti ada kupu-kupu menari-nari di hatinya.
Wajah Luna memerah, ia sangat senang sekaligus malu karena digoda Gama.
"Ck...udah ayo, kamu mah ngelantur!" ketus Luna untuk menutupi rasa malu dan gugupnya.
"Hahahahah, Luna kamu bisa malu juga ya, biasanya kan malu maluin hahahah," ejek Ferdi yang membuat Luna mengerucutkan bibirnya kesal.
"Haishh, dasar Ferdi genduttt!" balas Luna.
Gama banyak tertawa hari ini, wajah tampan dan kharismatik miliknya menjadi perhatian orang-orang desa, mereka semua terkejut melihat paras tampan bak pangeran dari negeri dongeng, bahkan ketampanannya mengalahkan Andre pria yang dianggap paling tampan di desa itu.
"Waduh neng, itu suaminya kapan berubah?" celetuk ibu-ibu yang sedang menjemur pakaian.
"Hahaha, berubah gimana buk wong sama aja kok," balas Luna.
"Wah saya pengen deh anak saya nanti kalau lahir setampan suami kamu Lun," ucap Ibu hamil yang sedang duduk di depan rumah bersama suaminya.
"Loh buk, anak kita cewek loh masa ia dia tampan apa kata orang nanti," celetuk suaminya.
"Oh iya hahaha, kalau gitu cantik kayak Luna aja deh, Luna kan emang yang paling cantik di kampung ini," ucap si Ibu sambil mengelus perut buncitnya.
"Amin Bu, semoga sehat ya sampai lahiran," balas Arta sambil tersenyum.
"Terimakasih, kamu juga semoga cepat dapat momongan!" ujar Ibu hamil itu.
Luna tersenyum kikuk, ia bahkan tak pernah berpikir ke arah itu.
"Aduh kejebak omongan sendiri," batin Luna.
Gama tersenyum mendengar ucapan para warga, sungguh jika asisten dan sahabat-sahabatnya melihat ini mereka pasti akan sujud syukur dihadapan Luna dan warga kampung karena berhasil membuat pria sedingin es itu tersenyum kembali, bahkan banyak tertawa tanpa beban.
"Fer kami balik dulu ya, udah sore," ucap Luna yang kini sudah berada di dekat mobil Gama.
"Oh oke deh Luna, Gama sampai jumpa lagi," balas Ferdi.
"Kalau mau main ke rumah, datang aja ya Fer lagian Gama juga kayaknya butuh teman iya kan?" ucap Luna menatap Gama.
"Iya, Fer datang aja kalau lagi senggang," ucap Gama.
"Oke deh, kalau gitu aku pergi dulu ya mau bantuin si mbok ngurus barang jualan buat besok," ucap Ferdi.
"Oke, oh iya Fer ini buat kamu sama simbok, dinikmati ya," ucap Luna memberikan dua bungkus bakso yang dibelinya sat Gama di tukang pangkas.
"Ok, terimakasih Luna, sampai Jumpa Gama!" ucap Ferdi meninggalkan mereka.
Luna dan Gama pulang ke rumah, Gama menyetir sedangkan Luna duduk di sampingnya.
.
.
__ADS_1
.
like, vote dan komen 😊😉