
Hari menjelang malam, Andin dan Mark yang resmi menjadi pasangan kekasih tampaknya masih malu-malu untuk go public, sebenarnya yang malu malu itu Andin dan Mark paham dengan hal ini, dia tidak akan memaksa.
Mereka sudah di rumah sakit beberapa menit yang lalu setelah selesai mengecek lokasi gedung untuk toko aksesoris Luna. Sedangkan Ferdi sudah tiba terlebih dahulu setelah melakukan pemesanan bahan baku aksesoris mereka.
Di dalam ruang perawatan Ken tampak Luna, Andin dan Mark serta Ferdi sudah berkumpul disana, mereka menunggu kedatangan Gama yang masih belum tiba juga dari perusahaan.
Namun suasana di dalam ruangan itu cukup menegangkan, alasannya tentu saja karena si gadis cerewet yang terus menerus menatap Andin dan Mark secara bergantian.
Ken dan Ferdi memutar malas kedua bola mata mereka, mereka tau ini hanya akal akalan Luna saja untuk menjahili pasangan itu.
Beberapa jam yang lalu saat Mark dan Andin belum tiba di rumah sakit, Luna menerima laporan dari anak buah yang dimintanya untuk mengawasi Andin dan Mark, Luna sudah menyiapkan segalanya untuk kelancaran aksinya.
Dia meminta anak buah suaminya merekam dan memperlihatkan kejadian dimana Andin dan Mark sedang berbicara.
"Yippi yayyyyy....wohooooo!!!" Teriak Luna kegirangan saat menerima laporan berupa video yang direkam oleh anak buah suaminya.
"Astaga, Luna kaget aku!!" Ucap Ferdi yang baru saja tiba di ruangan perawatan Ken.
"Kamu kenapa Luna?" Tanya Ken yang tengah berbaring di atas tempat tidur.
"Misiku berhasil ye ye ye ye YESS!!" Seru gadis itu sambil melompat kegirangan kesana kemari seperti anak kecil.
"Wohooo..... akhirnya misi pertama selesai!!" Seru Luna yang sedang berdiri dan melompat lompat di atas sofa.
Dia menatap ponselnya lalu tersenyum dan tertawa terbahak-bahak, kemudian dia memeluk ponselnya sendiri sambil meoomoat kesana kemari, seandainya ada Aiden disana, mungkin suasana akan semakin ricuh.
Ken dan Ferdi geleng-geleng kepala melihat tingkah laku gadis itu, Ken sangat terhibur karena ada adiknya yang mendampinginya saat dia sakit seperti ini.
Bahkan dokter George yang baru masuk saja dibuat jantungan karena tingkah gadis itu.
"Ekhmmm Nyonya, mohon ketertiban dijaga, tuan Ken butuh istirahat yang tenang!" Tegur dokter George yang langsung membuat Luna diam dan duduk dengan tenanga tak berbicara apa pun lagi.
Ken dan Ferdi menatap Dokter George kesal saat melihat Luna malah diam.
"Maaf tuan tuan, memang sudah prosedur nya," ucap Dokter George memberi pengertian.
"Maaf ya dok, hehhe saya sampai lupa situasi, maaf ya kak Ken," ucap Luna menyesal.
"Makanya kamu tuh jangan pecicilan Luna, emang ada apa sih?" Tanya Ferdi menghampiri Luna dan duduk di samping gadis itu.
Ken hanya tersenyum menanggapi Luna, kepalanya sedikit sakit dan lehernya terasa sangat kaku membuat dia tak bisa banyak bergerak, beberapa jam yang lalu dia muntah muntah akibat penyakitnya hal itu membuat Luna panik.
Dokter George memeriksa kondisi Ken dan memberikan beberapa obat karena memang sudah jadwalnya untuk pengobatan, obat yang diberikan pun adalah obat untuk mematikan bakteri dan pereda nyeri setelah selesai dokter George permisi keluar.
