Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
134


__ADS_3

..."Cinta telah mengubahku, dia benar-benar memiliki dampak besar terhadap diriku!"...


...-Mark Lee-...


..."Entah senang atau sedih dengan pernyataan cintamu, tapi aku akan mencoba,"...


...-Andin-...


...****************...


Cukup lama Andin menangis, Mark membawanya duduk di kursi dalam ruangan itu.


Mark mengambil kursi untuk dirinya dan meletakkannya di depan Andin, mereka berdua duduk saling berhadapan. Andin masih menunduk dan mengusap air matanya yang membasahi pipi cantiknya.


Andin mulai bisa tenang dan sedikit bisa melupakan rasa takutnya setelah mendapatkan pelukan dari Mark meski ia benar-benar harus menahan dirinya agar tidak pingsan.


"Maaf Andin, Jangan menangis lagi, aku bisa diomeli nyonya Park nanti," ucap Mark menatap Andin.


"Heh...Anda hanya takut pada Luna ya Tuan," ucap Andin sambil mengangkat kepalanya menatap Mark namun tiba-tiba jantungnya berdegup tak karuan membuatnya segera memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Bukan takut hanya saja dia terlalu cerewet," ujar Mark.


"Ternyata Anda bisa juga banyak bicara ya tuan," ucap Andin.


Mark terdiam, dia juga merasa kalau dirinya benar benar asing hari ini, tidak seperti dirinya yang selalu kaku, diam dan dingin.


"Hemmm....Andin, aku minta maaf untuk kata kataku beberapa waktu lalu, maaf telah membuatmu menangis dan mencuri ciuman pertamamu," ucap Mark dengan Gamblang tanpa merasa malu mengatakan hal itu.


Andin cukup terkejut dengan keberanian pria itu, namun wajahnya memerah begitu mengingat saat Dia dan Mark berciuman, ciuman pertamanya yang dia jaga untuk suaminya kelak.


"Kata katamu sebenarnya sangat kasar tuan Mark, saya sebagai seorang wanita sangat sakit saat mendengar hinaan seperti itu," ucap Andin jujur.


"Asal tuan tau tidak semua wanita seperti yang Anda katakan, tidak semua wanita seperti itu," jelas Andin yang mulai berani menatap Mark meski jantungnya berdegup kencang.


"Karena itu aku meminta maaf padamu Andin, aku benar-benar menyesalinya, apa kau mau memaafkanmu?" Tanya Mark dengan penuh harap, dia benar-benar tulus meminta maaf tidak ada keterpaksaan.


Andin menatap netra Mark, dia mendengus, " hmm baiklah akan saya maafkan, tapi kenapa Anda harus berkata kasar seperti itu tuan? Apa saya sehina itu di mata Anda?" Tanya Andin yang masih kesal dengan perkataan Mark.


"Saya punya alasan Andin," ucap Mark, tampak wajah pria itu berubah menjadi sendu, dia mengepalkan tangannya dan menundukkan wajahnya, Andin menyadari perubahan raut wajah pria itu.


"Apa pun alasannya Anda tetap tidak boleh asal menilai orang lain tuan, itu sangat tidak sopan, bukankah Anda manusia yang memiliki etika? Jika iya maka cara Anda menilai orang lain sudah sangat salah tuan," jelas Andin.


"Apa kau tidak mau tau apa yang menjadi alasannya?" Tanya Mark.


Andin menaikkan alisnya, dia menatap pria di depannya itu benar benar berbeda dari karakternya selama ini yang dingin dan datar, pria itu hari ini tampak muram dan sedih.


"Apa Anda akan memberitahukan kepada ku jika aku bertanya?" Tanya Andin.


Mark mengangguk pelan sambil menatap netra Andin dengan intens.


"Baiklah, apa alasanmu?" Tanya Andin yang mulai nyaman berbincang dengan Mark yang ternyata tidak seburuk pemikirannya selama ini.


"Alasanku adalah Ibuku," ucap Mark.


Andin menyerngitkan keningnya, apa maksud pria ini pikir Andin.


"Maksud Anda bagaimana tuan?" Tanya Andin.


