
"Astaga istriku sudah gila!!" ucap Gama.
Pletakkkk
Satu pukulan melayang di lengan pria itu.
"Kau yang gila, dasar aneh!" ketus Luna.
"Awww.....kenapa dipukul Luna, lagian kamu datang pakai acara senyam senyum sendiri, kesambet apa neng?" ucap Gama dengan tatapan meledek sambil mengelus lengannya.
Luna mengerucutkan bibirnya dan menatap Gama dengan dengan kesal.
"Ck....aku jadi tidak yakin dengan ucapan dokter tadi," ketus Luna dengan wajah kesal.
"Hahhaha, kamu kenapa Luna ? uhh menggemaskannya sekali hahahha," ucap Gama sambil mencubit gemas kedua pipi Luna.
"Ahhhh...jangan di cubit sakit tau," ucap Luna sambil menahan tangan Gama yang kini berada di pipinya.
"Hehehhe, kau menggemaskan sekali, " kekeh Gama.
Luna terus memegang kedua tangan Gama yang berada di pipinya, dia menatap Gama dengan kedua manik mata berkilaunya itu.
Gama menjadi bingung ketika melihat tatapan mata Luna tapi hatinya senang karena Luna tidak melepaskan kedua tangannya.
"Apa apa hmm?" tanya Gama sambil menaikkan alisnya.
"Gam, kata dokter aku jatuh cinta padamu," ucap Luna.
Deg
Deg
Deg
Gama tersentak kala mendengar ucapan Luna, namun seketika itu juga ia kembali tersenyum lembut sambil menatap Luna. Senyuman lembut Gama membuat detak jantung Luna kembali berpacu.
"Tuh kan," ucap Luna sambil melepas tangannya, ia memegang dadanya.
"Disini terasa berdegup kencang," ucap Luna dengan pipi yang merona, telinganya memerah dan tubuhnya terasa panas.
"Ku pikir aku menderita penyakit langka, tapi kata dokter aku jatuh cinta heheh," ucap Luna sambil tertawa canggung, ia menunduk menyembunyikan wajahnya yang merona.
"Pffthh....hahahahha, astaga kenapa kau polos sekali dalam urusan cinta Luna?" tawa Gama terbahak-bahak, baginya wajah Luna saat ini sangat menggemaskan.
"Dengan segamblang itu kau mengakui perasaanmu padaku,hahahah astaga kau lucu sekali Luna hahhaha,"
Gama tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya yang mulai kram karena kebanyakan tawa.
Luna mengangkat kepalanya, ia menatap Gama dengan tatapan kesal walaupun wajahnya masih merona, Semerah kepiting rebus apalagi telinganya.
"Ck.....kau senang sekali mengejekku, dasar pria aneh! aku memang sudah gila bisa jatuh cinta dengan pria bodoh seperti dirimu !" ketus Luna dengan tatapan kesal.
Luna bangkit berdiri dan pergi keluar meninggalkan Gama sendirian di ruangan itu.
"Huahahahahaha, Luna kau menggemaskan sekali, hahaha kau mau kemana?" ucap Gama masih tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Mau ke planet Pluto!!" ketus Luna tanpa menoleh ke arah Gama, ia keluar dari ruang perawatan dengan wajah ditekuk meninggalkan Gama yang tertawa terbahak-bahak di dalam ruangannya.
"Jadi kau sudah jatuh cinta padaku sayang? aku juga mencintaimu, namun belum saatnya kunyatakan perasaan ini, aku akan membuat kejutan untukmu," ucap Gama sambil menatap pintu keluar yang dilalui Luna tadi.
Gama mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas. Gama mencari sebuah nomor, nomor orang kepercayaannya selain Mark tentunya.
"Sudah kau temukan mereka Rendi?"tanya Gama dengan nada datar dan dingin.
"Sudah tuan, mereka ada di Finlandia!" jawab pria bernama Rendi dari seberang telepon.
"Kirimkan semua hasil penyelidikan mu tentang mereka, dan cari tahu tentang masa lalu gadis yang akan ku kirim datanya padamu!" ucap Gama.
"Baik tuan!" jawab Rendi.
Gama mengakhiri panggilannya, wajahnya tampak serius setelah menerima panggilan itu.
"Hmmm....teruslah menghindar, pergi lah sampai ke ujung dunia dan aku akan menunggu kalian disana!" geram Gama.
Sorot mata tajam, rahangnya mengeras seketika itu juga, tangannya dikepal dengan kuat, tampak aura dendam menyelimuti pria itu.
Gama membuka email-nya dan membaca semua informasi yang sudah dikirimkan oleh tangan kanannya.
"Menarik, jadi kalian dalang di balik kecelakaan yang kami alami? Pintar sekali kalian memanipulasi semua bukti kecelakaan itu!!" geram Gama saat mengetahui siapa dalang di balik kecelakaan yang menimpa keluarganya.
