Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
36


__ADS_3

Rombongan Gama tiba di pasar dimana Luna sering menjajakan jualannya. Mereka semua turun dari mobil dan membawa serta barang-barang jualan Luna yang sudah mereka kemas dari rumah.


Luna mendorong kursi roda Gama sedangkan yang lain berjalan di belakang mereka sambil menenteng tas berisi aksesoris itu.


Luna membawa mereka menuju lapak yang biasa di pakai oleh Luna untuk berjualan.


Mata semua orang tertuju pada mereka, tentu saja pesona pria muda yang tampan itu menarik hati para pengunjung dan pedagang disana.


"Kyakkk ....lihat disana ada oppa oppa Korea!!" teriak seorang gadis yang sudah maniak sekali dengan dunia K-Pop bahkan kemana-mana ia membawa Light stick BTS,EXO dan BlackPink.


"Astaga kupingku mau pecah! kau bisa kecilkan suaramu tidak?" kesal temannya yang sedang menyusun barang jualan di depan tokonya.


"Pemandangan gratis loh Ayu, kau lihat tidak mereka tampan sekali, gak ada yang aslinya yang lokal juga boleh deh hahaha," ucap gadis centil itu.


Temannya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah temannya itu.


Ken, Bima dan Aiden berjalan dengan gagahnya mengikuti Luna dan Gama. Banyak yang membicarakan mereka, namun tak digubris sama sekali oleh mereka, bahkan ada juga hujatan dari orang-orang di pasar namun ditepis begitu saja oleh mereka.


Saat mereka mendekati lapak Luna, tampak Ferdi berlari ngos-ngosan ke arah mereka.


"Lun...Luna...Gama...hah...hah...," teriak Ferdi saat melihat Luna dan Gama Toba di pasar. Sebenarnya pria itu sedang mencari keberadaan Luna.


"Ada apa Fer?" ucap Gama.


"Kenapa kau berlari seperti itu, kau bisa jatuh," tambah Luna yang khawatir melihat temannya.


"Huffftt..haaaaahhhh....be..begini, la..lapak kita direbut orang lain, mereka tidak mau pindah Lun," ucap Ferdi sambil mengatur pernafasannya.


"Apa? kenapa bisa begitu?"ucap Luna tak terima. Ken, Aiden dan Bima hanya memperhatikan saja sebab mereka tidak tau apa masalahnya.


"Mereka mengatakan bahwa mereka akan menempati lapak itu mulai hari ini, mereka kekeh tidak mau pindah, aku tidak tahu lagi bagaimana ini Lun, aku juga tidak bisa jualan, padahal Simbok butuh uang buat berobat," ucap Ferdi putus asa, tampak raut wajah sedih pada pria gendut itu.


"Haissshhh....selalu saja ada masalah," kesal Luna.


Gama mendongak dan menatap Luna, ia melihat wajah kesal istrinya.


"Ayo kita lihat dulu kesana, apa masih ada lapak yang belum di tempati, kita gunakan saja itu," ucap Gama.


"Tapi lapak itu yang paling strategis," ucap Luna kesal


"Sudah tenang saja, masalah strategis atau tidak itu tergantung orang yang menjual," ucap Gama.


"Jika tempat tidak strategis, maka kita menciptakannya sendiri, jangan khawatir ada tiga manusia tampan itu disini, kita bisa gunakan mereka," ucap Gama menenangkan Luna.


"Loh kenapa jadi kami?" ucap Aiden.


"Kalau tidak mau pulang sekarang!" tegas Gama.


"Ck....aku bercanda brother, kau terlalu kaku," sanggah Aiden.


"Baiklah ayo kita lihat kesana, jangan sampai tempat itu juga di ambil orang!" ucap Luna sambil mendorong kursi roda Gama.


"Fer kau juga ikut dengan kami, bawa barang jualanmu kita jual sama-sama, kami akan membantu," ucap Gama pada Ferdi.

__ADS_1


"Benarkah? terimakasih Gam, Luna," ucap Ferdi senang, Gama dan Luna tersenyum.


Mereka masuk ke dalam area jualan dimana Luna dan Ferdi biasa menjajakan barang jualan mereka. Saat mereka sampai di lapak yang seharusnya ditempati Luna, mereka melihat tiga orang gadis seksi tengah berjualan di lapak Luna.


"Sebaiknya kita tidak usah ganggu, mereka sepertinya kaum ular beludak!" ucap Luna yang langsung paham ketika melihat ketiga gadis seksi itu menatap keempat pria tampan itu dengan tatapan menggoda.


"Halo bang, maaa......uuu...su....su.....hmmm, argh," goda salah satu gadis itu sambil membusungkan dadanya.


"Hai bang...emmm...mauuuuu....Eneng.....pijatin hmmmm?" ucapnya sambil mengelus paha mulusnya di depan mereka.


"Bang...ahhhh, kemarilah ahhh," racau gadis yang satu lagi.


"Menjijikkan, ayo cepat pergi dari sini, aku tidak mau berurusan dengan ondel-ondel!" ucap Aiden mempercepat langkahnya.


Ken dan Bima bergidik ngeri saat melihat tatapan genit ketiga gadis aneh itu, mereka mengalihkan pandangan mereka ke tempat lain.


"Mimpi apa aku semalam sampai melihat tepung kanji bisa hidup disini, ihkk... mengerikan," batin Bima.


"Lain kali aku akan memakai masker," ucap Ken dalam hatinya.