"Emmm....hufftt, kau akan menjadi orang ketiga yang tahu setelah tuan dan nyonya Park," ucap Mark sendu.


"Ibuku meninggalkan aku dan ayahku saat usiaku masih sangat kecil, saat itu kami tidak punya apa-apa dan Ibu malah meninggalkan ayah dan memilih menikah dengan pria lain yang lebih kaya," ucap Mark membongkar luka lamanya.


"Ayah yang menjagaku, sejak saat itu Ayah bekerja sebagai asisten pribadi tuan besar Park namun naas setelah menata hidup selama lima tahun, Ayah di panggil Tuhan karena serangan jantung," ujar Mark.


"Sejak saat itu aku tinggal bersama keluarga Park, mereka merawatku, menyekolahkanku dan menganggapku sebagai anak kandung mereka sendiri,"

__ADS_1


"Kejadian saat kamu di rumah sakit sebenarnya adalah pelampiasan rasa takut, kecewa dan kesalku karena aku melihat Ibu bersama anaknya sedang berada di rumah sakit,"


"Saat itu aku hancur hati hingga akhirnya gelap mata karena melihat wanita itu bersama anaknya, aku bahkan tidak pernah merasakan hangatnya pelukan Ibu, dia tidak peduli padaku bahkan selama kami hidup bersama," ujar Mark.


Andin terdiam, ternyata masih ada orang yang sama mirisnya dengan nasibnya. Ternyata Mark juga mengalami hal yang sama pantas saja dia sangat benci pada wanita, pikir Andin.


"Ternyata kami sama, sama-sama dibuang oleh Ibu kami," batin Andin.


"Saya tak tau harus merespon bagaimana, tapi kita kurang lebih mengalami hal yang sama, Anda sudah tau kan bagaimana kisah Saya?" ucap Andin.


Mark mengangguk pelan, dia menatap Andin tatapan yang benar-benar dalam. Andin tak tahan dengan tatapan pria itu, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Oleh karena itu aku tak tahan saat melihatu menangis Andin, benar kata nyonya Park kalau aku sudah jatuh cinta padamu, aku tak tahan melihatmu menangis, aku tak tahan melihatmu sedih," batin Mark yang masih menatap Andin.


Andin merasa kurang nyaman saat di tatap seperti itu.


"Saya juga sama seperti Anda tuan, saya sangat membenci laki-laki," ucap Andin sambil menunduk dan meremas kedua tangannya mengingat traumanya dulu.


Mark mengambil tangan gadis itu membuat Andin sedikit terkejut.


"Andin, sama seperti yang kau katakan padaku, tidak semua pria itu sama," ucap Mark.


Andin mengangguk pelan, dia sadar bahwa tidak semuanya sebab masih ada pria seperti Gama yang begitu menyayangi sahabatnya Luna.


"Ya aku tau, sebab kak Gama membuktikannya dengan perhatiannya pada Luna," ujar Andin.


"Emmm kau benar," ucap Mark.


"Emmm.....mengenai perkataanku waktu itu menjadikanmu kekasihku," ucap Mark sedikit ragu, dia masih menggenggam tangan Andin dan tak ada penolakan dari gadis cantik yang mempesona itu.


Andin menatap Mark, mereka kembali ke topik itu, dia tak menyangka kalau pria ini akan kembali membahas hal itu.


"Aku serius dengan perkataanku!" Ucap Mark yang membuat Andin terbelalak kaget.


Mark mengambil tangan Andin yang ada di dahinya sambil menggelengkan kepalanya, dia tersenyum, senyuman yang tidak pernah dilihat oleh orang lain sebelumnya.


Senyuman yang benar-benar membuat seorang Andin terpana, jantungnya berdegup kencang, dia bagai mematung saat melihat kejadian langka itu.


Deg.... Deg...... Deg


"Astaga senyumannya, " batin Andin yang terpaku.


Mark menggenggam kedua tangan Andin sambil menatapnya dengan lembut.


Jantung Andin berdegup kencang, dia benar-benar gugup saat pria itu menatap matanya.


