Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
157


__ADS_3

Drrtt..


Drrttt


Drrttt


Ponsel Rose kembali bergetar, dia menolak panggilan itu lagi, sungguh mengganggu momen menyenangkan ini pikirnya.


Ken menatap Rose yang duduk di sampingnya, tampak gadis itu merasa risih dengan panggilan itu.


"Angkat saja," bisik Ken.


Rose sedikit terkejut karena Ken berbicara tiba-tiba.


"Eh..nggak usah, nggak penting kok," balas Rose yang juga berbisik.


Ting


Pesan masuk ke dalam ponsel gadis itu. Dia melirik ponsel lagi lalu membaca pesan dari Papanya.


"Jika kau tidak mengangkat panggilan ini sekali lagi maka akan ku seret nenekmu itu dari rumah sakit dasar gadis tidak tau diri!!"


Begitulah isi pesan Papa Rose.


Rose menjadi panik, sekali lagi ponselnya bergetar dari nomor yang sama, tampak Rose gugup dan gemetar karena takut jika sang Ayah melakukan hal yang tidak tidak pada neneknya.


Ken sengaja membaca isi pesan Rose, dia jadi geram dengan pengirim pesan itu, berani sekali orang itu mengancam gadisnya, gadisnya? Ya tentu saja gadis Ken.


"Ayo, angkat saja, kutemani," ucap Ken sambil menaruk tangan Rose yang sedang panik dan khawatir.


"Kami permisi sebentar, ada urusan mendadak," ucap Ken yang dianggukkan oleh yang lainnya.


Ken membawa Rose keluar, dari sudut lain Luna tersenyum melihat kakaknya memegang tangan Rose. Sepertinya rencananya akan berjalan dengan lancar.


"Hahhaah, mereka akan segera berlayar," batin Luna sambil senyum-senyum sendiri.


"Na kesambet apa? Jangan senyum senyum sendiri ahk, serem tau!!" Celetuk Aiden.


"Heheheh, Luna senyum karena ituuu...." Ucap Luna sambil menunjuk Ken dan rose yang berjalan sambil bergandengan tangan keluar dari restoran itu.


"Wahh Ken banyak berubah ya!" Ucap Bima yang salut dengan perubahan sahabatnya itu.


"Kau benar Bim, dia tidak sedingin dulu lagi," ucap Alex.


"Apa itu juga rencanamu sayang?" Bisik Gama pada Luna.


"Tentu saja sayang, mereka harus bersatu, aku sangat yakin kalau kak Rose adalah pendamping yang pas untuk kak Ken," jawab Luna membalas bisikan istrinya.


"Kau hebat," ucap Gama.


"Ck...ahhh, Gama dapat Luna, Mark sudah dapat Andin, Ken sebentar lagi berlayar dengan Rose lah aku jomblo terussss," rengek Aiden dengan wajah kusut.


"Hahahah makanya cari jodoh dong bro," ucap Gama.


"Yang sabar den, kami juga masih ada disini setia menemanimu," ucap Alex.

__ADS_1


"Ohhh bukan aku ya, kalau aku sudah punya kekasih," ucap Bima berbangga diri.


"Ck...apa kau yakin kali ini kekasihmu itu benar-benar tulus mengingat kejadian terakhir kali kau ditikung temanmu sendiri?" Sindir Gama.


"Aku yakin bro, kali ini pasti benar, dia adalah sekretaris ku Clara, dia wanita tangguh!" Ucap Bima berbangga diri.


"Clara, kau yakin? Tapi dia kan..." Aiden terputus.


"Aku yakin den!" potong Bima.


"Clara bukan perempuan baik deh sepertinya Bim," ucap Aiden ragu.


"Dia baik den, aku sangat mengenalnya!" Ucap Bima.


"Hmmm....tapi kalau ada apa-apa jangan sampai gila ya, aku sudah memperingatkan mu, Clara tidak seperti yang kau ketahui," ucap Aiden.


"Emang kenapa den?" Tanya Alex.


"Nanti ku ceritakan," ucap Aiden.


"Sepertinya kau sudah diracuni oleh perempuan licik itu Bima, aku tidak akan membiarkan mu jatuh dalam pelukan wanita ular yang licik itu," batin Aiden.


"Sepertinya ada sesuatu dengan pacar kak Bima, nanti ku tanyakan pada kak Aiden, aku tak mau kalau sampai mereka tersakiti," batin Luna.


"Wah jadi tinggal kak Aiden dan kak Alex ya yang belum punya, hmmm baiklah Luna akan bantu Carikan heheheh," celetuk Luna.


"Emang bisa na?"tanya Aiden.


"Bisa dong hahahah,tunggu saja," ucap Luna dengan senyum menyeringai.


"Iya sayang," balas Luna.


"Ayo anak anak di makan lagi yuk," ucap Luna pada ketiga anak kecil yang begitu serius mendengarkan percakapan orang dewasa meski mereka tidak mengerti.


Sementara itu di luar restoran, Rose mengangkat panggilan ayahnya di temani Ken di belakangnya.


