
Di salah satu ruangan VIP rumah sakit milik Ken terbaring seorang gadis cantik, tampak di tubuhnya masih terpasang selang infus. Luka di beberapa bagian wajah dan tubuhnya sudah mulai sembuh.
Terdengar alunan nafas yang teratur menandakan bahwa gadis itu sedang terlelap.
Mark masuk ke dalam ruangan itu sambil membawa secangkir kopi hangat miliknya. Sepertinya kopi di dalam gelas putih itu baru saja di seduh sehingga aromanya menyeruak ke seluruh ruangan.
Harum dan nikmat pastinya, sangat cocok menemani Mark dengan benda persegi panjang di depannya yang menyala dan menampilkan diagram diagram yang tampak seperti data data penting perusahaan.
Mark duduk di sofa tak jauh dari bed rest Andin. Ia menatap gadis itu sejenak lalu kembali menatap layar laptopnya dan fokus dengan pekerjaannya.
klik...klakk..klik..klik
Terdengar suara ketukan jari Mark di papan ketik laptop, meski jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, tampaknya Mark tidak lelah mengerjakan semua pekerjaannya dan mengecek semua yang berkaitan dengan keberangkatan tuannya besok. Namun suara seseorang menghentikan pekerjaannya.
"aaa....am.ampun...Ma...am..aampun, sakit...ja..jangan...Mama...Papa...Ampun...arghhh...sakit..erghh..." Andin meracau, baru saja gadis itu tidur lelap ia kembali mengalami mimpi buruk, sudah beberapa hari ini gadis itu bermimpi buruk dan meracau tidak jelas.
Tubuhnya berkeringat, keningnya berkerut dan badannya bergetar.
Mark terkejut mendengar suara tangis gadis itu. Ia meninggalkan pekerjaannya lalu beranjak mendekati bed rest Andin. Tampak Andin tidak bisa tenang dalam tidurnya.
"Nona, hey nona Andin, Andin!"panggil Mark berusaha membangunkan Andin.
" Andin, bangunlah!" ucap Mark namun tak digubris oleh Andin yang terus meracau bahkan air matanya sampai tumpah dan membasahi bantal yang dia pakai.
Dengan ragu-ragu Mark menunduk lalu menyentuh bahu Andin dan menggoncang dengan pelan agar gadis itu bangun.
"Andin, bangun itu cuma mimpi," ucap Mark dengan volume yang lebih kuat agar Andin mendengarnya.
"Arghh...tolong aku...hiks...hiks...hikss," Andin bangun, ia mengangkat tubuhnya dan langsung memeluk Mark yang berada tepat di hadapannya. Tangan Mark tidak menyentuh tubuh Andin sama sekali.
Andin memeluk Mark dengan erat sambil menangis tersedu-sedu, Mark menjadi kebingungan sendiri, ia sangat tidak bisa menyentuh seorang wanita apalagi sampai dalam posisi berpelukan seperti itu.
"Tolong aku tuan...hiks...hiks..hiks..tolong aku....," Andin masih menangis tersedu-sedu sambil memeluk Mark. Dapat Mark rasakan bahwa tubuh gadis itu bergetar ketakutan, beluma ada sepuluh menit ia terlelap tapi mimpi buruknya kembali menghampiri.
"Arhhh...huhuhuhu, " Andin menangis ketakutan.
Mark ingin melepas pelukannya namun ia tiba-tiba merasa tidak tega dengan gadis itu. Mark perlahan lahan menggerakkan tangannya membalas pelukan Andin meski pikirannya selalu menolak dan minta melepaskan pelukan itu.
Seolah bertolakbelakang, tubuh dan hatinya malah merespon pelukan Andin.
Mark menggerakkan satu tangannya dengan sangat kaku, ia menepuk-nepuk punggung Andin agar gadis itu tenang dan tida menangis lagi.
__ADS_1
"Kenapa dia jadi mimpi buruk seperti ini? apa dosis obatnya berlebihan atau bagaimana? nanti aku akan laporkan ini pada tuan Gama, sepertinya dokter George memberikan obat yang salah," batin Mark.
Tanpa bicara sepatah kata pun, Mark hanya membalas Pelukan Andin dengan sangat kaku.
Tanpa mereka sadari empat manusia super heboh sedang mengintip mereka dari balik pintu masuk, jangan lupakan Aiden yang setia menjadi seksi dokumentasi jika ada hal langka seperti ini terjadi.
Kepala mereka menyembul dari balik pintu, Ken, Luna, Bima dan paling bawah adalah Aiden.
"Hahahha, sepertinya akan ada pasangan baru," bisik Luna.
"Kau benar Luna, aku tidak pernah melihat Mark memeluk seorang wanita," timpal Bima.
"Sudah ayo kita pulang saja, jangan ganggu momen romantis mereka," bisik Ken yang dianggukkan oleh Luna dan Bima.
"Suuhhttttt bentar lagi, pemandangan gratis siapa tau ada adegan 17 +," bisik Aiden yang asik melakukan Zoom-in dan Zoom-out sambil merekam Andin dan Mark.
"Ck...diam mulutmu, ayo cepat!!" ketus Bima sambil menarik kepala pria itu.
Luna menutup pintu dengan hati-hati. Ia menatap sekilas Andin yang tampaknya menangis sesenggukan serta tangan Mark yang tampak kaku saat memeluk Andin.
