
Setelah kepergian Gama, Ken menyempatkan diri untuk membawa Anna dan Luna melakukan cek kesehatan ke rumah sakit miliknya dimana Andin juga di rawat.
Kedatangan mereka selalu di sambut oleh pihak rumah sakit, karena Ken terkenal sebagai pimpinan yang tegas dan dingin.
Mereka melakukan beberapa sesi pemeriksaan dan konsultasi bersama dokter terpercaya di rumah sakit tersebut.
Setelah melakukan pemeriksaan hasilnya mengatakan bahwa Anna bisa mendapatkan kembali ingatannya hanya butuh waktu yang tidak dapat di ketahui sampai kapan.
Sedangkan Luna memang sudah mendapatkan kembali seluruh ingatannya, hanya saja alam bawah sadarnya menolak untuk mengingat memori masa kelam yang sangat menyakitkan.
Mungkin Luna akan mengalami mimpi buruk tentang potongan memori itu, tetapi dokter mengatakan Luna tidak akan mengingat kembali kejadian di masa lalu mereka.
Sedangkan untuk nyeri pada kakinya dapat diobati dengan terapi jika Luna berkenan, tapi sementara ini Luna memilih untuk tidak melakukan terapi, karena rasa sakitnya mulai menghilang.
Luna, Anna, dan Ferdi mengunjungi kamar inap Andin, sebab hari ini dia sudah diperbolehkan untuk pulang.
Ken, Aiden dan Bima tampak duduk di dalam ruangan piminan rumah sakit itu, dan pastinya itu ruangan milik Ken.
"Syukurlah Luna tidak mengingat kejadian itu, aku memang tidak tau seperti apa persisnya kejadian yang menimpa kalian di masa lalu, tapi melihat bekas luka dan trauma, pasti kalian mengalami hal mengerikan," ujar Bima.
"Kau benar Bim, jangan sampai Luna mengingat kejadian masa lalu, kasihan dia,aku tak ingin melihat dia depresi,dia terlalu pintar menyembunyikan perasaannya," ujar Aiden.
"Aku bisa sedikit lega setelah mendapatkan keterangan dari dokter tadi, semoga dia baik-baik saja," ujar Ken.
"Ken, kau tau tidak, Luna dan Gama itu teman masa kecil!" Ujar Bima.
"Haaaa?" Ken dan Aiden melongo, mereka memang belum tau informasi yang satu ini.
"Bagaimana bisa? Mereka kan tidak pernah bertemu, pertemanan kita juga dimulai beberapa tahun setelah kejadian itu, bagaimana bisa Gama dan Luna berteman?" Tanya Aiden.
"Kalau dia kenal sama Luna kenapa dia gak bilang dari awal kalau Luna itu adiknya Ken?" Tanya Aiden lagi.
"Wuuhhh, santai bro gak usah ngegas, Gama emang kenal sama Luna sewaktu kecil, ceritanya mereka ketemu di rumah sakit, saat itu Gama jatuh dari tangga dan Luna juga baru menjalani amputasi kaki," jelas Bima.
"Gama kan gak pernah ngeliat foto Nana adik Ken sewaktu kecil, ya mana tau dia itu adiknya Ken apa bukan," jelas Bima.
"Bener juga sih, si kunyuk ini emang pelit amat mau ngasih foto Nana ke kita, mana videonya juga gak kasih, seandainya di kasih pasti Gama langsung nyadar tuh kalau Luna adik Ken yang dikira meninggal," ujar Aiden.
"Dan kalian bisa tau lebih cepat, terus gak ada adegan Luna nampar Ken kayak waktu itu, pasti sakit ya kan Ken," ujar Aiden sambil mengelus pipinya dengan niat meledek Ken.
"Diem Aiden, mau ku tampar biar tau rasanya heh?" Ketus Ken.
"Ini nih ini, tampar nah gratis buat nah tampar," Aiden menunjukkan pipinya ke arah Ken.
