
Celine dan Bima masuk ke dalam Kafe milik Celine yang selalu ramai pengunjung. Kedatangan mereka langsung di sambut oleh bawahan Celine yang tak pernah melihat Celine membawa laki laki atau satu mobil dengan laki laki.
Apalagi pria itu adalah pria yang sama saat Celine di selamatkan beberapa waktu lalu.
"Wahh akhirnya Bu Celine bawa Cowok mana ganteng lagi," ucap pelayan Kafe yang sedang membersihkan meja.
"Syukurlah jadi ada yang melindungi Ibu Celine," ucap Adit sambil menatap Celine yang berjalan dengan tatapan dingin bersama Bima menuju ruangan kerjanya.
"Heh apa kalian yakin kalau Bu Celine dan tuan itu bersama, bisa saja itu hanya urusan bisnis," ucap yang lain.
"Mau urusan bisnis, mau hubungan pribadi juga terserah mereka sih, kita mah harus kerja, udah jangan nge gosip lagi," ucap Adit sambil melanjutkan pekerjaannya.
"Hmm iya bener juga, " ucap mereka sambil kembali ke pekerjaan mereka masing-masing.
"Celine!" panggil seseorang saat Celine masuk dan berjalan di antara para pelanggan.
Celine yang mengenali suara itu langsung berbalik.
"Hmm ya? siapa?" tanya Celine dengan nada datar seperti biasa. Bima menatap sosok pria
yang memanggil Celine, dia menelisik pria yang lebih pendek dari dirinya itu.
"Ini aku Edi, masa gak ingat?" ucap Edi ingin menjabat tangan Celine tetapi tangan Celine langsung di genggam oleh Bima membuat Celine dan pria itu sedikit terkejut.
"Eh.."
"Dia sedang alergi, tak bisa bersentuhan dengan orang asing," ucap Bima dengan wajah datarnya.
"Eh.. Ekhmm.. tak apa, lepaskan saja," ucap Celine yang merasa tak enak dengan perlakuan Bima yang tiba tiba.
"Jangan sayang kamu kan lagi sakit," ucap Bima sambil merangkul bahu Celine.
"Eh.. sa..sayang?" ucap Celine terbelalak kaget apa yang dikatakan oleh Bima. dia sungguh tidak menyangka kalau Bima akan mengatakan kata-kata seperti itu kepada dirinya.
"Iya Sayang," ucap Bima.
"Aduh maaf ya jadi gak enak, aku cuma mau nyapa doang kok Celine, aku Edi teman kampus kamu waktu di London," ucap Edi sambil tersenyum ramah namun mereka tetap dan tidak suka kepada Bima, dan Bima menyadari tatapan pria itu.
"Edi... Edi... Ohh Edi si Cerdas dari Fakultas ekonomi ya!!" ucap Celine ketika dia mengingat teman lamanya itu, tanpa dia sadari dia masih memegang tangan Bima dan tangan Bima belum lepas dari bahunya membuat Bima tersenyum penuh kemenangan ke arah Edi.
"Iya,wah kamu masih ingat ya dengan julukan itu," ucap Edi sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ingat kok, udah lama ya, lagi ngapain disini?" tanya Celine.
"Cuma kunjungan ke salah satu anak perusahaan aja kok, mau jalin bisnis sama Antariksa Grup perusahaan property terbesar itu loh," ucap Edi sengaja membesarkan suaranya.
"Ohh jadi kau manager dari London itu, hmmm sombong sekali dirimu," batin Bima sang pimpinan grup Antariksa.
"Antariksa? ohh perusahaan property itu ya? wah bagus dong kamu pasti sukses kalau bekerja sama dengan mereka," ucap Celine yang belum menyadari apa yang di katakan ya.
"Astaga Ni anak apa belum sadar kalau suaminya pimpinan Antariksa Grup, atau apa dia gak tau? memang sih belakangan ini aku jarang muncul di hadapan publik," batin Bima masih menyimak percakapan mereka.
"Iya dong, emmm... btw dia..?" Edi menatap Bima dari ujung kaki sampai ujung kepala, Bima yang memakai sweater rajut berwarna cokelat dipadukan dengan kaos putih di dalam dan celana Hitam tampak seperti orang biasa dan tak punya kedudukan membuat Edi sedikit memandang rendah ke arah Bima.
Celine menyadari cara Edi menatap Bima dan dia tidak suka hal itu, membuat Celine kesal namun berusaha menahan diri agar tidak meledak apalagi di depan pelanggan.
"Apa dia kekasihmu? emm sepertinya dia tidak cocok untukmu, lihatlah cara berpakaiannya," ucap Edi seraya berbisik.
