Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
189 Si Bar Bar Lady is Back!


__ADS_3

Hari telah berlalu, tampak kediaman keluarga besar Park masih diselimuti oleh kesedihan, apalagi Rose tampak gadis itu benar-benar terpukul saat ini.


Ken selalu mendampingi kekasihnya agar tidak terlalu drop dan mereka semua memberikan dukungan untuk menyemangati wanita cantik itu.


Tadi siang, jenazah Nenek Rose sudah dikebumikan, acaranya dilakukan di sebuah rumah duka khusus yang dipersiapkan Ken untuk nenek Rose.


Ayah dan Ibu Rose juga datang bersama anak kandung mereka dan juga paman Rose, serta beberapa teman Rose saat bekerja di rumah sakit yang sama dulu, dan kebetulan mereka bertemu Rose di rumah sakit milik Ken sehingga mereka tau kabar duka itu.


Nyonya Maureer beserta Ben dan Josh juga hadir disana, semalam mereka menemani anak anak panti sehingga tidak bisa ikut serta ke rumah sakit.


Dokter Vanya yang menangani operasi besar nenek Rose juga tampak hadir diantara para pengunjung, dia juga tampak sedih dengan kepergian nenek Rose yang menurutnya memang sangat tidak wajar.


Rose dimarahi habis-habisan oleh keluarganya, dan dia malah dituduh membunuh neneknya sendiri.


Plaakk


Suara tamparan yang sangat keras menggema di ruang duka itu, tampak ibu Rose yang sempat di tahan menampar pipi Rose dengan kuat membuat mereka semua menoleh pada wanita itu.


"Apa yang anda lakukan !!!" teriak Ken marah saat melihat pacarnya dipukul tepat di depan matanya.


"Kak Rose," Andin dan Anna langsung menghampiri Rose yang diam membatu setelah mendapatkan pukulan dari Mamanya sendiri.


"Minggir kalian, ini bukan urusan kalian, urusan keluarga kami!!" bentak Tuan Niko Ayah Rose.


"Siapa mereka ini, kenapa mereka melindungi anak haram ini, mana cowok cowoknya ganteng ganteng lagi, pasti orang kaya," batin Lia adik Rose yang beda satu tahun dengannya, dia melirik Ken yang tampak merangkul Rose serta deretan pria tampan yang sedang duduk bersama seorang Ibu hamil yang sangat cantik siapa lagi kalau bukan Luna dan para pangeran tampan.


"Jika ini berhubungan dengan Rose maka ini juga akan menjadi urusan kami!" ucap seseorang dari belakang mereka, yang tak lain adalah Gama, suami Luna yang sedari tadi memperhatikan percakapan dan perlakuan keluarga Rose pada gadis itu.


"Kalian ini siapa hah!?? berani beraninya kalian ikut campur!!" ucap Beti Ibunya Rose.


"Kami keluarganya!" ucap Nyonya Maurer ikut berdiri dan menghampiri mereka.


"Ck... sialan kau dasar pembunuh!!!" teriak Nyonya Beti marah.


"Dasar pembunuh!! kau membunuh ibuku dasar anak haraaammmmm!!!!" teriak Ibu Rose histeris berusaha mencari perhatian agar orang orang menyalahkan Rose.


"Ma.." lirih Rose sambil menangis tersedu-sedu.


"Cihh buang air mata palsumu itu! " ejek saudarinya yang sangat tidak menyukai Rose Karena paras Rose lebih cantik dari dirinya.


"Sekarang mana uang asuransi kematian nenekmu, kau pasti sudah menerimanya bukan!!"ucap Pamannya.


Mereka terkejut dengan ucapan pria itu, akhirnya mereka paham apa maksud keluarga Rose menekan gadis itu.


"Ck... dasar orang-orang bodoh!" ketus Luna sambil menatap datar ke arah keluarga Rose.


