
Hari telah berlalu,seminggu telah berlalu sejak mereka mengadakan acara kecil kecilan di rumah besar Park.
Luna menggeliat di atas tempat tidurnya, dia tidak bisa banyak bergerak karena perutnya yang kian hari kian membesar.
Gama memeluk istrinya dari samping, hanya itu yang bisa membuat Luna tenang, dia akan tenang jika dipeluk saat tidur oleh karena itu Gama tidak pernah sekalipun meninggalkan istrinya tidur sendirian meski pun di harus mengikuti perjalanan bisnis, baginya bisnis adalah nomor kesekian yang terutama saat ini adalah istri dan anak anaknya.
Pagi ini Gama terbangun lebih dahulu, dia menatap wajah istrinya yang tidur dengan damai dan tenang, disingkirkannya anak rambut Istrinya itu agar tidak mengganggu tidur nyenyak sang isteri.
"Semakin hari semakin cantik saja," ucap Gama, "Membuatku semakin jatuh cinta padamu sayang, sehat sehat ya," ucap Gama sambil mengecup kening istrinya dengan Lembut.
Gama menatap perut buncit istrinya, dia mengubah posisinya dan duduk duduk di atas ranjang, di elusnya perut istrinya.
"Anak anak Papa sehat sehat ya sayang, jagain Ratu kita, jagoan jagoan Papa harus bisa jagain Mama, lindungi Mama saat kalian sudah lahir nanti, Kita sama sama membahagiakan wanita cantik ini ya sayang, karena dia malaikat yang Tuhan kirim untuk kita," ucap Gama sambil mengecup perut istrinya dengan penuh kelembutan.
Dan seperti biasa, janin dalam kandungan Luna akan selalu merespon apa ya g dikatakan oleh orangtuanya.
Sepertinya mereka akan jadi anak anak yang penurut pada Papa dan Mama mereka namun kepintaran mereka akan sangat luar biasa, apalagi dilahirkan dari pasangan yang sama sama punya sifat dominan terhadap orang lain, sungguh tidak sabar menantikan kelahiran baby twins Park yang belum diketahui jenis kelaminnya.
"Duhh pinter," ucap Gama sambil tersenyum.
Pria itu mengambil minyak untuk memijit kaki istrinya yang terlihat membengkak, dia selalu melakukan hal ini setiap pagi dan malam, membantu memijit kaki istrinya, membuka dan memasang kaki palsu istrinya.
Pria itu menyingkapkan selimut yang menutupi kaki Luna, lalu menuangkan minya itu dan mengoleskan ke betis, paha dan telapak kaki istrinya.
Dia menatap kaki kiri Luna yang buntung, seketika air matanya mengalir, entahlah perasaannya selalu saja tiba tiba sensitif seperti ini tetapi itu semua terjadi sejak kehamilan Luna.
Bahkan sering Gama diam diam menangis melihat istrinya yang mengeluh sakit di punggungnya sungguh aneh pria yang satu ini memang.
"Istriku wanita kuat, ahhh... kenapa aku jadi mewek begini sih," gumam Gama sambil mengusap air matanya.
Pria itu memijit lembut kaki istrinya, dengan perlahan agar tidak mengganggu tidur calon ibu itu.
Selesai dengan kaki yang satu dia beralih keki kiri istrinya. Dipijitnya dengan lembut kaki istrinya itu, di usapnya ujung tungkai kaki Luna yang buntung itu.
"Kuharap itu tidak sakit lagi," ucap Gama sambil memasang kaki palsu istrinya.
Luna terbangun, di bangkit dari tidurnya dan menatap suaminya yang dengan serius mengurusnya.
"Sayang," panggil Luna dengan suara serak khas baru bangun, sambil merentangkan kedua tangannya dia memanggil suaminya dengan manja.
"Ehh nona cerewet sudah bangun? sini sini ku peluk dulu," ucap Gama yang melihat kalau istrinya sudah bangun.
Pria itu menggeser tubuhnya dan memeluk istrinya, sudah kebiasaan sejak Luna hamil, dia harus memeluk suaminya jika bangun pagi dan ini akan membuat mood membaik.
"Eghh... kamu harum," ucap Luna sambil mendengus tubuh suaminya.
"Harum?" ucap Gama bingung," Aku belum mandi loh sayang, gimana mau harum coba?" tanya Gama sambil menatap istrinya yang asik mendengus dadanya seperti anak kecil.
