
"Arhhhh, aku tidak tau dia dimana sekarang!!" Teriak Gama frustasi, ia mengacak-acak rambutnya, penampilannya benar benar kacau seperti seorang gelandangan sekarang.
"Tuan , nyonya muda tidak ada disini, tidak ada petunjuk sedikit pun dimana keberadaan nyonya, sepertinya pria itu tidak membawa nyonya muda kesini!" Ujar Rendy yang baru tiba setelah berkeliling mencari keberadaan maupun bekas keberadaan nyonya mudanya.
Gama, Ken, Aiden dan Bima terdiam. Mereka benar-benar pusing sekarang, tak ada petunjuk kemana Luna di bawa.
"Bodoh kalian, kenapa tidak tanya ke pamanmu itu langsung dasar otak dongkol!" Ketus Aiden yang langsung berlari menyusul Mark dan anak buahnya yang sudah membawa Jae Sung ke markas.
Ken dan Bima tersadar, kenapa mereka bisa jadi tiba-tiba sebodoh ini?
Gama mengusap kasar wajahnya, hatinya benar-benar gusar saat ini. Gama segera menyusul yang lain menggunakan mobilnya menuju markas dimana mereka semua disekap.
Andin, Anna dan Ferdi sudah diamankan di rumah Ken yang dilindungi oleh puluhan anak buah sekaligus.
Anna masih syok setelah mendengar berita hilangnya sang kakak tiga hari yang lalu. Dia tidak mau makan, tidak mau bicara pada siapa pun dan terus mengurung diri.
Anna bahkan tidak mau bertemu dengan Gama. Gadis itu benar-benar membenci Gama saat ini.
Sementara itu, di sebuah apartemen mewah di kawasan Jakarta, tampak seorang gadis tengah duduk di dalam ruangan yang lebih tepat disebut sebagai ruang kerja.
Karena di dalam ruangan itu terdapat banyak buku, dokumen, dan banyak layar lcd disana.
"Nona, kenapa nona tidak pulang saja, kalau nona benar-benar mengkhawatirkan gadis itu?" tanya seorang pria yang sedang duduk di sebelahnya sambil menyesap minuman kaleng kesukaannya.
"Ck...kenapa kau cerewet sekali sih, kau yang membawaku ke sini ya suka sukakulah!" Ketus gadis itu, Mark hanya tersenyum tipis mendengar jawaban gadis itu.
Siapa lagi kalau bukan Luna yang cerewetnya bukan main. Saat ini gadis itu sedang duduk di depan layar komputer dengan kacamata bertengger di wajahnya, dan semangkuk mie instan di tangannya.
Slurrrppp
Terdengar gadis itu tengah menikmati ramen salah satu makanan kesukaannya.
"Pffthh hahahaha, kak coba lihat si bodoh itu, dia benar-benar hilang kendali setelah aku pergi," ledek Luna sambil menatap layar komputer yang terhubung dengan CCTV di rumah tuan Jae Sung.
"Apa kau tidak kasihan padanya, dia bisa benar benar tambah bodoh nanti!" Ucap pria itu.
"Ck....biarkan saja kak Alex, aku ingin memberinya pelajaran untuk mengubah tempramen buruknya itu!" Ujar Luna sambil melanjutkan makannya dan menatap layar komputer itu bergantian, mengawasi orang-orang yang sangat disayanginya.
Kejadian saat penculikan Luna,
Beberapa hari yang lalu, ketika Luna di culik, tim penjaga yang diutus Alex lah yang menyelamatkan Luna dan membawanya ke apartemen Alex atas perintah pria itu.
__ADS_1
Baru saja tiba di apartemen itu, Alex langsung kena semprot Omelan Luna.
"Buka ini, apa yang kalian lakukan padaku dasar Om om bau keringat, kalian tidka mandi sudah berapa hari sih, ishhh, ketek mu bau sekali huweekkk!!" Teriak Luna saat pengawal itu menggendong Luna seperti membawa karung beras karena gadis itu benar-benar rewel dan suaranya yang melengking benar benar membuat telinga pekak.
Pengawal yang mengangkat Luna sampai memerah karena malu di ejek oleh gadis itu. Ia bahkan sempat berhenti dan mencium keteknya sendiri yang malah mengundang gelak tawa dari pengawal yang lain.
"Pfftttthhh hahahah, gadis ini benar-benar lucu, kau bau sekali om hahah," ledek temannya.
"Ishhh kau juga bau, nafasmu bau nasi basi dasar Om om aneh!!" Pekik Luna lagi sambil meronta-ronta di atas pangkuan pria itu, membuat mereka terdiam.
"Hahahah, rasakan itu," ledek pria yang membawa Luna tadi.
