
Suara bentakan Luna terdengar menggelegar di ruangan rumah yang cukup sederhana itu. Tampak saraf gadis itu menegang saat melihat beberapa memar di leher Andin, bahkan ia sampai menyibakkan rok Andin ke atas.
"Ya Tuhan!!! Andiiiiinnn......apa...ini?" ucap Luna panik saat melihat begitu banyak bekas luka dan memar di betis dan paha gadis itu.
Kelima pria di ruangan itu tak kalah terkejutnya saat melihat bekas luka itu, ada yang sudah lama dan ada yang masih baru.
"Andin kamu kenapa? ini banyak sekali, apa yang kau sembunyikan dariku? kenapa kau seperti ini?" ucap Luna panik. Ia tak menyangka bahwa sahabat baiknya itu menyembunyikan semua itu darinya.
"Apa yang terjadi denganmu Andin? kenapa begini, lihat lehermu, lenganmu juga, ada apa?" tanya Luna khawatir. Ia mengecek seluruh tubuh Andin dengan raut wajah khawatir.
Andin menyadari betapa khawatirnya sahabatnya itu pada dirinya, namun ia memilih menyimpan semua rahasia besarnya sendiri.
Andin yang hanya diam, ia langsung menarik tangan Luna dari tubuhnya dan....
Plaakkkk
" Lunaaaaa...." ucap Anna dan kelima pria itu.
Satu tamparan telak mengenai pipi mulus Luna.
"Beraninya kau mengecek tubuhku!! ini bukan urusanmu Luna!! urusi saja kakimu yang buntung dan suami lumpuhmu itu!!" bentak Andin, meski mulutnya mengucapkan itu tapi hatinya hancur berkeping-keping.
"Persahabatan kita hanya sampai disini!" ucap Andin dengan wajah memerah menahan sesuatu yang bergemuruh di dalam dadanya.
Luna tersentak, ia begitu terkejut saat mendengar ucapan sahabat baiknya. Sahabat yang selalu mendampingi dirinya di kala ia susah maupun senang sepanjang hidupnya.
Luna menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, air matanya terjatuh, hatinya sakit, pikirannya tidak bisa fokus, ia sangat khawatir dengan sahabatnya itu.
Luna memegang dadanya, rasanya sesak, sangat sesak ketika mendengar kata-kata kasar itu keluar secara langsung dari mulut sahabat baiknya.
"Hiks....hiks....Andinn....Andinn....di..dia.kenapa?" Luna menangis tersedu-sedu, belum selesai duka karena kehilangan simbok kini Luna juga harus kehilangan sahabat baiknya.
Anna langsung memeluk Luna yang menangis, kalau boleh jujur tangisan Luna adalah sesuatu yang sangat di benci oleh Anna.
Gama terdiam, ia mengeraskan rahangnya, ia begitu geram dengan perlakuan Andin pada istrinya. Ia tentu tidak akan membiarkan hal ini begitu saja.
Tidak ada satu orang pun yang boleh menyakiti istrinya itulah slogan yang sudah terpatri di dalam hati dan pikirannya saat ia tau bahwa dia jatuh hati pada istrinya.
Ken, Aiden, dan Bima juga sama, mereka memikirkan apa penyebab semua ini.
Ferdi tidak tahu harus berbuat apa, ia juga sangat terkejut dengan ucapan Andin.
__ADS_1
Sementara itu di jalanan desa, Andin menangis tersedu-sedu, ia menatap tangannya yang ia gunakan memukul wajah sahabatnya, Sahabat terbaiknya.
"Maafkan aku...hiks...hiks..hikss.... maafkan aku Luna, maaf, aku tidak layak menjadi sahabatmu, huhuhuhuh........" Andin menangis tersedu-sedu .
"Aku harus melakukan ini, aku tak mau membuatmu semakin khawatir, aku tidak mau melibatkan kalian, biarlah aku menanggung semua ini huhuhuh," Andin terus menangis, ia berjalan menuju rumahnya yang sudah tidak ia kunjungi selama sebulan walaupun ia kembali ke desa.
Hari semakin larut hujan juga sangat deras seolah tahu bahwa orang dalam rumah itu tengah berduka, di rumah Ferdi tampak para pria sudah terlelap di dalam kantong tidur yang memang dibawa kesana, Anna juga sudah terlelap di dalam kamar milik Ferdi.
Luna dan Gama tidur di kamar Tamu yang selalu di biarkan kosong jika suatu saat orangtua Ferdi kembali, namun mereka tidak pernah pulang.
Anna tidur dengan lelap membuat Luna sedikit tenang, sudah beberapa hari ini jika hujan datang, Anna tidak lagi histeris. Gadis remaja itu bisa tidur dengan nyenyak.
Setelah memastikan Anna nyaman, Luna kembali ke kamar tempat dia dan suaminya tidur malam ini, ia melakukan aktivitas yang biasa ia lakukan setiap malam.
Dengan telaten Luna memijit lembut kaki, betis dan paha suaminya. Hanya saja kali ini gadis itu diam, dia tidak berbicara sedikit pun, dalam pikirannya sekarang adalah keadaan Andin.