"He..em kamu harum, aromanya enak, jangan mandi ya, aku mau cium aroma kamu, enak banget," ucap Luna.
Gama tergelak," Baiklah sayang, tapi aku boleh ganti baju kan? mau ke kantor soalnya," ucap Gama.
"Jangan!" ucap Luna.
"Loh?" Gama jadi bingung dengan sifat Ibu hamil ini.
"Kamu ke kantor pakai ini aja, aku gak mau aromanya hilang, please ya, aku juga mau ikut ke kantor, boleh ya pleaseee kumohon!!" pinta Luna dengan mata berbinar-binar penuh harap agar Gama mengabulkan permintaannya.
"Sayang masa iya aku ke kantor pakai piyama? nanti karyawanku bilang apa? mereka pasti mengejekku," ucap Gama yang benar benar bingung.
"Pleasee...!"pinta Luna sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada memohon pada Gama seperti anak kecil.
"Heeh... pasti ngidam lagi nih ya kan?" ucap Gama yang di balas anggukan kecil oleh Luna.
"Hmmm baiklah, kalau begitu kamu juga harus pakai piyama yang ini, aku suka aroma tubuhmu jangan mandi, biar kita sama," ucap Gama.
"Yey... setuju!!" seru Luna sambil mengangkat kedua tangannya ke atas, tampak dia benar-benar senang setelah Gama mengabulkan permintaannya.
"Heheheh kamu ini gemesin banget sih, " ucap Gama sambil menguyel uyel kedua pipi istrinya yang semakin tembem.
__ADS_1
Cup
Sebuah kecupan lembut mendarat di bibir Gama, Luna tersenyum malu malu, bahkan wajahnya sampai memerah karena mencium suaminya sendiri.
"Aku mencintaimu sayang," cicit Luna.
Gama tersenyum bahagia, dia menarik tengkuk istrinya dan terjadilah adegan ciuman di pagi hari yang cukup panjang diantara kedua manusia itu.
"Aku juga sayang, sangat sangat mencintaimu," ucap Gama sambil menatap Luna dengan kebahagiaan.
"Heheheheh, " Luna terkekeh.
Gama mengecup perut istrinya,"Papa juga mencintai kalian anak anak Papa," ucap Gama.
"Kami mencintai mu Papa," balas Luna menirukan suara anak kecil.
Mereka berdua tertawa bersama sama, sungguh sebuah pagi yang diawali dengan banyak tawa diantara kedua pasangan itu.
Mereka berdua pun bersiap siap, hanya dengan membasuh wajah dan menyikat gigi mereka serta merapikan sedikit penampilan mereka.
Sementara itu pasangan suami istri yang juga tinggal di rumah itu juga baru bangun pagi.
"Selamat pagi sayang, apa kamu lelah?" bisik Aiden di telinga istrinya.
"Jangan menggodaku lagi, aku malu," cicit Mikha sambil menelusupkan wajahnya di dada suaminya.
Bahkan saat ini mereka dalam posisi berpelukan setelah pertempuran panas mereka semalam yang sudah mereka lakukan secara sadar tanpa ada tambahan obat atau jebakan dari orang lain.
Kejadian semalam,
Aiden masuk ke kamarnya, dia baru saja berbicara dengan asistennya mengenai proyek perusahaannya.
Mikha yang baru selesai mandi tidak menyadari kedatangan Aiden, dia dengan asik duduk di meja rias sambil mengeringkan rambutnya dan masih memakai Bathrobe.
Tiba-tiba pria itu mengambil alat pengering rambut dan membantu Mikha mengeringkan rambutnya.
"Ehh... heheheh rambutku kotor, tadi habis bantuin bunda Grace di panti bersih bersih," jawab Mikha sambil menatap suaminya dari cermin.
"Kamu makin cantik sayang," goda Aiden.
"Ihkk kamu jangan godain, aku malu," ucap Mikha yang malah merona karena godaan suaminya.
"Hahahah kenapa malu kan pakai baju, eh kamu gak pakai baju sekarang," goda Aiden lagi sambil tertawa.
"Ck... Aiden malu tau," ucap Mikha sambil berdiri dan menatap suaminya dnegan wajah kesal dan merona.
"Hahahha wajahnya merah, kenapa malu sayang hhmmm?"Goda pria itu lagi sambil mencolek hidung Mikha.
