Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
115


__ADS_3

Luna dan Alex melangkahkan kaki mereka keluar dari Apartemen. Mereka dikawal oleh enam orang anak buah Alex dan yang lainnya menjadi anak buah tak terlihat.


Alex dan Luna duduk di kursi penumpang, mereka disupiri oleh pengawal Alex.


Tampak raut wajah Alex sangat gugup dan kelihatan kalau dia takut dan tidak percaya diri.


"Kak, kau harus tenang, aku akan membantumu menjelaskan semuanya pada mereka," ucap Luna seraya menepuk pundak pria itu.


"Aku khawatir mereka tidak bisa memaafkan aku Luna, arhhhh aku lebih baik mengawasi mereka dari jauh jika seperti ini!" gerutu Alex sambil mengusap kasar wajahnya, dia benar-benar gugup saat ini.


"Ck....bukan kau yang meminta maaf, tapi si pria bodoh itu!" ketus Luna.


"Sudah tenang lah kak, kau pasti bisa, aku akan mendukungmu, jika mereka ingin berbuat apa apa padamu aku akan melindungimu!" celetuk Luna.


"Harusnya aku yang melindungi wanita bukan wanita yang melindungi ku, hahahah ke apa jadi terbalik begini sih keadaannya?" kekeh Alex.


Luna tersenyum menanggapi ucapan Alex, mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah besar Park.


"Semoga semuanya berjalan dengan baik, dan kuharap ke depan tidak ada lagi masalah seperti ini," batin Luna.


Beberapa saat yang lalu saat mereka masih di apartemen Alex, Luna menyempatkan diri menyadap ponsel kakak kakak-kakaknya dan mengirimkan semua bukti kejahatan tuan Jae Sung yang menjadikan Tiara, Alex, Laura, dan Gisel sebagai alat kambing hitamnya untuk menguasai harta keluarga Park.


"Selama ini kalian dibodohi dan dijadikan kambing hitam oleh pria tua bodoh itu, kuharap kalian paham maksud ku mengirimkan bukti ini, aku akan membawanya ke hadapan kalian, orang yang selama ini kalian benci,"


Tertanda : Luna Christina


Luna mengaktifkan ponselnya, seketika itu terjadi kehebohan di rumah besar Park.


"Tuan, ponsel Nyonya sudah aktif!" Ucap Mark yang saat ini duduk di ruang kerjanya bersama Gama di rumah itu.


Gama sudah di periksa dan telah terlelap sejak dua jam yang lalu.


Drrrttt


Drrttt


Drrttt


Bersamaan dengan panggilan Mark, ponsel Ken, Aiden, dan Bima berbunyi di saat yang bersamaan.


Mereka menerima sebuah file misterius. Ketiganya membuka isi file itu. Dan mereka benar benar terbelalak kaget melihat isi file yang mencengangkan itu.


"Ken, a...apa ini?" Ucap Aiden terkejut saat melihat data-data serta semua bukti yang tertata dalam file itu.


"Ini semua bukti kejahatan Jae Sung yang sebagian besar sudah di dapatkan oleh Gama!" ucap Bima.


Bukti kejahatan yang dilakukan tuan Jae Sung dan kebenaran tentang Tiara dan Alex dikirim dalam bentuk file disertai sebuah pesan yang di kirimkan oleh Luna.


"Ini pesan dari Luna, a...apa ini benar? Siapa maksudnya orang yang kita benci?" Tanya Bima.


"Alex!" Ucap Aiden sambil mengeraskan rahangnya.


"Alex? ...apa Alex ada kaitan dengan hilangnya Luna?" Tanya Bima lagi, tampak pria itu syok dengan ucapan mereka.

__ADS_1


"Ada apa ini, jelaskan Mark!" Ucap Bima.


"Kami curiga kalau nyonya muda ada bersama Alex tuan, alasannya karena ini," ucap Mark menunjukkan bukti keberadaan Alex pada Bima.


Bima membelalakkan matanya, ia kaget melihat semua data data itu.


"Ba... bagaimana bisa? Bukannya Alex di Finlandia?" Ucap Bima terkejut dengan informasi baru ini.


"Dia berhasil mengelabui kita semua Bim," ucap Aiden.


"Lalu bukti ini apa maksud nya?" Ucap Bima bingung.


"Entahlah aku jadi tidak tau mau menyalahkan siapa atas kejadian ini," ujar Aiden.


Mereka semua terdiam, Ken menghubungi ponsel Luna namun tidak diangkat, beberapa kali pria itu melakukannya namun tetap tidak diangkat membuat mereka semakin penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya.


"Kenapa tidak di angkat?'" batin Ken.


"Yang saya heran, Bagaimana mungkin nona Luna bisa mengirim pesan ini tanpa terlacak sama sekali, apa jangan jangan pesan beberapa hari lalu berasal dari nona Luna?" Ucap Mark yang fokus melacak keberadaan Luna.


"Iya benar, Secara Luna pasti tidak pernah belajar tentang peretasan setelah kejadian belasan tahun lalu," ucap Aiden.


"Kalau untuk pesan ini, aku yakin ini memang dari Luna, kalian tidak mengenal Luna dari kecil makanya kalian tidak mengetahui kemampuan gadis itu," ucap Ken yang tampak tenang.