"Jadi kalian melakukan ini hanya untuk uang asuransi? astaga, bahkan tubuh nenek saja belum dikebumikan berani sekali kalian menuntut uang dari Rose!!" bentak Ken, pria itupun benar benar marah saat ini.


Ya dia tidak heran lagi saat menemukan keluarga semacam mereka, karena keluarganya sendiri lebih parah dari itu.


"Cihh.... dia pasti sudah memakan semua uang itu, makanya dia diam, lagipula kalian ini bukan siapa siapanya, kenapa kalian melindungi pembawa sial ini!" ketus Lia sambil menatap Rose dengan tatapan merendahkan.

__ADS_1


Ken mengeraskan rahangnya, dia bersiap membalas wanita bermulut ular itu namun.....


Bughhh


Sebuah sepatu flat shoes melayang tepat di kepala Lia.


"Awwhhhh..... siapa yang berani melempar kepalaku!!!!" teriak Lina kesal.


"Aku kenapa? mau melemparku juga hmm?" ucap Luna sambil mengemut permen lollipopnya.


Lia berbalik, mereka semua menatap ke arah Luna yang menatap tajam ke arah keluarga Rose.


Gleekkk


Mereka menelan kasar Saliva Mereka saat melihat aura Luna yang benar benar mendominasi, bahkan kakak kakaknya dan sahabat-sahabatnya sampai tak bisa berkata apa apa lagi dengan kelakuan ibu muda itu.


"Kalau mau buat keributan jangan di tempat ini, hormati nenek!" ucap Luna yang duduk santai sambil memegang pasangan sepatu Flat shoes yang dilemparkan ke kepala Lia tadi.


"Pengawal, seret mereka keluar, pemakaman akan dilanjutkan tanpa mereka, bagaimana kak Rose apa kakak tak keberatan? bagaimana dengan yang lain apa boleh ?" ucap Luna dengan suara tegas dan sorot mata tajamnya.


Mereka semua mengangguk setuju, "Bawa mereka dan jangan biarkan pembuat onar melakukan keributan lagi, kalau mau bicara setelah acara selesai," ucap Ibu hamil yang terlihat garang dengan gaun serba hitam dan lipstik merah meronanya itu, tampak ibu hamil ini seperti malaikat pencabut nyawa berkedok ibu hamil.


Para pengawal menyeret Keluarga Rose, Paman Rose menyempatkan diri menyerang Luna balik dengan melemparkan garpu ke arah ibu hamil itu namun...


Srreett


Garpu itu berhasil dihindari Luna dengan santai, mereka semua panik saat melihat garpu melayang ke arah Luna. Luna berdiri, dia menenggak air mineralnya dari botolnya sampai habis.


Prakkk


Prakkk


Prakkk


Luna memukul kepala mereka berempat dengan menggunakan botol air mineral yang terbuat dari bahan plastik yang cukup tebal.


"Dasar otak dongkol, kau mau membunuhku dan anak anakku dasar otak dodol!!" bentak Luna, dia paling banyak memukul kepala paman Rose yang melemparkan garpu itu.


"sana bawa mereka, sial!" ketus Luna.


Mereka semua terkejut melihat Sang Luna yang bar bar semakin bar bar, dia dengan mudahnya memukuli keluarga Rose tanpa ampun.


"Lanjutkan acaranya, " ucap Luna dengan tatapan kesal dan marah.


"Cih membereskan masalah seperti itu saja kalian sangat lamban!" cibir Luna dengan wajah kesal dan marah, sejujurnya dia masih marah sejak kejadian semalam di kamar rumah sakit.


"Sepertinya Luna benar benar marah, apa ini masalah kemarin?" batin Gama.


"Sepertinya Luna sedang benar benar marah, dia tak akan memukul orang lain jika orang itu tidak punya kesalahan fatal," batin Andin sambil menatap Luna yang malah asik memakan kembali mengemut permennya setelah memukul orang.


