Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
117


__ADS_3

Luna bersama Alex, Anna dan Aiden masuk ke dalam ruangan Gama. Dokter George sudah pulang beberapa waktu lalu sebelum Luna tiba.


Ceklek.....


Pintu dibuka, Luna masuk ke dalam ruangan kamar, sebenarnya dia ingin sekali langsung berlari memeluk Gama yang tengah berbaring di atas ranjang.


Tapi dia harus pelan pelan mengingat Gama masih sakit.


Luna masuk terlebih dahulu, Aiden , Alex dan Anna menunggunya di depan pintu, mereka harus perlahan-lahan berbicara pada Gama agar pria itu tidak panik dan marah yang justru akan memperburuk keadaannya.


Luna menatap Gama yang mulai membaik setelah dirawat oleh Dokter George.


Luna perlahan mendekati Gama dengan mata berkaca-kaca, jika di dekat pria itu dia benar-benar tidak bisa menyembunyikan perasaannya dari sang suami.


Luna duduk di ranjang tepat di sebelah tubuh Gama. Tangan mengelus tangan Gama, perlahan jari jarinya mengelus wajah Gama yang terlihat sedikit pucat, dia benar-benar merindukan prianya, pria yang sudah mencuri hatinya.


"Hiks...hiks...hiks, sayang," Luna menangis sedih melihat kondisi suaminya, ada rasa sesal di hatinya melihat keadaan suaminya seperti itu.


Tapi niatnya untuk meluruskan kesalahpahaman ini sudah bulat, dia harus menyatukan mereka kembali.


Merasa ada yang menyentuh wajahnya, Gama membuka matanya, dia mengerjapkan matanya menatap siapa yang kini duduk di sampingnya dengan berderai air mata.


Gama mengangkat tangannya lemah, dia mengusap wajah itu.


"Sayang, bahkan aku sampai memimpikanmu menangis, Arhhh....maafkan aku, maaf sayang, aku salah maafkan aku yang terlalu mudah marah," tangis Gama seraya mengelus wajah itu.


Luna menggenggam tangan Gama yang mengelus wajahnya.


"Ini aku sayang, hiks hiks hiks, ini aku kau tidak bermimpi, aku pulang aku kembali," tangis Luna tersedu-sedu, bahunya bergetar hebat air matanya mengalir deras begitu saja.


Gama berusaha menetralkan pikirannya, apa ini bukan mimpi pikirnya.


Gama langsung duduk di atas ranjang dia menarik Luna dan memastikan apakah sosok itu benar-benar istrinya yang hilang selama lima hari.


"A...aku tidak mimpi kan, i..ini benar benar Luna-ku, arhhhh apa aku sudah gila sampai berhalusinasi melihatmu disini, aku merindukanmu, maafkan aku sayang," Gama memegang wajah Luna memastikan apakah dia tidak bermimpi.


"Ini aku sayang, ini aku, maaf sudah membuatmu khawatir hiks hiks hiks," Luna menangis dia memeluk erat pria itu.


Gama terhenyak, untuk sesaat dia tidak mempercayai apa yang dilihatnya namun ini semua begitu terasa nyata, Luna benar benar ada disini sekarang.


"Maafkan aku membuatmu kecewa hari itu, maaf karena sudah membuatmu menangis, maaf meninggalkanmu maafkan aku sayang maafkan aku," ucap Gama sambil memeluk tubuh Luna erat-erat dia menghujani kepala Luna dengan kecupan.


Gama benar-benar mendapatkan kembali nyawanya setelah melihat Luna kini ada di hadapannya.


"Hiks....hiks...hiks, bagaimana bisa kau tidak mengenali istrimu sendiri, kau jahat kau jahat," Luna memukul-mukul dada Gama dia menumpahkan segala perasaannya di hadapan pria itu.


"Maaf sayang, itu kesalahan terbesar ku, aku gelap mata saat kau menyebut namanya, maafkan aku aku seharusnya tidak begitu,"sesal Gama, dia masih memeluk istrinya dengan erat, dia benar-benar merindukan gadis itu.


