
Andin berjalan terseok-seok sambil memegang uang yang diberikan oleh Jaka tadi, warga desa yang melihatnya menghiraukan gadis itu karen tidak mau berurusan dengan Jaka dan Zea yang terkenal pemarah itu.
Selain itu Andin tidak menggubris warga yang menyapanya di jalan tadi.
Greeepp
seseorang menghentikan langkahnya, rambutnya di tarik sehingga tubuhnya ikut mundur ke belakang.
"Mau kemana kau anak bodoh hah?" bentak Jaka sambil menarik rambut Andin dengan kasar.
Beberapa menit yang lalu Jaka dan Zea menyadari kalau Andin pergi terlalu lama dari rumah, benar saja mereka tidak menemukan Andin di warung penjual makanan langganan mereka.
Jaka dengan segera menyalakan mobilnya dan mengejar Andin. Mereka melihat Andin berlari terus menerus, bukannya kasihan melihat Andin yang berlari sambil menahan rasa sakit keduanya malah tertawa terbahak-bahak dan mengikuti Andin dari belakang secara perlahan lahan.
"Hahahah,lihat anak bodoh ini, dia pikir dia bisa lari dari kita hahahah," Zea tertawa terbahak-bahak melihat anaknya sendiri tersiksa.
Sungguh Zea bukanlah sosok Ibu melainkan sosok Iblis yang menjelma menjadi manusia.
"Hiks...hiks...Pa sakit pa, Mama tolongin Andin, Andin minta ampun, tolong hiks hiks hiks," Andin menangis tersedu-sedu sambil menahan tangan Papanya yang masih menarik rambutnya.
Plakkk
Satu tamparan keras mendarat di pipi Andin membuat gadis itu semakin kesakitan.
"Hahahaha, bicaralah lagi maka akan kuhabisi kau di jembatan ini anak bodoh!!" bentak Zea dengan tatapan sinis pada darah dagingnya sendiri.
"Hiks...hiks..hiks...Ma, Pa kenapa kalian jahat sama Andin? bukannya Andin anak kalian? kenapa kalian gak sayang sama Andin hik hiks hiks,"
Andin menangis tersedu-sedu dalam genggaman Papanya. Jujur saja Andin akan lebih memilih mati daripada harus hidup bersama dua manusia tidak tau diri itu.
"Diam kau!!" bentak Jaka.
Pria itu menarik rambut Andin dengan kasar dan membawanya ke dalam mobil.
"Kemari kau!!" ucapnya dengan kasar.
"Lunaaaaa ..... tolong aku......!!!!" teriak Andin berharap sahabatnya itu mendengar teriakannya. Ia yakin jika Luna tidak akan meninggalkan dirinya begitu saja.
Jaka dan Zea segera membawa Andin menuju tempat pria tua yang sudah menunggu kedatangan mereka.
Sementara di rumah utama keluarga Park, Luna yang tengah membimbing Gama melakukan terapi tiba-tiba merasa jantungnya berdegup kencang tak karuan.
"Ferdi, tolong pegangi Gama!!" ucap Luna kala dirinya mulai merasakan rasa tidak enak di hatinya.
"Ada apa Luna?" tanya Gama.
__ADS_1
Luna terduduk di atas lantai, ia memegang dadanya yang berdegup kencang, air matanya mengalir begitu saja, pikirannya melayang pada gadis cantik yang sedang diawasi oleh asisten suaminya.
"Gama....hiks...hiks..hiks, Gama Andin Gam!!!" teriak Luna mulai panik.
Ia tahu pasti akan ada hal yang tidak baik terjadi pada Andin saat ini. Hatinya merasa begitu khawatir dan risau, pikirannya tidak lepas dari Andin sahabat terbaiknya.
"Ferdi, bantu aku mendekati Luna," ucap Gama .
Ferdi Memapah tubuh Gama dan membantunya duduk di lantai bersama Luna. Setelah itu ia pergi untuk memberikan ruang bagi pasangan itu.
Gama menatap wajah Luna, ia duduk tepat di hadapan Luna. Perlahan tangannya mengusap pipi gadis itu.
"Ada apa hmm?" tanya Gama dengan Lembut.
Luna menatap netra suaminya dengan mata berkaca-kaca dan waja yang sangat khawatir.
"Andin...aku takut terjadi sesuatu yang buruk dengan dirinya, Gama bagaimana ini hiks hiks, Andin, kasihan dia, orangtuanya jahat padanya, bagaimana ini?" tangis Luna pecah seketika, air matanya berserakan membasahi pipinya.
"Apa Mark sudah menemukan Andin? bagaimana keadaannya sekarang, hiks hiks hiks, Gama tolong aku, bantu sahabatku, kasihan diaaa...." Luna menangis sesenggukan, suara tangisan begitu menyayat hati.
Gama menarik Luna dalam pelukannya, hatinya begitupun sedih saat melihat istrinya menangis tersedu-sedu.
"Husshh....tenang Luna, aku akan mengerahkan seluruh anak buah-ku untuk mencarinya, jangan khawatir, kita harus banyak berdoa agar Andin baik-baik saja," ucap Gama sambil menepuk punggung gadis itu.
