Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
66


__ADS_3

Gama tidak heran lagi dengan penjelasan Mark, dia tau bagaimana sifat ketiga sahabatnya itu apalagi Ken, pria itu adalah pria paling kejam sejagat raya.


Hanya saja sejak bertemu dengan Luna dia sedikit lebih hidup dibandingkan dengan sebelumnya. Jika dulu Ken enggan tertawa maka sejak ada Luna dia sering tertawa walaupun hanya di depan mereka pastinya.


"Jadi mereka berhubungan dengan kematian adik tuan Ken?" ucap Andin lirih.


Luna menyadari perubahan wajah Andin, ia menggenggam tangan gadis itu.


"Mereka memang bukan manusia!" ucap Andin.


"Sudahlah kita tak perlu membahas itu lagi, semuanya sudah terjadi, tapi mereka berdua sudah meninggal apa kau tidak apa-apa Andin?" tanya Luna.


Andin menatap Luna dengan mata berkaca-kaca, ia tidak tau haruskah dirinya senang atau sedih saat mendengar berita itu.


"Entahlah Luna, tapi aku mengiklaskan kematian mereka," ucap Andin lirih.


"Aku...a..aku..hiks...hiks..hiks," Andin menangis tersedu-sedu.


"Kenapa kau menangis Andin?" tanya Luna.


"Aku hanya kasihan pada diriku karena tidak pernah di beri kasih sayang oleh mereka, padahal jelas jelas aku anak mereka, selama 23 tahun aku tersiksa tanpa kasih sayang dari mereka, sekalipun tidak pernah...hiks..hiks.hiks..." Andin tersedu-sedu saat mengucapkan kata-katanya.


"Sudahlah Andin, kan ada aku, aku menyayangimu Andin, jangan menangis ya, semuanya akan lebih baik secara perlahan,aku yakin pasti ada kebahagiaan untukmu, kau berhak untuk bahagia," ucap Luna sambil membelai wajah Andin.


"Terimakasih Luna," ucap Andin menatap sahabatnya.


"Sudah jangan menangis lagi," ucap Luna sambil tersenyum.


Gama dan Mark menatap mereka dengan pikiran mereka masing-masing. Gama begitu bahagia saat melihat istrinya adalah sosok yang begitu lembut dengan orang lain bahkan ia percaya pada sahabatnya yang sudah menyakiti dirinya.


"Nona gadis yang luar biasa, dia mampu membuat suasana yang menyenangkan bagi semua orang, pantas saja tuan Gama banyak berubah," batin Mark.


Mereka berbincang-bincang di dalam ruangan itu, sesekali mereka terdengar tertawa apalagi saat mendengar celotehan gadis rambut biru itu.


Bahkan Mark juga sudah ketularan happy virus dari Luna, gadis ini memang paling bisa membuat suasana menjadi ramai.


Saat sedang berbincang, pintu ruang rawat dibuka, tampak tiga pria tampan masuk ke dalam ruangan itu dengan ekspresi yang tak bisa dijelaskan.


Gama dan Mark tahu arti tatapan ketiga pria itu. Luna menoleh dan melihat Aiden, Bima dan Ken masuk ke dalam. Mata Ken terus menatap ke arah Luna.


Luna menyapa mereka sambil tersenyum manis.


"Hai kakak kakak tampan, kalian darimana saja?" tanya Luna sambil tersenyum, Ken, Aiden dan Bima membalas senyuman Luna.

__ADS_1


"Kami baru mengurus sesuatu di perusahaan, apa Andin sudah siuman?" tanya Aiden dengan lembut sambil menghampiri mereka.


"Ohh...iya sudah kak, sekitar satu jam yang lalu," ucap Luna.


"Bagaimana kondisimu Andin?" tanya Bima yang sudah berdirinya di ujung bed rest Andin bersama Aiden dan Ken yang terus menatap Luna.


"Saya sudah baikan tuan, terimakasih," jawab Andin.


Luna yang merasa terus dilihat oleh Ken menyergitkan keningnya. Gama diam saja ia tidak bereaksi.


"Ada apa kak Ken? kenapa kau menatapku seperti itu? apa kau menyukaiku, maaf ya tapi aku sudah jatuh cinta pada suamiku," sarkas Luna dengan suara ketusnya.


Mark, Aiden dan Bima terbelalak dengan ucapan gadis itu, benar benar polos sekali gadis ini pikir mereka.


Ken dan Gama tersenyum tipis dengan ucapan gadis itu.


"Kenapa kau terang terangan sekali dengan perasaanmu Luna? apa kau tidak malu?" tanya Aiden yang malah merasa malu sendiri.


"Ck...tentu saja aku harus terbuka tentang perasaanku, bagaimana pun dia suamiku, aku harus begitu supaya tidak ada yang merebutnya dariku," ketus Luna.


