Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
149


__ADS_3

Luna dan Gama sedang bersiap-siap, Gama memakai pakaian yang disiapkan istrinya. Luna sedang memasang kaki palsunya dan memakai kaos kaki sebagai pelengkap gaunnya seperti biasanya.


Brukk,


"Huweekk....erghh..." Luna merasakan mual di perutnya saat mencium cologne milik suaminya.


Luna dengan cepat berlari ke kamar mandi dan malah muntah muntah disana.


"Sayang ada apa?" Tanya Gama yang panik saat melihat istrinya berlari ke kamar mandi. Gama ikut masuk ke dalam kamar mandi dan mendekati Luna.


"Sayang kau kenapa?" Tanya Gama panik sambil mendekati Luna.


"Huweekkk....uweeekkk...eghh...sayang, bisa tidak menjauh dariku, aku mual mencium parfummu...uhukk...huuweeekkk," Luna muntah Lagi.


Gama menyerngitkan keningnya, padahal menurutnya ini wangi dan memang baru di belinya beberapa hari lalu apa mungkin Luna tak menyukainya pikirnya.


"Sebentar aku ganti pakaian, kurasa baunya tak cocok untukmu aku baru membelinya kemarin," ucap Gama.


Setelah Gama keluar Luna berhenti muntah, dia merasa aneh dengan tubuhnya.


"Ada apa ini? Kenapa aku sampai mual begini?" Pikir Luna, matanya tertuju pada stok bulanan yang di simpannya di lemari kecil di kamar mandi.


"Apa aku..." Luna terdiam, dia mengingat kalau dirinya sudah terlambat datang.


Luna menggigit bibir bawahnya, dia merasa takut sekaligus gugup, dia tidak terlalu berharap hanya saja waktu datang bulannya sudah lewat.


"Hufftt fuuhhh.....akan ku pastikan nanti," gumam Luna, dia merasa gugup sekaligus takut jika hasilnya mengecewakan.


Gama kembali ke kamar mandi dia melihat istrinya yang terduduk di atas lantai sambil melamun.


"Sayang ada apa?" Tanya Gama lembut sambil mengangkat tubuh istrinya.


Luna menatap wajah suaminya sambil tersenyum, dia membelai lembut wajah pria itu.


"Tidak ada apa-apa, " ucap Luna.


"Apa kau masih mual?" Tanya Gama.


Luna menggelengkan kepalanya, dia tidak banyak bicara kali ini.


"Ada apa dengannya?" Pikir Gama.


Gama menggendong tubuh Luna lalu membawanya ke bibir ranjang dan mendudukkan Luna disana.


Luna hanya diam saja membuat Gama merasa ada yang aneh, tapi dia tidak terlalu banyak bertanya, sepertinya istrinya masih menenangkan diri setelah muntah muntah seperti tadi.


Gama mengambil minyak kayu putih, membukanya dan menuangkannya di telapak tangannya.


"Kamu pakai ini dulu ya sayang, kurasa Kau masuk angin," ucap Gama sambil mengoleskan minyak kayu putih ke punggung dan perut istrinya dengan Lembut.


"Apa kepalamu sakit?" Tanya Gama.


"Sedikit," jawab Luna, wajahnya pun memang tampak agak pucat.


"Kau masuk angin, maaf kita terlalu lama di kamar mandi tadi," ucap Gama merasa bersalah.


Luna tersenyum lagi, dia hanya mengangguk pelan. Sikapnya benar-benar aneh hari ini.

__ADS_1


"Kamu ikut atau di rumah saja?" Tanya Gama pada istrinya.


"Aku ikut," ucap Luna singkat sambil mengambil tasnya dan memasukkan ponselnya dan memakai sepatunya.


Gama tertegun, sikap Luna benar benar asing bagi Gama.


"Sayang kau benar-benar baik baik saja kan? Ada apa? Kamu kenapa?"tanya Gama khawatir.


"Hmm? Aku baik-baik saja, hanya sedikit pusing, aku mau makan dulu," ucap Luna.


"Fuhhh....baiklah, jika ada apa apa beritahukan padaku," ucap Gama yang dianggukkan oleh Luna.


"Ayo kita makan dulu setelah itu kita ke rumah sakit," ucap Gama sambil menggandeng tangan Istrinya.


Luna dan Gama tiba di ruang makan, tampak makanan sudah di siapkan di atas meja oleh para pelayan.


"Silahkan dinikmati Tuan, Nyonya," ucap Bi Eni setelah selesai menghidangkan sarapan untuk tuan dan nyonya mereka.


"Terima kasih Bi," ucap Luna dan Gama yang dianggukkan oleh Bi Eni.


Luna dan Gama makan dengan hening, tidak seperti biasanya, Luna yang selalu cerewet dan ribut tampaknya hanya diam saja hari ini. Hal ini membuat Gama khawatir.


Luna memakan makanannya dengan lahap, bahkan dia sampai tambah beberapa kali, Gama menatap heran pada Luna namun dia juga merasakan lapar yang sama sampai-sampai tambah seperti istrinya.


Entah makanannya yang terlalu enak, mereka yang kelaparan atau dorongan dari mana membuat mereka begitu menikmati makanan mereka.


