Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
160


__ADS_3

Waktu terus berlalu, hari perayaan ulang tahun Gama sudah selesai. Hari ini mereka semua berkumpul di rumah besar keluarga Park. Gama benar benar menjaga istrinya dengan baik, dia berubah menjadi suami yang prosesif.


"Huweekk... erhh.. .huweekk... Uhuk... Erhh... Hah... Haahh,"


Luna mengalami morning sickness yang semakin parah seiring bertambahnya usia kehamilannya.


Gama dengan setia memijit tengkuk istrinya menemani Luna ke kamar mandi dan membersihkan muntahan istrinya.


Pukk..


Pukk...


Pukk...


Gama menepuk nepuk punggung Luna dengan pelan.


"Sudah? Kepalamu sakit?" Tanya Gama.


"Erghh... Sedikit sakit," jawab Luna yang berwajah pucat karena morning sickness nya lebih parah kali ini.


"Huweekkk... Eghh... " Luna kembali muntah mengeluarkan cairan dari dalam perutnya, belum makan pagi tetapi dia sudah mual dan muntah.


"Huffft kenapa harus mual seperti ini,aku tidak tega melihatmu," ucap Gama yang merasa kasihan pada sang istri.


"Heheh, itu biasa sayang namanya juga ibu hamil," jawab Luna terkekeh mendengar gerutuan suaminya.


"Iya tapi kamu sampai pucat begini, aku gak tega sayang," ucap Gama sambil mengelap mulut istrinya dengan handuk.


"Semua ibu hamil pasti melalui fase ini, salah satu momen yang akan diingat saat baby twin lahir," ucap Luna.


"Hmmm kamu hebat sayang," ucap Gama sambil memeluk istrinya yang sudah tidak muntah muntah lagi.


"Ehh tapi tunggu," ucap Gama.


Gama menatap Luna begitu juga dengan Luna.


"Ada apa?" Tanya Luna.


"Darimana kamu tau kalau mereka kembar? Usia kandungan mu kan kurang lebih sebulan?apa itu langsung terdeteksi?" Tanya Gama.


"Aku bisa merasakannya sayang, dokter juga mengatakan bahwa aku hamil anak kembar, disini ada baby twin, kamu tidak lihat perutku sudah tidak rata, mana ada ibu hamil baru sebulan perutnya mulai menggembung begini," ucap Luna sambil mengelus perutnya yang memang berbeda dengan perut ibu hamil satu bayi.


"Hmmm,kamu benar sayang, eghj.... Huweekkk.. uhuk... Eghhh," tiba tiba Gama ikut mual mual dan muntah Luna sampai terheran-heran, dia baru melihat suaminya muntah seperti ini.


"Loh sayang kok kamu malah ikutan muntah?" Ucap Luna langsung menepuk-nepuk punggung suaminya.


"Eghh... Sepertinya akah mengalami syndrom kehamilan simpatik sayang, aku baca dari beberapa artikel," ucap Gama.


"Huweekkk... Eghh ternyata begini rasanya ya," ucap Gama .


"Hahahhahah, jadi bukan hanya aku yang menderita dong, tapi kamu juga hahahahah," tawa Luna pecah saat meluhat suaminya ikutmual dan muntah.


Gama mengenakkan tubuhnya dia tersenyum mendengar ledekan istrinya. Di tariknya istrinya ke dalam pelukannya dengan Lembut.


"Aku malah bersyukur aku bisa merasakan hal ini sayang, saat mereka lahir nanti aku jadi ingat perjuangan kita menanti mereka lahir, aku sangat menantikan momen itu," ucap Gama sambil menatap istrinya.


"Heheheh,aku juga menantikannya sayang," ucap Luna.


Cup


Luna mengecup bibir suaminya dengan wajahnya yang memerah seperti kepiting rebus.

__ADS_1


"Kamu semakin nakal ya sayang," ucap Gama yang malah menyambar kembali bibir istrinya yang cantik itu.


