
Luna, Ken dan Aiden berangkat dari kediaman keluarga Park. Rencananya mereka hari ini akan berangkat ke sebuah cafe dimana salah satu rekan bisnis Aiden sedang melaksanakan sebuah Pesta ulang tahun.
"Sumpah ya, tadi kupikir kita mau ke Club malam, soalnya temen Aiden itu rata-rata seneng main di Club malam!" Celetuk Ken sambil memarkirkan mobilnya di parkiran cafe.
"Ya kali kita ngajak Luna ke Club malam Ken, masa iya adikku yang cantik ini dibawa ke tempat begitu, ya nggaklah," balas Aiden sambil keluar dari pintu dan membukakan pintu mobil untuk Luna.
"Terimakasih kak," ucap Luna saat Aiden membukakan pintu untuknya.
"Jadi gimana caranya kalian melakukan rencana konyol kalian itu, masa iya demi membuat Gama cemburu kalian sampai datang malam-malam begini kesini," cecar Ken.
Luna dan Aiden memang berniat membuat seseorang di Korea Selatan sana ingin pulang karena terbakar api cemburu melihat istrinya yang cantik bersama pria pria tampan sahabat Aiden.
Rencana konyol ini entah berhasil atau tidak, tapi Aiden tau kalau Gama itu mudah di panas-panasi.
"Liat aja nanti, udah ayo masuk ini acara ulang tahun adek perempuan rekan bisnisku," ujar Aiden sambil menggandeng tangan Luna.
Ken menggelengkan kepalanya pasrah, ia menggandeng tangan Luna di sisi lain, jadilah Luna kini berjalan di tengah-tengah kedua pria tampan itu.
Mereka bertiga tampak seperti selebriti, penampilan mereka langsung saja mencuri perhatian para tamu undangan yang diundang ke pesta itu.
Alunan musik yang seru sesuai dengan gaya anak muda membuat suasana menjadi menyenangkan, tatanan cafe yang elegan dan mewah membuat siapa saja betah di sana.
Ken, Aiden dan Luna menjadi pusat perhatian, tentu saja karena dua Presdir muda dan tampan yang menjadi idola setiap wanita itu tampak menggandeng seorang gadis yang sangat cantik.
Mata semua orang tertuju pada Luna, antara iri, tidak suka, kagum, suka , atau perasaan apa pun itu merekalah yang paham.
"Kak kenapa matanya kayak mau makan Luna sih?pengen Luna congkel itu matanya," bisik Luna pada Ken dan Aiden saat melihat mata beberapa wanita yang merupakan penggemar Ken dan Aiden melihatnya dengan tatapan sinis dan mengejek.
Ken dan Aiden tersenyum tipis, sangat tipis hingga tak seorang pun sadar kedua pria sedang tersenyum.
"Sabar ya Luna, entar kita main congkel-congkelan, sekarang kita panas panasin Gama dulu, aku yakin dia sedang mengawasi kita sekarang," balas Aiden berbisik di telinga Luna.
"Haaa? Caranya?" Tanya Luna yang pura- pura tidak tahu, pasalnya ia sudah merasa sejak masuk ke tempat itu ada yang tidak beres dengan orang-orang disana.
Aiden dan Ken sudah tau sejak awal mereka sampai di cafe itu, ada beberapa pasang mata yang mengawasi gerak-gerik mereka, dan pastinya itu adalah anak buah Gama yang di tugaskan untuk mengawasi Luna.
Aiden menunjuk beberapa orang dengan pakaian casual, tapi mereka memakai earphone nir kabel di telinga mereka, ada laki laki dan ada perempuan, totalnya berkisar sepuluh orang dan mereka berbaur di pesta itu sehingga Luna tidak sadar.
"Wahh, dia sudah gila ya," celetuk Luna.
"Pfhhtt, kau mengatai suamimu sendiri gila, dasar gadis aneh!" Ujar Ken yang tertawa mendengar ucapan adiknya, mereka bertiga terus berjalan menuju letak pemilik pesta.
"Dia memang aneh kak," ujar Luna sambil clingak-clinguk mencari orang-orang suruhan suaminya.
