Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
42


__ADS_3

" Ini sebuah takdir yang indah, aku merasa telah bertemu wanita paling tepat untuk mendampingiku,"


-Gamaliel Park-


...****************...


"Kenapa Yuna belum tiba juga ya," ucap Luna mulai risau.


"Tenang dulu Luna, jangan terlalu khawatir," ucap Gama.


Luna, Gama, Aiden dan Mark duduk di ruang santai, sedangkan Ken dan Andin sedang berada di dapur menyiapkan cemilan dan minuman untuk semua orang.


"Aku takut dia kenapa-kenapa, seharusnya kularang saja dia kemarin, haishhh....ini semua salahku,andai aku lebih tegas padanya," kesal Luna merutuki dirinya sendiri.


Gama menepuk pundak gadis itu, ia malah khawatir dengan Luna yang begitu mudah panik, bahkan moodnya cenderung cepat berubah, ia takut terjadi sesuatu dengan istrinya.


"Luna kumohon jangan panik, kau akan sakit nanti!" tegas Gama sambil memutar tubuh Luna dan kini mereka saling berhadapan.


"Kau selalu panik, biasakan untuk tenang dulu, jangan sedikit sedikit kamu panik, aku tidak mau kau sakit nanti!" ucap Gama.


"Sekarang tarik nafas dan hembuskan lakukan sampai tiga kali!" titah Gama.


Luna menuruti ucapan suaminya.


"Huuffftttt.....haaaaaahhhhh.... huuuffft...haahhh...huuuffttt....haaaaahhhh," tiga kali Luna melakukan sesuai dengan perintah Gama dan dia sudah tenang sekarang.


"Bagus, ingat jangan panik aku disini aku akan membantumu," ucap Gama, Luna mengangguk entah mengapa rasanya hatinya sangat tenang saat menatap mata suaminya.


"Luna, coba hubungi lagi, siapa tau mereka mengangkat," usul Aiden.


"Benar coba hubungi Paman dan Bibi," tambah Andin.


"Baiklah," ucap Luna.


Luna mengambil ponselnya dan menekan kontak yang di carinya.


Beberapa kali ia mencoba menghubungi kedua nomor itu dan akhirnya yang ditunggu-tunggu pun mengangkat panggilannya.


"Halo Paman ini Luna!" ucap Luna


"Aduh maaf ya Luna, Paman baru bisa jawab sekarang tadi ponsel Paman silent karena lagi bicara sama langganan, Bibi kamu ponselnya mati habis baterai," ucap Paman Budi dari seberang sana.


"Ahhh.... syukurlah paman, aku pikir ada apa-apa,kalian dimana ? Yuna bagaimana?" tanya Luna.


"Kami sudah dekat rumah, ini Yuna lagi ke kedai katanya mau beli gorengan buat makan malam," balas Paman Budi.


"Astaga si Yuna ini ya, hmmm ya sudah kalau begitu kalian hati-hati ya Paman, oh iya ini nomor baru Luna disimpan ya," ucap Luna.


"Baiklah!" ucap Paman Budi.


Luna menghela nafas lega setelah mengetahui keberadaan adiknya.


"Bagaimana?" tanya Gama.


"Mereka sudah di jalan Kak, sudah dekat ke rumah," ucap Luna sambil melihat ke arah Gama.


"Tuh kan, makanya jangan panik dong, kalau kamu panik gak akan selesai masalahnya, dasar gadis ini," ucap Gama sambil mengacak-acak rambut Luna, ia merasa gemas dengan tingkah Luna.


"Heheheh, ya maaf aku kan takut Yuna kenapa-kenapa," balas Luna yang malah menundukkan kepalanya, ia merasa malu karena diperlakukan begitu oleh suami sendiri.

__ADS_1


"Hahahaha, apa kau malu? astaga lihatlah telinganya memerah lagi hahahhaha,"


Gama tertawa terbahak-bahak melihat wajah Luna yang merona. Sontak Mark hampir saja serangan jantung saat melihat tuannya kembali tertawa, bukan tawa yang terpaksa tapi tawa yang sangat puas.


"Dunia Berakhir!" gumam Mark sambil memegang dadanya.


"Dasar sinting!" ketus Andin saat mendengar suara Mark.


Mark tidak menanggapi ucapan Andin dia hanya fokus melihat perubahan besar terjadi pada tuannya hanya dalam satu Minggu.


"Ekhmmm.... mentang-mentang udah nikah bisa asik uwu uwuan di depan para jomblo ya," sindir Aiden walaupun sebenarnya hatinya merasa senang, tapi ya mulut Aiden selalu asal ngomong.


"Apa sih kak, Luna jadi malu isshhh," gerutu Luna sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Hahahah, astaga kau sangat imut Luna, kenapa telingamu juga memerah ahhaha," ledek Gama lagi saat melihat Luna kembali merona.


"Gam.....ckk," kesal Luna karena terus saja digoda.


"Cieee....ada yang mulai berbunga-bunga nieee hahahah," ledek Aiden saat melihat wajah gadis itu merona.


"Apa kau sudah jatuh cinta dengan suamimu ini Luna?" ucap Aiden dengan tatapan menggoda.


"Kak Ai.....kenapa kau juga ikut ikutan sih," ucap Luna, rasanya Luna sangat malu dan ingin menyelam ke palung Mariana agar tidak bisa ditemukan oleh mereka.


"Huahahahhah," mereka semua tertawa melihat Luna yang menahan malu.


" Wah sepertinya seru sekali ya," ucap Bima yang baru tiba bersama Ferdi sambil membawa beberapa belanjaan.


