Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
138


__ADS_3

Ken tertidur dengan lelap, hari sudah sore dan pria itu baru saja tertidur karena pengaruh obat yang dikonsumsinya.


Melihat Ken tertidur dengan lelap, Luna tersenyum setidaknya kakaknya tidak merasa kesakitan.


Obat yang di berikan oleh dokter George memang sangat manjur, perlahan lahan virus meningitis yang menggerogoti otak Ken mulai dimatikan dan berangsur berkurang, hanya saja gejala mual dan muntah itu masih ada selama virus itu masih berdiam di kepala Ken.


Menurut penjelasan dokter George, itu gejala biasa yang dialami pasien meningitis, jadi Luna tak perlu terlalu khawatir hanya perlu bersabar ketika gejala itu muncul kembali.


Luna selalu berkonsultasi dengan dokter George terkait kesehatan kakaknya, dia bahkan tidak melewatkan satu kata pun yang diucapkan oleh dokter dan melakukan perawatan secara seksama dibantu oleh suster dan dokter yang bertugas disana.


Seperti saat ini Luna sedang berjalan menuju ruangan dokter George setelah kakaknya benar benar terlelap. Luna bahkan tidak kenal lelah saat merawat kakaknya, dia melakukannya dengan segenap hati.


Luna berjalan perlahan sambil meregangkan tubuhnya yang terasa pegal, selain menjaga kakaknya dia juga harus mengurus adik dan suaminya, dia berusaha menjadi kakak dan istri yang baik bagi keluarga kecilnya itu.


Luna berjalan sambil menepuk-nepuk bahunya. Tiba-tiba tangannya di tahan oleh seseorang, Luna berbalik senyumannya langsung mengembang kala melihat sosok pria yang memegang tangannya itu.


"Sayang," ucap Luna sambil menghamburkan pelukannya pada Gama tanpa malu di lihat pengunjung lain di rumah sakit itu.


"Kamu mau kemana hmm?" Tanya Gama.


Luna menengadahkan kepalanya dan menatap suaminya masih dengan posisi memeluk tubuh Gama dari depan.


"Mau ke ruangan dokter George, kamu udah selesai kerjanya? Lalu Anna dimana?" Tanya Luna.


"Sudah baru aja, aku langsung balik kesini, Anna di rumah bersama Andin dan Ferdi, mereka juga udah pulang kerja," jelas Gama.


"Kamu lelah ?" Tanya Gama saat melihat wajah istrinya sedikit pucat.


"Sedikit, tapi karena ada kamu lelahnya hilang," ucap Luna yang malah meletakkan kepalanya di dada suaminya dan menghirup aroma tubuh suaminya yang sangat disukainya.


"Heheh, kamu udah mulai jago menggombal ya," goda Gama yang dibalas senyuman oleh Luna.


"Bagaimana dengan Ken?" Tanya Gama.


Luna melepaskan pelukannya, dia menggandeng tangan suaminya sambil berjalan lurus.


"Kalau menurut dokter, virusnya mulai berkurang hanya saja gejala mual,muntah dan pusing itu pasti akan ada dan itu hal yang wajar, tapi aku gak kuat kalau lihat kak Ken menderita seperti itu," lirih Luna.


Gama merangkul istrinya dengan erat.


"Sayang jangan terlalu khawatir, Ken pasti akan sembuh, memang dia akan menjalani fase ini, kita sebagai orang terdekatnya harus mendukung penuh agar Ken cepat sembuh," jelas Gama.


"Apa kamu udah makan malam?" Tanya Gama yang dijawab gelengan kepala oleh Luna.


"Kalau begitu kita makan dulu ya sayang," ucap Gama yang dibalas anggukan oleh Luna.


"Kamu mau makan dimana?" Tanya Gama.


"Kita makan di kantin rumah sakit aja sayang," ucap Luna yang bergelayut manja di lengan suaminya.


"Baiklah, ayo," ucap Gama sambil merangkul Luna.


Mereka berdua berjalan menuju kantin rumah sakit yang disediakan bagi para pengunjung yang menginap di rumah sakit itu, menunya juga cukup bervariasi dan enak pastinya.


Saat berjalan melewati lorong rumah sakit di lantai dua, telinga Luna mendengar seseorang yang terkena tamparan dan bentakan di dekat tangga darurat.

__ADS_1


Luna berhenti sebentar membuat Gama bingung.


"Ada apa sayang?" Tanya Gama heran.


"Sayang kamu dengar gak?" Tanya Luna sambil menyeret suaminya mendekati pintu tangga darurat.


Plakk


Plakk


Plakk


"Dasar anak kurang ajar, tidak tau diri, berikan uang itu sekarang!!!?" Bentak seorang wanita sambil memukuli dan menampar seorang gadis muda di balik pintu itu.


"Tapi itu buat biaya berobat nenek Ma," lirih gadis itu.


"Mama? Aku bukan Mamamu dasar anak haram!!" Bentak wanita itu lagi sambil menarik rambut gadis itu dan membenturkan kepalanya ke dinding rumah sakit.