"Kak Ken, kak Ai ada sekitar dua puluh orang yang mengawasi kita, dia terlalu berlebihan!" Celetuk Luna.
"Haaa?" Ken dan Aiden sedikit terkejut, padahal yang mereka tau hanya ada sepuluh pengawal Gama disana, enam pengawal yang mereka bawa dan 5 pengawal Bima yang mengawasi mereka dari sudut ruangan dan mereka dapat dikenali dengan jelas, lalu siapa yang dimaksud gadis itu?
"Kau mungkin salah lihat Luna, kita hanya diikuti 10 pengawal Gama yang berpakaian seperti kita pengawal lain memakai pakaian kerja mereka," ujar Aiden.
Luna menarik tangan mereka ke sudut ruangan.
__ADS_1
"Ck...lihat kemari kak Ken, kak Aiden!" Ucap Luna sambil mengarahkan ponselnya ke para tamu undangan, sehingga mereka tampak seperti sedang berfoto padahal yang aktif adalah kamera belakang.
"Ini ada tiga orang, disana ada dua orang, di situ ada dua lagi, di dekat pemilik pesta ada tiga, ini mereka selain yang kakak tunjuk tadi," ucap Luna sambil memperbesar layar ponselnya untuk menunjukkan orang orang itu.
Ken dan Aiden terdiam, mereka bahkan tidak menyadari gerak gerik mencurigakan orang-orang itu.
"Bagaimana kau bisa menyadarinya?" Bisik Aiden sehingga tampak Aiden seperti sedang mencium pipi Luna.
"Sejak kita masuk ke ruangan ini, mereka langsung menatap kita lebih tepatnya ke arahku, apa kalian kenal dengan mereka?" Balas Luna dengan suara pelan.
"Tidak, kami tidak tau siapa mereka," balas Ken.
"Ya sudah sebaiknya kita batalkan rencana itu, lagi pula keselamatanmu lebih penting, masalah Gama cemburu atau tidak bisa kita ganti dengan cara lain," ujar Aiden yang memang bisa punya sifat bijak seperti ini.
"Kau benar Aiden, sebaiknya kita pulang saja, aku tidak mau terjadi apa apa dengan Luna, mungkin saja mereka sudah tau kalau Luna adalah istri Gama," ucap Ken menaruh curiga pada tuan Jae Sung CS.
"Entahlah, lebih baik kita pulang," ucap Aiden.
Ken dan Aiden langsung menggenggam tangan Luna dengan posesif.
"Eh...eh..eh tunggu dulu kali kak, kita ucapin selamat dulu sama adek rekan bisnis kakak, mereka udah lihat kita datang, gak enak kalau langsung pulang," ucap Luna sembari menahan tangan mereka berdua.
"Gak usah Luna, lagian hanya dengan kedatangan kami aja mereka udah bersyukur," ucap Aiden.
"Ck...aku ngambek nih," ucap Luna sambil menghempaskan tangan mereka berdua dan memalingkan wajahnya menatap ke arah lain.
Ken dan Aiden saling menatap, mereka menghela nafas, jujur saja mereka mengkhawatirkan gadis itu.
"Jangan cemberut ya, entar jelek," ledek Ken.
Bughh
Luna menyikut perut kakaknya,
" Sembarangan ngomong, udah ayo!" Ucap Luna sambil menyeret mereka berdua.
Luna, Aiden dan Ken berjalan menuju kursi pemilik Pesta, tampak seorang pria berusia sekitar 30 awal bangkit berdiri diikuti keluarga mereka, dengan senyum sumringah dia menyambut kedatangan Aiden mitra bisnisnya.
"Terimakasih atas kehadiran Anda tuan Aiden dan tuan Ken, ahh siapa gerangan nona cantik ini?" Ucap pria itu sambil menatap Luna.
Ken menarik Luna ke sampingnya, lain halnya dengan Aiden yang terus menggandeng tangan Luna.
Kalau Luna dia malah sibuk melihat lihat orang orang disana, entah apa yang membuatnya begitu tertarik dengan orang-orang itu.