Celine mengeraskan rahangnya, sedangkan Bima biasa biasa saja meski dikatai seperti itu, padahal jelas jelas dirinya di ejek seperti itu.
Telepon Bima berbunyi,
"Cel, aku angkat telepon dulu ya ada urusan sedikit," bisik Bima yang dibalas anggukan kepala oleh Celine sedangkan Edi terus menatapnya dengan tatapan merendahkan dan itu semua tak luput dari mata Celine.
"Dia tidak cocok untukmu, dia pasti tidak punya apa apa," bisik Edi sambil ikut duduk di depan Celine.
"Kenapa begitu," tanya Celine yang masih berada dalam permainan bodohnya.
"Emm dari yang ku dengar kau adalah pemilik kafe ini bukan?" ucap Edi yang dianggukkan oleh Celine.
"Nah itu dia, kamu itu punya usaha dan seorang wanita karir, ini nasihat ku sebagai seorang teman ya Cel, dia itu tampaknya bukan cowok baik baik, lihat aja dia sedikit urakan, rambutnya panjang, dia mungkin cuma mau manfaatin kamu aja," ucap Edi menjelek jelekkan Bima di depan Celina.
"Aku itu cowok jadi tau mana yang benar benar tulus hanya dengan melihat penampilannya, dan untuk pria itu, dia bukan pria baik baik," ucap Edi.
Celine mengetuk ngetukkan jarinya di atas meja, mata Edi langsung tertuju pada cincin di jari manis Celine dan dia tau pasti harga perhiasan mahal itu.
"Wahhh Cel kamu pasti orang kaya hebat ya, " ucap Edi sambil terus memandangi cincin pernikahan di jari Celine.
Celine menarik tangannya saat Edi semakin mendekat, "Maksudmu?" tanya Celine.
"Itu cincin itu harganya saja hampir 1 M," ucap Edi yang membuat Celine sedikit terkejut dengan harga yang dia pikir cuma cincin berharga sekitar dua jutaan itu.
" pokoknya aku nasihati kamu jangan mau sama pria tadi, dia bukan pria baik baik, dia cuma mau manfaatin kamu," ucap Edi lagi.
__ADS_1
Para pelanggan yang mendengar ucapan Edi menjadi kesal karena pria itu menjelek jelekkan orang secara terang terangan, ini termasuk penghinaan.
Celine memasang wajah datar dan dingin, Edi terus saja melanjutkan omong kosong nya.
Celine mengeraskan rahangnya saat Edi terus terusan mengejek Bima padahal mereka baru saja bertemu dan Celine ingat Edi hanya karena diingatkan oleh pria itu, jika tidak dia mungkin saja tak ingat dengan pria itu.
"Hmmm... kau ternyata banyak bicara ya," ucap Celine menggertakkan giginya membuat Edi terkejut apalagi tatapan dingin Celine membuatnya seolah tercekik.
"Apa kau punya cermin?" tanya Celine pada Edi.
"Tidak aku tak punya," ucapnya.
"Pantas saja kau begitu pintar menilai orang lain tetapi dirimu sendiri tak kau nilai dasar PRIA BAJINGAN!!!" ucap Celine berdiri sambil menggebrak meja membuat para pelanggan menatap ke arah mereka.
"Eh... kenapa kau marah!!" balas Edi ikut membentak.
Celine mengambil gelas berisi Air minum dan...
byuuurrrr...
Dia menyiramkan air itu ke wajah Edi membuat pria itu melongo tak percaya, lain halnya dengan para pelanggan, mereka malah tertawa puas saat pria itu disiram air minum.
"Lancang sekali mulutmu menghina dirinya, kita baru bertemu, aku saja tak ingat betul dengan dirimu dan kau malah menjelek jelekkan orang lain hah, kau memang manusia biadab!!" ucap Celine, wajah gadis itu memerah karena marah, tangannya mengepal kuat dan sorot matanya begitu tajam.
Tangan Edi terangkat dia mengayunkannya ke arah wajah Celine namun dengan cepat Bima menangkap tangan itu dan memelintir tangan Edi lalu menariknya keluar dari kafe itu.
"Kemari kau sampah, kau harus berada di tempat mu seharusnya!" ucap Bima sambil mendorong Edi ke dalam bak sampah di depan kafe itu.
Brukk
"Ini tempat seharusnya untuk dirimu!!!" ucap Bima dengan sorot mata tajam lalu pergi meninggalkan pria itu disana dan masuk ke dalam Kafe.
"Pastikan tak ada bajingan seperti itu yang masuk ke dalam Kafe ini lagi!" ucap Bima.
.
.
.
like, vote dan komen 😊😉😊😊😉
__ADS_1