
..."Ini kesempatan keduaku untuk hidup, maka aku akan membalas Budi padamu!"...
...-Andin-...
...****************...
Di sebuah ruangan serba putih dengan bau khas obat-obatan tampak seorang gadis tengah terlelap dengan damai, sudah tiga hari gadis itu terlelap tanpa menghiraukan panggilan orang-orang di sekitarnya.
Di tubuhnya terpasang alat bantu pernapasan serta cairan infus tertancap di tangannya.
Pintu rumah sakit dibuka, tampak seorang gadis dengan gaun biru khas miliknya memasuki ruangan itu dengan tersenyum.
Luna mendekati bed rest Andin, ia duduk di samping tempat tidur gadis itu. Perlahan Luna menggenggam tangan Andin dan mengelusnya dengan penuh kasih.
Air matanya kembali lagi menetes, dua hari yang lalu tubuh Andin di bawa ke Jakarta setelah mendapatkan perawatan selama sehari di Kota Bali.
Tiga hari sudah gadis itu tidak sadarkan diri. Luka di tubuhnya mulai kering namun masih banyak meninggalkan bekas.
"Andin, apa kau tidak mau bangun gadis pembuat onar? apa kau tidak rindu denganku hmm? kenapa tidurnya lama sekali sih, hiks hiks," Luna menangis lagi, setiap kali ia duduk di samping Andin, ia selalu menangis seperti itu.
Dari pintu masuk,Mark dan Gama terlihat masuk ke dalam ruang perawatan itu. Gama sedikit memijit pelipisnya saat melihat Luna menangis lagi, ia tidak suka gadis itu menangis.
"Andin, kau memukulku kemarin, kau tidak boleh tidur terus aku harus balas, kau pikir itu tidak sakit hah? lagi pula kenapa kau sok main rahasia-rahasia sih," gerutu Luna, ia tidak menyadari kedatangan Mark dan Gama.
"Bagaimana bisa gadis ini menangis sambil menggerutu seperti itu? " batin Gama yang sudah berada di samping Luna namun tidak di sadarinya
"Dia tidak akan bangun kalua kau menangis terus, apa matamu tidak sakit, sudah tiga hari kau selalu menangis," ucap Gama sambil memegang pundak Luna.
Luna melepaskan tangannya dari tangan Andin, ia berbalik dan menatap Gama dengan air matanya itu. Selain cerewet, gadis ini juga sangat cengeng tapi hanya di depan orang terdekatnya.
"Andin belum bangun...hiks..hiks..hiks," lirih Luna sambil menundukkan kepalanya ia mengepalkan kedua tangannya.
Gama memutar kursi rodanya dengan bantuan Mark dan kini mereka saling berhadapan. Perlahan Gama mengambil tangan Luna lalu menggenggamnya dengan lembut.
"Luna lihat aku," ucap Gama.
Luna mengangkat kepalanya dan menatap Gama, wajahnya sangat kacau bahkan gadis itu tampak semakin kurus.
"Tisu!" ucap Gama pada Mark.
Mark mengambil tisu den memberikan pada Gama. Gama mengambil beberapa lembar tisu dan mengusap air mata Luna dengan lembut, tangannya yang lain memegang wajah Luna.
"Lihatlah ini, wajahmu semakin kurus, kau menangis setiap hari, apa persediaan air matamu sangat banyak?" gerutu Gama.
"Bisa bisa saat Andin bangun nanti, malah dirimu yang tidur karena sakit, jangan menangis lagi kau harus bisa tenang, Andin butuh waktu pemulihan, tubuhnya lemah jangan sampai kau yang sakit," ujar Gama dengan nada sedikit kesal.
"Tapi kenapa dia tidak bangun juga Gam?" tanya Luna dengan tatapan sedih, Gama sudah selesai membersihkan wajah polos istrinya, ia kembali menggenggam tangan Luna dengan erat.
"Dia butuh istirahat, biarkan dia tenang dulu, setelah sehat entah mau kau sate, mau kau jadikan panggang juga gak masalah, pokoknya biarkan dia sehat dulu," ujar Gama dengan santai.
Luna mencebikkan bibirnya, "Ck...kau ini masih bisa bercanda dasar om-om kurang umur!" celetuk Luna dengan tatapan mengejek.
__ADS_1
"Nah gitu dong baru normal, kalau nangis seperti tadi bukan Luna istrinya Gama heheheh," goda Gama sambil mencolek hidung gadis itu.
"Arghh...kau membuatku malu, ishh ada Mark disini Gam," ucap Luna cepat-cepat menutup wajahnya yang sudah bisa dipastikan merona.
"Saya tidak melihat dan mendengar apa-apa nona," kilah Mark yang sebenarnya merasa lucu ketika melihat wajah Luna memerah.
"Bilangnya gak dengar, tapi kok bisa menjawab, uhh dasar asisten kulkas!" celetuk Luna.
"Maaf nona kalau begitu saya akan keluar," jawab Mark.
"Tuh kan, jangan kemana-mana kau tetap disini!" ketus Luna.
Gama tersenyum saat melihat perubahan mood Luna, baginya lebih baik telinganya panas mendengar Omelan dan ocehan gadis itu daripada harus mendengarnya menangis.
"Baik nona!" jawab Mark datar.
