
Rose kini sedang dirawat di dalam ruang perawatan setelah dibawa oleh Luna dan Gama. Gadis cantik itu tampak begitu ketakutan.
Setelah perawatan selesai, Luna menemani Rose di dalam ruangan itu tentunya bersama Gama.
"Apa yang terjadi kak?" Tanya Luna yang kini duduk di samping bed rest Rose.
"Hanya masalah keluarga, dia Ibuku, ahh.... terimakasih sudah menyelamatkanku tadi nona," ucap Rose.
"Jangan sungkan kak, oh iya perkenalkan aku Luna dan dia suamiku Gama," ucap Luna memperkenalkan dirinya dan suaminya yang duduk di sofa dalam ruangan itu sambil memainkan Gadget nya.
"Salam kenal, aku Rose," balas Gadis itu.
"Kakak istirahat ya luka luka kakak belum sembuh," ucap Luna.
"Emmm aku mau ke ruangan nenekku saja Luna, nenek sedang sakit aku takut dia kambuh," ucap Rose.
"Tapi kakak belum sembuh loh," ucap Luna.
"Nggak masalah, kakak bisa kok, takutnya nenek nanti hilang," ucap Rose yang berusaha bangkit berdiri.
"Hufftt baiklah sini ku bantu," ucap Luna.
"Nggak usah aku bisa sendiri kok," ucapnya.
"Ck....jangan bawel deh Kak, kalau jatuh gimana? Kan makin parah nanti," omel gadis itu membuat Rose sedikit terkejut.
"Terserah kamu saja, kakak jadi gak enak ngerepotin kalian," ucap Rose.
Mereka berjalan menuju ruang perawatan nenek Rose. Setibanya disana, ada seorang pria yang tampak mengacak-acak tas Rose sementara si nenek duduk di sudut ruangan sambil ketakutan.
"Nenek," teriak Rose saat melihat sang nenek duduk ketakutan.
"Apa yang Anda lakukan!!" Teriak Rose marah, belum selesai masalah ibunya sekarang pria yang merupakan pamannya itu menambah masalah Rose.
"Aku hanya mau mengambil ini!" Ucap pria itu sambil mengambil amplop cokelat berisi uang yang disimpan Rose.
"Paman jangan di ambil!" Teriak Rose berusaha mengejar namun neneknya tak bisa dia tinggalkan.
Pria itu berlari begitu saja setelah mendapatkan apa yang dia inginkan. Rose menangis tersedu-sedu, Luna dan Gama tak bisa terlalu ikut campur.
Luna memapah si nenek bersama Rose yang tengah menangis.
"Duduk dulu Ka," ucap Luna menenangkan Rose.
Rose duduk di kursi dekat pembaringan neneknya, dia masih menangis. Si nenek di letakkan di atas tempat tidur.
"Siapa pria tadi kak?" Tanya Luna.
"Dia pamanku, arhhh...dia sudah mengambil semua biaya perawatan nenek, hiks hiks hiks aku harus apa kalau terus begini," tangis gadis itu tersedu-sedu.
Luna dan Gama saling menatap, mereka juga turut sedih dengan kondisi gadis itu.
"Apa kakak tidak punya pekerjaan?" Tanya Luna yang di jawab gelengan kepala oleh gadis itu.
"Lalu bagaimana kakak bisa membiayai perawatan nenek?" Tanya Luna.
__ADS_1
"Itu uang asuransi nenek, tapi di rampas semua, sebelumnya aku bekerja di sebuah restoran tapi karena merawat nenek aku tak bisa bekerja full akhirnya dipecat," jelas Rose.
"Hmmm aku mengenal seseorang di rumah sakit ini, dia mencari asisten untuk merawat orang sakit apa kakak mau?" Tanya Luna.
Rose langsung menatap Luna, dia mengangguk setuju, " aku mau apa pun pekerjaannya asalkan nenek bisa diobati," ucap nya dengan penuh semangat.
"Baiklah kalau begitu kakak bisa bekerja mulai besok," ucap Luna yang membuat Rose menyerngitkan keningnya.
"Maksudnya?" Tanya Rose.
"Yang mencari asisten itu suamiku, dan yang sakit itu kakakku heheheh," kekeh Luna, Gama sendiri hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya yang mengatasnamakan dirinya untuk merekrut asisten, dia tidak marah selama itu bisa membuat istrinya senang.
"Jadi apa kakak bisa?" Tanya Luna sekali lagi.
"Aku jadi merasa tidak enak Luna, padahal kita baru bertemu tapi kalian sudah banyak membantuku," ucap Rose merasa sungkan.
"Tidak masalah, jadi kakak mau kan? Gajinya lumayan, setelah kakakku sembuh Kakak akan dapat pekerjaan tetap di toko aksesoris kebetulan kami butuh karyawan bagaimana?" Tawar Luna.
Rose mengangguk setuju,dia sangat senang, meskipun uangnya habis dirampas oleh pamannya sendiri, dia bertemu malaikat berbentuk manusia yang menolongnya tanpa sungkan padahal ini pertemuan pertama mereka.
