Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
Tidak sadarkan diri


__ADS_3

Gama dan Luna menangis haru, Gama mengecuo kening istrinya mengucapkan kata kata cinta dan terimakasih kepada sang istri yang telah berjuang untuk melahirkan buah hati mereka.


"Terimakasih sayang, terimakasih banyak, terimakasih sudah melengkapi hidupku," ucap Gama sambil menangis haru, dia membelai kepala Istri nya dengan lembut.


"Sayang jaga mereka," ucap Luna sebelum akhirnya dia kehilangan kesadarannya.


"Luna..... Luna, Dokter istriku!!!" Teriak Gama panik saat melihat istrinya kehilangan kesadaran.


Dokter yang mendengar pun menjadi panik, dengan segera mereka menangani Luna yang kehilangan kesadarannya, beberapa saat yang lalu semuanya masih baik baik saja namun kali ini semuanya berantakan.


"Tuan mohon tunggu diluar kami akan mengurus Nyonya," ucap Dokter George yang juga panik saat melihat Luna tak sadarkan diri.


"Tidak aku mau menemani istriku, tidak.... Luna bangun sayang, bangun !!!!" Teriak Gama Histeris, dia tak mampu membendung air matanya, jantungnya bagai diserang ribuan pisau yang sangat tajam dia tak akan pernah siap untuk kehilangan istrinya.


Para dokter panik sebab Luna tak menunjukkan tanda tanda bahwa dia akan segera sadar.


"Tuan mohon dengarkan saya, tolong tunggu diluar!" Ucap Dokter George sedikit membentak.


Keluarga yang menunggu di luar terkejut dengan teriakan Gama, mereka semua panik dan khawatir dengan kondisi Luna, jika Gama sampai histeris seperti itu artinya ada kabar buruk yang menghampiri mereka.


" Adaapa dengan Luna suster?"tanya Aiden pada seorang perawat yang keluar dari ruangan itu dnegan tergopoh-gopoh.


"Nyonya tidak sadarkan diri tuan kami sednag melakukan penanganan, mohon bantuannya untuk menenangkan tuan Gama," ucap Suster itu.


Deghh....


Mereka semua terbelalak, jantung mereka bagai dihujam batu dengan dangat kuat saat mendengar kondisi Luna.


"Lu.. Luna," mereka semua panik, tak bisa berbuat apa apa karena proses persalinan memang menjadikan nyawa sebagai taruhannya.


" Sayang bagaimana dengan Luna, hiks hiks .. bagaimana ini!!!" Andin menjadi panik, dia benar benar tidak bisa mendengar kabar buruk menimpa sahabatnya.


Mark memeluk Andin dengan erat sambil mengusap kepalanya," jangan panik, kita serahkan semuanya pada Tuhan," ucap Mark.


Ketika semuanya panik, Ken tampak tenang hal ini membuat Rose menjadi bingung saat melihat suaminya tampak biasa saja.


"Apa kamu tidak khawatir?" Tanya Rose.


"Aku yakin Luna akan baik baik saja, dia.... Hanya pergi sebentar," ucap Ken.


Bima dan Alex menarik Gama untuk keluar dari ruang persalinan agar memberikan ruang bagi Dokter untuk segera bergerak, sebenarnya jika Gama tenang dia bisa mendampingi istrinya, hanya saja karena terlalu panik suaranya menggelegar kemana mana.

__ADS_1


" Lepaskan aku, istriku butuh aku disana!!!!!!" Teriak Gama melawan Bima dan Alex.


"Gamaliel Park!!!" Bentak Bima saat mereka sudah di luar ruang operasi.


Mereka semua terkejut saat Bima membentak Gama dengan begitu tegas, sangat jarang dia melakukan hal itu.


Gama terdiam, dia juga terkejut saat Bima membentak dirinya.


"Tenangkan dirimu, anak anakmu butuh Papa mereka, Luna butuh suaminya yang harus kuat, sadarkan dirimu Gama!!!" Ucap Bima sambil mencengkram bahu pria itu.


"Arhhhh istriku, bagaimana ini, apa yang terjadi padanya dia tidak bergerak, dia tidak bergerak tadi!!!!" Teriak Gama yang merosot ke lantai, dia mengacak acak rambutnya frustasi dengan apa yang terjadi.


"Tenang kan dirimu!" Ucap Alex.


" Temui anak anakmu dengan tenang mereka butuh Papa mereka, biarkan dokter menangani Luna, bukan hanya kamu saja yang panik, kami semua panik disini." Ucap Aiden.