Plaakkkk
"awooooo.....di tampar beneran aku, kejam kau Kennnnnnn!!!" Teriak Aiden meringis kesakitan.
"Kan situ yang minta, sini mau bagian lain? Biar dua duanya kena!" Ucap Ken yang sudah siap siap dengan tangannya.
"arhhh...babang Bima selamatan eikeeeee, Aiden takut sama Ken, dia kayak iblis huhuhu," ujar Aiden sambil menyembunyikan badannya di belakang punggung Bima.
"Idih najis!!" Seru Bima sambil bangkit berdiri.
"Pokoknya kita harus jagain Luna, jangan sampai dia terluka," ujar Bima.
__ADS_1
"Yang ku khawatirkan adalah ketika dia bertemu dengan pamannya Gama dan wanita wanita ular itu," jelas Bima sambil duduk di atas meja.
"Kenapa kau khawatir?" Tanya Aiden.
"Aku khawatir dia akan berubah menjadi seperti Ken yang gila sampai sampai bisa membuat orang meminta kematiannya sendiri," ucap Bima sambil melirik ke arah Ken yang sedang menyeruput minumannya.
Prrrhffhhh..
"Uhukk...uhukk, kau pikir aku malaikat maut? Aku tidak sekejam itu dodol!" Ketus Ken.
"Kau tidak tau saja bagaimana wajahmu saat menghukum Jaka dan Zea orangtua Andin, kau itu malaikat maut yang menjelma menjadi manusia," ledek Aiden .
"Ck...sudahi omong kosongmu itu, aku hanya membalas mereka sedikit, lagi pula kita sudah membebaskan mereka," ujar Ken dengan Santai.
"Memang kita membebaskan mereka, tapi semenit kemudian mereka tak bernyawa, kau memang kejam!" Ujar Bima .
"Diamlah atau kalian yang akan menyusul mereka nanti!" Tukas Ken dengan sorot mata tajam khas seperti pembunuh.
"Bima kaburrrrr, iblis bangkit dari tidurnya!" Seru Aiden yang lari terbirit-birit berusaha keluar Ruangan itu hingga....
Brukk
"Arghhhhh.....hiiiiduuuungggg mannnncuuuuunggggkuuuuu.....arghhhh!!" Teriak Aiden saat hidungnya terbentur ke daun pintu karena tidak hati-hati berjalan.
"Pffthh...hahahahahah, rasain bego!" Ledek Ken dan Bima.
"Sakit,hahhhh patah ini arghhhh, ku adukan kalian sama Luna!" rengek Aiden keluar dari ruangan itu sambil mengelus hidungnya yang sudah mengeluarkan darah.
"Haaahhhh, ada ada saja anak itu, Ken kau masih disini? Atau..." Ucap Bima.
Di ruangan perawatan Andin, tampak Mark tengah membereskan semua barang-barang mereka. Selama beberapa hari ini, Mark memang tinggal di rumah sakit atas perintah Gama.
Luna membantu Andin bersiap-siap, tubuhnya masih sedikit lemah, dia akan menjalani perawatan di rumah.
"Apa Mark merawatmu dengan baik?" Tanya Luna pada Andin yang sedang dibantu duduk di atas kursi roda.
"Dia aneh, aku tak mau dir awat pria aneh itu," ketus Andin sambil melirik ke arah Mark.
Luna menatap Andin dan Mark bergantian.
"Apa yang terjadi Mark?" Tanya Luna.
"Hanya keributan kecil nona, bukan masalah besar," ujar Mark dengan santai sambil memasukkan barang-barangnya ke dalam tas ransel miliknya.
"Apa? Bukan masalah besar kau bilang? Kau pikir itu bukan masalah besar bagiku hah? Mungkin kau sudah biasa bermain dengan wanita-wanita penggoda di luar sana, tapi tidak untukku, aku bukan wanita yang bisa kau permainkan bajingaaannn!" Teriak Andin kesal, sejak kejadian semalam ia semakin benci pada pria itu.
