
Luna berjalan dengan wajah kesal, dia berjalan menuju kamar kakaknya Aiden dan Mikha yang terletak di lantai satu.
tok... tok.. tok
"Kak Aii, Kak Mikhaaa," panggil Luna sambil mengetuk pintu kamar Aiden dan Mikha.
Ceklek...
Pintu dibuka tampak Mikha menyambut Luna dengan senyum manisnya.
"Ada apa na?" tanya Mikha sambil membuka pintu, dia langsung menggandeng tangan Luna.
"Boleh Luna masuk ke dalam?" tanya Luna dengan suara bergetar, sepertinya ibu muda itu ingin menangis.
"Loh kenapa, ayo masuk dulu yuk," ajak Mikha sambil menarik tangan Luna dan menutup pintu kamar mereka.
"Siapa Mikha?" tanya Aiden yang masih terbaring di atas tempat tidur.
"Luna, dia datang," ucap Mikha sambil membawa Luna duduk di atas sofa dekat tempat tidur mereka.
Aiden merubah posisinya menjadi duduk karena mendengar Luna datang ke kamar mereka, dia menatap Luna yang tampak sedih dan ingin menangis.
"Loh kamu kenapa na?" tanya Aiden yang bisa melihat raut kesedihan di wajah Luna adiknya.
"Kak Aii kak Mikha, Apa Luna selama ini keterlaluan? apa Luna salah kalau Luna mau cari tau penyebab kematian nenek, apa Luna keterlaluan pada kalian? apa Luna harus diam saja di rumah menuruti semua yang kalian katakan, apa Luna harus diam saja saat melihat sesuatu yang mencurigakan ? Apa Luna terlalu banyak ikut campur hiks hiks hiks... Lu.. Luna cuma mau bantu aja arhhh huaaaaaaa...." Luan menangis tersedu-sedu menumpahkan segala sesuatu yang ada di dalam hatinya, rasa kesalnya, rasa khawatirnya dan rasa bersalahnya bercampur menjadi satu.
Mikha memeluk Luna dan menenangkan wanita itu.
"Ada apa sebenarnya Na?" tanya Aiden khawatir, dia beranjak dari tempat tidurnya dan duduk di samping Luna yang menangis dalam pelukan Mikha.
"Mereka jahat kak, mereka menyudutkan Luna, mereka bilang Luna sedikit keterlaluan, hik hiks hiks, Luan salah Luna harusnya gak ikut campur arhhh hiks hiks hiks," Dia menangis lagi.
Aiden menepuk punggung Luna, tampak dia kesal saat mendengar ucapan Luna tadi.
"Ck... ini bukan salah kamu na, ini salah mereka yang tidak becus mencari tau, ini salah mereka yang memang tidak teliti, jangan menangis lagi, kita hukum mereka nanti!" kesal Aiden karena adiknya dibuat menangis oleh yang lainnya.
Seseorang mengetuk pintu kamar mereka, Mikha beranjak dan membukakan pintu, tampak Gama berdiri di depan pintu itu.
__ADS_1
"Ada Luna?" tanya Gama dengan wajah khawatir, Mikha mengangguk dan mempersilahkan Gama masuk ke dalam.
Gama masuk ke dalam kamar itu, matanya langsung tertuju pada Luna yang menangis di samping Aiden.
Setelah Luna pergi tadi, Gama langsung menyusul istrinya tanpa melihat video apa yang ada di dalam ponsel istrinya.
Dirinya risau saat Luna pergi tanpa menoleh sedikitpun dan dia tau kalau Luna sedang marah dan kesal sekaligus sedih karena Bima dan yang lainnya menyudutkan Luna seolah Luna terlalu berlebihan menanggapi kematian nenek Rose.
Benar saja yang dirasakan oleh Gama, Luna sedang menangis saat ini.
Gama menghampiri istrinya dan duduk bersimpuh di depan kaki Luna yang sedang menunduk.
"Sayang,"panggil Gama sambil menarik pelan tangan istrinya.
Luna menatap suaminya, dia segera menghamburkan pelukannya pada Gama dan menangis tersedu-sedu disana.
"Arhhh... sayang apa aku keterlaluan hiks hiks hiks hiks, apa aku terlalu banyak ikut campur, kenapa mereka menyalahkanku?" Lirih Luna sambil memeluk suaminya dengan erat berusaha mencari kekuatan dari sana.