"Arghhh.... Maa, tolong jangan ambil uangnya, nanti Rose gak bisa bayar tagihan rumah sakit nenek hiks hiks, Rose mohon," pinta gadis yang ternyata adalah Rose gadis yang bertemu dengan Ken seminggu yang lalu.


Luna terbelalak, dia semakin mendekati pintu itu.


"Sayang aku kenal suara ini!" Ucap Luna.


Gama sendiri juga ikut terkejut saat mendengar pukulan dan tamparan yang begitu keras menghantam tubuh gadis itu.


"Siapa dia?" Tanya Gama.


"Kak Rose, beberapa hari lalu aku melihatnya duduk bersama kak Ken dan seorang nenek tua," ucap Luna.


"Panjang ceritanya nanti aku ceritakan, kita tolong dulu kakak itu,kasihan!" Ucap Luna yang malah mengeluarkan ponselnya.


"Kamu mau nelpon polisi?" Tanya Gama.


"Ahh boleh juga, kamu bisa gak bantu telpon polisi aku mau rekam dulu, sepertinya di ruangan itu tak ada CCTV," ucap Luna.


"Ohh mau merekam , baiklah akan kuhubungi polisinya," ucap Gama yang setia berdiri di samping istrinya yang sedang membuka pintu pelan pelan dan merekam aksi wanita itu.


"Dapat kau! Ibu macam apa kau tega melukai darah dagingmu sendiri,huh kau ternyata satu jalur dengan si tua Bangka itu!" Batin Luna yang merekam aksi itu dengan sangat berhati-hati.


"Sudah ku telepon mereka sudah berada disini, sayang kamu nanti ikuti arahanku ya karena ini di tangga darurat takutnya terjadi apa apa" ucap Gama.


"Ha? Cepat sekali? baiklah terserah padamu" Ucap Luna heran.


"Kantor polisi ada di depan sayang hehehe," kekeh Gama.


"Ohhh, pantes, udah ini dapat videonya," ucap Luna.


"Aku mau bantu kakak itu," ucap Luna.


"Biar aku aja sayang, kamu di belakang ," ucap Gama yang langsung membuka pintu bertepatan saat wanita itu akan melayangkan tamparannya pada Rose untuk kesekian kalinya.


"Pukul wanita itu maka hari ini juga Anda akan kami laporkan!" Suara bariton Gama menghentikan tangan wanita itu.


Dia begitu terkejut saat mendengar seseorang berbicara, padahal tadi dia sudah memastikan bahwa tidak akan ada orang yang lewat dari tempat itu.

__ADS_1


"Siapa Kau? Jangan ikut campur dengan urusanku!!" Ketus wanita itu.


"Saya hanya orang biasa yang terlalu sensitif jika ada penyiksaan seperti ini!" Ucap Gama sambil menatap tajam wanita itu.


"Ck....sial, kenapa kau ikut campur, sana pergi ini bukan urusan mu!" Ucap wanita itu marah.


"Lepaskan wanita itu terlebih dahulu!" Bentak Gama membuat mereka terkejut, Rose menatap Gama dengan berderai air mata dia tidak mengenal pria itu tapi kenapa mau membantu dirinya pikir gadis itu.


Seketika mata Rose tertuju pada seorang gadis cantik yang bersembunyi di belakang punggung Gama sambil mengintip, terlihat sangat lucu padahal situasi sudah genting begini.


"Siapa mereka ini?" Pikir Rose di sela sela tangisnya.


"Kalau aku tidak mau kau bisa apa? Dia anakku maka aku berhak atas dirinya, mau ku tampar...."


Plakkk


"Mau ku tendang ..."


Bruk


"Atau ku siksa bagaimana pun bukan urusanmu !!" Ucap Wanita itu sambil menyiksa Rose di depan mereka.


Luna sudah sangat geram, hanya saja Gama menahan agar Luna tidak bertindak gegabah, mereka sedang di tangga darurat sekarang, dia takut wanita itu akan bertindak gila dan malah membahayakan istrinya.


"Tangkap!" Ucap Gama.


Srettt


Tap....tap....


Polisi bergerak cepat saat melihat kode dari mata Gama. Sebenarnya Gama sedari tadi mengalihkan perhatian wanita itu dengan mengajaknya terus berbicara dan berdebat.


Polisi sudah masuk dari lantai satu dan berjalan dengan perlahan agar tidak membuat wanita itu panik dan malah melakukan hal bodoh.


"Arhhh siapa kalian sialan!!!" Umpat wanita itu saat polisi berhasil membekuknya.


Luna langsung menghampiri gadis yang terluka itu dan memapahnya.


"Ayo Kak," ucap Luna membantu gadis itu berdiri.


Rose menangis tersedu-sedu, dia begitu hancur hati saat dihina bahkan disiksa oleh Ibunya sendiri.


wanita itu di bawa oleh polisi, sedangkan Rose dibawa Luna keluar dari ruangan itu.


"Terimakasih atas bantuannya," ucap Gama pada pihak kepolisian setelah dia mengirimkan bukti penganiayaan yang dilakukan wanita itu untuk selanjutnya akan dikenakan sanksi sesuai hukum yang berlaku.




.


.


.

__ADS_1


like, vote dan komen 😊😊😊


__ADS_2