"Hahahh, benar Bim, lihat wajah adik kita ini, dia begitu menggemaskan hahahha," tawa Aiden terbahak-bahak.


"Tu...tuan Bima ya?" ucap Andin terkejut saat melihat wajah Bima, Andin baru datang dengan membawa minuman untuk mereka.


"Tentu saja kenal, kau juga tau kan tuan Bima pemilik mall terbesar di kota ini," ucap Andin.


"Ahhh kau benar, kak Bima memang pemilik Mall terbesar di kota ini, kenapa aku baru ingat sekarang ya, aku percaya sekarang kalau kakak itu seorang Presdir," ucap Luna tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Astaga Luna, aku tidak habis pikir dengan jalan pikiranmu itu," ketus Bima sambil menepuk kepala Luna dengan pelan.


"Ekhmm....," deheman seseorang sukses membuat Bima menarik tangannya dan tersenyum kikuk.


"Ya sudah aku ke dapur dulu ya, pawangmu marah hahahah," ucap Bima seraya meledek Gama melalui tatapannya.


"Luna aku tidak salah dengar kan? kau memanggilnya kakak tadi?" ucap Andin terkejut.


"Iya dia kakakku, yang di sampingmu juga kakakku, dan yang di dapur tadi juga kakakku," ucap Luna.


"Astaga Luna, kau tau tidak siapa tuan Ken dan tuan Aiden?" ucap Andin menarik tangan Luna sedikit.


"Hei apa kau mengenal kami?" ucap Aiden dengan tatapan penuh selidik.


"Tentu saja tu..tuan, siapa yang tidak kenal dengan tiga Presdir muda yang banyak diidolakan masyarakat seperti kalian, wajah kalian sudah biasa terpampang di televisi, bahkan banner wajah kalian ada dimana mana" ucap Andin sedikit tergagap.


"Astaga untung saja kau mengenali kami, gadis itu tidak tau siapa kami," ucap Aiden sambil melirik Luna dengan wajah bingungnya.


"bwahahahhaha, tentu saja dia tidak tau tuan, gadis ini terlalu cuek dengan keadaan sampai pernah sekali sewaktu dia jualan ada Artis Hollywood kalau tidak salah Ariana Grande sedang membeli aksesorisnya,"


" orang-orang sudah berkerumun untuk melihat seorang Diva tapi Luna malah tidak tau siapa dia dan malah menawarkan semua jualannya pada orang yang berkerumun disana, ia pikir mereka berkerumun untuk membeli jualannya, hahahahahah,"


Andin tertawa terbahak-bahak, begitu juga dengan Gama dan Aiden lain halnya dengan Mark yang masih betah dengan wajah tegangnya yang membosankan itu.

__ADS_1


"Heheheh, ya aku mana tau Andin,lagian gak perlu banget aku tau dia siapa heheheh," kilah Luna.


"Kau ini terlalu polos Luna," ledek Aiden


"Lalu apa kau kenal pria yang kau tampar tadi?" tanya Aiden.


"Dia? memangnya dia siapa? aku tidak tahu, " ucap Andin.


"Coba perhatikan wajahnya baik-baik kau pasti tau siapa dia," ucap Aiden dengan senyuman di wajahnya.


Andin menatap Mark, yang di tatap malah memasang wajah seram. Andin tidak takut, ia malah terus memperhatikan wajah itu hingga matanya terbelalak dan mulut langsung ditutup dengan telapak tangannya.


"Mampus aku!" batin Andin.


"A...a..aku ke..ke belakang eh i...iya ke belakang dulu," ucap Andin buru-buru bangkit berdiri dan berlari ke belakang, ia melewati Ken, Bima dan Ferdi yang datang dengan cemilan di tangan mereka.


"Kau kenapa Andin?" tanya Ferdi namun tidak di jawab oleh Andin.


"Hahahahah, temanmu lucu juga Luna," kekeh Aiden.


"Kenapa sih kak, Aku bingung, Gam kenapa?" ucap Luna dengan wajah bingungnya, Gama hanya mengangkat bahu saja menanggapi pertanyaan Luna.


"Ada apa dengannya?" ucap Ken sambil duduk di atas sofa setelah meletakkan cemilannya.


"Entah, dia terkejut saat mengetahui siapa pria yang di tampar ya tadi," ucap Aiden.


"Astaga pasti dia merasa ketakutan sekarang," ucap Bima.


"Hahahaha, Mark ke apa kau selalu tegang, awas darah tinggi hahahah," ledek Aiden.


Mereka semua duduk di ruang santai dan berbincang sambil tertawa, hingga tiba-tiba suara teriakan seseorang menghentikan Mereka.


"Kak Luna! Yuna pulang!" teriak seorang gadis yang malah langsung menerobos masuk ke dalam rumah.


Mereka semua menatap ke arah Gadis itu, Aiden, Mark, Ken dan Bima tersentak kaget saat melihat sosok yang sangat mereka kenal.


"Yuna, kau pulang sayang," sambut Luna sambil bangkit berdiri dan tersenyum menghampiri adiknya.


Yuna memeluk kakaknya dengan senyum sumringah. Paman Budi dan Bi Ina tidak mengantar gadis itu karena ada urusan mendadak di rumah mereka.


"Paman dan Bibi titip salam katanya, tadi ada urusan mendadak," ucap Yuna yang masih memeluk kakaknya.


Gama menoleh ke arah suara itu, suara lembut yang mirip dengan suara adiknya.


deg....


deg..


deg.


bersambung 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭


.


.


.


like vote dan komen 😊😉

__ADS_1


giman? gimana??


__ADS_2