Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
136


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 6.30 malam, Rendy memasang proyektor yang terhubung dengan laptop yang di bawanya dari kantor atas perintah Gama.


Ini adalah waktu mendekati acara pemakaman Ayah Aiden di Belanda. Pemakaman akan dilakukan pada pukul 2 siang di Belanda tepatnya Amsterdam, karena perbedaan waktu lima jam maka Gama dan yang lainnya akan menyaksikan prosesi pemakaman itu pukul 7 malam menurut waktu Indonesia.


Di negeri kincir angin tersebut tampak Kediaman keluarga besar Maureer sudah berkumpul disana untuk prosesi pemakaman mendiang tuan Jacob Laurens Maureer ayah Aiden.


Tampak Aiden begitu terpuruk, dia terus diam dan hanya menatap jasad Ayahanda tercinta yang sudah terbujur kaku di dalam peti mati.


Ibu tiri dan kedua adiknya berdiri di samping pria malang itu. Mereka juga sama terpukulnya dengan kematian tuan Jacob.


Bima dan Alex dengan setia mendampingi Aiden agar pria itu kuat. Rasa sayangnya pada sang Ayah tidak dapat digambarkan dengan kata-kata, penyesalan terbesarnya adalah dia tidak sempat berbincang banyak dengan sang ayah di saat saat terakhir hidupnya.


Bima memasang ponselnya di tripod dan melakukan panggilan video agar Sahabat- sahabat mereka di Jakarta dapat menyaksikan prosesi pemakaman itu.


Prosesi pemakaman dilakukan sesuai dengan ketentuan dan agama kepercayaan mereka.


Selama acara berlangsung, Aiden yang paling muram diantara semua yang menghadiri acara itu.


Keluarga Maureer memiliki sebuah perusahaan yang bergerak di bidang otomotif, oleh karena itu pemakaman tuan Jacob di hadiri oleh banyak orang karena beliau terkenal sebagai seorang pengusaha yang dermawan dan terkenal baik di kalangan masyarakat.


Ayah Aiden adalah anak tunggal dan kakek nenek Aiden sudah lama meninggal, kerabat yang datang berasal dari kerabat ibu sambungnya.


Disana juga tampak ibu kandung Aiden yang turut serta menghadiri pemakaman itu untuk menghargai mantan suaminya.


Dari Jakarta, Gama dan yang lainnya menyaksikan prosesi pemakaman itu dengan seksama, mereka sangat paham kalau Aiden tengah berada di sisi terburuk dalam hidupnya saat ini.


"Aku jadi merasa bersalah karena tak bisa mendampinginya," ucap Ken pelan saat menyaksikan prosesi pemakaman itu.


"Jangan sedih bro, dia juga paham, makanya kau harus cepat sembuh," ucap Gama sambil menepuk bahu pria itu.


Selama prosesi pemakaman, Aiden menangis tersedu-sedu, dia benar-benar kehilangan sosok ayah yang selama ini menjaga dan membesarkan dirinya dan adiknya Ben.


Aiden yang paling terpukul karena ia tinggal di luar negeri dan tidak memiliki banyak kenangan bersama ayahnya.


Di Indonesia, Luna, Andin dan Anna tampak turut menangis saat menyaksikan prosesi pemakaman itu, mereka juga turut sedih saat melihat Aiden benar-benar rapuh.


Prosesi pemakaman telah selesai dilakukan, dan semua orang yang melayat sudah pulang setelah mengucapkan bela sungkawa kepada keluarga yang berduka.


Kini tinggal keluarga besar Maureer yang tinggal di dalam rumah besar itu.


Bima sudah memutuskan video call mereka dan akan melakukan panggilan lagi setelah pertemuan keluarga Maureer selesai.


"Aiden, Papa punya pesan untukmu sebelum dia pergi, Papa meminta kamu untuk melanjutkan perusahaan Maureer," ucap Ibu sambungnya yang duduk di samping Aiden sambil menepuk bahu pria itu.

__ADS_1


Aiden menatap ibu sambungnya masih dengan mata berkaca-kaca.


"Apa hanya itu yang Papa sampaikan Ma?" Tanya Aiden.


"Papa menitipkan surat ini untuk kamu, bacalah ada pesan Papa disana," ucap Nyonya Maureer.


Aiden menerima surat yang ditulis langsung. Oleh Ayahnya sehari sebelum dia jatuh sakit dan meninggal karena serangan jantung, sebenarnya tuan Jacob seperti sudah mengetahui bahwa waktunya sudah dekat, oleh karena itu dia menyiapkan surat itu untuk Aiden.


Perlahan Aiden membuka surat itu, ia membaca satu persatu kata dalam surat itu yang terukir dengan indah dengan tinta hitam disana.


Ia membaca pesan dari sang Ayah, kali ini tangisan Aiden semakin menyedihkan, dia benar-benar terpukul apalagi saat membaca surat itu.


".....Papa meminta maaf atas semua kesalahan di masa lalu, maaf telah menyakiti hatimu nak, Papa sangat menyayangimu Aiden putra kecil Papa yang tampan, arhhh kalau mengingat saat kamu lahir waktu itu, Papa benar benar bersyukur bisa bertemu pangeran kecil yang tampan seperti mu nak, Papa mendoakan kebahagiaanmu, jangan berlarut dalam kesedihan, Papa menyayangimu,...."


