
Hari telah berlalu, Gama mengerjapkan matanya menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya di dalam kamarnya.
Tangannya meraba sesuatu yang menghilang dari sampingnya. dia terus meraba namun tidak menemukan apa yang di carinya.
"Luna!" Teriak Gama saat sadar istrinya tidak ada di sampingnya. Semalaman dia diacuhkan oleh Luna, dia mencoba mengajak Luna berbicara namun tidak ada respon dari Luna.
Bahkan Luna tidur dengan memunggungi Gama membuat Gama semakin frustasi, dia ingin marah tapi dia tak bisa bersikap kasar pada istrinya.
"Huweekk....huweekk...uhukk...uhukk," terdengar suara seseorang sedang muntah muntah di kamar mandi.
Gama terkesiap, dia langsung melompat dari tempat tidurnya dan menghampiri Luna yang ternyata muntah dan mual di kamar mandi.
"Sayang kau kenapa? Apa kau tidak enak badan?" Ucap Gama panik, dia bersimpuh di samping Luna sambil memijut tengkuk istrinya.
"Kau kenapa? Apa kau sakit?" Tanya Gama lagi dengan perasaan khawatir.
Luna menggelengkan kepalanya, "Menjauhlah, kumohon!" Pinta Luna dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.
Gama terdiam, dia begitu sesak saat Luna memintanya menjauh, dia tidak bisa membiarkan istrinya sakit seperti itu.
"Ta..tapi sayang,"
"Please hiks hiks hiks...Menjauhlah, kau membuatku sakit," lirih Luna.
Gama terhenyak, dia tak bisa apa-apa, ingin rasanya ia memeluk Luna tapi gadis itu menolaknya.
Gama berdiri dan berjalan mundur, dia tidak keluar dari kamar mandi, Gama tetap berdiri di belakang Luna dan memperhatikan istrinya dengan instens.
"Na ada apa denganmu? Kenapa mendiamkan aku?" Tanya Gama pelan.
"Tolong jangan begini sayang, aku gak bisa kalau di diamkan," ucap Gama, terdengar suaranya sendi dan terasa kesedihan di dalamnya.
"Apa ini masalah anak? Sudah ku bilang kalau pun kita gak bisa punya anak nggak masalah sayang, aku....aku tidak mempermasalahkan itu, aku mencintaimu entah seperti apa pun keadaanmu," ucap Gama lagi.
"Aku mohon jangan diam na, please," pinta Gama.
"Maaf aku butuh waktu sendiri," ucap Luna lalu pergi keluar, gadis itu sudah berpakaian rapi hanya saja tiba-tiba tadi perutnya terasa mual dan kepalanya sedikit pusing, gejala yang biasa di hadapi oleh ibu hamil.
Gama terdiam, "Baiklah tapi jangan lama lama marahnya na," ucap Gama namun tak dihiraukan oleh istrinya.
Gama diam, dia benar-benar sedih dengan situasi mereka saat ini. Jelas jelas kemarin Luna sepertinya memaafkannya tetapi berikutnya Luna mendiamkan dirinya.
Gama membersihkan dirinya dengan frustasi, dia tak berniat pergi ke kantor sebab moodnya benar benar berantakan.
Gama menatap meja rias Luna, biasanya setiap pagi dia akan bercanda sambil menyisir rambut istrinya tapi hari ini Luna menolaknya.
Gama memakai pakaian kasual, Luna bahkan tidak menyiapkan pakaiannya. Setelah selesai berpakaian, Gama keluar dari kamar mencari keberadaan istrinya.
"Fer, Luna dimana?" Tanya Gama pada Ferdi yang berpapasan dengannya.
"Entah, apa yang kau lakukan padanya? Kenapa dia menangis?" Sarkas Ferdi dengan tatapan marah pada Gama.
__ADS_1
"Kak Gama jahat, kenapa kakak biarkan Kak Luna pergi hiks hiks hiks, Kak Luna...kakakku..kakakku pergii!!" Teriak Anna dari jauh.
"Sebenarnya apa masalahmu kak? Sampai Luna pergi, dia pamit pada kami tadi, aku benar-benar kecewa dengan mu, arhhh...sudah Fer, An ayo pergi kita cari Luna!" Ucap Andin yang baru turun dari lantai dua.
"Ayo, kami kecewa padamu kak!" Ucap Ferdi.
Anna, Ferdi dan Andin pergi keluar dari rumah itu meninggalkan Gama yang terbujur kaku saat mendengar kalau istrinya pergi dari rumah dan menangis.
"Huweekkk...ehhkk..arhh..huwekk," Gama merasakan mual di perutnya dia lari terburu buru menju wastafel dan memuntahkan air dari perutnya sebab dia belum sarapan pagi.
"Arhhh...kenapa aku ikut mual, astaga Luna kemana kamu na, jangan begini," lirih Gama.
Setelah mualnya berhenti Gama beranjak ke luar namun dia berpapasan dengan Ken yang menatapnya dengan wajah marah.
"Kau membuatku kecewa," ucap Ken.
"Dimana adikku!!" Bentak Ken.
Gama terdiam, bahkan Ken saja tidak tau dimana Luna apalagi dirinya.
"Arhhh...sial!!" Teriak Gama, dia meninggalkan Ken di rumah itu lalu langsung mengemudikan mobilnya, tujuannya saat ini adalah toko aksesoris istrinya.
