
Setelah makan siang, Luna dan yang lainnya seperti biasa melakukan semua aktivitas dan kegiatan mereka berusaha dengan bersikap senormal mungkin.
"Sayang aku berangkat dulu," ucap Gama yang dibalas anggukan kepala oleh Luna.
"Bye bye anak anak Papa, Papa kerja dulu," ucap Gama pada kedua anak kembarnya.
"Bye bye Papa," seru keduanya sambil mengecup pipi Gama yang berjongkok di hadapan mereka.
"Aku juga berangkat dulu ya, mau antar ini buat Vanya," ucap Alex yang dibalas anggukan kepala oleh mereka.
Akhirnya Gama dan Alex keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil mereka.
Sementara itu di dalam rumah Luna dan yang lainnya berusaha bersikap senormal mungkin.
"Kak aku keluar duku ya sama baby, ada urusan di toko," ucap Luna, kini mereka sedang duduk di ruang santai, mata Luna menangkap sosok bayangan yang mengawasi mereka dari celah pintu.
"Bareng aja Na, aku juga mau cek ke rumah sakit, perutku tiba tiba nyeri," ucap Mikha.
"Mami Atit? jangan Atit Mam anti Alel cedihh," celetuk bayi kecil itu.
"Ndak apa apa adek, Mami mungkin Ndak enak badan, jadi halus cepat dipeliksa ke doktel," ucap Christan.
"Oh..." Aurel mengangguk paham.
"Ya sudah kita berangkat bersama saja, aku juga mau rapat dengan klien baru, mereka udah nungguin," ucap Bima.
"Oke deh, kita berangkat," ucap Aiden.
Mereka semua pun berangkat dari rumah itu, tanpa gelagat mencurigakan sebab terasa kalau mereka sedang diawasi di rumah itu, beruntung mereka adalah orang orang yang tegas dan peka jadi hal seperti ini adalah perkara mudah bagi mereka.
Mereka semua berangkat dengan mobil yang berbeda.
Bima, Luna dan baby C berangkat bersama dan Keluarga kecil Aiden menggunakan mobil yang lain.
Saat di dalam mobil, Luna menghubungi suaminya dan memberitahukan titik kumpul mereka, di tempat yang sama sekali belum pernah mereka kunjungi untuk mengelabui kalau kalau ada orang yang mengikuti mereka.
Luna memilih sebuah Cafe yang cukup terkenal dan memiliki ruang privasi yaitu CelCaf milik Celine.
Mereka semua berkumpul di titik itu, meski harus penuh dengan kehati hatian.
Rombongan Luna lebih dahulu tiba di Cafe itu, mereka disambut dengan ramah oleh pegawai Cafe.
Si kembar yang sangat aktif langsung melihat lihat tempat itu dan mata mereka tertuju pada seorang wanita cantik yang sangat berkesan di hati mereka siapa lagi kalau bukan Celine.
__ADS_1
Celine sedang memperbaiki alat pengeras suara di ruangan kecil dalam cafe itu, tapi mata si kembar bisa melihat kalau itu adalah Celine.
"Mama itu Ante Cantik!!" celetuk si kembar yang membuat mereka menoleh ke arah mana Babay C menunjuk.
"Wah kebetulan sekali bertemu dengan nona itu disini," ucap Luna.
"Apa dia bekerja disini?" pikir Bima namun seketika itu dia cuek dan acuh.
Si kembar berjalan menuju ruangan kecil itu dan...
"Ante!!!" panggil mereka dengan suara menggemaskan mereka, Celine yang tengah serius dengan rakitannya terkejut saat mendengar suara anak kecil yang terdengar familiar di telinga nya.
"Eh.... kalian," ucap Celine sambil menoleh ke arah si kembar, segera dia berdiri dan menyingkirkan benda benda tajam dari ruang kerjanya itu agar tidak menyakiti si kembar.
"Dia cukup sigap dan tidak ceroboh," batin Bima yang mulai penasaran dengan gadis yang pernah menyelamatkan dirinya di masa lalu itu.
"Halo Ante," sapa mereka sambil memegang kedua tangan Celine.
"Jangan sayang, tangan Tante kotor, bentar tanya bersihin dulu," ucapnya yang langsung bergerak dan membersihkan tangannya.