Gama menatap mereka, seketika dia ingat dengan kedua putranya, dia berdiri dan meminta untuk bertemu kedua putranya.


Gama berdiri di dekat inkubator si kembar, dia menatap kedua putranya. Putra pertamanya yang mewarisi rambut khas dari sang Ibu, matanya memiliki dua warna yang berbeda biru dan hitam, dan wajah imutnya yang begitu memukau.


Putra keduanya memiliki paras yang benar-benar identik dengan kakaknya apalagi Rambut biru yang diwariskan dari sang Ibu, hanya saja perbedaannya terletak di mata keduanya, jika mata biru putra pertamanya di sebelah kiri maka mata biru yang kedua di sebelah kanan.


Gama menatap kedua putranya, sungguh perpaduan wajah yang sempurna dari sang Mama dan Papa, kulit merah mereka, dan ketenangan mereka membuat Gama yakin kalau istrinya akan segera sadar.


"Anak anak Papa, kita doakan Mama berjuang disana ya sayang ya, kita doakan Mama, Ratu kita cepat bangun, kalian pasti ingin bertemu Mama kan sayang," ucap Gama sambil mengusap lembut wajah kedua putranya.


"Suster boleh saya gendong keduanya" tanya Gama yang dibalas anggukan kepala oleh suster.


Gama menggendong keduanya sambil tersenyum meski hatinya kini takut dengan keadaan istrinya, hal yang dia bisa lakukan adalah menjaga kedua bayinya selama istrinya belum bangun dan berharap kepada Tuhan untuk menyelamatkan sang istri.


Gama membawa keduanya ke hadapan seluruh keluarga, mereka semua terpana melihat paras tampan kedua anak kembar Gama dan Luna sungguh anak anak yang unik.


"Tampan sekali," ucap Mikha saat melihat bayi Kembar itu


"Apa kau sudah menyiapkan namanya?" Tanya Ken sambil menatap kedua keponakannya.


"Belum, aku ingin Luna yang membuatkan mereka nama," ucap Gama sambil menatap bayinya.


Mereka semua menunggu, bahkan si kembar tidak rewel sama sekali, mereka tidur dengan tenang di pangkuan Papa mereka.


"Tenang sekali, baby twins benar benar mewarisi sifat ayahnya yang dingin dan kalem itu," ucap Andin.

__ADS_1


"Kita belum tau sayang, aku punya feeling kalau mereka akan sama cerewetnya dengan Luna dan sama dingin dan kejamnya dengan Gama," ucap Mark.


"Huhh... Iya, tapi kenapa mereka lama sekali?" Gumam Andin.


"Tenang, kita tunggu," ucap Mark.


Beberapa saat kemudian, dokter keluarga dari ruang persalinan dengan wajah pucat sepertinya ada kabar buruk yang dibawadokter itu .


"Bagaimana Dok?" Tanya Gama pelan tak ingin membangunkan kedua anaknya.


Dokter menggelengkan kepalanya, " Nyonya tidak bisa diselamatkan tuan, kami memohon maaf yang sebesar-besarnya" ucap Dokter tersebut sambil menunduk dengan wajah sedih.


Deghhh


Sekali lagi mereka terkejut dengan ucapan dokter, Mikha menangis dalam pelukan suaminya, Aiden juga ikut menangis, Andin, Anna ,Ferdy Rose dan yang lainnya mereka semua menangis histeris saat mendengar kabar itu.


Kabar paling menyakitkan yang menghancurkan hati mereka.


Ken kakak Luna hanya diam, dia tetap tenang dia memeluk Rose yang menangis tersedu-sedu dengan kabar itu.


"Aku yakin kamu akan kembali Luna," batin Ken.


Gama terdiam, pria itu hanya diam mendengar kabar kematian istrinya, anak anaknya juga tidak rewel.


Bima dan Alex menatap Gama dengan tatapan heran karena pria itu tampak diam saja dengan memangku si kembar.


"Biar kami masuk!" Ucap Gama dengan nada dingin.


Dokter mengijinkan Gama untuk masuk ke ruangan dimana istri nya masih di letakkan, selang infus sudah dilepaskan tak ada lagi peralatan yang terpasang di tubuh Luna.


"Bisa kami melihatnya," ucap Gama pelan, dia berusaha setenang mungkin agar kedua putranya tidak menangis.


Para dokter dan suster yang terlibat hanya bisa diam, mereka memberikan ijin untuk Gama dan buah hatinya menemui Luna.


.


.


.


.

__ADS_1


like, vote dan komen 😉😉😉


__ADS_2