Matanya terus berkaca-kaca, ia menahan tangisnya, sesekali tampak ia menyeka air matanya.
Gama yang tidak suka didiamkan langsung menarik Luna, ia paham betul jika gadis itu butuh sandaran.
Grepp
Gama menarik Luna ke dalam pelukannya. Luna sedikit terkejut namun ia tidak menolak pelukan suaminya yang menurutnya merupakan tempat paling nyaman.
Benar saja, Luna langsung menangis tersedu-sedu, bahkan air matanya sampai membasahi kaos yang di pakai suaminya. Luna membalas pelukan Gama, ia menangis dalam pelukan suami tampannya itu.
"Kenapa... kenapa dia begitu, aku khawatir dengannya Gam, bagaimana ini hiks hiks hiks, Gama....." Luna mengeluarkan isi hatinya, ia menangis dan menangis hingga matanya sembab dan hidungnya memerah.
Hatinya sangat remuk saat mendengar ucapan sahabat baiknya itu. Namun ia tidak memasukkan semua itu ke dalam hati, karena ia tahu persis sifat Andin dan tak mungkin Andin melakukan itu tanpa suatu alasan.
"Apa kau mau aku membalas perbuatannya?" ucap Gama tiba-tiba.
Luna menggelengkan kepalanya, dengan cepat ia menarik kepalanya dari dada suaminya, Luna menatap Gama pria tampan yang kini menempati ruang kosong di hatinya.
"Aku yakin dia punya alasan kuat, aku ingin mencaritahu tentang ini, pasti dia sedang dalam bahaya, aku sangat mengenal Andin, pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan," ucap Luna dengan yakin
"Apa kau yakin?" tanya Gama lagi sambil menghapus air mata Luna dengan jari jarinya.
"Aku benar-benar yakin, aku...aku akan mencaritahu hal ini, pasti terjadi sesuatu dengan dirinya, kau lihat kan, di tubuhnya banyak bekas luka, pantas saja ia selalu memakai rok panjang bahkan pakaiannya selalu tertutup sampai leher," ucap Luna lagi.
"Kita akan cari tahu, tapi aku yang akan menyelesaikan ini untukmu, kumohon kau jangan bertindak gegabah," ucap Gama.
__ADS_1
"Ingat kita mencari tahu bersama-sama jika kau berbuat gegabah maka aku tak akan mengijinkan dirimu bertemu lagi dengannya!" ucap Gama dengan nada sedikit mengancam karena ia sudah hapal sifat Luna yang sangat bar bar itu.
"Iya bawel," balas gadis itu.
Luna mengangguk tersenyum namun sesuatu membuat Gama menyergitkan keningnya, wajah Luna sangat pucat bahkan keringat gadis itu bercucuran.
Tampak Luna sedang menahan sakit di salah satu bagian tubuhnya. Gama tersadar ini sedang hujan deras, hal yang sama terjadi lagi, Luna meringis kesakitan ia meringkuk kesakitan, tangannya meremas kuat seprai yang membungkus kasur itu.
"Arghhhhh....emmphhhh...arkkhhh," Luna merintih kesakitan, belum pernah kakinya sampai sesakit itu, jika sebelumnya ia masih bisa mengatasi rasa sakitnya dan menyembunyikannya dari Gama maka kali ini ia menyerah.
"Luna!!" ucap Gama, ia menarik gadis itu dan langsung memeluknya dengan erat.
"Arkkhhh....Gama...sakit...kakiku...sakit sekali, arghhhhh......" Luna berteriak karena tidak tahan dengan rasa sakit yang menyerangnya.
Gama panik, ia cepat cepat menenangkan gadisnya yang semakin melemah diiringi dengan semakin derasnya hujan di luar rumah itu.
Luna sampai menangis tak tahan dengan rasa sakit itu padahal sudah tidak ada lagi luka di sana.
Gama sangat khawatir dengan Luna, ia mengelus wajah Luna dengan pelan, ia menepuk punggung Gadis.
Suhu tubuh Luna meningkat membuat Gama semakin panik.
"Keeeennnnnnn.....Aideeeennnnn.....Bimaaaaa!!!" teriak Gama dari dalam kamar sekuat-kuatnya berharap mereka mendengar teriakannya.
Ceklek pintu terbuka,
Tampak Ken yang sebenarnya baru saja bermimpi buruk terbangun dan berjalan menuju dapur kebetulan ia melewati kamar Gama dan Luna.
"Apa apa Gama!!!"ucap Ken khawatir walaupun tubuhnya penuh peluh dan ia juga sedikit pucat, Gama menyadari hal itu, namun saat ini istrinya lebih parah.
"Tolong panggilkan dokter George kesini!! Luna, dia kesakitan!!" ucap Gama panik.
"Luna...." ucap Ken.
.
.
.
jangan lupa likenya ya teman teman, terimakasih sudah membaca karya author,😊😊
__ADS_1
Author hanya mengharapkan kebaikan hati para readers yang budiman untuk sekiranya mendaratkan satu like untuk karya author.
terimakasih 😊🙏🙏🙏