Mark menggaruk telinganya, dengan santai dan tatapan datar dia berkata,"apa kau bisa membuktikan kalau kau berbeda, hanya ku cium saja kau sudah ikut menikmati, memang semua perempuan itu sama!"
"Jujur saja kau juga menikmati ciuman semalam kan, bukankah aku sudah berkata aku akan bertanggungjawab dengan menjadi kekasihmu?" Ucapnya lagi.
"Kau mestinya beruntung bisa mendapatkan seorang kekasih seperti diriku yang bisa kau manfaatkan sesuka hatimu!" Tambah Mark.
Luna, Anna, dan Andin sangat geram dengan ucapan Mark, Ini sebuah penghinaan yang sangat keji.
Brukk
__ADS_1
Brakk
Mark terhempas ke lantai setelah mendapatkan pukulan telak dari Ferdi ya g tidak terima teman baiknya di hina seperti itu.
"Kau seorang pria yang dilahirkan dari rahim seorang wanita, tidak perduli seperti apa masa lalumu dengan wanita kau tidak bisa menghina temanku seperti itu!" Kesal Ferdi.
"Kau pikir wanita di lahirkan untuk jadi mainan? Cihhh dasar manusia tidak punya hati, kau itu manusia sampahh!" Bentak Ferdi, aura pria itu benar benar keluar kali ini, ia sangat tidak suka jika teman-temannya dihina.
"Bukankah yang ku katakan itu fakta? Para wanita selalu seperti itu, mereka akan mencari yang lebih kaya dan meninggalkan anak dan suami mereka demi harta!" Ucap Mark dengan mata sendu dan Luna paham dengan itu.
Sebenarnya dia sangat sakit hati kali ini sebab tadi pagi ia melihat Ibu kandungnya ke rumah sakit itu untuk menemani anaknya hasil pernikahannya dengan pria lain sehingga dia melampiaskan semuanya pada mereka.
"Marrkkkkk!!!!" Teriak Luna kesal, ingin rasanya Luna memukul Mark tapi gadis itu tau pasti ada alasan di balik ini semua.
"Maafkan saya nona," ucap Mark menunduk.
"Sudah, Andin kau tenang ya jangan marah aku akan mengurus masalah ini," ucap Luna menenangkan Andin.
"Ferdi, Anna bawa Andin !" Ucap Luna.
"Mark kita bicara di rumah!" Luna menatap Mark dengan sorot mata tajam persis seperti Ken.
"Baik nona!" Jawabnya seperti tidak terjadi apa-apa. Tapi jika boleh jujur, Mark cukup terkejut dengan suara memerintah istri tuannya itu, apalagi sorot mata yang persis dengan Ken.
Mereka semua keluar dari ruangan itu, tampak Ken, Aiden dan Bima yang terdiam di dekat pintu. Sebenarnya mereka mendengar semuanya, namun tindakan Ferdi mengurungkan niat mereka untuk masuk.
"Loh kak udah disini? Kenapa gak masuk kak?" Tanya Anna saat melihat mereka di depan.
"Ahh kita nunggu aja di sini,di dalam pengap ada mons...hemphh,"mulut Aiden di sumpal oleh Bima.
"Kita baru nyampe, ya udah ayo pulang," ucap Bima.
"Hai Andin, gimana udah baikan?" Tanya Bima.
"Sudah tuan, " jawab Andin pelan.
Mereka pulang dengan pikiran masing-masing, Ken dan Bima enggan bertanya, sedangkan Aiden, mulutnya di tutup oleh Bima agar tidak berkata yang aneh-aneh.
.
.
.
Like, vote dan komen 😊😉😉
Author : Si Mark mulutnya pedes amat, gak merasa bersalah gitu Mark?
Mark : Saya hanya mengucapkan Fakta nona Author!
Author : Bukannya kamu suka sama Andin?
Mark : Suka sih tapi ujung-ujungnya pasti seperti wanita ular itu! sudahlah tor urus urusan author saja,saya banyak pekerjaan.
Author : ku..menangiiiiissss....ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1