Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
35


__ADS_3

Luna bersama keempat pria itu berangkat naik mobil listrik milik Gama dengan Ken sebagai pengendaranya. Mobil Gama termasuk mobil dengan kapasitas besar yang muat hingga 6-7 orang.


Gama memang sengaja membeli mobil dengan kapasitas besar, agar bisa leluasa meletakkan barang bawaannya dan semua keperluannya di dalam mobil.


Ken dan Bima duduk di depan sedangkan Luna dan Gama di bagian tengah dan Aiden molor di bagian paling belakang bersama tas dagangan mereka.


"Gama bagiamana bisa kau mengendarai mobil ini sendiri dari Jakarta sampai Bali, belum lagi harus melakukan penyebrangan?" ucap Ken sambil menyalakan mesin mobilnya.


"Aku lumpuh bukan bodoh, untuk mengurus hal seperti itu sangat mudah bagiku," jawab Gama.


"Hmmm...aku mengerti, berapa lama kau sampai di tempat ini?" tanya Bima.


"Sekitar dua hari karena aku berhenti untuk istirahat," jawab Gama.


"Lalu bagaimana bisa kau berakhir di tempat Luna?" tanya Ken.


"Ck...apa itu penting?" kesal Gama yang sedari tadi terus ditanyai oleh mereka berdua.


"Tentu saja itu penting," ucap Ken.


"Luna bisa ceritakan apa yang terjadi?" tanya Bima penasaran, sedangkan Ken diam saja, ia sudah tau sedikit tentang hal itu.


"Apa aku harus menceritakan semuanya?" tanya Luna pada Gama.


Gama diam, ia sedikit bimbang memilih antara menceritakan semuanya atau tidak.


Luna memegang tangan pria itu, "Bukankah kau ingin sembuh? kita ceritakan saja bagaimana?" ucap Luna sambil menatap Gama.


"Hemmm....baiklah, ini karena kau yang meminta," ucap Gama sambil menggenggam erat tangan gadis itu. Luna tersenyum ia membiarkan Gama memegang tangannya dengan erat, ada rasa nyaman di hatinya.


"Tapi kumohon jangan terkejut jika aku menceritakan semuanya, aku tidak akan berpikir seperti itu lagi, aku janji," ucap Gama pada ketiga temannya.


Aiden yang tadinya mengantuk kembali segar saat ia mendengar bahwa Gama akan menceritakan penyebab dia nyasar ke rumah Luna.


"Kita lihat saja nanti," ucap Bima.


Gama dan Luna pun menceritakan kronologi kejadian kenapa Gama sampai tiba di tempat itu. Bagaikan membuka luka lama, Gama menceritakan segala kecemasan, risau, khawatir, ketakutan dan trauma yang dialaminya selama ini.


Cerita mengenai kondisi mentalnya selama setahun terakhir yang membuatnya drop dan menjauhi semua orang bahkan berakhir ingin bunuh diri.


Trauma dan rasa sakit yang sangat dalam dialami Gama selama setahun terakhir, dia tidak bisa percaya dengan orang lain lagi, bahkan merasa dirinya tidak berguna karena kakinya lumpuh. Bahkan Gama sampai harus mengonsumsi obat penenang agar bisa tidur, mimpi buruk yang sama selalu menghampiri dirinya setiap malam.


Gama hanya tau kerja, kerja dan bekerja seperti orang gila siang dan malam. Memang hasil kerjanya menghasilkan prestasi besar, namun semua itu tidak membuat dirinya puas.


Saat menceritakan semua luka lamanya dan depresi yang dialaminya, ia terus memegang tangan Luna berusaha mencari kekuatan agar tidak terpuruk.


Luna memperhatikan dan mendengar semua cerita Gama yang belum ia ketahui, matanya berkaca-kaca namun sekuat mungkin ia menahan agar tidak menangis dan membuat Gama merasa dikasihani, dia tidak mau itu terjadi.

__ADS_1


"Kau bodoh sekali!" kesal Ken mendengar cerita Gama. Gama hanya bisa diam mendengar umpatan sahabatnya.


"Apa kau tidak menganggap kami sebagai keluargamu Gam? setiap hari kami bergantian mengecek kondisimu, kami khawatir kau semakin terpuruk tapi kau malah berpikiran sependek itu sampai ingin mengakhiri hidupmu!" ketus Ken.


"Sudahlah Ken, dia juga mengalami trauma akibat kejadian itu, kita tidak bisa menyalahkannya," ucap Aiden.


"Kau benar Aiden," ucap Bima setuju dengan perkataan Aiden.


"Kuharap kau tidak memiliki pikiran sependek itu lagi Gam, kau sudah punya seseorang yang menjadi tanggungjawabmu sekarang," ucap Bima sambil melirik Luna.


"Aku janji pada kalian," ucap Gama.


"Jika sampai kau tidak menepati janjimu bersiaplah ku buang ke sungai Amazon!" ketus Ken.


