
Teriakan Aiden terdengar menggema di rumah besar Park. Aiden baru kembali dari ruang kerja Gama setelah membantu yang lainnya yang sedang melaksanakan tantangan dari Luna, dia begitu terkejut saat melihat istrinya tergeletak di atas lantai tepat di samping kasur mereka.
Sementara itu Selesai acara pemakaman tadi Nyonya Miller dan kedua putranya langsung berangkat lagi, meski lelah mereka tak bisa berlama-lama meninggalkan perusahaan di Belanda.
Mereka semua mengantarkan Nyonya Maurer, Ben dan Josh setelah acara pemakaman selesai. Niat ingin tinggal lebih lama di Indonesia apalagi Aiden baru menikah, ternyata harus gagal karena ada masalah di perusahaan mereka.
"Mikhaaaa...." teriak pria itu panik, dia langsung menghampiri istrinya yang pingsan dengan wajah pucat di atas lantai.
Dengan cepat Aiden menggendong tubuh istrinya dan meletakkan Mikha di atas ranjang.
"Astaga,Mikha demam!!" panik Aiden.
Dengan cepat pria itu berlari menghampiri yang lain.
"Rose, tolong Mikha, dia pingsan kumohon bantu Mikha," teriak Aiden panik dia berlari ke arah Rose, Ken dan Luna.
"Kok bisa kak?" ucap Luna khawatir.
"Dimana dia?" ucap Rose yang langsung berdiri.
"Di kamar kami, ayo cepat!" ucap Aiden panik.
"Sebentar ku ambil dulu peralatannya," ucap Rose sambil mengikat rambutnya dan berlari ke arah lemari perlengkapan untuk mengambil peralatannya.
Kini mereka sudah di ruang kamar Aiden dan Mikha.
"Apa perlu kupanggil kan dokter George?" tanya Aiden panik.
"Tunggu sebentar ku periksa dulu," Ucap Rose sambil mengeluarkan peralatannya.
Rose memeriksa kondisi Mikha, dia juga mengukur suhu tubuh istri Aiden itu.
"Kenapa dia seperti itu? ada apa dengannya?" ucap Aiden panik.
"Sabar dulu Den biarkan Rose memeriksa kalau kau panik istrimu juga tidak akan langsung sembuh," ucap Ken sambil menepuk bahu Aiden.
"Apa ada yang aneh saat di acara tadi kak?" tanya Luna yang penuh dengan rasa curiga.
"Emm tak ada, hanya saja dia terus diam, saat kutanya dia bilang tidak apa apa," jawab Aiden.
"Jangan sampai kak Mikha sakit karna kakak kurang peka loh," ucap Luna.
Rose sudah selesai memeriksa keadaan Mikha.
"Mikha sepertinya kelelahan sampai pingsan begini, apa dia makan dengan benar kak den?" tanya Rose.
"Dia makannya sedikit, katanya gak lapar," ucap Aiden dengan polosnya.
"Terus kakak gak paksa?" tanya Luna.
"Nggak, kan dia bilang gak lapar!" celetuk Aiden.
Pletak
__ADS_1
"Dasar bodoh, istrimu sakit karena dirimu kalau sampai Ferdi tau kau bisa dipecat jadi kakak iparnya!" ketus Ken sambil memukul kepala Aiden yang kadang loadingnya suka lama alias lelet.
" Tapi kan dia bilang gak lapar, jadi ya aku gak maksa," ucap Aiden.
"Aduh kak den, susah banget sih, kalau gini kak Mikha bisa sakit tiap hari, bisa aja kak Mikha lagi kepikiran sesuatu apalagi kalian menikah secara dadakan seperti kemarin, kakak peka dikit dong kasihan kak Mikha," ucap Luna kesal.
"Huffft iya iya aku salah, " jawab Aiden mengalah.
"Lalu apa yang harus kita lakukan Rose, aku khawatir nih, kasihan dia mana mukanya pucat gitu," ucap Aiden sambil menggigit jarinya.
"Kita kompres aja dulu, terus biar aku pasangin cairan infus, dia kekurangan cairan di tubuhnya, kak den harus lebih peka, apalagi Mikha baru disini, mungkin dia merasa tertekan atau bingung, jangan membiarkan dia sendiri, kita semua punya urusan masing-masing jangan sampai kak Aiden lupa kalau udah punya istri, ada apa apa sama Mikha toh juga kak Ai yang nyesal," ucap Rose sambil mengambil peralatan untuk infus.
"Iya iya, ya udah biar aku yang kompres, apa dia perlu makan obat Rose?" tanya Aiden.
"Nanti setelah bangun, Mikha makan bubur dulu setelah itu minum obat demam sama makan vitamin, di sini lengkap kok obatnya, kalau udah siuman kakak panggil aja aku," ucap Rose sambil memasang cairan infus pada Mikha.
"Baiklah, terimakasih dan maaf membuat kalian khawatir," ucap Aiden merasa bersalah.
" Ya sudah kakak rawat kak Mikha dengan benar, kasihan dia, kak Mikha pasti punya alasan ajak dia bicara kak," ucap Luna yang dianggukkan oleh Aiden.
Luna, rose dan Ken keluar dari kamar itu dan meninggalkan Aiden disana.