"Misiku berhasil Fer kak Ken, akhirnya Andin dan Mark bersatu, aku udah kesal banget lihat mereka berdua saling cuek, bersikap dingin dan gak berkomunikasi selama hampir sebulan ini," ujar Luna.
Ferdi cukup terkejut dengan ucapan Luna, dia merasa sedih sebab ia menaruh hati pada gadis bernama Andin itu.
"Jadi aku benar-benar tak punya kesempatan ya, kenapa sakit sekali disini?" Batin Ferdi, namun dia tidak menunjukkan rasa sedihnya dia juga senang kalau temannya bertemu orang yang tepat.
"Wahh bagus dong, akhirnya Andin ada yang jaga kan ya, syukurlah aku turut senang," ucap Ferdi sambil tersenyum menyembunyikan luka di hatinya.
Luna menyadari perubahan ekspresi Ferdi, gadis ini benar-benar teliti dan peka.
__ADS_1
"Kenapa dengan Ferdi? Apa dia suka sama Andin? Aduhh kalau begini bisa kacau dong, arhhh....kenapa aku gak mikirin Ferdi ya,pasti dia sedih," batin Luna saat melihat kesedihan di mata Ferdi.
"Iya dia ada yang jaga, kita gak perlu terlalu khawatir dengan keadaannya saat ini, dan Andin sepertinya memang menyukai Kak Mark, ku harap mereka bahagia," ujar Luna.
"Kau benar, wah jadi tinggal aku nih yang gak punya pasangan," ucap Ferdi sambil menat temannya.
Luna tersenyum, dia menepuk pundak pria itu.
"Tenang Fer, Tuhan udah siapkan yang terbaik buat kamu, sekarang sebelum ketemu jodoh, kamu siapkan diri kamu dan jadi orang sukses!" Seru Luna menyemangati temannya itu.
"Hmmm pasti, aku akan jadi orang sukses!" Seru Ferdi semangat.
"Hmmmm misiku ternyata tambah lagi, Ferdi harus di Carikan pendamping hehehe," batin Luna dengan seringai licik di wajahnya.
Wait! Luna, apa kita ganti saja judul novel ini menjadi "Luna's secret mission??", Hadeh Luna memang selalu bertindak di luar perkiraan.
Kembali ke waktu saat ini, Luna menatap pasangan itu dengan tatapan tajam, membuat Andin dan Mark seperti sedang di sidak, nafas mereka bagai tertahan saat melihat wajah Luna yang menatap tajam ke arah mereka.
"E..emm...a..ada apa Luna, kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Andin merasa gugup, entah kenapa tatapan mata tajam Luna membuat nafasnya bagai tersekat.
"Arhh gadis ini mulai lagi," batin Ferdi dan Ken.
"Apa kau tidak punya sesuatu untuk dijelaskan?" Tanya Luna sambil berpangku tangan dan menatap Mark dan Andin dengan menaikkan satu alisnya.
"Pen... penjelasan a...apa, na? Aku tak mengert," ucap Andin gugup.
Tak
"Ck....kak Mark, bagaimana, apa sudah selesai masalahnya?" Tanya Luna sambil memukul meja denga tangannya.
"Astaga kenapa kalian berdua lelet sekali sih?" Gerutu Luna kesal.
"A..apa yang mau kami jelaskan?" Tanya Andin.
"Ck...aku butuh penjelasan tentang gedung baru, apa yang kalian berdua pikirkan sih, dasar lelet!" Celetuk Luna padahal di dalam hatinya dia sudah cekikikan melihat wajah panik Andin dan wajah bingung Mark.
"Hahahahha,kena kalian!" Batin Luna sambil tersenyum smirk.
Ken dan Ferdi hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah jahil gadis itu.
"Atau kalian ada sesuatu ya hmmm?" Telisik Luna dengan wajah penasaran yang di buat-buat.