Sebenarnya Luna sudah mencari tahu informasi tentang gadis itu, dia mencari tahu seluk-beluk kehidupan gadis itu. Luna bukannya tidak tau siapa wanita dan pria tadi, dia tahu semuanya hanya saja dia diam agar rencananya berhasil.
Luna mencaritahu semuanya dengan bantuan suaminya tercinta, oleh karena itu Gama tidak terlalu banyak bertanya saat dia melihat Rose karena dia sudah tau semua kecuali alasan Luna mencari gadis itu, Luna belum menceritakan pertemuan Ken dan Rose.
"Terimakasih banyak Luna, terimakasih tuan!" Ucap Rose sambil membungkuk pada mereka berdua.
"Nah kalau begitu setelah kakak sembuh datang ke ruangan Lavender, nama kakakku Kenzo besok kita ketemu disana ya kak," ucap Luna sambil bangkit berdiri.
"Terimakasih Luna, terimakasih banyak!" Ucap gadis itu yang dibalas anggukan oleh mereka berdua.
Luna dan Gama keluar dari ruangan perawatan itu.
"Berhasil!" Seru Luna dengan senyum mengembang di wajahnya. Gama menepuk kepala Luna, dia gemas melihat tingkah istrinya itu.
"Senang?" Tanya Gama.
"Senang banget!!" Ucap Luna
Kruukkk..... kruukkk...kruukk
"Upsss...hahahahha," mereka tertawa saat mendengar suara perut mereka berdua yang berbunyi di saat yang sama.
"Makan yuk!" Ucap Gama sambil menggandeng tangan istrinya menuju kantin rumah sakit.
Sementara itu di kediaman keluarga Park tampak Anna, Andin dan Ferdi sedang berkumpul di ruang santai, mereka sudah selesai makan malam.
" Kak Fer tiga hari lagi bisa temani Anna gak ke sekolah? Anna pengen minta kak Luna sama kaka Gama tapi Anna kasihan sama kak Ken jadi Anna gak tega kalau minta mereka temani Anna ke sekolah," ucap Anna sambil memasukkan keripik kentan
"Emang ada acara apa An?" Tanya Ferdi.
"Ada pentas seni, Anna mau nyanyi, semua siswa dibebaskan bawa siapa aja," ucap Anna.
"Kak Andin juga ikut ya," ucap Anna dengan mata memelasnya.
"Kakak nggak bisa An, kakak masih ngurus toko kamu sama Ferdi aja ya," ucap Andin yang memang sangat repot mengurus toko mereka.
__ADS_1
"Benar An, kita berdua aja kakak juga pengen lihat sekolahan kamu," ucap Ferdi.
"Oke deh, " seru Andin sambil tersenyum manis.
"Luna gak pulang ya," ucap Andin.
"Sepertinya nggak kak, mereka mungkin menginap, kasihan kak Ken kalau harus di tinggal sendiri di rumah sakit," ujar Anna.
"Iya semoga aja dia cepat sembuh," imbuh Bima.
Mereka bertiga menikmati tontonan mereka sampai selesai.
Malam telah berkuasa di langit sang Surya, Luna dan Gama memutuskan menginap di rumah sakit untuk mendampingi Ken di masa masa sulitnya melawan penyakit, mereka tidur di dalam ruangan Ken yang sudah dipermak dengan ranjang tambahan untuk mereka berdua.
Hari terus berlalu, malam berganti pagi begitu hingga hari ini, mereka beristirahat meninggalkan semua beban dan peluh di hari kemarin. Kini saatnya hari baru kembali menyambut.
Luna bangun dari tidurnya dia melihat suaminya masih terlelap mungkin karena kelelahan Beker dan harus tidur di atas ranjang yang kurang nyaman seperti itu.
Luna mengelus wajah suaminya, dai sangat bahagia mendapatkan seorang pria yang pengertian seperti Gama.
"Dia pasti lelah," batin Luna.
Pelan pelan dia bangkit dari tidurnya, lalu memperbaiki selimut suaminya dan memberikan kecupan di kening suaminya, sungguh romantis.
Luna beralih pada kakaknya, dia melihat kakaknya masih terlelap, gadis itu tersenyum dan mengelus kepala kakaknya berharap pria itu segera pulih.
Luna membersihkan diri dan mengganti pakaiannya, dia juga menyiapkan pakaian suaminya yang diantarkan oleh Mark semalam.
Tok....tok.....tok
Seseorang mengetuk pintu.
"siapa pagi pagi begini?" pikir Luna.
"
Luna membuka pintu ruangan perawatan itu. Matanya terbelalak saat melihat lima orang berdiri di depan pintu kamar itu.
"Kak Aiii, kak Bima kak Alex!!" seru Luna dengan senyum sumringah.
"Selamat pagi nyonya Park!" sapa mereka sambil menunduk hormat ala kerajaan.
"selamat pagi pangeran pangeran tampan," balas Luna meniru putri kerajaan.
"hahahah, kami rindu si cerewet ini," ucap Aiden sambil memeluk Luna namun deheman seseorang membuatnya terkekeh.
"Ekhmm....."
.
.
like vote dan komen 😊😊
Ceritanya mulai membosankan ya? maaf ya author usahakan supaya tetap seru,
__ADS_1