"Aku memaafkan mu tapi kumohon sayang, ubahlah tempramen burukmu itu, tidak semua yang kau lihat dan kau dengar itu benar, kau harus bisa mengendalikan emosi mu!"ucap Luna seraya melepas pelukan mereka.

__ADS_1


Gama menatap Luna, dia mengelus kedua pipi gadis itu, dia benar-benar merindukan Luna.


"Aku akan berusaha, aku hanya benci dengan masa laluku," ucap Gama sendu, dia menundukkan kepalanya.


Luna menggenggam erat tangan Gama, dia menatap pria itu.


"Sayang lihat aku," ucap Luna.


Gama mengangkat kepalanya dan menatap Luna dengan wajah penyesalan. Pria itu tampak kusut dan pucat, tentu saja karena dia tidak makan teratur dan cenderung depresi berat.


"Kenapa dia jadi selemah ini, astaga aku jadi merasa bersalah meninggalkannya," batin Luna menatap wajah suaminya.


Luna mengelus wajah Gama, ia menatapnya dengan lembut.


"Sayang berjanjilah apapun yang terjadi kedepannya kau harus bisa meredam emosimu, kau harus bisa mengendalikan perasaanmu," ucap Luna.


Gama mengangguk paham, dia tidak akan mengulang hal yang sama yang bisa menyakiti hati istrinya.


"Aku janji, aku akan berubah, maafkan aku," ucap Gama.


"Tak apa sayang," balas Luna sambil tersenyum, senyuman yang membuat semangat seorang Gamaliel Park kembali.


"Kemana kau selama lima hari ini? Apa yang terjadi, aki tak bisa menghubungi mu, ponselmu mati, kau tidak bisa dilacak, apa terjadi sesuatu dengan mu? Apa kau terluka? Apa kau baik-baik saja? Bagaimana denagn makan dan kinum, lalu kakimu apa masih sakit, aku sangat cemas sayang," ujar Gama dengan serentetan pertanyaan.


Luna tersenyum, suaminya benar benar khawatir padanya dan dia tau itu, sebab dia mengawasi suaminya dari jauh.


"Aku diselamatkan oleh seseorang yang sangat kau kenal tapi kau tidak mengerti dengan hatinya, aku diselamatkan dari orang-orang suruhan tuan Jae Sung pamanmu, dan yang menyelamatkanku adalah pengawal yang selalu mengikuti kita kemanapun," jelas Luna.


"Aku yang meminta, sebab aku bertemu seseorang yang benar-benar baik dan dia yang melindungi kita selama ini dari tuan Jae Sung,"


"Kau bahkan tidak tau kalau sebagian besar anak buah yang kau kenal adalah bawahannya, dia ada dimana-mana, dia juga melindungi Anna dari target penculikan," jelas Luna.


Gama menyerngitkan keningnya, dia mencoba mengingat siapa yang bisa dan mau melakukan itu.


"Siapa dia? Aku mengenalnya? Apa dia Satria sepupumu? Atau rekan bisnisku?"tanya Gama namun Luna menggelengkan kepalanya.


"Dia seseorang yang menyelamatkan mu saat kecelakaan satu tahun yang lalu, dia yang memastikan kalau kau benar-benar selamat dan ditangani dengan baik waktu itu," jelas Luna sambil mengelus tangan suaminya agar dia tenang.


"Dia juga yang mengawasi tuan Jae Sung agar tidak mengganggumu, bahkan mengorbankan dirinya untuk menjauhkanmu dari seorang wanita bertopeng karena tempramen mu yang buruk di masa lalu," tambah Luna.


"Siapa dia?" Tanya Gama semakin penasaran.


"Dia seseorang yang sangat kau kenal, lihat video ini, ini adalah rekaman dashboard mobil yang dia gunakan saat menyelamatkan mu dulu, aku berhasil mendapatkannya beberapa hari lalu tanpa sepengetahuan pria itu," ujar Luna sambil mengeluarkan ponselnya dan membuka video yang akan dia tunjukkan pada Gama.