Lama mereka berciuman di dalam kamar mandi, menyalurkan cinta bukan sekedar n4fsu belaka, Gama benar benar memperlakukan istrinya dengan lembut.


Setelah selesai dengan urusan mereka di kamar mandi, keduanya kini sudah berpakaian rapi, rencananya hari ini Gama akan bekerja seperti biasa dan Luna akan ke toko aksesoris miliknya.


"Sayang apa kamu harus ke toko? Kamu sedang hamil," ucap Gama sambil mengambilkan makanan untuk istrinya, mereka sedang duduk di meja makan bersama Yang lain.


" Nggak masalah sayang, aku kuat kok," jawab Luna.


"Tapi kan kalau kamu kenapa-kenapa hgimana, kalau pengen sesuatu gimana hmm?" Ucap Gama lagi membuat mereka yang ada di meja makan itu terkikik geli dengan tingkah Gama.


"Cihh dasar bucin!!" Ledek Alex.


"Suka suka saya Alex," cibir Gama yang mengundang gelak tawa diantara mereka semua.


Mereka semua menginap di rumah besar Park setelah acara semalam.


"Hello everyone!!" Sapa si babang tamvan Aiden yang baru saja bangun, dia menggandeng tangan Mama nya yang cantik.


Lagi lagi Luna menatap pada Aiden dan Nyonya Maureer dengan tatapan sendu namun segera di sembunyikannya dengan senyuman ramah.


Gama, Ken, Andin dan Ferdi serta Anna menyadari perubahan ekspresi Luna.


Gama menatap Ken begitu juga pria itu.


"Halo Aunty Maureer, selamat pagi, bagaimana tidur Aunty? Apa nyaman?" Sapa Luna dengan mulutnya yang penuh dengan makanan.


"Halo Luna, Aunty nyaman kok terimakasih sudah mengijinkan Aunty menginap, dan maaf atas kelakuan anak aunty ini ya," ucap Aunty Maureer yang di tarikan kursi oleh Aiden.


Aiden bergelayut manja di lengan Mamanya seraya dunia ini adalah miliknya.


"Ma jangan ngeledek anak sendiri kenapa Ma? Aiden kan jadi keki hehhehe," kekeh Aiden.


"Tentu saja Andin, Mamaku meski bukan ibu kandung kami, dia menyayangi kami lebih dari ibu kandung kami sendiri, jadi aku tidak kekurangan kasih sayang seorang Ibu meski khilaf bertahun-tahun heheh," celetuk Aiden.


Nyonya Maureer tersenyum mendengar ucapan Aiden, dia memang benar-benar menyayangi Aiden dan Ben,meski mereka bukan anak kandungnya. Dia tau bahwa Aiden pasti sulit menerimanya namun kini kesabarannya menghasilkan buah yang indah.


Aiden menerimanya dan menganggapnya sebagai ibunya.


"Kamu khilafnya bertahun tahun, gimana kalau Mama nggak sempat mendengar kamu manggil Mama?" Ucap Nyonya Maureer.


Aiden tersenyum kaku, dia tau dia salah namun kini dia akan memperbaiki kesalahannya itu.


"Hehehhe, maaf Mama cantik Aiden gak khilaf lagi, Aiden udah tobat hahahahah," celetuk Aiden sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya.


Yang lain tergelak melihat tingkah manja Aiden pada sang Mama. Tapi tampak sorot kesedihan di mata Luna namun dia tutupi dengan tawa canggungnya yang kikuk itu.


Gama menggenggam tangan istrinya, dia tau apa yang dirasakan oleh Luna. Andin menatap sahabatnya dengan tatapan sendu dia tau kalau Luna sedang bersedih hati.


Sebenarnya mereka semua di dalam ruangan itu sama-sama kekurangan kasih sayang seorang ibu jadi wajar saja jika mereka memiliki rasa iri terhadap Aiden yang meski bukan Ibu Kandung tetapi mendapatkan kasih sayang yang berlimpah.