Pesan tuan Jacob dalam surat itu, Aiden menangis tersedu-sedu ia reflek memeluk Ibu sambungnya dengan air mata yang membasahi pipinya.


"Ma...arhhh....Papa kenapa pergi secepat itu, Aiden belum sempat bahagikan Papa, Aiden gak sanggup kalau Papa pergi secepat ini," lirih pria itu.


Nyonya Maureer membalas pelukan Aiden sambil menepuk-nepuk punggung pria itu. Wanita itu menyayangi Aiden dan Ben dengan tulus, meski dia Ibu sambung kedua anak itu, dia menganggap mereka sebagai anak kandungnya.


Nyonya Maureer memiliki seorang anak laki laki berusia seumuran dengan Anna adik perempuan Gama.


"Tuhan sayang sama Papa makanya Papa di panggil secepat itu nak, jangan menangis lagi, Papamu sangat menyayangi dirimu, lakukanlah yang terbaik agar Papa bangga padamu nak," ucap Nyonya Maureer menenangkan Aiden.


Nyonya Maureer menangis haru, ini kali pertama pria itu mau berbicara panjang lebar padanya, dan pertama kalian Aiden memeluk Nyonya Maureer seerat ini.


"Arhhh....Aiden Mama juga sayang sama kamu," ucap Nyonya Maureer menangis haru.


Bima dan Alex juga ikut terharu dengan perbincangan mereka. Aiden memiliki sifat yang hampir sama dengan Luna, mereka sama sama menyimpan kesedihan mereka di balik sifat kocak dan jahil mereka.


Ben dan adiknya yang biasa dipanggil Joshua juga menangis sedih dengan kepergian sang Papa tetapi mereka senang karena Aiden tampaknya benar-benar menerima nyonya Maureer saat ini.


"Ma, Aiden akan kembali ke Indonesia, bisakah Mama ikut dengan Aiden?" Tanya pria itu sambil melepaskan pelukannya.


"Mama bisa, tapi adik adikmu nanti siapa yang jaga?" Tanya Nyonya Maureer.


"Cuma sebulan kok, setelah itu Mama ku kembalikan pada Ben dan Josh," ucap Aiden.


"Ben,Josh bolehkan aku pinjam Mama sebulan?" Tanya Aiden pada kedua adiknya.


"Ck.... emangnya Mama itu mainan? Gak boleh, Mama harus disini bareng kami," celetuk Ben.


"Ohh...ayolah aku hanya membawa Mama sebulan, aku ingin mengajak Mamaku yang cantik ini keliling Indonesia," ucap Aiden.

__ADS_1


"Bagaimana Josh, apa kita mengijinkan Mama di pinjam oleh kakak somplak ini?"tanya Ben pada Joshua.


"Ck... sebenarnya aku tak rela kalau kak Aiden membawa Mama, tapi....tak apa lah, tapi setelah itu bawa Mama kembali dengan paket lengkap!" Ucap Joshua.


"Astaga kalian ini, kalian pikir Mama barang yang bisa dipakai untuk pinjam meminjam hah?" Gerutu Nyonya Maureer.


"Hahahhaha Hahahahah," mereka tertawa bersama.


"Jadi bagaimana Ma? Mama mau ikut kan? Perusahaan Papa biar Ben dan Josh yang mengurus, Aiden udah punya perusahaan sendiri, Aiden cuma mau membahagiakan Mama mengganti waktu yang nggak Aiden lewatkan bersama Papa, Aiden gak mau menyesal untuk kedua kalinya," pinta Aiden.


Nyonya Maureer menatap Ben dan Joshua, mereka mengangguk sambil tersenyum lembut pertanda menyetujui ucapan kakak laki laki mereka.


"Baiklah Mama akan ikut denganmu nak," ucap nyonya Maureer.


"Benarkah? Wah YESS!!" Teriak Aiden bahagia, dia menghamburkan pelukannya pada nyonya Maureer sambil meledek kedua saudara.


"Weeekkk, Mama milikku sekarang, kalian minggir dulu sana, jauh jauh!" Ledek Aiden.


"Cih kekanak Kanakan," decih Ben dan Joshua walaupun sebenarnya hati mereka senang dan tenang saat melihat kakak dan Mama mereka akur.


"Lalu kapan kalian akan berangkat kak?" Tanya Ben.


"Hmm kami akan pulang tiga hari lagi, setelah aku memeriksa perusahaan Papa dan memastikan kalau kau bisa mengurusnya," ucap Aiden.


"Tenang saja kak, serahkan pada kami berdua," ucap Ben dan Josh sambil tersenyum.


"Aku sih yakin dengan kalian, yang tidak kupercaya adalah musuh musuh di dalam selimut yang berkeliaran di perusahaan Papa," ujar Aiden sambil melepaskan pelukannya dari nyonya Maureer.


"Apa kamu sudah tau nak?" Ucap nyonya Maureer.


"Sudah Ma, Aiden akan membereskan mereka dulu setelah itu kita berangkat," ucap Aiden.


"Baiklah terserah bagaimana baiknya saja," ucap Nyonya Maureer.


Drrrt....drrttt....drrttt


Ponsel Alex, Bima dan Aiden berbunyi di waktu bersamaan.


.


.


.

__ADS_1


jangan lupa like vote dan komen 😉😉😊😊😉😉


__ADS_2