Sungguh pemandangan yang tidak pernah dilihat oleh para pelayan, tuan mereka berbicara dengan sangat lembut saat menangkan gadis yang kini berstatus sebagai istri tuan mereka.
Wajahnya terlihat begitu tidak tenang, hidungnya memerah dan wajahnya sembab.
"Pelayan, tolong panggilkan Ken!" titah Gama pada salah seorang pelayan yang menemani mereka disana.
Dengan cepat pelayan itu berlari dan mencari Ken. Beberapa saat kemudian Ken datang setelah mendengar laporan pelayan yang mengatakan bahwa Luna menangis di ruang latihan.
Dengan langkah tergesa-gesa, Ken langsung masuk ke dalam ruangan itu. Matanya tertuju pada Luna yang terlelap di atas kaki Gama.
"Ada apa Gam?" tanya Ken sambil berjalan mendekati mereka.
"Tolong bantu aku membawanya ke kamar, dia menangisi sahabatnya itu lagi," ujar Gama.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Ken mulai mengangkat tubuh Luna.
"Sepertinya akan terjadi sesuatu dengan Andin, aku akan menghubungi Mark dulu, dia harus selesaikan masalah ini hari ini agar Luna tidak khawatir, kau bawalah dia ke kamar kami," ujar Gama sambil naik ke atas kursi rodanya.
"hmmm baiklah," ucap Ken langsung membawa Luna menuju kamar Gama dan Luna di lantai satu.
Ken membaringkan tubuh Luna dengan perlahan, ia menutup tubuh gadis itu dengan selimut. Ken mengusap pucuk kepala Luna dengan penuh perhatian.
__ADS_1
"Sebenarnya siapa dirimu? kenapa aku sangat khawatir saat melihatmu seperti ini?" gumam Ken.
Setelah memastikan Luna nyaman, Ken beranjak menuju keluar kamar. Namun suara Luna menghentikan langkahnya.
"Kak...Kakak....kak Enzo," gumam Luna.
Deg
Jantung Ken berpacu menjadi lebih cepat saat mendengar namanya dipanggil oleh Luna. Dengan segera pria itu duduk di samping Luna dan menggenggam tangan gadis itu.
"Kak...hiks..hiks...kakak, Nana sayang kakak, kakak dimana hiks hiks hiks, kakak, erghhh....Andin...Andin, jangan pergi hiks hiks hiks," Luna menangis dalam tidurnya.
"Andin...kakak....," racau gadis itu memanggil nama kakak dan Andin sahabatnya bergantian.
Ken menepuk punggung tangan Luna berusaha menenangkan gadis itu meski hatinya tidak bisa tenang saat ini, apalagi mendengar racauan Luna yang memanggil nama itu, panggilan sayang adiknya untuk dirinya.
"Nana, apa kamu benar adikku Nana? kakak disini dek, jangan takut, kakak akan melindungmu, jangan takut," ucap Ken pelan, hatinya merasa bimbang entah benar atau tidak, Ken memilih untuk menenangkan Luna dengan cara itu.
Benar saja, Luna kembali tenang dan tidur dengan lelap. Setelah dirasa aman, Ken melepaskan genggaman tangannya namun Luna tidak melepaskan tangan itu, ia memegang dengan erat.
Akhirnya Ken duduk disana sambil melamun dengan pikirannya yang berkecamuk mengingat kembali detik detik Kematian sang adik.
Nasib pria psikopat itu sama dengan nasib ayahnya Anderson, pria itu dikunci di sebuah gudang yang sangat jauh dari perkotaan dan dikelilingi oleh hutan lebat yang dikelilingi banyak hewan liar.
Akses jalan satu-satunya menuju tempat itu hanya melalui jalur udara.
Entah bagaimana nasibnya sekarang yang pasti ia dirawat untuk disiksa disana. Sedangkan Ibu tirinya selalu dalam pengawasan Ken, ia menunggu saat yang tepat untuk menghancurkan wanita itu dan ayahnya dalam waktu bersamaan.
Wanita itu punya seorang anak perempuan yang berarti perempuan itu adalah adik tirinya karena mereka berasal dari ayah yang sama, namun Ken tidak mengakui gadis itu.
Ceklek
Pintu di buka, tampak Gama masuk ke dalam kamar, ia cukup heran melihat Ken yang malah duduk di dekat kasur dimana istrinya terlelap.
Ken tidak ingin sahabatnya salah paham, dengan perlahan ia mengangkat tangannya yang di genggam dengan kuat oleh Luna tanpa berbicara sedikit pun.
Gama mengangguk mengerti dan memilih kembali keluar.
"Ya elah si kadal ngapa malah ninggalin sih? aisshhh, tapi ya udah deh," batin Ken.
"Dia adikmu Ken, adik yang sangat kau sayangi, adik kecilmu yang kau pikir meninggal belasan tahun lalu," batin Gama saat keluar dari kamarnya.
.
.
__ADS_1
.
Like vote dan komen 😊😉😉