"Pffthh....hahahh, kasihan mereka Gam," ucap Luna terkikik geli saat melihat wajah pias Ken, Bima dan Aiden bertemu dengan tiga gadis aneh itu.


"Ada juga gunanya kakiku lumpuh begini, mereka tidak menggodaku," ucap Gama.


"Hushh....jangan bicara begitu," ucap Luna tidak suka.


Mereka mencari lapak yang kosong, dan akhirnya Aiden menemukan satu lapak yang kosong tidak jauh dari tempat Luna sebelumnya.


"Ketemu!" teriak Aiden.


Mereka langsung mengubah lapak kosong itu menjadi tempat jualan. Di tempat itu ada cukup banyak meja untuk meletakkan barang-barang mereka.


"Lun kenapa tidak ada yang mau berjualan disini?" tanya Gama sedikit heran, padahal tempat itu cukup luas.


"Entahlah, menurut mereka aura jualannya kurang bagus disini," ucap Luna sambil membantu yang lain menyusun barang.


"Ferdi, kenalkan aku Aiden, dia Ken dan ini Bima, kau temannya Luna ya," ucap Aiden menyapa Ferdi yang sedari tadi diam dan bingung mau meletakkan barang-barang jualannya dimana.


"Ha...halo, aku Ferdi, ma..maaf tanganku kotor," ucap Ferdi sambil melap tangannya.


"Tak apa, jangan segan dengan kami," ucap Aiden langsung menjabat tangan Ferdi dengan erat.


"Terimakasih Aiden," ucap Ferdi sambil tersenyum.


"Fer letakkan barangmu di depan ini saja, supaya lebih cepat Laku, kita akan jual semuanya hari ini!" ucap Bima sambil menyediakan tempat untuk aksesoris milik Ferdi.


"Terimakasih, kalian sangat baik," ucap Ferdi terharu, baru kali ini ia merasa ada orang yang peduli dengannya selain Luna dan Andin tentunya.


"Jangan begitu, kau kan teman Luna, dia adik kami maka kau juga salah teman kami," ucap Ken sambil menepuk bahu pria itu.


"Baiklah, terimakasih banyak ada juga orang yang mau berteman denganku," ucap Ferdi yang berkecil hati karena ukuran tubuhnya yang besar sehingga membuat orang-orang menjauh darinya.


"Sudahlah, kan ada kami kita jualan saja," ucap Aiden.

__ADS_1


Setelah menyusun barang, mereka semua berkumpul dan berdiskusi agar jualan mereka bisa cepat laku.


"Kita lakukan saja begini....." mereka berdiskusi hingga mencapai kata sepakat.


"Apa ini akan berhasil?" ucap Luna yang merasa tidak yakin.


"Tenang saja mereka itu rajanya bisnis, hanya untuk masalah seperti ini mereka pasti bisa menanganinya!" ucap Gama menenangkan Luna.


"Huffft.... ternyata temanmu konyol sekali ya," ucap Luna.


"Hahahah, tapi mereka hanya konyol di hadapan kita," ucap Gama terkekeh.


Mereka pun memulai aksinya, ketiga pria tampan itu menjalankan aksinya sedangkan Luna, Gama dan Ferdi menunggu bagian mereka di depan lapak.


Aiden memulai aksi pertama, ia berlarian ke salah satu gang yang tampak ramai pembeli.


"Tolong!!! tolong!!! tuan, nona, tolong saya!! tolong!!" teriak Aiden seperti orang gila sambil membawa beberapa aksesoris yang sangat indah di tangannya.


Semua orang menatap ke arah suara itu, mereka terkejut saat mendengar seseorang berteriak minta tolong hingga akhirnya mereka berkerumun di dekat pria tampan itu.


"Ada apa?ada apa? " ucap orang-orang.


"Tuan, Nona tolong ikut saya kesana cepat!!" teriak Aiden panik, orang-orang itu juga malah ikut panik.


Aiden berlari sekencang-kencangnya menuju lapak Luna diikuti puluhan orang yang penasaran dengan apa yang dimaksud pria itu.


"Ada apa..hahh...haha," ucap mereka ngos-ngosan.


"Kami sedang obral barang bagus!" ucap Aiden langsung menunjukkan semua barang bagus yang mereka bawa.


"Kami pikir ada apa-apa!" kesal salah satu pembeli.


"Hehehe, maaf nona mohon lihatlah dulu barang ini, ini sangat cantik loh, barang langka, desainnya juga unik!" ucap Aiden.


Mereka.mulai melihat lihat semua barang jualan yang terpampang di sana.


"Wah ini kuat tidak mudah rusak, sangat cantik!" ucap mereka.


Aksi Aiden sukses memanggil puluhan pembeli.


Luna dan Gama mengacungkan jempol mereka pada pria itu.


Sekarang adalah giliran Bima dan Ken, mereka berjalan ke arah yang berbeda sambil memakai beberapa aksesoris dan pakaian rajut buatan tangan milik Ferdi yang sangat cocok dan pas di tubuh keduanya.


Ken dan Bima membuka kaosnya hingga tampaklah otot-otot perutnya yang otomatis membuat kaum pria iri dan kaum wanita tergoda.


"Let's play the game!!!" teriak mereka berdua dan musik pun dinyalakan.


.


.


.

__ADS_1


like, vote dan komen 😊😉


terimakasih atas supportnya teman-teman, author sampai terharu 😭😭😭😭


__ADS_2