Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
22


__ADS_3

"Ternyata kau masih mengingatku,"


"Aku tak pernah melupakanmu!"


-G/L-


...****************...


"Jika dia datang apa kau akan kembali padanya?" tanya Gama.


Luna menatap Gama sebentar, lalu kembali berpaling.


"Kembali bagaimana maksudmu? aku sudah punya suami, bagaimana bisa aku berpaling pada laki-laki lain," ucap Luna.


"Gini ya, emmm....aku berharap dia kembali hanya untuk mengucapkan terimakasih, lagipula dia mana mungkin menyukaiku, bahkan mungkin saja dia lupa padaku, aku cukup tau diri Gama," tambahnya lagi.


Gama menatap Luna dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, ia terus menatap tanpa berbicara satu kata pun. Luna yang ditatap seperti itu merasa gugup, ia melirik Gama sesekali hingga pandangan mereka saling bertemu.


"A...ada apa? kenapa kau menatapku begitu?"


Luna gugup, jantungnya berdegup kencang, rasanya ia ingin lari dan bersembunyi dari hadapan pria itu.


Gama yang ditanya tidak menjawab ia hanya terus menatap Luna. Wajah Luna memerah ia langsung bangkit berdiri karena jantungnya sudah tidak bisa dikontrol lagi.


"Ada apa Gam? jangan menatapku seperti itu,"Luna kesal bercampur gugup.


"Luna sebenarnya......


Tok....tok....tok


"Lunaaaaa..."


"Luuuunaaaaa....." teriak seseorang dari depan rumah.


Gama dan Luna tersentak mendengar teriakan dari luar. Gama tidak melanjutkan kata-katanya.


"Tunggu bentar ya, aku lihat dulu siapa yang datang, mana suaranya cempreng lagi pasti ini Ferdi!" tukas Luna, gadis berambut biru itu berjalan menuju pintu depan.


Ceklek....


"Luna kamu nggak apa apa kan? orang sekampung lagi ngomongin kamu, katanya ada renternir yang datang kesini buat nagih utang," teriak Ferdi panik, tampaknya pria gendut itu baru saja berlari tergesa-gesa menuju rumah Luna.


"Kamu kalau punya utang kasih tau dong biar aku bisa bantu, kalau si Andin tau bisa habis aku di tangannya," kesal Ferdi.


"Fer....Fer tarik nafas dulu, hufftt hahh...." ucap Luna sambil menarik nafas.


"Hufftt hah.... hufftt hah..." Ferdi melakukan gal yang sama dengan Luna..


"Nah gitu bagus, masuk dulu, kita ngomong di dalam," ucap Luna mempersilahkan Ferdi masuk.


"Iya aku udah capek banget ini fiuhhh," ucap Ferdi menghela nafas dan menyeka keringatnya yang bercucuran.


Luna dan Ferdi masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Lun su...suamimu gimana?" tanya Ferdi pelan saat mereka berjalan menuju ruang santai.


"Di dalam, kenapa?" tanya Luna.


"Emmm....gak apa-apa kan aku berkunjung entar dia marah lagi," ucap Ferdi sedikit takut.


"Gak apa apa, dia baik, gak gigit kok, paling kamu cuma dibentak," goda Luna mengerjai teman baiknya itu.


"Kok gitu sih Lun, ishh aku pulang aja deh," ucap Ferdi takut.


"Udah masuk aja, paling kamu pulang nanti jadi kurus hehehe," ucap Luna dengan tatapan jahil.


"Lunaaaaaa...." kesal Ferdi.


"Silahkan duduk Fer," ucap Luna yang membawa Ferdi masuk ke dalam ruang santai.


"Eh....i...iya,"


Ferdi gugup saat melihat wajah Gama yang terlihat sangar karena rambut panjang, kumis dan jenggotnya yang masih belum dirapikan.


Ferdi duduk di sofa tunggal di dalam ruangan itu, sedangkan Gama dan Luna duduk di sofa yang sama.


"Sekarang ngomong pelan pelan, siapa yang bilang aku ngutang emang? terus maksudnya rentenir apa?" tanya Luna sambil menatap Ferdi.


"Ngutang? kau berutang Lun?" tanya Gama terkejut.


"Nggak, tapi kata si Ferdi orang-orang kampung bilang renternir datang kesini buat nagih utang," jelas Luna.


"Jelaskan!" suara berat Gama bagaikan serpihan batu menghantam jantung Ferdi. Ferdi gemetaran sementara itu disisi lain Luna sudah cekikikan melihat ekspresi temannya itu.


"Pffthh.......hahahahah, wajahmu Fer hahahah, kenapa gemetaran begitu hahahh,"


Luna tidak dapat menahan tawanya, rasanya begitu lucu saat melihat wajah Ferdi yang ketakutan padahal Gama hanya berbicara satu kata saja pada dirinya.


"Hahahah, udah ngomong aja, dia baik kok nggak menggigit hahaha," kekeh Luna.