"Husshh kau tidak salah sayang, kau melakukan hal yang benar, aku yakin istriku yang baik ini pasti melakukan sesuatu yang benar dan aku yakin kamu pasti menemukan sesuatu, aku yakin padamu sayang, jangan menangis, jangan sedih ya," ucap Gama sambil menepuk punggung Luna dengan pelan.
"Mereka yang salah, mereka yang tak bisa mencari kebenaran di balik kematian nenek, jangan bersedih ya," ucapnya lagi.
"Kamu gak salah Na," ucap Aiden menanggapi perkataan Luna.
"Sudah jangan menangis, air matamu terlalu berharga untuk menangisi hal seperti itu," ucap Aiden.
Gama mengusap air mata istrinya dan merapikan rambut Istrinya.
"Husshhh wanita cantik jangan menangis ya, kamu melakukan hal benar kok, jangan sedih ya sayang," ucap Gama sambil mengelus pucuk kepalanya istrinya.
"Terima kasih sudah percaya padaku," cicit Luna sambil menatap mereka dengan mata berkaca-kaca.
Aiden, Mikha dan Gama tersenyum, mereka yakin kalau Luna menemukan sesuatu yang pasti sangat mengejutkan bagi mereka semua.
"Sudah jangan menangis lagi," ucap Gama sambil duduk di samping Luna.
Aiden menggenggam tangan istrinya yang berdiri di sampingnya.
__ADS_1
"Kak Aiden, apa kakak tau siapa yang mencoba menjebak kakak saat kejadian kakak dan kak Mikha waktu itu?" tanya Luna sambil menatap Mikha dan Aiden bergantian.
"Aku mencurigai seseorang hanya saja aku tak menemukan buktinya, CCTV hotelku tidak merekam sesuatu yang mencurigakan," jelas Aiden.
"Tapi aku yakin pasti ada seseorang yang menjebak ku, dan kebetulan Mikha juga di jebak pria bajingan itu, mungkin aku akan dijebak tidur dengan perempuan malam, beruntung aku bertemu Mikha waktu itu, setidaknya aku tidak terjebak dengan segala rencana mereka," ucap Aiden sambil menatap istrinya yang duduk di sampingnya.
"Ya kecurigaan kakak benar, aku sudah menemukan siapa dalang di balik itu semua kejadian itu, dan apa penyebab kak Mikha juga dijebak oleh rekan kerjanya," ucap Luna.
Mereka semua terkejut mendengar ucapan Luna sekaligus penasaran.
"Siapa na? siapa yang berani menjebak ku? dan kenapa Mikha juga dijebak?" tanya Aiden penasaran.
"Yang menjebak kak Aiden adalah pria bernama Jefri Orlando, saudara tiri kak Mark yang menatap kakak waktu di pesta hari itu!" ucap Luna yang membuat Gama dan Aiden terbelalak.
"Lalu kak Mikha...." Luna berhenti sebentar dia menatap Mikha dengan tatapan sedih.
"Kenapa na?" tanya Aiden.
"Kak Mikha dijebak oleh rekan kerjanya untuk di .. maaf aku tak sanggup mengatakannya," lirih Luna.
"Tak apa na, katakanlah," ucap Mikha yang sudah mempersiapkan hatinya mendengar apa yang akan diucapkan Luna.
"Kakak akan di per... egh.. kakak akan dijadikan pemuas pria itu, setelah itu kak Mikha akan dijual menjadi wanita malam di sebuah club, maaf baru menyampaikannya sekarang," cicit Luna merasa bersalah.
Mikha, Aiden dan Gama terbelalak dengan apa yang disampaikan oleh Luna. Mikha menepuk dadanya yang terasa sesak saat mendengar penjelasan Luna tadi, Aiden berusaha menenangkan istrinya dengan memeluk Mikha.
Sementara itu di ruang santai, kakak kakak Luna dan teman-temannya terbelalak kaget saat melihat beberapa video dan file yang berhasil dikumpulkan oleh Luna dan menjadi sebuah video yang saling berkaitan dan mengacu pada siapa yang menyebabkan alias penyebab kematian nenek Rose.
"I.. ini buktinya, semua buktinya ada disini, teka teki kita akhirnya dipecahkan dengan mudah oleh Luna!" ucap Ken yang terkejut melihat isi video itu.
Lain halnya dengan Rose dia terpaku saat melihat siapa dalang dibalik meninggal nya sang nenek.
"Aku jadi merasa bersalah pada Luna,Arhhhhh siaaal aku membuatnya sedih lagi !!!" teriak Bima merutuki diri ya sendiri.
.
.
__ADS_1
.
like, vote dan komen, jangan jadi pembaca gaib ya heheheh 😊😊😉😉😉