Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
30


__ADS_3

(Jangan lupa ninggalin jejak ya readers tersayang, biar author makin semangat hehehe ✌️😉)


Gama menatap Luna yang sedari tadi menunduk di depan teman-temannya. Ia sedikit heran dengan gadis cerewet yang tiba-tiba berubah menjadi kalem itu.


Ken, Aiden dan Bima terus saja melihat ke arah Luna yang menunduk, Gama melirik mereka bertiga.


"Ekhmmm....mata tolong dijaga, jangan sampai ku congkel mata kalian itu!" ketus Gama dengan suara dan tatapan dinginnya.


Ken, Aiden dan Bima terkejut dengan suara bariton sahabat mereka itu.


"Eh.. Ekhmm, dasar pencemburu," gumam Ken dengan tatapan tak kalah dingin ke arah Gama.


"Luna," ucap Gama sambil memegang tangan gadis itu. Luna mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Gama, tampak raut gugup di wajah gadis itu.


"Kenalkan, pria baju merah itu Aiden, dia Bima kita sudah bertemu dengannya di mall kemarin, dan pria yang satu lagi itu Kenzo, mereka sahabat-sahabatku," ucap Gama memperkenalkan temannya pada Luna.


"Dan kalian, perkenalkan ini Luna istri sahku," ucap Gama.


"Hai Luna, panggil Aiden ya," ucap Aiden tersenyum ramah, ia tak mau membuat gadis itu ketakutan.


"Ha...hai juga, Luna," balas Luna sambil tersenyum kikuk.


"Kita bertemu lagi nona, maaf atas kejadian sebelumnya," ucap Bima sambil tersenyum.


"Ah, tak apa tuan," ucap Luna membalas senyuman Bima.


"Panggil saja Bima atau kak Bima karena usiaku paling tua diantara mereka semua, berapa usiamu?" tanya Bima sembari tangannya sibuk mengeringkan rambut panjangnya yang basah.


"25 tahun kak," ucap Luna.


Luna menatap ke arah Ken, yang ditatap malah memicingkan matanya membuat Luna menjadi kikuk, ia memegang erat tangan Gama.


"Kenapa kau mau menikah dengan pria lumpuh ini? apa kau punya tujuan tertentu?" tanya Ken dengan nada ketus dan tatapan penuh selidik. Sebenarnya Ken menatap Luna sedari tadi karena memikirkan hal ini.


Diantara mereka berempat, yang paling protektif dan perhatian itu sebenarnya adalah Ken, walaupun sering diekspresikan dengan mengajak mereka berkelahi atau berdebat, tapi Ken lah yang paling perhatian.


Mendengar ucapan Ken, Luna menjadi kesal.


"Kenapa kau menanyakan pertanyaan seperti itu Ken?" kesal Gama yang menyadari perubahan ekspresi Luna.


"Apa salah? jangan-jangan dia hanya seorang wanita murahan yang mengincar mu dari dulu, aku tak mau kau bertemu wanita sejenis Tiara lagi!" ketus Ken.


"Ck....kau selalu seperti itu!" kesal Gama.


Aiden dan Bima hanya diam saja, mereka malas mencampuri perdebatan dua manusia dingin itu. Lagipula tubuh mereka basah dan harus dikeringkan, jadi mereka memilih sibuk dengan handuk masing-masing.


"Hei gadis, apa tujuanmu menikahi Gama? kau sudah tau kan siapa dia? kau pasti punya niat lain!" ucap Ken lagi dengan nada menyudutkan Luna.

__ADS_1


Gama semakin kesal, ketika ia ingin membalas matanya terbelalak saat melihat apa yang dilakukan Luna.


Plakkk


Satu tamparan keras mendarat di pipi pria tampan itu hingga meninggalkan bekas telapak tangan. Tampaknya tamparan itu sangat keras hingga membuat seorang Ken sedikit sempoyongan.


"Mati aku! si gadis bar bar sudah kembali," batin Gama terbelalak melihat perubahan wajah Luna yang tadinya gugup kini kembali menjadi Luna yang biasanya bahkan lebih seram.


Aiden dan Bima tak kalah kaget, mereka menganga, mata mereka terbuka lebar bahkan handuk di tangan mereka sampai jatuh saat melihat Luna menampar Ken yang bahkan tidak pernah membiarkan seorang pun menyentuh wajahnya.


Ken sendiri masih pusing, ia memegang wajahnya, ia juga terkejut saat melihat keberanian gadis itu. Samar-samar Ken tersenyum tipis, namun hanya Gama yang menyadarinya.


"Jaga bicaramu pria berengsek! keluar kau dari rumah ini!"bentak Luna yang kemarahannya kini sudah di ubun-ubun.


Keempat pria itu terdiam saat mendengar kemarahan gadis cantik itu.


"Kau sadar tidak sudah membuat keonaran di rumah orang lain, jaga mulut kotormu itu! tau apa kau tentang hidupku hah?" ucap Luna sambil menunjuk ke arah Ken, sorot mata gadis itu terlihat berapi-api ingin segera melahap pria itu.


