Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
55


__ADS_3

Luna menatap Gama dengan tatapan malu-malu.


"Emmm... terimakasih sudah membawaku ke sini Gam," ucap Luna sambil tersenyum manis.


"Berterimakasihlah dengan benar," ucap Gama sambil menyentuh pipinya. Ia tersenyum licik dengan tatapan menggoda ke arah gadis itu.


"Emmm... maksudnya bagaimana?" ucap Luna pura-pura bingung, padahal ia tau maksud pria itu sebab ia sering melihat adegan itu di drama yang biasa ia tonton.


Gama tidak menanggapi, dia hanya terus menatap Luna sambil menyentuh pipinya dengan senyuman yang tidak pernah hilang dari wajahnya.


"Mari kita lihat sampai mana batas kekonyolan gadis cantikku ini," batin Gama.


Luna mengangkat kepalanya hingga sejajar dengan Gama. Gama tersenyum tipis ia memejamkan matanya sambil menunggu reaksi gadis itu.


"Terimakasih ya Gama," ucap Luna sambil mengelus pipi yang ditunjuk oleh Gama tadi.


"Astaga....kenapa kau begitu lelet Luna," batin Gama yang sebenarnya bersiap menerima satu kecupan dari istrinya sendiri.


Gama membuka matanya dan menatap Luna dengan tatapan kesal. Ia memundurkan tubuhnya dan memilih berbaring dengan wajah yang masih kesal.


"Ck...kau sungguh tidak peka," ucap Gama.


" Maksudnya bagaimana? makanya bicara yang jelas dong!" ucap Luna. Padahal di dalam hatinya ia merasa senang bisa menjahili pria itu.


"Haisshh....sudahlah tak apa, kau memang sangat polos dalam hal ini," ucap Gama pasrah.


Luna hanya cengengesan mendengar gerutuan suami tampannya itu.


Setelah diperiksa oleh dokter, akhirnya Luna diperbolehkan untuk pulang, ia disarankan untuk tidak terlalu stress dan tertekan sebab bisa memicu traumanya semakin parah dan rasa sakit di kakinya akan hilang seiring berjalannya waktu.


Ken dan Bima membereskan barang-barang mereka. Luna yang sudah sehat membantu Gama bersiap untuk pulang.


Ken dan Bima sudah menunggu di parkiran sementara Gama dan Luna belakangan karena Luna harus ke kamar kecil sebentar.


Luna mendorong kursi roda Gama menuju pintu keluar kamar inap mereka.


Cup


Satu kecupan mendarat di pipi Gama dari belakang.


"Terimakasih," ucap Luna malu-malu, dengan segera ia mendorong kursi roda Gama keluar ruangan.


Gama terperangah, ia memegang pipinya yang di kecup oleh Luna. Hati Gama berbunga bunga, ia begitu terkejut saat menerima itu. Hanya sebuah kecupan tapi rasanya bahkan lebih senang daripada saat ia menang tender bernilai milyaran rupiah.


"Wah sepertinya kau mulai nakal ya," ucap Gama sambil menoleh ke belakang melihat Luna yang sudah merona namun masih mempertahankan wajah datar berpura-pura tidak terjadi apa-apa.


"Apa?" ucap Luna pura-pura padahal jantungnya berdegup kencang tak karuan.


"Emmm...tidak, sepertinya ada kodok yang mencium pipiku tadi," ucap Gama langsung memalingkan wajahnya dari Luna.

__ADS_1


"Ck.....jadi maksudmu aku kodok? berarti kau menikah dengan kodok hahahah," balas Luna sambil tertawa terbahak-bahak meledek suaminya sendiri.


"Hemmm...aku memang tidak akan bisa kalah berdebat denganmu," ucap Gama pasrah sedangkan hatinya senang karena setidaknya istrinya tidak terlalu memikirkan masalah semalam.


Mereka akhirnya kembali ke rumah Luna sebab Ferdi dan yang lainnya sudah menunggu disana.


Gama menghubungi Rendi untuk tugas berikutnya yaitu mencari tahu segala sesuatu tentang Andin sahabat baik Luna yang tiba-tiba berubah.


Jika memang terjadi sesuatu sesuai dugaan Luna maka Gama akan langsung bergerak, namun jika memang Andin menghianati Luna maka akan ada pembalasan yang setimpal dengan itu.


"Segera hubungi aku jika kau sudah menemukan semua informasi yang terkait dengannya!" ucap Gama dengan tegas sebelum ia mengakhiri panggilannya.


"Kau berbicara dengan siapa?" tanya Luna yang duduk manis di samping Gama, mereka dalam perjalanan pulang menuju rumah Luna.


"Dengan tangan kananku," ucap Gama singkat.


"Aku sudah memerintahkan mereka untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Andin," jelas Gama karena melihat raut wajah penasaran pada Luna.


"Hemmm....kuharap dia baik-baik saja, dan tolong jangan ambil hati ucapannya kemarin, aku sangat yakin terjadi sesuatu dengan dia," pinta Luna, Gama hanya mengangguk paham dengan maksud Luna.