"Kuharap kau menepati janjimu sayang, " ucap Luna sambil memberikan video itu pada Gama.


Gama menerima ponsel Luna, dia melihat video itu.


Deg.....

__ADS_1


Bagai disambar petir di siang bolong, Gama begitu terkejut melihat sosok yang sangat di bencinya yang malah menyelamatkannya pada waktu itu, jika tak ada dia mungkin tuan Jae Sung sudah menguasai seluruh harta keluarga Park.


"A....Alex....tak mungkin sayang, dia dia yang merencanakan ini bersama pamanku, dia bekerja sama dengan pria itu, tidak mungkin!" Sanggah Gama tak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Dia yang sudah merebut tunangan ku, dia yang menghancurkan kehidupanku!" Ucap Gama marah.


"Ck..... jadi kau menyesal menikah denganku, jadi kau ingin kembali pada tunanganmu itu, arhhh sial, sia sia aku bicara panjang lebar!" Ketus Luna, dia langsung bangkit berdiri dengan wajah marah.


"Apa tunanganmu itu segitu pentingnya sekarang? Kau sama saja dengan kak Ken, kalian benar-benar tidak menginginkan aku disini hiks hiks hiks," Luna menangis tersedu-sedu, dia kecewa mendengar jawaban Gama.


"Sayang bukan begitu maksudku, arhhh.... maafkan aku, aku salah maaf bukan itu maksudku," ucap Gama.


Gama menarik tangan Luna hingga gadis itu duduk di depannya.


"Jangan menangis lagi kumohon, maafkan aku," ucap Gama sambil mengelus wajah Luna. Tubuh gadis itu bergetar, dia menangis tersedu-sedu.


"Kau pikir...a..aku tidak takut memberitahukan hal ini padamu, aku khawatir Gama, aku khawatir kalau kau akan marah padaku, aku takut tapi aku harus meluruskan kesalahpahaman di antara kalian, hiks...hiks..hiks," Luna menangis tersedu-sedu.


Dia berhenti sebentar untuk menarik nafasnya yang terasa sesak.


"Mungkin yang dikatakan kak Ken benar, hiks hisk, aku hanya orang asing, aku tak seharusnya ikut campur hiks hiks hiks, aku minta maaf kalau membuatmu marah , hiks hiks hiks aku bukan istri yang baik huhuhu," air matanya mengalir begitu deras, dadanya terasa sesak, dia benar-benar terpukul.


Gama tersadar, dia tak seharusnya marah padahal dia sudah berjanji untuk meredam emosinya.


"Maaf sayang, kau tidak salah, maafkan aku husshh.....jangan menangis lagi, aku akan mendengarkan semua penjelasanmu, aku akan mendengarkan nya," ucap Gama berusah menenangkan istrinya.


Luna mengangkat kepalanya dan menatap Gama dengan matanya yang basah dan hidungnya hhang memerah.


"Kau harus mendengarkan penjelasan nya, aku membawanya kesini, jangan marah, kumohon aku tidak mau suamiku hidup dalam dendam dan salah paham seumur hidupnya, aku ingin kau bahagia sayang," ucap Luna sambil menatap Gama berusaha meyakinkan pria itu.


"A...apa dia ada disini?" Tanya Gama, Luna mengangguk pelan sambil mengelus dada suaminya.


"Dia yang menyelamatkanku dan juga menyelamatkan mu dulu sayang, dia sudah berjasa untuk kita berdua, kuharap kau mau mendengarkan penjelasannya, jangan marah-marah kau bukanlah Gama yang dulu lagi," ucap Luna seryaa menghapus air matanya.


"Baiklah, aku akan mendengarkan tapi kau harus disisiku, " ucap gama yang dianggukkan oleh Luna.


Luna tersenyum, ia mengusap wajah suaminya dan merapikan penampilan suaminya agar terlihat lebih rapi.


"Kau harus rapi untuk bertemu teman lama," ucap Luna sambil merapikan sang suami.




.


.


.

__ADS_1


like vote dan komen 😉😉😊


__ADS_2