"Wahh kak Luna keren!!" batin Ben dan Josh.

__ADS_1


"Apa semua Ibu hamil seperti itu? jangan sampai istriku sebarbar Luna, bisa mampus aku, salah dikit bacok!!" batin Aiden, dia langsung menggenggam tangan Mikha yang sedang tidak enak badan karena setelah acara pernikahan yang melelahkan dia tidak sempat beristirahat dengan baik apalagi setelah mengurus anak anak panti dia langsung ke rumah sakit membuta tubuhnya lelah.


"Ada apa?" tanya Mikha.


"Ahh tidak ada apa apa?" jawab Aiden yang belum sadar istrinya sedang sakit.


Acara pun kembali dilaksanakan, pemakaman dilakukan dengan lancar hingga Nenek pun dimakamkan di pemakaman yang sama dengan makam Mama Ken dan Luna.


Luna menyempatkan diri mengunjungi makam Mamanya yang lama tak ia lihat setelah kedatangan keluarga pamannya keluarga Farenheit.


Kembali ke masa kini, mereka semua telah menyelesaikan acara pemakaman sekarang adalah saatnya mencari tau apa yang terjadi dengan nenek Rose.


Saat yang lain sibuk melakukan tantangan yang di berikan Luna, ibu muda itu tengah asik menikmati cemilan sorenya.


Luna berjalan dengan perut buncitnya, mendekati Rose yang sedang duduk bersama Ken di dalam ruang santai, dia tidak mau berbicara dengan kakak kakak dan suaminya jika masalah nenek Rose belum juga kelar.


"Kak Ozeee," panggil Luna, gadis yang tampak melamun itu menoleh pada Luna yang berjalan ke arahnya sambil membawa kerupuk kentang yang sangat disukainya.


"Luna," ucap gadis itu.


"Eghhh... mau kak?" ucap Luna pada Rose dan Ken namun ditolak oleh mereka berdua.


" Apa kakak masih sedih?" tanya Luna yang duduk di samping Rose.


"Tentu masih na, nenek pergi begitu saja, kakak tentu sedih," ucap Rose, Ken segera mengusap punggung gadis itu agar dia kuat.


" Hmmm... " Luna meletakkan cemilannya di atas meja, dia duduk menghadap Rose sambil menggenggam tangan gadis itu.


"Kak, pada akhirnya semua orang akan pergi seperti nenek, kakak jangan terlalu berlarut dalam kesedihan, ini sudah waktunya bagi nenek meski harus dengan cara seperti ini, kita sebagai manusia hanya bisa menerima apa yang di tetapkan Tuhan pada kita, " ucap Luna.


"Boleh sedih tapi kakak harus bangkit, jangan sampai kakak diinjak injak oleh keluarga kakak yang tidak tau aturan itu, kakak harus buktikan bahwa kakak orang yang hebat dan kuat, ingat kak kakak gak sendirian, kami ada disini untuk kakak," ucap Luna.


"Baby twins juga gak mau Tante mereka yang cantik menangis terus," ucap Luna sambil tersenyum manis.


"Hiks hiks hiks, terimakasih Na, terimakasih banyak karena kamu kakak tau rasanya disayangi dan dicintai terimakasih banyak," ucap Rose langsung memeluk Luna.


Luna tersenyum dia mengelus punggung Rose.


"Sudah jangan menangis lagi, kuatkan dirimu kak, lihat kak Ken dia sangat panik saat pacarnya yang cantik ini menangis," goda Luna membuat Rose tersenyum malu.


"Benar kata Luna Ze, jangan menangis lagi ya," ucap Ken yang dianggukkan oleh Rose.


"Ya Tuhan, Mikhaaaaaaa......." teriakan Aiden terdengar menggelegar di rumah besar itu membuta mereka semua terkejut sekaligus panik.


.


.


.


like, vote dan komen 😊😉 up

__ADS_1


__ADS_2