"Aura ini...." batin Bima sambil menatap Ken, begitupun dengan Aiden.


"Siapa gadis ini?" batin Aiden.


"Auranya semakin kuat!" gumam Gama yang menatap Luna.


"Maafkan saya nona, jika memang anda ingin saya pergi, maka dengan senang hati saya keluar, maaf sudah mengganggu jam istirahat kalian," ucap Ken dengan nada datar, entah kenapa mata pria itu terlihat sendu. Luna menyadari itu, ada gejolak lain di hatinya namun ditepisnya karena kemarahannya lebih dominan saat ini.


Ken keluar dari rumah itu dan memilih masuk ke dalam mobilnya.


Ken berdiam di dalam mobil dengan posisi yang sama. Namun ada yang aneh, bulir-bulir bening mengalir dari kedua pelupuk mata pria itu.


Seorang Ken yang terkenal pemberani, sikapnya sebelas dua belas dengan Gama, tidak pernah menunjukkan kelemahannya pada orang lain kini menangis hanya karena di tampar seorang gadis? apa kiamat akan segera tiba??


Sementara itu di dalam rumah, Gama mencoba menenangkan Luna yang masih marah. Ia menarik tangan gadis itu agar duduk di atas sofa.


"Luna, duduk dulu, tenanglah!" titah Gama.


Luna menatap Gama, kini hatinya terasa sakit saat mengingat ucapan pria tadi.


"Apa sebegitu rendahnya aku di mata kalian!" ucap Luna dengan mata berkaca-kaca.


Siapa yang tahan jika dikatai sebagai wanita murahan, sekuat apa pun pertahanan Luna, mentalnya juga akan down saat dihina secara langsung apalagi dengan orang yang baru ditemuinya.


"Maaf, jangan menangis," ucap Gama yang tidak tega melihat Luna tersakiti.


"Dia mengataiku wanita murahan Gam, siapa dia berani-beraninya menghinaku seperti itu? hiks hiks hiks," Luna yang biasanya kuat dan tidak terpengaruh dengan omongan orang lain kini menangis lagi di hadapan Gama.


Gama tidak tega melihat gadis itu menangis, rasanya dia ikut sedih saat melihat air mata Luna jatuh dan membasahi pipinya. Gama menarik Luna ke dalam pelukannya. Luna tidak menolak, ia menangis dalam pelukan Gama.

__ADS_1


Dia menepuk punggung gadis itu untuk menenangkannya.


"Sudah jangan menangis Lun," ucap Gama menenangkan gadis itu.


"Luna, Ken punya alasan kenapa dia mengatakan itu," ucap Bima membantu memberi penjelasan.


"Benar kata Bima, Ken adalah orang yang mudah khawatir, dia sangat protektif pada kami semua, apalagi terhadap Gama, dia hanya tidak ingin Gama bertemu dengan wanita yang tidak tepat," jelas Aiden.


"Aku akui, ucapannya memang kasar, tapi kalau itu tidak benar kenapa kau harus tersinggung?" ceplos Aiden.


Gama dan Bima menatap kesal ke arah Aiden, bukannya memperbaiki suasana, pria itu malah memperkeruh keadaan.


"Ingin rasanya ku jahit mulut si dodol ini!" geram Bima.


"Awas kau Aiden!!" batin Gama.


Mendengar ucapan Aiden, Luna melepaskan pelukannya dari Gama. Ia menghapus air matanya, matanya menatap tajam ke arah Aiden. Yang ditatap malah kikuk dan diam menunduk seperti seekor anak anjing.


"Ck....kenapa perkataanmu benar sih, aduh aku jadi malu," gerutu Luna yang sadar dengan ucapan Aiden.


Gama dan Bima menepuk jidat masing-masing, kepribadian gadis ini benar-benar tidak bisa ditebak.


Sebentar sedih, sebentar lagi sudah kembali normal.


"Haduh..gimana dong, apa dia sudah pergi?" tanya Luna bingung.


"Pasti belum, karena mobil kami mengalami masalah, bensinnya habis dan mobilku kempes," jelas Bima.


Luna langsung bangkit berdiri, ia berlari keluar meninggalkan mereka bertiga.


"Gama, kepribadian istrimu mengerikan, tapi auranya mirip dengannya!" ucap Bima sedikit berbisik.


"Kau baru lihat segitu, aku sudah melihatnya menghajar orang, aura mereka sama persis memang," ucap Gama.


"Dia gadis yang hebat," lanjutnya lagi.


"Astaga kau mendapatkan pawang yang hebat, kalian sangat cocok !" celetuk Aiden.


"Ck.. sepertinya mulutmu itu harus dijahit!" ketus Gama.


"Apa jangan-jangan gadis itu....." ucap Aiden menggantung.


"Tidak mungkin, jelas-jelas ia mati di hadapan Ken!" ucap Bima.


.


.

__ADS_1


.


Like, vote dan komen ya teman-teman 😊😉


__ADS_2