"Tunggu pembalasanku!!" geramnya.
Gama duduk termenung di atas brankarnya, ia mengingat semua kejadian yang menimpa dirinya dan keluarganya.
Pintu ruangan Gama di buka namun karena melamun, Gama tidak memperhatikan diapa yang masuk.
Tak
Tak
Tak
Ternyata Ken yang masuk, dia duduk di kursi di samping brankar Gama.
Gama sedikit terkejut karena kehadiran Ken yang tiba-tiba.
"Eh...sejak kapan kau disitu? kau seperti hantu, kenapa tidak ketuk dulu sebelum masuk?" ketus Gama.
"Ck....kau saja yang melamun dodol! lagi pula ini di rumah sakit buat apa aku mengetuk pintumu," ucap Ken dengan tatapan mengejek.
"Terserah," jawab Gama ketus.
"Kau bilang apa tadi?" ucap Gama dengan wajah datar, Ken menyadari ada sesuatu dengan sahabatnya itu namun ia memutuskan untuk tidak bertanya dahulu.
"Kau apakan gadis itu? mulutnya sudah komat Kamit baca mantra sampai kupingku panas makanya aku masuk ke sini," ucap Ken sambil menggaruk telinganya.
"jadi dia masih mengomel?" ucap Gama tergelak.
"Hahahha, astaga asal kau tahu gadis itu polos sekali hahahha,"
Wajah suram Gama seketika itu juga berubah menjadi bahagia saat membahas istrinya yang belum pernah di sentuhnya sama sekali.
__ADS_1
Ken mengerucutkan keningnya heran, tidak biasanya temannya itu tertawa seperti itu.
"Apa kau sudah gila juga? haissshhh kalian pasangan gila, yang satu komat Kamit yang satu lagi tertawa seperti orang gila ck....ck...ck rumah sakit jiwa akan kewalahan mengurus kalian," ketus Ken.
Awalnya Ken masuk ke dalam ruangan Gama untuk mencari ketenangan, ternyata yang di jumpainya sama gilanya dengan yang ada di luar.
Ken memijit pelipisnya, ia memilih tidur di sofa dalam ruangan itu daripada Haris mendengar tawa Gama yang tiada hentinya.
"Kalian benar-benar gila!" ucap Ken yang sudah membaringkan tubuhnya di atas sofa.
"Hahahaha, maafkan aku Ken tapi dia memang sangat lucu, dia terlalu polos, tingkahnya saja yang bar bar tapi soal cinta dia sangat polos," ucap Gama masih terkekeh.
Mendengar itu Ken langsung refleks duduk di atas Sofa.
"Maksudmu?" ucap Ken.
"Kau tidak perlu tau ini masalah antara suami istri," ucap Gama dengan senyum sumringah.
"Haissshhh.... dasar manusia dodol!" kesal Ken.
"Hahhaah, hufffhhh.... Ken," ucap Gama mulai bisa menguasai dirinya.
"Hmmm?" ucap Ken yang kembali membaringkan dirinya di atas sofa.
"Aku sudah tau siapa pelakunya," ucap Gama dengan nada datar.
Ken tersentak, ia langsung bangkit berdiri dan mendekati brankar Gama, lalu duduk di samping tempat tidur Gama dengan tatapan serius.
"Kau sudah menyelidikinya?" ucap Ken serius.
"Sudah, aku sekarang tau siapa dalang di balik ini semua," ucap Gama.
"Ini bacalah hasil penyelidikan Rendi," ucap Gama menyerahkan ponselnya.
"Rendi? bukankah dia....." ucap Ken terputus.
"Dia sudah kembali sejak enam bulan lalu, aku memintanya menyelidiki kasus kecelakaan itu sejak seminggu yang lalu dan ini hasilnya," ucap Gama.
Ken membaca file itu dengan seksama, tiba-tiba saja wajahnya berubah menjadi datar dan tatapannya sangat dingin.
Tangannya mengepal kuat saat tau siapa dalang di balik kecelakaan keluarga sahabat dekatnya.
"Ada apa?" tanya Gama saat menyadari perubahan wajah Ken yang tidak biasa. Jika Ken memasang wajah dingin seperti ini, pasti ada sesuatu yang sedang dipikirkan oleh pria itu.
"Dia adik dari si bangsat itu!!" geram Ken.
"Apa!!"
Gama terkejut mendengar ucapan Ken, bagaimana mungkin orang yang menyebabkan kecelakaan keluarganya berhubungan dengan orang di masa lalu Ken yang menyebabkan kedua orangtua Ken berpisah sehingga Ibunya meninggal sedangkan ayahnya tega menjual Ken dan adiknya yang mengakibatkan adiknya meninggal dunia.
.
.
.
__ADS_1
Like, vote dan komen 😊😉😉
Ini masih pemanasan guys, konfliknya belum ya heheheh, kita tunggu sampai Gama sembuh total Okay👌👌👌