"Ada apa dengan Kak Mikha?" tanya Ferdi yang tengah berlari menghampiri mereka, dia sedang menemani Anna mengerjakan tugas sekolahnya, dia mendengar teriakan Aiden namun dia berusaha berpikir positif karena Aiden emang hobinya teriak teriak, tapi hatinya bilang terjadi sesuatu pada kakaknya.
"Mikha pingsan Fer, cuma udah di cek sama Oze tadi," jelas Ken.
"Kok bisa?" ucapnya lagi yang langsung berlari ke kamar kakaknya.
"Fer nanti aja, Kak Mikha lagi istirahat, jangan diganggu dulu ya," ucap Luna memberi pengertian pada Ferdi.
"Tenang aja, tadi kakak udah cek, Mikha baik baik saja, kamu tenang ya Fer," ucap Rose.
"Ahhh baiklah, terimakasih kak Rose," ucap Ferdi.
Mereka semua kembali ke aktivitas mereka masing-masing. Ini akan menjadi malam yang panjang bagi para pria yang di beri Tantangan oleh Luna.
Selama beberapa jam mereka menatap Layar komputer bekerja sama memecahkan kasus kematian nenek Rose.
Teringat dengan istrinya, Gama keluar dari ruang kerjanya dan mencari Luna yang selalu memasang wajah kesal pada mereka.
Gama berjalan mencari Luna, dan Matanya menemukan yang dicari, Luna sedang duduk santai di ruang depan sambil memainkan ponselnya.
Gama mendekati Luna yang sedang adik memperhatikan sesuatu di ponselnya.
"Sayang," panggil Gama.
Luna menoleh, dengan cepat dia mengganti apa yang di lihatnya di dalam ponselnya dan berakting senatural mungkin.
"ya?" jawab Luna singkat, dia masih kesal dengan suaminya.
Gama mendesah berat, istrinya masih kesal pada dirinya.
"Apa kau masih marah soal kemarin? maafkan aku, aku hanya khawatir pada kalian, aku tak mau terjadi apa apa pada istri dan anak anakku," ucap Gama sambil duduk di lantai menghadap Luna sambil memijit kaki istrinya itu.
__ADS_1
"Maafkan aku terlalu mengekangmu, seharusnya kamu bebas melakukan keinginanmu, saat di Bali kamu begitu bahagia, tapi setelah aku membawamu kesini kau malah tersiksa, maafkan aku karena tidak berguna," ucap Gama sambil menatap mata istrinya.
Deghh
Sungguh tak tega Luna melihat pria yang sagat dicintainya memohon maaf seperti itu, tanpa sadar dia menangis di depan suaminya.
"Hiks hiks hiks, apa aku membuatmu sekhawatir itu? maaf kalau aku terlalu banyak permintaan," cicit Luna sambil menangis.
Gama terkejut mendengar ucapan istrinya, banyak minta apanya? bahkan sampai saat ini Luna tak pernah meminta hal hal besar padanya, padahal seharusnya sebagai seorang istri konglomerat Luna bisa meminta apa pun yang dia mau yang pastinya Gama tak akan keberatan dengan hal itu.
Gama berpindah dan duduk di samping Luna, lalu memeluk istrinya yang menangis.
"Aku yang minta maaf karena gak paham dengan keinginan kamu, maafkan aku sayang aku tak bermaksud mengurungmu di rumah besar ini, maaf karena aku melakukan kesalahan besar," ucap Gama.
"Hiks hiks," Luna menangis sambil memeluk suaminya.
"Husshhh... sudah jangan menangis sayang, apa kamu mau kita berkencan? kita tinggalkan saja mereka disana, mereka juga sedang sibuk melaksanakan tugas dari dirimu," ucap Gama.
"Benarkah? apa boleh?" ucap Luna dengan mata berbinar binar.
Gama mengangguk ,
"Yesssss....." seru Luna bahagia.
"Sesederhana itu keinginanmu sayang tapi aku bahkan tak bisa memenuhinya, maafkan aku, aku janji akan lebih peka," batin Gama sambil menatap istrinya.
"Ayo sayang," ucap Luna dengan senyum bahagia.
"Emmm boleh kita ajak Mark dan Andin, sepertinya dua manusia itu sedang renggang, Mark terlalu fokus dengan pekerjaannya, kulihat Andin sering menatap Mark dengan tatapan kesepian," ucap Luna.
"Baiklah, terserah kamu saja," ucap Gama setuju.
"Yeeeyyyy.... " seru Luna.
Cup...
"Terimakasih sayang!" ucap Luna sambil mengecup pipi suaminya.
"Yuk ganti baju dulu, kamu pakai pakaian hangat dulu ya," ucap Gama yang dianggukkan Luna.
Sementara itu di ruang kerja Gama mereka semua sedang memasang wajah kusut.
"Arhhhhh aku butuh udara segar!!" teriak Alex kesal karena tidak menemukan apa yang di. carinya, akhirnya dia keluar dari ruangan itu dengan wajah lelah.
"Huffft.. seandainya ada pacar, pasti enak nih ditemanin kencan, hmmm... loh kok aku keinget sama dokter itu sih, arhhh Lex jangan Ngadi Ngadi deh," ucap Alex pada dirinya sendiri.
.
.
.
like, vote dan komen 😊😊
__ADS_1
Duh Lex ada rasa ya??🤣