"Eh...Ummm...nggak, gedung barunya bagus Na, bakalan pas banget buat toko baru kita, ruangannya juga luas dan ada liftnya juga!" Ucap Andin langsung menjelaskan gedung yang mereka lihat tadi.
"Nah gitu kan pas, jadi cocok dong," ucap Luna.
" Cocok banget Na, " seru Andin sambil tersenyum.
Mark menatap Andin yang tersenyum bahagia, jantungnya berdegup kencang saat melihat senyuman manis kekasihnya itu.
"Manis sekali," batin Mark.
Plukk
__ADS_1
Luna melemparkan bantal sofa ke wajah Mark membuat pria itu terkejut dan hampir terjungkal, untung dia menahan tubuhnya.
"Mata di jaga kak Mark," ketus Luna yang membuat Andin terkikik saat melihat kekasihnya hampir terjungkal.
"Na gimana kaki kamu, masih sering sakit?" Tanya Andin.
"Udah baikan kok Din, mereka gak berantem lagi," ucap Luna.
"Berantem?"
"Iya, kaki palsu sama kaki asliku serring main toyor toyoran makannya jadi sakit, sekarang udah damai gak ada perang saudar lagi," celetuk Luna sambil mengelus kakinya.
"Pfthhh hahahah, kau ini ada ada saja na, syukurlah kalau kakimu udah mendingan," ucap Andin seraya memeluk sahabatnya karena ia bisa melihat raut kesedihan meskipun Luna bersikap biasa saja.
"Ini juga karena bantuan kalian semua, terimakasih juga karena mau menemaniku dari kecil, kuharap kamu bahagia bersamanya," bisik Luna membalas pelukan Andin sambil melirik Mark.
"A..apa kamu udah tau?" Tanya Andin gugup sambil melepaskan pelukannya dan menatap Luna.
"Apa yang tidak ku ketahui sayang," goda Luna yang membuat Andin merona, Mark memasang wajah datar seperti biasanya padahal dia benar-benar bahagia saat ini.
"Ck...kak Mark ubahlah sedikit ekpresimu itu, kau sudah mendapatkan gadis secantik Andin apa masih ada yang kurang sampai kakak harus memasang wajah galak itu?" Celetuk Luna.
Mark menggaruk lehernya, ia merasa canggung jika harus merubah dirinya secara tiba-tiba.
"Biarkan saja, pelan pelan si kaku itu pasti akan berubah," ucap Andin yang dianggukkan oleh Luna.a
"Kakak," ucap seorang gadis yang tak lain adalah Anna yang baru saja tiba bersama Gama dan Rendy.
"Ehh sayang, udah nyampe," ucap Luna sambil berdiri dan merentangkan kedua tangannya menyambut adiknya.
"Udah dong," ucap Anna sambil memeluk kakak iparnya dengan erat.
"Hai kak Ken, gimana keadaan kakak?" Tanya Anna setelah melepaskan pelukannya dari tubuh Luna.
"Sedikit baikan dek," ucap Ken sabik tersenyum.
Luna menatap sedih kakaknya yang mengalami kaku leher akibat virus yang mulai menyebar. Gama langsung merangkul istrinya agar wanita itu kuat.
"Jangan sedih, kamu harus kuat sayang," bisik Gama yang dianggukkan oleh Luna.
Sebenarnya sedari tadi Luna bercanda dan menggoda Andin dan Mark hanyalah cara untuk menutupi kesedihannya, sebab Ken tiba-tiba saja melemah tadi, bahkan sampai muntah muntah hingga beberapa kali, hal ini yang membuat Luna merasa sedih.
Andin, Mark, Ferdi, Rendy dan Anna sudah hapal dengan gadis itu. Mereka sebisa mungkin akan menemani dan menguatkan kakak beradik itu.
Park Anna si cantik dan manis,
.
.
.
__ADS_1
jangan lupa like vote dan komen 😉😉😊