"Nah anak anak kalian bareng siapa kesini? " tanya Celine sambil tersenyum manis di depan si kembar, senyuman yang selama enam tahun ini tak pernah dia tunjukkan lagi di hadapan orang lain namun dengan begitu tulus dia tunjukkan di hadapan si kembar.
"Baleng Mama, Daddy Bima, Papa Alex, Papi Aiden, Mami Mikha dan dedek Aulel!" ucap keduanya yang entah sejak kapan sudah naik ke atas pangkuan Celine.
"Wah Na, sejak kapan Baby C mau di gendong orang lain?" bisik Mikha yang cukup heran melihat si kembar itu.
"Emmm sejak bertemu nona itu, mungkin mereka tau kalau dia perempuan yang baik, anak anak gak pernah salah nilai orang kak," balas Luna yang dijawab dengan anggukan kepal oleh Mikha dan yang lainnya.
Celine dan si kembar menghampiri mereka.
"Selamat datang nyonya-nyonya, dan tuan tuan," sapa Celine ramah namun ekspresi benar benar datar tidak seperti saat menyapa si kembar tadi.
"Ante... Aulel mau di endong kayak Abang, Aulel mau di endong, Aulel mau Ama ante cantik!!" rengek Aurel yang tiba tiba ingin digendong oleh Celine.
Mereka semua menatap bayi kecil itu, sama halnya dengan baby C, Aurel bukan anak yang sembarangan dekat dengan orang lain, dia sangat pemilih.
"Loh sayang Antenya kan udah dendong Abang, gimana mau Gendong Aurel?" tanya Mikha yang merasa tidak enak dengan Celine.
"plisss... Aulel mau di endong ante cantik ya," ucapnya dnegan mata berbinar-binar memohon pada Maminya.
"Ante endong dek Aulel aja, Abang Chlisto tulun aja, biar dedek yang gendong," ucap Christo.
"iya Clistan juga tulun, binal dedek Aulel yang di gendong," ucap Christan.
__ADS_1
Akhirnya si kembar turun, dan Baby Aurel kini di pangkuan Celine.
"Aduh maafkan anak saya nona, dia jarang seperti ini, kami juga heran, maaf jadi merepotkan," ucap Mikha merasa segan sebab ini kali pertama mereka bertemu namun langsung membuat perempuan itu kerepotan.
"Nggak apa apa kok, lagian dia sangat menggemaskan," ucap Celine dan kali ini senyuman ramahnya benar benar terlukis di wajah gadis dingin itu.
"Halo cantik siapa namanya?" tanya Celine.
"Aulel ante, kalau Ante?"tanya Aurel.
"Panggil Tante Celine ya," ucapnya sambil mengusap pipi gembul baby Aurel.
"Ahh ada yang bisa saya bantu ?" tanya Celine saat menyadari mereka hanya berdiri saja disana.
"Oh iya jadi lupa, kami butuh private room apakah ada yang kosong?" tanya Aiden.
"Ada tuan, sebentar ya," ucapnya.
"Nia, apa ruang private kita ada yang kosong?" tanya Celine.
"Waduh semua sudah di booking Bu," ucap Nia.
"Kalau begitu buka ruang nomor 7, " ucap Celine.
"Tapi bukankah itu ruangan ibu?" tanya Nia gadis pelayan itu.
"Nggak masalah, lakukan saja perintah ku, " titah Celine dengan aura bos yang sangat mendominasi.
"Baik Bu!" ucap Nia yang langsung bergerak menuju ruang private nomor tujuh yang biasa di pakai oleh Celine untuk bersantai dan tak pernah dia berikan di pakai oleh orang lain.
"Silahkan ikut saya," ucap Celine sambil berjalan mendahului mereka dan membawa Aurel di pangkuannya sedangkan baby C berjalan di sampingnya sambil memegang ujung baju gadi cantik itu.
"Jadi dia pemilik cafe ini, hmmm... wanita yang mandiri, eh.. kenapa aku jadi mikirin dia, haduh fokus Bima fokus!!!" batin Bima yang entah kenapa merasa penasaran dengan Celine.
.
.
.
jagan lupa, like vote dan komen ya 😊😊😉
penasaran apa mulai ada perasaan Bim?
__ADS_1