"Aku serius, sudah ku bilang kalau kau sudah menjadi kekasihku sejak hari dimana aku menciummu, itu ciuman pertamaku!" Ucap Mark jujur.


"Jadi kuharap kau tidak menolak karena aku memang tidak mengharapkan jawaban darimu," ucap Mark.


Andin terbelalak, dia begitu heran dengan kepribadian pria ini.


"Dia aneh sekali, ngajak pacaran tapi sepihak, aneh!" Batin Andin.


"Kalau begitu Anda adalah orang yang egois tuan!" Ucap Andin tegas.


"Huhhffhhh, aku tau, tapi aku tak suka di tolak, aku tau kau akan menolakku, oleh karena itu aku mengkonfirmasi hubungan ini sepihak, aku tidak suka di tolak," ucap Mark.


Andin menghembuskan nafasnya kasar, pria ini ternyata masih sangat kaku.


"Kau Aneh tuan, mau pacaran atau mau membuat perjanjian sepihak tuan? Anda terlalu kaku," ucap Andin dengan tatapan meledek pada Mark.


"Jika tidak begitu maka kau akan menolakku kan, jujur saja aku ....Ekhmmm...aku jatuh cinta padamu!" Ucap Mark.


"Ci...cinta? Ja..jatuh cinta?" Andin terbelalak.

__ADS_1


"Oh Tuhan apa pria ini sudah gila?" Gerutu Andin dalam hati.


"Ya begitulah, pokoknya sesuai dengan yang kukatakan kita adalah pasangan kekasih sejak saat itu!" Tegas Mark.


"Kalau aku menolak?" Tanya Andin


"Sudah ku bilang tak ada penolakan Andin," tegas Mark dengan wajah kakunya itu.


"Tapi apa kau tidak malu menjalin hubungan dengan seorang anak haram seperti ku?" Tanya Andin dengan wajah sendu.


Mark menggenggam tangan Andin,


"Kau perempuan yang berharga, seperti apa pun masa lalumu aku akan menerimanya," ujar Mark dengan lembut.


Andin tertegun," kuharap itu benar," ucap Andin.


"Aku akan membuktikannya padamu," balas Mark.


"Baiklah aku akan menerimamu " ucap Andin


"Karena aku pernah berjanji akan mengabdi dan membalas Budi pada orang yang menyelamatkanku dan dia adalah anda tuan Mark," lanjut Andin di dalam hati.


"Tapi aku belum bisa membalas cintamu saat ini tuan," lanjutnya.


Mark tersenyum, dia menggenggam tangan Andin dengan lembut.


"Dan...kuharap Anda bukanlah pria yang pencemburu dan pemarah tuan, karena akan sulit menghadapi masalah jika tidak menggunakan logika dan perasaan," ucap Andin.


"Aku mengerti, dan jangan panggil aku tuan," ucap Mark.


"Jangan berbicara formal padaku Andin," ucapnya.


"Hmmm baiklah Mark," balas Andin sambil tersenyum.


"Jadi kita sudah baikan kan?" Ucap Mark yang dianggukkan oleh Andin.


"Yes!" Seru Mark berteriak senang karena cintanya di terima oleh gadis pujaannya.


Andin tersenyum tipis, ternyata gunung es di depannya itu sudah berubah menjadi aliran sungai yang indah dan menyegarkan.


"Ternyata kau sangat kekanak-kanakan," ledek Andin.




.


.


jangan lupa like vote dan komentarnya ya reader 😊😊


cieee yang udah berlayar, semoga sampai ke tujuan ya ❤️❤️❤️❤️


Aiden :" Awas karam woy!!!"


Author : tuk (melempar mouse komputer ke kepala Aiden) "jangan ngadi Ngadi deh den!!"


Andin ❤️ Mark : "iri? bilang boss!!"


Aiden: "reader kasih like, vote, hadiah dan komentar yang banyak biar author rese ini ngasih jodoh buat babang Aiden tamvan!!"


Bima: "selow aja Den, ga usah ngegas!"


Aiden: "ngajak gelud lo!!"

__ADS_1


__ADS_2