"Ishhh....aku heran kenapa ada manusia kulkas seperti kalian, untung Gama sudah sedikit berubah, sekarang giliranmu yang berubah Mark, jika kau seperti itu terus tidak akan ada gadis yang mau mendekatimu!" ujar Luna seraya menasehati asisten suaminya.
"Apa aku sedingin itu dulu?" tanya Gama menunjuk dirinya, mendengar itu Mark mangumpati tuannya di dalam hati.
"Tuan apa tuan tidak sadar kalau tuan adalah manusia paling tidak tersentuh di dunia ini? bahkan tuan sangat kejam, kau menjadi aneh tuan!"batin Mark.
"Aku tau kau memikirkan apa Mark," ucap Gama yang membuat Mark tersentak.
"Saya tidak berani tuan," jawab Mark kaku.
"Jadi apa aku sedingin itu dulu Luna?" tanya Gama lagi.
"Lebih parah dari Mark, kalau Mark masih kulkas kalau kamu kutub Utara!" celetuk Luna.
Luna melepaskan genggaman tangan Gama, ia menangkup wajah Gama dengan kedua tangannya, ia menatap netra hitam itu sambil tersenyum lembut.
"Kalau sekarang, ummm kamu semakin tampan karna udah gak sedingin saat kita baru bertemu," ujar Luna sambil tersenyum manis.
Mark yang tidak kuasa melihat keromantisan pasangan itu membalikkan badannya dan menatap ke arah lain daripada dia harus baper karena gak bisa romantis romantisan pasalnya dia jomblo berkarat.
"Astaga cinta memang gila," batin Mark.
Gama membalas senyuman Luna, ia senang akhirnya Luna bisa sedikit melupakan kesedihannya karena kondisi sahabatnya yang masih belum juga sadarkan diri itu.
"Lalu bagaimana dengan perasaanmu? apa kamu mencintaiku?" tanya Gama.
"Kan aku udah pernah bilang Gama, aku didiagnosa jatuh cinta sama dokter waktu di Bali, artinya sampai sekarang aku masih mengidap penyakit itu," ucap Luna dengan polosnya.
"Pffthh hahhaha, itu bukan penyakit Luna sayang," Gama tertawa mendengar penuturan gadisnya yang sangat polos dalam hal cinta.
"Tapi jantungku selalu deg degan kalau dekat kamu, berarti penyakitan dong," celetuk Luna.
"Ahahahah, ya ampun sayang kau polos sekali, kemarilah ada yang ingin ku bisikkan padamu, aku tak mau Mark mendengar," ujar Gama.
Luna mendekatkan kepalanya ke bibir Gama.
__ADS_1
"Aku juga begitu, jadi kita nggak penyakitan cuma sedang jatuh cinta saja," bisik Gama pelan.
"Ahh benarkah?" ucap Luna sedikit berteriak.
"Ehh...ups...hehehe," tersadar dia terlalu ribut, Luna langsung menutup mulutnya.
"Apa itu benar?" tanya Luna lagi, jarak mereka sangat dekat saat ini, Mark yang tidak mendengarkan percakapan mereka merasa heran, ia membalikkan badannya dan matanya terbelalak melihat pemandangan di depannya.
Mark melihat wajah Luna dan Gama sangat dekat seperti akan melakukan sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh pasangan pada umumnya.
Cepat-cepat Mark berputar haluan dan menatap ke arah lain.
"Huuffttt....mataku ternodai, arkhhh kenapa mereka melakukan itu disini sih?" gumam Mark.
"Tentu saja benar," ucap Gama sambil tersenyum.
Mata Luna berbinar-binar, ia sangat senang mendengar pernyataan suaminya.
Cup
Luna reflek mengecup bibir suaminya dan langsung berpaling dengan cepat. Wajahnya merona dan telinganya semerah kepiting rebus.
Gama terperangah, ia tak percaya mendapatkan ciuman pertama dari istrinya. Hatinya berbunga-bunga, bahkan jantung sudah berdebar tak karuan sama halnya dengan Luna yang kini menatap Andin.
Luna merapikan rambut Andin seolah tidak terjadi apa-apa diantara dia dan suaminya. Namun senyumnya tidak hilang dari wajah cantiknya.
"Erghhh....Luna....Luna....Luna,"
Andin meracau, reflek Luna berdiri ia terkejut saat mendengar suara Andin begitu juga dengan Gama dan Mark.
"Andin, Andinku sudah bangun!!" ucap Luna girang saat melihat mata Andin mulai terbuka.
Dengan segera Mark menekan tombol darurat di dekat bed rest itu.
Dokter George tiba dan langsung memeriksa kondisi Andin.
"Nona Andin sudah dalam keadaan stabil tuan tuan, nona, secepatnya nona Andin kan pulih dan bisa beraktivitas seperti biasanya," jelas dokter George yang dibawa langsung dari Bali ke Jakarta saat memindahkan Andin.
"Terimakasih dok," ucap Luna.
"Sudah tugas saya nona, kalau begitu saya permisi Tuan, nona," ucap Dokternya George dengan hormat.
Luna mendekati Andin dengan perasaan bahagia. Andin juga menatap sahabatnya dengan wajah sendu, air matanya mengalir saat melihat wajah Luna.
"Luna.. Maafkan aku..hiks..hiks..hiks," ucap Andin sambil menangis.
.
.
.
__ADS_1
like, vote dan komen 😊
reviewnya lama ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