Tak


Prangg


Luna meletakkan sendoknya dengan sedikitt kasar membuat mereka tiba-tiba berhenti.


"Ada apa na?" Tanya Andin khawatir.


"Ma.. maaf a.. aku ke kamar dulu," ucap Luna langsung meninggalkan mereka tanpa kata kata lain. Gama langsung mengejar istrinya.

__ADS_1


Ken, Bima dan yang lainnya saling menatap heran. Mereka bingung dengan sikap Luna yang tiba tiba berubah.


"Ada apa dengan Luna?" Ucap Mereka sama sama bingung.


"Luna.. kasihan dia," ucap Andin.


"Aku tau kak Luna kenapa," ucap Anna yang duduk di samping Ferdi.


"Ada apa dengannya? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Alex.


"Luna ... Huffft dia pasti merindukan mendiang ibunya," ucap Ferdi dengan wajah sedih, dia sudah sangat hapal dengan sifat Luna.


"Kau benar Fer, dia pasti merindukan Mamanya, " tambah Andin yang menatap sendu ke arah Luna pergi tadi.


Degg


Aiden tersadar kalau semua sahabat sahabatnya yang sudah seperti keluarga baginya memiliki nasib yang miris tentang keluarga kecuali Bima yang keluarganya masih utuh hanya saja jauh dari dirinya.


"Ma, sepertinya aku melakukan kesalahan lagi," ucap Aiden.


"Perasaan Luna Benar benar sensitif saat ini, kita tidak boleh membuatnya bersedih, dia bisa stress dan malah mempengaruhi janinnya," ucap Rose.


"Ahh... Kasihan dia," ucap Nyonya Maureer.


Sementara itu di dalam kamar Gama, tampak Luna menangis tersedu-sedu di balik selimutnya, dia membungkus tubuhnya di balik selimut tebal itu.


"Sayang, apa kamu sesedih itu? Apa kamu merindukan Mama?" Ucap Gama, dia tak tega melihat istrinya menangis seperti itu.


"Hiks... Hiks.. hiks aku.. aku iri dengan kak Aiden, dia mendapatkan kasih sayang seorang ibu, Luna.. Luna rindu sama Mama, arhhh... Hiks hiks hiks," tangis Luna tersedu-sedu.


Gama menarik selimut itu lalu menatap Luna dengan intens.


Gama mengusap air mata Luna, dia sedih jika Luna menangis.


"Sayang jangan menangis, kalau kamu rindu dengan Mama kita bisa datang ke tempat Mama, kamu jangan sedih ya, kasihan baby mereka juga ikut menangis kalau Mamam mereka sedih," bujuk Gama sambil memeluk istrinya dengan erat.


"Hiks... Hiks.. hiks maafkan aku, aku hanya... Aku hanya sedih, rasanya menyedihkan tidak mempunyai ibu di sampingku saat aku berbadan dua, tak ada Ibu yang membelai kepalaku saat aku bersedih hiks hiks hiks," tangis Luna semakin kencang, Gama malah jadi semakin panik mendengar tangisan istrinya yang sangat menyayat hati.


Tok..


Tok


Tok


Pintu di ketuk,


"Masuk saja, tidak di kunci," ucap Gama.


Ceklek pintu di buka, tampak Nyonya Maureer, Aiden, dan Ken masuk dan menghampiri mereka.


"Boleh aku bicara dengan Luna nak Gama?" Tanya Nyonya Maureer lembut.


Gama menatap Ken dan Aiden, mereka mengangguk setuju. Gama melepaskan pelukannya dari Luna membuat Nyonya Maureer mengambil alih.


"Beri kami ruang," ucap Nyonya Maureer yang dianggukkan oleh mereka.


.


.


.

__ADS_1


Like, vote dan komen 😉😉😊


__ADS_2