Ken duduk di salah satu kursi dalam ruangan itu, semua mata menatap pria itu.


Andin dan Ferdi saling menatap, mereka tampak menyembunyikan sesuatu tentang Luna yang tidak banyak orang ketahui.


"Apa maksudmu Ken? Aku tidak mengerti!" Ucap Aiden sambil menggaruk kepalanya bingung.


"Kecerdasan Luna itu di atas manusia rata-rata, dia gadis paling pintar yang pernah kutemui, kepintarannya turun dari mendiang Mama, Luna memiliki IQ sekitar 380 atau lebih," jelas Ken yang membuat mereka terbelalak kaget, pantas saja gadis itu sangat cerdas dan cepat tanggap.


"Kupikir kemampuan itu akan hilang karena dia mengalami cedera otak, tapi setelah kejadian ini dan melihat bagaimana Luna bisa begitu detail dengan segala sesuatu, aku yakin otaknya semakin berkembang," ucap Ken.


"Tuan Ken benar, Luna memang tidak bersekolah karena guru guru kami dulu di buat kelimpungan dengan semua pertanyaan gadis itu, dia ini gadis terunik yang pernah kami jumpai," ucap Andin.


"Dan Luna bisa melakukan sesuatu hanya dengan melihatnya sekali." Tambah Ferdi.


"Hanya saja tak ada yang bisa mengasah keterampilan gadis itu, sehingga terbuang begitu saja," ucap Andin lagi.


"Kalian benar, Ken, Bim apa kalian ingat bagaimana Luna waktu itu mengkritik perusahaan kita masing-masing? Dia benar-benar cerewet waktu itu ternyata idenya benar benar brilian!" Celetuk Aiden.


Mereka semua benar benar kagum dengan keterampilan gadis itu.


"Haissh bukan saatnya kita mengagumi gadis itu, kita harus melacaknya!" ucap Aiden.


"Ah aku benar, bagaimana Mark dimana posisi Luna sekarang?!" tanya Bima .


"Tuan menurut GPS pada ponsel nona muda, mereka sedang mengarah ke rumah ini!" Ucap Rendy.


"Dan satu lagi, sepertinya nona muda tidak dibawa kemana-mana, mereka berada di kota ini!" Ucap Rendy.


Mereka semua terkejut dengan ucapan Rendy, bagaian bisa mereka tidak dapat menemukan keberadaan gadis itu selama lima hari ini padahal mereka masih berada di kota yang sama.

__ADS_1


"Pasti ini akal akalan Luna !" Ucap Andin yang sudah sangat hapal dengan sifat gadis licik dan pintar itu.


Mereka semua begitu terkejut dengan semua kejadian ini, bagaimana bisa mereka semua tidak bisa menenukan jejak Luna sedangkan gadis itu bisa mengirim pesan pada mereka.


Ting......Nonggg.....tinggg....nongg


"Mereka tiba tuan!" Ucap Mark.


Mereka semua bergegas ke ruang depan untuk melihat siapa yang datang.


Ceklek,


Pintu dibuka, tampak Luna dengan pakaian serba hitamnya berdiri sambil berpangku tangan di depan pintu dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


Mata mereka juga tertuju pada pria yang menunduk di belakang Luna.


"Alex!" Batin mereka saat melihat pria itu.


"Luna!!" ucap mereka saat melihat gadis itu.


"Halo kakak kakakku, aku merindukan kalian," ucapan Luna seraya meneteskan air matanya di hadapan mereka. Kalau boleh jujur Luna benar benar rindu dengan mereka semua.


Hanya karen misi mempertemukan Gama dengan Alex dia real memendam rasa rindunya pada orang-orang yang sudah dianggapnya sebagai keluarga.


"Luna, kau kemana saja," ucap Ken yang langsung memeluk Luna dengan erat.


Luna membalas pelukan kakaknya.


"Aku tidak kemana mana, aku berada di dekat kalian, kalian saja yang terlalu lemah sampai tidak bisa melacak keberadaanku!" ledek Luna.


"Terserah apa katamu Luna yang penting kamu kembali dalam keadaan sehat," ucap Aiden.


Luna melepaskan pelukannya, ia menatap mereka satu-persatu.


"Kakak," ucap Anna yang langsung bergelayut manja di lengan kakak iparnya.


"Kamu hebat sayang, bisa akting selama itu," puji Luna sambil mencolek hidung Anna.


"Akting? apa maksudmu Luna?" tanya Mereka.


"Kalian pasti sudah paham, sudahlah ayo masuk, aku membawa anggota keluarga baru, kalian pasti kenal, Kak Alex!" ucap Luna tanpa rasa takut, ia menggandeng tangan pria yang sedang menunduk itu.


"Ayo Masuk,apa kalian mau disini sampai matahari jadi dua?" ketus Luna sambil menarik Alex dan Anna ke dalam.


Ken, Aiden dan Bima saling menatap.


"Apa tidak masalah Luna membawa Alex kesini?" batin mereka.




Jangan lupa Like, vote dan komen 😊😉😊

__ADS_1


__ADS_2