"Na, dimana kamu, kenapa harus begini," ucap Gama.
Ken menatap kepergian Gama,dia tertawa terbahak-bahak melihat wajah pias sahabatnya saat mereka mengatakan kalau Luna pergi meninggalkan rumah.
"Bwahahahahha eh....ups hahahha," Ken tertawa jahil, dia mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi seseorang.
"Baiklah kak, sebentar lagi kita mulai kejutannya, lanjutkan aktingnya," ucap Luna dari seberang sana.
"Siap!!" Seru Ken.
Satu jam yang lalu, Luna keluar dari rumah setelah membuat suaminya kacau. Luna sudah di jemput oleh Aiden sedangkan Rose, Bima, Ken, nyonya Maureer, Mark, dan beberapa tamu undangan lainnya sudah berkumpul di restoran tempat mereka akan memberikan kejutan pada Gama.
Aiden memaksa agar dia yang menjemput Luna sebab pria itu benar-benar kegirangan saat mendengar kabar kehamilan Luna.
"Hai Mama cantik,ciee udah hamidun nieee...." Goda Aiden saat melihat Luna keluar dari rumah besar Park. Aiden menunggu di depan mobilnya dengan pakaian casual yang menunjuk aura ketampanan paripurna seorang Aiden.
"Ssstttt kak Aiii jangan ribut, nanti kedengarannya!!" Celetuk Luna langsung menghampiri Aiden agar mulut pria itu tidak keceplosan dan malah menggagalkan rencana mereka.
"Hehehe, ya maaf," kekeh Aiden sambil merentangkan kedua tangannya.
"Boleh kakak peluk sebentar?" Tanya Aiden.
Luna mengangguk sambil tersenyum.
"Selamat ya Na, semoga sehat sehat, baby twinnya juga sehat, kalau butuh apa apa kamu bisa minta tolong sama kakak ya," ucap Aiden sambil memberikan pelukan hangat seorang kakak pada Luna.
Luna membalas pelukan Hangat pria tampan yang sudah dianggapnya sebagai kakak itu.
"Terimakasih kak, terimakasih uncle Aiden," ucap Luna menirukan suara anak kecil.
__ADS_1
"Arhh gemesh gemeshh deh!!" Seru Aiden sambil mencubit gemas bumil di depannya itu.
"Hehehe,ya udah Ayuk keburu Gama keluar nanti," ucap Luna.
Aiden dan Luna langsung menuju ke tempat acara akan dilaksanakan.
Sementara itu di jalanan ibu kota, Gama berusaha menghubungi ponsel istrinya, dia sedang menuju gedung toko aksesoris istrinya yang sudah beroperasi sejak seminggu lalu dan sudah menerima beberapa karyawan baru.
"Arhh..kenapa ponsel Luna gak aktif, arhhh ayolah na aku mohon angkat," ucap Gama frustasi.
Gama melajukan mobilnya, dia sampai di depan toko aksesoris istrinya. Gama bergegas keluar untuk menemukan keberadaan istrinya, dia benar-benar kacau saat ini.
"Dimana Bos kalian?" Tanya Gama pada karyawan byang yang sedang bekerja disana.
"Nyonya belum tiba tuan," ucap mereka.
"Arhhh...lalu dimana dia?" Ucap Gama.
Gama kembali ke mobilnya, dia tidak menemukan Luna.
Gama mengutak-atik ponselnya, Mark dan Rendy pun tak bisa dihubungi sama sekali, Aiden, Bima juga sudah di cobanya namun tak ada satu pun yang mengangkat teleponnya.
Brakk
"Arghhhh...kenapa mereka semua tidak bisa dihubungi!!" Kesal Gama sambil memukul setir mobilnya.
"Dimana kamu na? Harus kemana kucari? Harusnya aku menahanmu tadi," ucap Gama.
Gama kembali menyalakan mesin mobilnya dia melaku menuju tempat tempat yang pernah dikunjungi istrinya.
Gama tersadar kalau selama tinggal di Jakarta, dia sangat jarak mengajak istrinya berkencan, Luna hanya disibukkan dengan merawat Ken, lalu mengurus kebutuhan dirinya dan Anna, terakhir kali mereka keluar adalah saat mereka makan bersama di street food itu pun cuma sebentar.
"Dia pasti kecewa, dia pasti kelelahan, aku mengurungnya di rumah, aku bahkan tidak meluangkan waktu berdua dengannya, arhh..aku suami yang buruk, harusnya kubahagiakan dia, aku malah membuatnya lelah bekerja dan mengurus semua keperluanku," ucap Gama.
"Bagaimana kalau dia pergi? Aku tidak bisa...jangan sampai!!" Ucap Gama.
Drrttt
Drrrttt
Ponsel Gama bergetar, pria itu menepikan mobilnya ke sisi jalan untuk melihat pesan itu.
Seketika senyumannya mengembang, dia melihat nama istrinya disana, di bukanya pesan itu namun bagai di sambar petir Gama mendapat pesan yang membuatnya khawatir.
"Datang ke restoran JavaLee, kita bicarakan hubungan ini, aku sudah tidak tahan dengan situasi ini!"
.
.
.
__ADS_1
like vote dan komen 😊😊😉