Mereka menutup telinga mereka saat mendengar Omelan gadis itu.
Luna dibawa masuk ke dalam apartemen Alex atas perintah pria itu. Suara Omelan Luna menggelegar di seluruh ruangan.
Bagaikan mengalami cultur shock para pengawal bahkan Alex sendiri sampai terkaget-kaget dengan sikap gadis itu.
"Kupikir dia wanita yang kalem," batin Mark saat menatap Luna yang dibawa masuk.
Gadis itu menggelinjang di atas pangkuan bodyguard bertubuh besar itu.
Plukk
"Tuan tolong saya, telinga saya benar-benar sudah Pekak mendengar suara cempreng wanita itu," ujar pengawal itu pada Alex yang sedang duduk menatap Luna dari sudut ruangan.
Luna belum melihat keberadaan Alex dia sibuk dengan tangan dan kakinya yang diikat dengan tali.
Namun beberapa foto menghentikan aksinya, ia melihat foto foto suaminya disana, foto saat suaminya masih kecil, SD, SMP, SMA bahkan kuliah dan bekerja dan ada seseorang yang selalu menemaninya dan dia adalah Alex!.
"A..apa ini?" Ucap Luna.
"Itu, ja..jadi Gama adalah anak laki-laki itu? Ck...dia tidak memberitahukan ini padaku, dasar pria bodoh," batin Luna.
"Itu kan Alex?" Gumam Luna.
Sementara Luna memandangi foto yang berjejer rapi di hadapannya itu, Alex menatapnya heran apalagi melihat ekspresi gadis yang tidak bisa di tebak itu.
"Lepaskan ikatannya!" Titah Alex pada anak buahnya.
"Ta..tapi tuan, sa..saya tidak berani, dia mengatai saya bau ketek!" Ucap pengawal itu sambil menunduk.
__ADS_1
Alex menatap anak buahnya, ia tergelak mendengar pengakuan pria itu.
"Kalian bagaimana kenapa tidak kalian yang buka?" Ucap Alex pada anak buahnya yang lain.
"Dia mengatai mulut kami bau nasi basi tuan," ucap mereka.
"Dan telinga kami hampir pecah mendengar ocehan gadis itu!" Ucap mereka.
"Gadis aneh!" Gumam Alex.
"Pfft kalian memang bau, akhirnya ada yang menyadarkan kalian!" Celetuk Alex yang sudah bangkit berdiri.
"Astaga tuan, ini juga karena tugas dari tuan biasanya kami ini wangi loh tuan!" Batin para pengawal yang dinistakan tuannya sendiri.
Alex berjalan mendekati Luna yang sedang menunduk dan berusaha membuka ikatan kaki dan tangannya.
Luna menatap seseorang yang mendekatinya sambil membawa gunting di tangannya.
Bukannya takut Luna malah mengomeli pria itu dengan jurus super cerewetnya.
"Haishhh, kenapa kau lama sekali, cepat buka ini, kaki dan tanganku sakit, dasar bodoh, kenapa tidak sejak tadi kau membawa gunting itu, ini lepaskan!" Ketus Luna.
Alex tertegun, dia benar-benar tidak bisa menebak kepribadian gadis aneh itu.
"Untuk seseorang yang sedang di culik, Anda terlalu berani nona," ucap Alex sambil memotong tali yang mengikat tangan dan kaki Luna dengan gunting yang di bawanya tadi.
"Ck...untuk seseorang yang sedang menculik wanita, kalian salah pilih lawan tuan!" Ucap Luna yang begitu ikatannya terlepas langsung mengambil alih gunting yang ada di tangan Alex dan menarik Alex hingga pria itu duduk di kursi dan Luna mengarahkan gunting ke leher pria itu.
"Apa yang kau lakukan nona?" Kesal Alex yang malah menjadi korban ke bar baran Luna.
"Tuan!" Panik para pengawal saat melihat Luna mengarahkan gunting ke leher tuan mereka.
"Kalian diam saja, mendung kaliam mandi, kalian sangat bau!" Celetuk Luna tanpa menoleh sedikitpun pada mereka.
"Jelaskan apa yang terjadi, kenapa aku di bawa kesini, siapa dirimu dan apa hubunganmu dengan suamiku? Dan kenapa anak buahmu yang bau bau itu mengikutiku terus? Kau pikir aku tidak akan kenal dengan wajah mereka meski mereka sudah berganti penampilan? Kau salah pilih target tuan!" Celetuk Luna masih dengan posisi nya yang benar-benar mengancam nyawa Alex .
.
.
.
__ADS_1
Annyeong !
jangan lupa like, vote dan komentarnya ya, ðŸ¤ðŸ¤ðŸ˜ŠðŸ˜‰ðŸ˜Š