"Bukan urusanmu!" Ucap Ken dengan tatapan dinginnya.
"Maafkan saya lancang tuan," ucap pria itu segera membungkuk.
"Ahh selamat ulang tahun untuk adikmu, maaf kami tidak membawa hadiah," ucap Aiden pada rekan bisnisnya.
"Hanya dengan kehadiran tuan saja kami sudah sangat senang tuan," ucap Pria itu.
__ADS_1
"Terimakasih atas kedatangannya tuan Aiden, saya merasa tersanjung," ucap adik perempuan rekan bisnis Aiden itu sambil seraya maju mencoba memeluk Aiden.
Aiden memajukan tangannya seraya memberi kode agar gadis itu berhenti. Gadis itu berhenti di tempatnya, dengan raut kesal tapi disembunyikan dengan senyuman terpaksa ia kembali ke tempatnya.
"Apa sudah selesai Aiden?" Tanya Ken.
"Sudah, kami permisi!" Ucap Aiden pada pemilik pesta itu.
"Silahkan nikmati pestanya tuan!" Seru pria itu.
Setelah kepergian Aiden, Ken dan Luna pria itu langsung memarahi adiknya yang terlalu sembrono.
"Jangan melakukan sesuatu yang akan menghancurkan nasibmu kelak, kau tidak tau saja bagaimana kekejaman kedua Presdir itu, meski banyak rumor mereka suka bermain wanita tapi itu hanya rumor, mereka hanya suka bermain uang!"
"Jaga batasanmu!" Tegas pria itu membuat adiknya sadar dengan kesalahannya.
Ken, Aiden dan Luna duduk di sebuah sofa panjang, tak ada yang berani menatap Luna meski pesona gadis itu sangat memikat hati.
Alasannya tentu karena kehadiran enam pengawal yang berjejer rapi di sekitar mereka dan tatapan mata menyeramkan sang Kenzo yang siap sedia kapan pun menyerang siapa saja yang berani macam-macam.
"Kak aku pengen makan cake sambil lihat-lihat boleh kan?" Tanya Luna dengan mata berbinar binar yang membuat siapa saja tak bisa menolak gadis itu.
"Hmm pergilah tapi hanya di meja di depan itu, kau hari tetap di dekat kami, ingat jangan melakukannya hal gegabah, kami tidak mau terjadi apa-apa dengan dirimu!" Ujar Ken mengingatkan Luna agar bertindak hati-hati.
"Ck...cuma jarak dua meter doang, dasar posesif!" Celetuk Luna yang langsung bangkit berdiri dan berjalan menuju meja di depan mereka.
"Dia ini terlalu unik Ken, jiwa polosnya itu membuat siapa saja jatuh hati dengannya," ujar Aiden dengan matanya yang terus mengawasi gerak-gerik Luna meskipun enam pengawal sudah menjaganya.
"Kau benar, aku malah khawatir dengannya kalau begini," ujar Ken.
"Bagaimana bisa dia mengetahui keberadaan orang-orang itu, aku saja yang sudah diakui tingkat kejeliannya tidak menyadari mereka kalau bukan Luna yang beritahu tadi," ujar Ken.
"Kau benar, ternyata ada yang menyaingi ketelitianmu itu Ken, tapi kira kira siapa mereka?" Ucap Aiden.
"Entah, tadi aku sempat memberikan kode pada pengawal Bima untuk mencoba membuat keributan dengan mereka, tapi orang-orang itu tampak sangat tenang dan santai," ucap Ken.
"Aku takut Luna dan Anna dalam bahaya, itu saja, " ucap Aiden.
"Semoga saja tidak terjadi apa-apa," ucap Ken yang dianggukkan oleh Aiden.
Di meja hidangan, tampak Luna sedang memainkan kamera ponselnya sambil berpose dengan memegang sebuah cup cake, hanya saja ada yang aneh..
Aiden dan Ken menyadari spot yang di foto oleh Luna.
"Astaga dia ini mengerikan!!" Celetuk Aiden.
.
.
.
__ADS_1
Like, vote dan komen 😊😉😊