Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
44


__ADS_3

Andin tampak merunduk diantara semak-semak, terkadang ia terlihat membolak-balik benda benda di depannya. Mulutnya terus menggerutu, sesekali ia memukuli jidatnya sendiri.


"Aduhh...dimana sih ponselnya," ucap Andin sambil menyingkirkan dedaunan di depannya dengan kakinya.


"Kenapa aku harus sampai berurusan dengan pria itu sih, arghhhh....bodoh kau Andin, ini nih kalau ceroboh," gerutu Andin.


Andin terus mencari hingga matanya tertuju pada sebuah benda pipih yang terletak di antara rumput di samping rumah.


"Ahh...itu dia, akhirnya dapat!" ucap Andin sedikit berjingkat karena telah menemukan apa yang dicarinya.


Andin mengambil ponsel itu dan menyalakannya.


"Huffft...untung tidak rusak, tapi kenapa sampai sejauh ini aku melemparnya," ucap Andin pada dirinya sendiri.


Setelah mendapatkan ponsel Mark, Andin masuk dari pintu belakang. Saat hendak masuk ke ruang santai, ia mendengar semua percakapan mereka dan memilih mengurungkan niatnya untuk bergabung.


"Ja...jadi, Yuna adik kandung suami Luna? sebenarnya siapa suami Luna?" gumam Andin yang duduk di dekat wastafel.


"Gamaliel, emm... sepertinya wajahnya pernah kulihat, tapi dimana ya?" gumam Andin mengingat ingat wajah Gamaliel.


Andin terus mengingat wajah yang selama setahun ini tidak pernah muncul di hadapan publik. Saat mengingat kembali wajah Gama, Andin tersentak kaget, saat tau siapa suami sahabatnya itu.


"Ya Tuhan!!...Dia kan Gamaliel Park Presdir muda dengan segudang prestasi bahkan kerajaan bisnisnya ada dimana-mana, astaga apa Luna tau siapa suaminya?" ucap Andin terperangah tak percaya.


"Pantas saja pria sombong itu sangat menghormati Gama," gumam Andin Lagi.


"Jadi Yuna...."


PRAAANNGGGGGG


Andin tidak sengaja menyenggol piring yang terletak di dekatnya.


"Eh...aduh...aduh....bodoh!!" gerutu Andin pada dirinya sendiri.


"Kenapa sampai jatuh sih, Andin bisa tidak kau tenang sehari saja," ucapnya sambil berjongkok dan mulai memungut pecahan piring kaca itu.


"Dasar Ceroboh!"


Suara berat seseorang berhasil membuat Andin mendongakkan kepalanya, ia terkejut melihat Mark berdiri tak jauh dari hadapannya dengan tatapan datarnya.


Andin menunduk dan memilih melanjutkan pekerjaannya daripada harus berdebat lagi dengan kulkas berjalan itu.


"Awas! jangan kau pungut dengan tanganmu, kau ini selain cerewet kau ceroboh sekali!" ejek Mark sambil mengambil sapu, sekop dan sebuah kotak.


Andin bangkit berdiri, ia memperhatikan apa yang dilakukan oleh Mark. Mark membersihkan pecahan kaca dengan teliti dan meletakkannnya di dalam kotak agar tidak berceceran.


Setelah beres dia menghampiri Andin yang menatapnya sedari tadi.


"Sudah, apa yang kau lakukan sampai pori g itu jatuh?" tanya Mark sedikit kesal, pasalnya mereka semua terkejut mendengar suara barang pecah dari dapur.


"A..aku hanya tidak sengaja menyenggolnya tadi," ucap Andin menunduk karena gugup dan takut.

__ADS_1


"Kenapa kau menunduk seperti orang bodoh?kemana mulut cerewetmu tadi?" ketus Mark.


"A...aku, huuuffttt....maaf untuk kejadian sebelumnya," ucap Andin memberanikan diri menatap Mark.


"Dan...ini ponselmu tuan, maafkan saya,"ucap Andin menyesali perbuatan dan ucapannya tadi.


"Hmmm...." Mark hanya berdeham sambil menerima ponsel miliknya lalu pergi meninggalkan gadis itu di dapur.


"Nona," panggil Mark yang tiba-tiba berhenti dan menoleh ke arah Andin.


Andin melihat ke arah Mark, mata mereka saling bertatapan.


"A..ada apa?" ucap Andin gugup, entah kenapa hatinya berdebar kencang saat melihat manik mata pria tampan itu.


"Maaf atas perkataan saya sebelumnya, saya tidak bermaksud menghina Anda,"


Kata-kata Sakral keluar dari mulut seorang Mark yang ditujukan pada orang lain selain tuannya. kata-kata yang tidak akan pernah diucapkan oleh Mark pada siapapun kini diterima oleh Andin.


"Ah....tak apa tuan, saya sudah memaafkan Anda," ucap Andin sambil tersenyum.