Bagi Gama ucapan Luna dan kenyamanan gadis itu adalah hal yang utama.


"Dan terimakasih mau membantuku," ucap Luna masih dengan mata berkaca-kaca sesaat setelah ia mengingat kembali kejadian semalam.


Gama menggenggam tangan Luna dengan erat, ia mengusap wajah gadis itu dan menatapnya dengan penuh kasih.


"Jangan bersedih kita akan segera cari tau tentang hal ini," ujar Gama, Luna mengangguk ia menatap Gama dengan intens sambil tersenyum.


"Kau kenapa Bim? apa kau tersedak air liurmu sendiri hah?" ketus Gama karena Bima mengganggu momen romantis bersama istrinya.


"Pfhhtt...," Luna terkekeh, ia tahu kalau Bima sedang mengejek mereka.


"Kalian sebaiknya tunggu sampai rumah, lalu masuk ke kamar dan melanjutkan acara romantis kalian itu, " ucap Bima dengan tatapan meledek.


"Tolong kondisikan, disini ada dua pria lajang yang masih polos dan tidak tau apa-apa tentang dunia kalian," celetuk Bima.


Pletakkkk


Gama memukul kepala Bima menggunakan botol air mineral dari belakang.


"Dasar otak mesum, otak dodol, ck...ck.....ck.. pantas saja kau tetap jomblo sampai sekarang," celetuk Gama dengan wajah kesal.


"Otaknya memang sudah korslet ketularan dari Aiden," imbuh Ken yang mengemudikan mobil.


"Ck...kau juga sama, pantas saja kau menantikan jodoh yang belum lahir," ejek Gama pada Ken


"Cih... mentang-mentang sudah menikah kau mengejek kami," kesal Ken sambil mencebikkan bibirnya.


"Tentu saja, kalian tidak akan tau rasanya," seringai Gama.

__ADS_1


"Haha, hayolah Gam, kau pikir kami tidak tau kalau kalian bahkan belum belah duren iya kan hahaha," Tawa Bima terbahak-bahak.


"Kau pasti tidak berani menyentuh istrimu itu, bahkan menciumnya di depan kami pun kau pasti merasa malu hahahhaha," Bima semakin menjadi-jadi dengan pembicaraan yang sedikit kurang enak di dengar.


Pletakkkk


Kali ini pukulan bukan berasal dari Gama atau Ken tapi dari Gadis cantik yang sedari tadi mendengar celotehan mereka.


"Dasar otak mesum!!!!" kesal Luna saat mendengar urusan ranjangnya disinggung singgung oleh orang lain.


"Tak kusangka otak kak Bima sudah korslet ya ampun, kau membahas itu seolah-olah hal itu adalah perbincangan umum, dasar laki-laki mesum, pria aneh, kau menang sangat aneh kak Bim," cerocos Luna.


Ken dan Gama saling melirik, mereka memasang penyumbat telinga agar bisa meredam Omelan gadis cerewet yang mulai nge rap tak jelas itu.


"Haduh...parah, wajahmu saja yang tampan tapi perilakumu ck...ck...ck... bertobat lah kak Bima, supaya ada gadis yang mau bersanding denganmu, dasar pria mesum!!" ledek Luna.


Ia tak habis pikir dengan jalan pikiran pria itu. Sedangkan Bima hanya cengengesan saat menerima Omelan dari Luna.


"Heheheh, ya maaf Luna habisnya suamimu yang mulai terlebih dahulu," celetuk Bima.


"Loh kenapa jadi aku?" ucap Gama langsung melepaskan penyumbat telinganya.


"Kan kau yang mulai mengejekku," balas Bima.


"Ken yang mulai bukan aku," balas Gama.menyalahkan Ken.


"Woy aku nyetir gak ngomong apa-apa," balas Ken.


"Pokoknya kalian yang salah," ucap Bima.


Perdebatan kembali terjadi di anatar ketiga pria itu. Luna merotasikan kedua bola matanya, ia mulai jengah dengan tingkah kekanak-kanakan ketiga pria itu.


"Ya Tuhan apa salahku dahulu sampai aku bertemu dengan manusia konyol seperti mereka ini!" celetuk Luna membuat ketiga pria itu tertawa seketika.


"Hahahaha, sudah sudah sepertinya nona cantik kita mulai jengah hahahah," ucap Ken tertawa terbahak-bahak.


Sepanjang perjalanan mereka terus berbincang, hingga perjalanan bersama mereka tidak pernah membosankan, apalagi kalau Aiden, Anna dan Ferdi ikut serta pasti akan sangat ramai seperti di pasar.


"Stoooppppp.....!!!" teriak Luna tiba-tiba saat matanya melihat sesuatu.


Ckiiiiitttttt...


.


.


.


Jangan lupa kasih likenya ya teman teman 😉😉

__ADS_1


Maaf Author lambat Upnya, tapi pasti up kok tiap hari 🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2