"Ck...Kamu pikir aku kucing pakai gigit gigit segala Lun," ucap Gama berdecak kesal.


"Idih ngambek," ledek Luna dengan tatapan mengejek pada Gama.


"Udah Fer lanjut jelasin aja, gak usah pedulikan suamiku anggap aja pajangan," ucap Luna.


Bukannya marah, Gama malah diam dan tersenyum tipis hanya saja tersamarkan dengan kumis dan jenggotnya.


Ferdi menatap Gama dengan rasa takut.


"Udah jelaskan saja, ada apa sebenarnya?" tanya Gama dengan nada ramah.


Mendengar suara Gama yang terkesan ramah, Ferdi menghela nafas lega.


"Jadi begini, Cindy dan Kiki bilang beberapa hari lalu mereka melihat mobil putih keluar dari lingkungan rumah kamu, terus sorenya ada tiga mobil mewah berwarna hitam masuk ke lingkungan rumah kalian tapi kalian gak di rumah," jelas Ferdi.


" Cindy bilang ada seorang pria berpakaian formal, dua temannya memakai pakaian kasual dan beberapa anak buah mereka, wajahnya seram seram katanya, apa kamu kenal?" tanya Ferdi.

__ADS_1


"Mobil hitam? siapa itu? mungkinkah.....," batin Gama.


"Emm? kalau mobil putih itu punya Gama," jelas Luna yang membuat Ferdi sedikit terkejut karena ia tahu kondisi pria itu, bagaimana mungkin orang lumpuh bisa bawa mobil.


"Gama itu lumpuh bukan bodoh, bukan berarti karena dia lumpuh dia gak bisa bawa mobil," ketus Luna yang paham dengan maksud tatapan Ferdi.


"Dan untuk mobil mobil hitam itu aku gak kenal, mungkin orang kesasar yang lagi cari alamat mirip seseorang yang berakhir pengen bunuh diri," ucap Luna melirik Gama.


Yang dilirik malah mengalihkan perhatiannya pada tempat lain.


"Kamu gak takut lun, orang sekampung udah ngegosipin kamu loh, mereka bilang kalau kamu perempuan gak bener, terus banyak utang, suaminya lumpuh dan gak bisa ngapa-ngapain," ucap Ferdi sedikit berbisik.


"Apa!!!" teriak Luna marah.


"Pasti ini ulah si Cindy dan si Kiki kampret itu! arhhkkk sial!" kesal Luna.


"Bukan cuma mereka Lun, Andre juga ikutan, dia nyebarin gosip kalau kamu itu wanita penggoda dan sudah beberapa kali menggoda dirinya, kamu tau sendiri kan kalau Andre punya pengaruh cukup besar di kampung ini," jelas Ferdi lagi.


Gama dan Luna yang mendengar itu menjadi sangat kesal. Gama mengeraskan rahangnya, ingin rasanya dia menghampiri orang-orang itu sekarang tapi apa daya kakinya lumpuh.


"Apa? A..aku dibilang wanita penggoda? Sialan kau Andre, pantas saja saat aku beli buah tadi wajah penjualnya ngeselin!" ucap Luna.


"Kenapa sih mereka jahat sekali hiks...hiks...hiks.." Luna menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, ia menangis saat mendengar berita buruk yang disampaikan temannya itu.


"Mereka memaksa kami menikah, sekarang mereka menghina kami, mereka mengataiku wanita penggoda, apa sekecil itu aku di mata orang-orang kampung ini? apa aku pernah buat masalah dengan mereka? atau karena aku gak punya asal usul yang jelas? hiks...hiks..," Luna menangis tersedu-sedu, hatinya sungguh sakit ketika mendapat penghinaan dari orang-orang kampung.


Gama turut sedih melihat istrinya menangis, ingin rasanya ia memeluk gadis itu tapi rasa gengsinya masih terlalu besar.


"Nggak bisa begini!" ucap Luna tiba-tiba berdiri.


Wajahnya merah karena menahan amarah, tangannya mengepal sempurna.


"Dimana bajingan itu sekarang hah? biar kujadikan perkedel hari ini!" tanya Luna dengan nada marah, ia menyingsingkan lengan bajunya dan mengikat tinggi rambutnya, tampaknya gadis ini sudah berada di ambang batas kesabarannya.


"Mereka ada di alun-alun desa sedang bergunjing tentang kalian," jelas Ferdi.


"Ayo kesana!" ucap Luna.


"Lun aku ikut ya, kita naik mobil saja!" ucap Gama.


"Kamu yakin? aku tak mau mereka menghina dirimu lagi, " ucap Luna sedikit khawatir.


"Tak apa, aku ikut, biar aku yang menyetir!" ucap Gama.


"Baiklah, sini kubantu!" ucap Luna.


.


.


.


Like, vote dan komen 😊😉

__ADS_1


__ADS_2