Alex berjalan menuju dapur dan melewati Luna dan Gama yang makan dengan lahap. Matanya terbelalak melihat hidangan di meja itu hampir habis tak bersisa padahal itu bisa dimakan hingga 7 orang.


"Wahhh kalian hebat sekali bisa memakan habis semua hidangan itu!" Celetuk Alex.


"Lapar kak," jawab Luna dengan mulutnya yang penuh dengan makanan.


"Sudah, lanjutkan makan kalian," ucap Alex menatap pasangan itu dengan heran.


"Apa kau mau tambah lagi?" Tanya Gama pada istrinya.


"Cukup sayang, aku bahiskan yang ini saja," ucap Luna yang dianggukkan oleh Gama.


Mereka sudah selesai makan, sudah menjadi kebiasaan, Luna akan membereskan piring bekas makanan mereka setelah selesai makan dan Gama juga turut membantu hingga semuanya beres.


"Lex, dimana Mark?" Tanya Gama pada Alex yang duduk cantik di samping kulkas sambil menenggak air mineralnya.


"Mark di depan, dia sudah menunggu, Anna, Ferdi dan Andin tidak ikut kau tau kan Anna bagaimana saat ini," ucap Alex.


"Hmm baiklah, kalau begitu kita berangkat," ucap Gama.


"Ayo sayang," ucap Gama sambil menggandeng tangan Luna.


Luna menurut dan tidak berbicara lagi, Alex sampai menatap Gama mencoba mencari tau apa yang terjadi dengan Luna yang tiba-tiba berubah jadi kalem namun Gama hanya mengangkat bahunya, dia juga sama bingung nya dengan Alex.


Mereka pun berangkat menuju rumah sakit. Mark menyupiri Luna dan Gama sedangkan Alex membawa mobil sendiri.


Sementara itu di rumah sakit Ken sedang duduk menunggu kedatangan Luna dan sahabat sahabatnya sambil mengecek laporan perusahaannya selama beberapa Minggu ini.


" Tuan semuanya sudah beres, kalau begitu saya permisi keluar," ucap Rose.


Ken yang sedang menatap layar ponselnya langsung menengadah ke arah Rose.

__ADS_1


"Mau kemana?" Tanya Ken.


"Saya mau ke tempat nenek," ucap Rose.


"Baiklah, tapi kau segera kembali, Luna dan yang lainnya akan tiba sebentar lagi, kau akan ikut bersama kami," ucap Ken.


Rose terkejut, belum ada mereka membicarakan hal ini sebelumnya bahwa Rose akan ikut dengan Ken.


"Hey kenapa kau terkejut begitu?" Tanya Ken heran.


"Emm...i..itu tuan, kenapa saya ikut?" Tanya Rose bingung.


"Bukankah kau asisten Luna? Maka kau harus ikut bersama kami," ucap Ken.


"Tapi nona Luna belum mengatakan apa apa tentang ini, jika saya ikut siapa yang akan menjaga nenek saya?" Ucap Rose.


"Nenekmu akan dirawat dengan baik disini kau hanya perlu melakukan pekerjaan mu dengan baik, tak perlu khawatir dengan nenek," ucap Ken.


"Tapi tuan saya..." belum sempat Rose menyelesaikan ucapannya, seseorang memotong pembicaraan mereka.


"Kak Ken benar kak, kakak harus ikut bersama kami, kak Ken masih butuh perawatan untuk pemulihan dan kakak akan bertanggungjawab untuk itu," ucap Luna yang baru saja tiba di ruangan Ken.


"Luna!" Ucap Ken sambil berdiri dengan senyum sumringah saat melihat adiknya tiba.


"Kakak, Luna kangen," ucapnya bermanja pada kakaknya, Luna memeluk tubuh Ken dengan erat seperti setahun tidak bertemu saja.


Ken membalas pelukan Luna namun dia menatap heran pada Gama.


"Ada apa dengannya?" Begitulah kira kira pertanyaan yang diucapkan Ken, Gama hanya mengangkat bahunya, dia bahkan lebih bingung lagi.


Sepanjang jalan menuju ruangan itu, Luna selalu mengomeli setiap dokter dan perawat yang lewat dengan mengatakan kalau mereka bau ketek lah, bau kaos kakilah, bau alkohol, bau asem lah dan segala jenis bau yang membuat Gama, Alex dan Mark geleng-geleng Kepala dengan sikap gadis itu.


" Kakak juga kangen," balas Ken.


Luna melepaskan pelukannya, dia menatap Rose dan Ken lalu tiba tiba dia menggeleng dengan wajah kesal.


"Ck... mereka tak ada romantis nya sedikit pun," pikir Luna.


"Apa kita akan langsung berangkat?" Tanya Luna.


"Kita langsung saja," ucap Gama.


"Ummm...kalau begitu aku ke ruangan dokter George dulu ada yang ingin kupastikan," ucap Luna.


"Aku ikut," ucap Gama.


"Nggak usah sayang, kamu disini saja, aku nggak akan lama," ucap Luna.


"Tapi..."


"Sudah diam dan tinggal disini!" Ketus Luna.


.


.


.

__ADS_1


jangan lupa, like vote dan komen 😉😉😊


__ADS_2