Deg...deg...deg


"Baiklah," ucap Mark, cepat-cepat ia membalikkan tubuhnya dan pergi keluar dari dapur dengan perasaan yang tidak karuan. Untuk pertama kalinya jantung seorang Mark berdegup pada seorang wanita dan wanita itu adalah sahabat istri tuannya.


Andin bingung dengan sikap Mark tapi dia tak ambil pusing, sekarang gilirannya untuk menenangkan jantungnya yang sudah berdetak tak karuan.


"Hufftt...jangan sampai kau jatuh cinta Andin, mereka semua hanya menginginkan tubuh perempuan saja," ucap Andin sambil memegang dadanya yang berdegup kencang.


Mark kembali ke ruang santai dan duduk bersama mereka disana.


"Nona Andin tak sengaja menyenggol piring dan menjatuhkannya ke lantai tuan," ucap Mark.


"Lalu diman dia?" tanya Luna.


"Sedang di dapur nona," jawab Mark.


Hari menjelang malam, semua kejadian hari ini berlalu dengan tenang. Andin menginap di rumah Luna, ia tidur sekamar dengan Yuna. Ken, Aiden, Bima dan Mark memasang kantong tidur di ruang santai. Merek semua terlelap di tempat masing-masing.


Di dalam kamar Luna dan Gama tampak kedua insan itu belum terlelap. Gama duduk bersandar pada kasur begitupun dengan Luna.


"Terimakasih," ucap Gama.


"Untuk apa?" tanya Luna.


"Untuk semua kejutan yang kau berikan, terimakasih sudah menjaganya selama ini," ucap Gama sambil memandang Luna.


Luna melihat suaminya, meski masih terasa canggung ia tetap memberanikan diri agar semakin dekat dengan pria itu.


Mata Gama berkaca-kaca, kesekian kalinya ia menangis di hadapan Luna.


Luna mengusap air mata Gama dengan tangannya, ia tersenyum menatap wajah suaminya, matanya juga berkaca-kaca saat melihat Gama menangis.

__ADS_1


"Jangan menangis Gam, sekarang kau harus semangat untuk sembuh, ada Yuna yang menjadi tanggungjawabmu sekarang,dia butuh kakaknya," ucap Luna.


"Dan ada kamu sebagai tanggung jawabku juga, satu satunya istriku," ucap Gama.


Tatapan mata mereka bertemu.


Deg..


Deg


Deg


Degup jantung keduanya terdengar saling beradu. Ada desiran aneh di hati Luna begitu juga dengan Gama.


"Emm..Ekhmmm....a...aku mengantuk," ucap Luna memalingkan wajahnya.


"eh...Ekhmm...ayo tidur ini sudah larut, dan tutuplah pintunya," ucap Gama yang jadi salah tingkah.


"Aku tidak bisa tidur jika pintu di tutup Gam," ucap Luna.


"Kenapa?" tanya Gama.


Luna meremas kedua jarinya, ia menunduk tampak raut ketakutan dalam diri gadis itu. Gama mengambil tangan Luna dan menggenggamnya.


"Luna, ada apa?" tanya Gama lembut.


"A..aku takut Gam, jika pintunya ditutup aku takut mimpi burukku kembali," ucap Luna dengan wajah khawatir sambil menatap Gama.


"Jangan takut, ada aku disini, kau juga harus sembuh dari semua trauma masa lalumu, jangan lagi mengingat itu semua," ucap Gama dengan nada lembut dan penuh perhatian.


"Ta..tapi, bagaimana kalau aku mimpi buruk lagi," ucapnya.


"Aku akan membangunkanmu, kita coba dulu ya," Gama meyakinkan Luna bahwa semua akan baik-baik saja.


Luna mengangguk, ia beranjak dari kasur untuk menutup pintu kamar mereka. Meski tidak yakin dia harus mencoba agar dia sembuh dari semua trauma yang menghantuinya selama belasan tahun.


"Ayo tidur, sini tidur di dekatku jangan menghindar," ucap Gama.


Akhirnya mereka tidur saling berdekatan, Gama memeluk Luna dengan erat, begitupun dengan Luna, ia sudah mulai terbiasa tidur dengan memeluk suaminya.


"Tidurlah jangan khawatir, aku akan menjagamu Luna, aku menyayangimu," batin Ga sambil mengecup pucuk kepala gadisnya.


Perasaan Gama sudah tumbuh, ia telah menyadari bahwa dirinya telah jatuh hati dengan gadis berambut biru itu. Ia juga heran mengapa bisa secepat itu, tapi tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.


"Kau adalah cinta pertama yang Tuhan takdirkan untukku, aku bersyukur aku bisa bertemu kembali denganmu Luna, gadis kecil di masa laluku," gumam Gama sambil menatap Luna yang sudah terlelap dalam pelukannya.


Tanpa Luna sadari, Gama mengecup bibir gadis itu sekilas, Luna pun tidur dengan lelap tanpa ada mimpi buruk yang menghampirinya.


.


.

__ADS_1


.


like, vote dan komen 😊😉


__ADS_2