Gama tersenyum mendengar penuturan Luna, entah bagaimana tapi gadis ini benar-benar polos dalam hal cinta.


"Hahahah, kau benar Luna, lebih baik kita mengakui perasaan kita daripada memendamnya dan malah ditikung sama orang lain," ujar Aiden sambil melirik Bima dengan tatapan jahil.


"Tidak, aku hanya teringat dengan seseorang yang memendam perasaannya, akhirnya orang yang disukainya itu menikah dengan orang lain," sindir Aiden.


"Diamlah kau terlalu banyak berbicara!" dengus Bima kesal.


"Hei tolong jangan membuat keributan disini, kalian tidak lihat ada orang sakit?" ucap Gama.


"Ya maaf," ucap mereka berdua.


"Emmm...Luna, bolehkah aku memelukmu sebentar?" akhirnya Ken berbicara sambil menatap Luna dengan perasaan yang campur aduk.


"Emmm?? aku? tentu boleh tapi apa Gama mengijinkan?" ucap Luna menatap Gama.


"Peluklah dia Luna," ucap Gama lembut,


"Dia kakakmu sayang,"batin Gam di dalam hatinya.


Meski sedikit bingung Luna pun mengangguk dan ia berdiri lalu mendekati Ken.


Belum Luna sampai ke dekat Ken, pria itu sudah terlebih dahulu menarik tubuh Luna dan mendekapnya dengan erat. Luna sedikit tersentak namun dia tidak menolak maupun membalas pelukan itu, ia membiarkan pria itu memeluk dirinya.

__ADS_1


Ken memeluk Luna, air matanya menetes dari kedua pelupuk matanya, entah bagaimana ia harus menggambarkan perasaannya saat ini yang pasti dia sangat bahagia.


Luna membalas pelukan Ken saat mendengar Isak tangis dari bibir pria itu. Ia menepuk nepuk punggung pria itu seperti seorang ibu yang menenangkan anaknya yang sedang menangis.


"Ada apa kak Ken? kakak ternyata cengeng ya, lebih cengeng dari aku!" celetuk Luna.


"Hehehe, kau membuatku menangis sambil tertawa adik kecil," ucap Ken sedikit terkekeh mendengar celetukan gadis itu.


"Kenapa kau menangis kak? seperti anak kecil saja dasar lemah!" ledek Luna masih dalam posisi memeluk Ken, sejujurnya dia nyaman memeluk pria itu, tentu bukan rasa nyaman yang sama seperti memeluk Gama, ia nyaman seperti dalam pelukan kakaknya sendiri.


"Pffthh....hahah, Luna selalu bisa membuat Ken tak bisa membalas," kekeh Aiden yang merasa lucu melihat pemandangan yang seharusnya mengharukan tapi malah menjadi kocak karena celetukan gadis rambut biru itu.


"Aku merindukan adik kecilku yang cantik ini," ucap Ken sambil memandang Luna dengan tersenyum.


"Hmmm... benarkah, pasti terjadi sesuatu," ujar Luna dengan tatapan menelisik.


"Hahaha, Luna bisa tidak aku memanggilmu Nana?" ucap Ken.


"Nana? emmm....Nana? Nana?....arghh..." tiba-tiba Luna merasa pusing saat mendengar nama itu, nama yang muncul dalam mimpinya.


"Nana, ini kak Enzo tangkap kupu-kupu buat Nana, heheheh Nana cantik sekali, kemari lah adik kakak, Nana cantik adik kakak Kenzo,"


Ingatan itu berputar di kepala Luna, ia sedikit meringis kesakitan saat berusaha mencari tahu lebih dalam. Luna memegangi kepalanya, Ken yang melihat Luna kesakitan menjadi panik, begitu pun dengan Aiden, Bima, Gama dan Andin.


"Arhhh...kepalaku sakit kak Ken," ucap Luna meringis kesakitan.


"Kau kenapa? kemari duduk dulu," ucap Ken sambil memapah Luna menuju sofa di dekat brankar itu.


Luna duduk, ia berusaha menetralkan rasa sakitnya. Setelah beberapa menit ia sudah tenang kembali, namun ada yang membuatnya diam sejenak, ingatan masa kecilnya perlahan kembali, sudah beberapa kali ia mengalami hal itu.


Kini semua ingatan itu bagai potongan puzzle yang harus disatukan.


Gama menarik tangan Ken, sedang Aiden dan Bima menemani Luna.


"Ken aku mau bicara!," ucap Gama.


Ken menurut, ia beranjak dan mendorong kursi roda Gama menuju sisi lain ruangan itu.


.


.


.

__ADS_1


like, vote dan komen 😊😉😊


__ADS_2