"Ku harap kalian berdua bisa bersama, aku sangat yakin kalau kalian memang diciptakan untuk berjodoh," ucap Luna sambil tersenyum.
"Sudah, ayo kita pulang biar Mark yang jaga Andin, nanti kakak kasih tau sama Mark, atau mau jalan-jalan dulu?" tanya Ken sambil menggandeng tangan adiknya.
"Oke," jawab Ken sambil tersenyum dan berjalan menggandeng tangan Luna meninggalkan dua manusia tengil yang sedang berdebat di belakang mereka.
Bima mengunci kepala Aiden di bawah ketiaknya sambil terus menjitak dan memukul kepala pria itu.
"Dasar mulut ember, tadi ngapain ngomong begitu sama Gama hmm? kujahit mulutmu baru tau rasa!!" ketus Bima.
"arghh...ampun..ampun,lepas dong Bima, sakit tau," ucap Aiden sambil memukul-mukul lengan Bima yang menjepit lehernya.
Bima melepaskan jepitannya lalu pergi meninggalkan Aiden yang masih menetralkan pernafasannya karena ulah Bima tadi.
"Woi tungguin uhukk uhukk," ucap Aiden berlari sambil terbatuk-batuk.
Sementara itu di dalam kamar tampak Andin mulai tenang. Gadis itu melepaskan pelukannya lalu menundukkan kepalanya di depan Mark sambil memelintir ujung selimut yang di pakainya.
"Maaf," ucap Andin.
"Tidak masalah, sekarang Anda tidurlah kembali nona," ucap Mark sambil beranjak dari sisi bed rest yang didudukinya namun Andin memegang tangan pria itu dan menghentikan langkahnya.
__ADS_1
Andin mengangkat kepalanya, lalu menatap Mark dengan wajah sendu.
Deg
"Ada apa denganku?kenapa hatiku sakit melihatnya seperti itu?" batin Mark.
"Jangan berlaku aneh Mark! kau tidak boleh jatuh cinta, semua wanita itu sama!" tegas Mark pada dirinya sendiri.
" Tolong lepaskan tangan saya Nona, setelah itu kita bicara," ucap Mark dengan nada yang sangat dingin, membuat Andin segera melepaskan tangannya, tanpa sadar Mark membuat Andin terluka.
Jujur saja, Andin masih trauma dengan perlakuan dingin dan datar yang di dapatkannya setiap hari dari kedua orangtuanya.
"Maaf, pergilah dan terimakasih," lirih Andin sambil melepaskan tangan Mark. Ia membaringkan tubuhnya lalu tidur menyamping membelakangi Mark dengan selimut yang menutupi tubuhnya.
"Apa yang ku harapkan dari pria seperti dia, dia sama saja dengan semua laki-laki di dunia ini, hiks...hiks....hiks kau menyedihkan Andin," lirih Andin, tak terasa air matanya kembali berlinang, ia memegang dadanya yang terasa sesak karena menahan tangisnya.
Mark terdiam, ia duduk di kursi sambil menatap punggung Andin yang tampak bergetar tak karuan. Sepertinya dia membuat kesalahan yang malah melukai hati gadis itu.
"Dia menangis, arkhhh....kenapa aku jadi begini? kenapa rasanya frustasi sekali? siapa kau sebenarnya sampai berani mengobrak-abrik hatiku nona!!!" Mark frustasi, ia mengepalkan tangannya sambil mengeraskan rahangnya.
Dalam hatinya ia sangat ingin memeluk dan menenangkan gadis yang selama beberapa hari ini selalu dia jaga dan bahkan mereka banyak mengobrol apalagi dengan kepribadian Andin yang ceria persis seperti Luna sehingga suasana di rumah sakit tidak terlalu sepi.
Namun pikirannya berkata bahwa ia tak boleh melakukan itu, sebab menurutnya semua wanita sama dan akan meninggalkan dirinya seperti ibu kandungnya dulu yang pergi setelah mendapatkan pria yang lebih mapan.
Mark dikuasai egonya, ia beranjak dari sana lalu kembali ke meja kerjanya. Lebih baik dia menyelesaikan proyek triliunan daripada harus mengurus masalah hati dan pikirannya yang berlawanan.
Mark melanjutkan pekerjaannya, ia menyeruput kopinya berusaha agar bisa fokus. Namun sama sekali Mark tidak bisa fokus dengan pekerjaannya.
Biasanya Mark bisa menenangkan hati dan pikirannya dengan larut dalam pekerjaan. Tapi untuk pertama kalinya hatinya risau karena seorang gadis.
Mark memijit pelipisnya, ia bangkit berdiri lalu langsung mendekati bed rest Andin. Ia berjalan dari sisi yang lain sehingga kini ia berhadapan dengan Andin yang sesenggukan sambil menutup kepalanya dengan selimut.
Mark membuka selimut gadis itu lalu langsung memeluk Andin tanpa mengucapkan kata-kata apa pun, ia ingin memastikan sesuatu di dalam hatinya.
"Ternyata begitu....." gumam Mark.
.
.
.
__ADS_1
Hay readers jangan lupa likenya ya, aduh author jadi deg degan sama hubungan Andin dan Mark. Gimana nih gimana? seru seru 🤪🤪🤪🤪