Puk.. puk... puk
Mikha memukul lengan Aiden yang terus saja menggodanya.
hap
Pria itu menangkap tangan Mikha dan menarik Mikha dalam pelukannya.
deg deg deg deg..
Jantung gadis berdegup kencang begitu juga dengan Aiden ," Pegang disini, ini berdegup kencang," ucap Aiden sambil meletakkan tangan istrinya di dadanya.
"Wah kencang sekali," Gumam Mikha.
"Sayang," panggil Aiden yang membuat Mikha menoleh.
"Hmmm ada apa?" tanya Mikha.
Aiden hanya memandangi wajah manis istrinya itu, dia menatap Mikha dalam dalam, hati benar benar telah dimiliki gadis itu seutuhnya.
"Ada apa? wajahmu tampak lelah, apa pekerjaanmu berat?" tanya Mikha sambil mengusap wajah Aiden.
__ADS_1
Pria itu mengangguk, memang pekerjaannya cukup berat saat ini, sehingga dia tak bisa punya banyak waktu bersama istrinya.
"Kalau begitu mandilah, lalu istirahat, apa kau sudah makan?" tanya Mikha lagi dan di jawab anggukan oleh Aiden.
"Ya sudah ayo mandi dulu," ucap Mikha.
"Nggak," jawab Aiden yang menahan tubuh Mikha dalam dekapannya.
"Hmm? lalu apa kau butuh sesuatu?" tanya Mikha.
"Aku butuh ini," ucap Aiden sambil menyentuh bibir ranum Mikha yang membuat gadis itu sedikit terkejut namun tak menunjuk penolakan.
"Bolehkah?" tanya Aiden .
"Kalau aku menolak?" tanya Mikha.
"Aku tak akan memaksa," jawab Aiden yang langsung melepaskan tangannya namun di tahan oleh Mikha.
"Boleh kok," ucap Mikha sambil tersenyum manis. mendengar jawaban Mikha, Aiden langsung menyambar bibir istrinya dan mengecupnya dengan lembut.
Dia membawa istrinya menuju tempat tidur dan membaringkan gadisnya di atas tempat tidur sambil terus mengecup bibir ranum itu. Keduanya terbuai dalam ciuman lembut yang semakin menuntut itu.
Aiden turun ke leher jenjang istrinya dan ke bahu istrinya di sibakkannya sedikit Bathrobe istrinya lalu mengecup leher gadis itu membuat gelenyar aneh diantara keduanya.
"A.. Aiden," suara parau Mikha menghentikan aktivitasnya membuat Aiden tersadar kalau dia terhanyut dalam permainannya sendiri.
"Maafkan aku," ucap nya.
"Kenapa?" tanya Mikha sambil menatap wajah tampan suaminya.
"Aku terlalu terburu-buru, apa aku membuatmu takut!" tanya Aiden namun dibalas gelengan kepala oleh Mikha yang wajahnya benar benar merona sekarang.
"Hmm? lalu apa boleh aku melakukannya? kali ini secara sadar bukan seperti waktu itu," bisik Aiden yang masih berada di atas tubuh Mikha.
"Emm... bo.. boleh kok," jawab Mikha dengan gugup, toh juga mereka sudah sah dan sadar dengan perasaan masing-masing.
Aiden tersenyum, dia mengusap wajah Mikha ,"Aku akan pelan pelan," bisiknya dengan nada sensual yang membuat wajah Mikha benar Benar merona.
Dan terjadilah pergulatan panas untuk kedua kalinya dan mereka lakukan dalam keadaan sadar.
Kembali ke saat ini, Aiden masih memeluk istrinya dengan erat, dia benar-benar jatuh hati pada wanita itu.
"Terimakasih sayang," ucap Aiden yang dibalas anggukan oleh Mikha.
"Kau sangat seksi semalam," bisik Aiden menggoda Mikha.
puk
Mikha memukul bahu Aiden karena tak berhenti menggodanya.
"Aku malu, dan ini sakit," cicit Mikha.
"Hahahah, maaf sayang, apa aku menyakiti mu?" bisik Aiden.
"Sedikit," jawabnya sambil menyembunyikan wajahnya di dada suaminya.
"Tapi enak kan," bisiknya lagi.
"Aiiiideennnnnnn!!!!"teriak Mikha yang sudah benar benar merona akibat rayuan maut dari suaminya.
.
.
.
huh den kau benar benar sesuatu deh,
like, vote dan komen 😉😉😊😉
__ADS_1