"Sudah jangan berdebat, yang penting sekarang Gama mau menjalani pengobatan, dan kita bisa melihat Gama kembali seperti yang kalian mau," ucap Luna menengahi.


"Hmmm.... terimakasih sudah menyelamatkannya waktu itu Luna, jika tak ada kau mungkin kami bertiga sudah gila karena kehilangan pria bodoh itu!" ucap Ken sambil melirik Luna sekilas dari kaca dan kembali fokus pada jalanan.


"Berterimakasih lah kepada Tuhan, Dia yang mengijinkan ini semua terjadi," balas Luna yang ditanggapi dengan senyuman dan anggukan oleh mereka berempat.


"Aku akan menghubungi dokter George dahulu mengenai masalah pengobatan Gama," ucap Luna.


"Tidak perlu Luna, dia memang bertanggungjawab untuk itu, Dokter George adalah dokter pribadi Gama," ucap Ken.


"Ha? bagaimana mungkin?" tanya Luna sedikit heran, tentu saja heran dia saja tidak percaya saat Gama mengatakan bahwa dirinya adalah seorang Presdir.


"Iya, dia beri tiga kartu," ucap Luna dengan polosnya.


"Apa kau tau isi saldo kartu jenis itu?" tanya Aiden, Gama hanya menatap Luna saja, ia ingin menunggu reaksi gadis itu tapi tangannya tidak lepas dari genggaman Luna.


"hmm...sama saja dengan kartu kartu biasa," ucap Luna.


"Astaga apa kau hidup di Zaman neolitikum Luna? kenapa kau tidak tahu apa-apa?" ucap Ken.


"Apa kau sering menonton berita?" ucap Bima.


"Sering," ucap Luna.


"Lalu kau tidak tau siapa kami?" ucap Aiden.


Wajah ketiga pria tampan itu memang sudah Wara Wiri di layar kaca tentu saja karena prestasi dan berbagai gosip yang dibuat oleh paparazi untuk menjebak mereka dengan beberapa artis terkenal.


Kalau Gama setahun belakangan ia menutup diri dari publik dan membiarkan Mark yang muncul di hadapan publik.


"Emm....taulah, Kau kak Ken, kak Bima dan Kak Aiden iya kan?" ucap Luna sambil menunjuk mereka satu-persatu.


"Astaga Luna kau tahu tidak isi Kartu yang diberikan oleh Gama itu bisa membeli seluruh kota ini!" ucap Aiden tak habis pikir dengan kepolosan gadis itu.

__ADS_1


"Astaga dimana logikamu kak Aiden, mana ada orang punya uang sebanyak itu, jangan membual!" ledek Luna.


"Pfhhtt.......hahahaahha,"


Gama tertawa terbahak-bahak kala mendengar jawaban Gadis cantik di sampingnya itu.Ia sudah menebak ini dari awal, gadis itu bukan orang yang mudah percaya dan bukan gadis mata duitan.


"Hahahaha, kau lucu sekali Luna, hahahah, suatu saat kau akan tau kebenarannya," ucap Gama sambil tertawa memegang perutnya.


Luna malah semakin bingung, wajahnya ditekuk karena tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh mereka.


"Pfthhh....hahahah," Ken dan Bima malah ikut tertawa saat melihat wajah bingung Luna.


"Astaga apa kalian sudah gila?" gerutu Luna saat melihat mereka menertawai dirinya.


"Kau terlalu bodoh Luna!" ketus Aiden.


"Ck...kau yang bodoh, makanya bicara yang jelas dan tunjukkan bukti baru aku percaya!" balas Luna kesal, ia menarik tangannya dari tangan Gama dan memalingkan wajahnya ke arah luar.


"Hahahaha, sudahlah jangan ngambek dong, nanti kau akan tahu semuanya, lagi pula kami mengucapkan yang sebenarnya," ucap Gama sambil memegang pundak gadis itu.


"Terserah kalian saja, kalian mengesalkan!" ketus Luna sambil mengerucutkan bibirnya.


"hahahah,ciee yang ngambek," goda Aiden dari belakang.


"Hahahah, kalau ngambek makin cantik loh," goda Bima dari depan.


"Luna kok baperan sih hahaha," tambah Ken.


Luna menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya karena malu terus digoda oleh mereka berempat.


"Arghh....haisshh....kenapa kalian menggodaku sih, aku jadi malu huh!" kesal Luna sambil menutup wajahnya.


"Bwahahahhaha," keempat pria itu tertawa terbahak-bahak, sepertinya mereka punya hobi baru yang sangat menyenangkan yaitu menggoda Luna.


"Hahahah, wajahmu lucu sekali, lihatlah telinganya merah hahahah," ucap Gama sambil tertawa terbahak-bahak.


Perjalanan mereka diiringi canda tawa, perjalanan yang sangat menyenangkan.


"Dia sangat mirip denganmu," batin Ken di sela-sela tawanya.


.


.


.


like, vote dan komen ya teman-teman 😊😊😉

__ADS_1


__ADS_2