"Halo," jawab Rose


"Dasar anak kurang ajar!!!"teriak Papa Rose dari seberang telepon membuat Rose sampai harus mejauhkan teleponnya dari telinganya.


"A....ada apa Pa?" Tanya Rose.


"Ada apa ada apa, mana uang asuransi nenekmu, kenapa kau menjeroboskan Mamamu sendiri ke penjara, aku harus membayar mahal untuk mengeluarkannya dari sana!!" Bentak pria itu.


"Aku tidak punya uang lagi, semua sudah habis diambil paman, mau apa lagi kalian? Tak cukupkah membuang ku bahkan sekarang harus memerasku? Aku tak punya apa apa lagi!!!!" Teriak Rose,kali ini dia benar-benar marah pada orangtuanya yang selalu bertindak semena-mena.


Ken terkejut mendengar bentakan gadis itu, dia melihat tangan Ros mengepal dengan kuat, wajahnya memerah, bahkan kedua pelupuk matanya sudah menggenang dengan air mata.


"Diam kau!! Berani sekali kau membentak Papamu!!!" Ucap pria itu .


"Papa? Hahahaa, apa kau bahkan pernah menganggapku sebagai anakmu tuan Niko yang terhormat??" Ucap Rahel dengan nada marah dan penuh kesedihan.


"Diam kau dasar anak haram!!" Bentak Pak Niko.


"Aku tidak mau tau, kau harus menyiapkan uang itu sekarang!! Aku akan membunuh nenekmu itu jika kau tidak menyiapkannya, aku sudah di rumah sakit sekarang!!" Ancam pak Niko.

__ADS_1


Tut


Panggilan di matikan,


"Ha..halo , halo, jangan nenek arhhhhh bajingaaan!!!" Teriak Rose sambil menangis, gadis itu berjongkok di atas lantai.


"Kenapa kalian tidak pernah puas membuatku menderita arhhhhh....."Rose menangis tersedu-sedu, hatinya benar-benar hancur, ditolak oleh orang tua sendiri membuatnya hidup bagai tak bernyawa.


Kerja siang malam dia lakukan sebelum neneknya sakit, namun semua penghasilannya di rampas oleh ibunya yang gila merk itu.


Beruntung dia bijak, uang hasil bekerja di rumah sakit dulu dia sisihkan sedikit sehingga bisa membiayai kebutuhannya.


"Hiks...hiks..hiks... kenapa harus aku? Kenapa harus aku yang menanggung semua ini??" Tangis Rose.


Ken merasa sedih melihat Rose menangis tersedu-sedu seperti itu. Ken bersimpuh di depan Rose lalu spontan memeluk gadis yang telah mencuri hatinya itu.


Rose masih menangis, dia benar benar hancur hati, kehidupannya sudah sulit harus dipersulit lagi oleh orang tua dan keluarga tidak tau diri.


"Sudah jangan menangis," ucap Ken sambil menepuk-nepuk punggung Rose. Rose tidak tau harus merespon seperti apa, dia benar-benar sedih saat ini.


"Kenapa semuanya jahat, kenapa mereka harus menyiksaku seperti ini, apa tidak cukup perbuatan mereka selama ini, apa aku harus mati supaya mereka puas ..arhhh...hiks hiks hiks," Rose menangis dalam rangkulan Ken.


"Rose sadarkan dirimu jangan berkata yang tidak-tidak!" Ucap Ken sambil menatap Rose.


"Hiks...hiks, saya tidak kuat tuan, ini sangat sakit," ucap Rose.


"Astaga, nenek, saya harus ke rumah sakit tuan, nenek dalam bahaya, dia dia akan memukul nenek lagi," ucap Rose langsung bangkit berdiri ketika dia teringat dengan ucapan ayahnya yang mengancam akan mengganggu neneknya.


"Tenang lah Ze!!" Ucap Ken setengah berteriak.


Rose terdiam,


"Nenekmu aman, beliau di jaga oleh pengawal jangan khawatir, kita akan kesana, hapus air matamu, siapkan dirimu menghadapi ayahmu itu!" Ucap Ken sambil memegang bahu Rose dan menatapnya dengan tajam.


"Sa..saya takut," ucapnya.


"Jangan takut, katakan saja semua yang ingin kau katakan padanya, marah padanya dan katakan kalau kamu butuh kasih sayang seorang ayah, kalau kamu juga anak yang berharga," ucap Ken.


"Jangan takut Ze, demi dirimu dan nenek!" Ucap Ken menguatkan Rose.


Rose mengangguk pelan, Ken menarik tangan Rose dan membawanya masuk ke dalam mobil nya.


"Aku antar, ayo," ucap Ken.


"Ta..tapi tuan, saya bisa naik taksi," tolak Rose.


"Ck....tak ada penolakan, cepat masuk!" Titah Ken sambil membukakan pintu untuk Rose dan memaksa nya masuk. Rose akhirnya menurut dan masuk ke dalam mobil.


.


.


.


like, vote dan komen 😊😊😊😉

__ADS_1


__ADS_2