
Bulan berkuasa di atas langit menandakan bahwa makhluk ciptaan Tuhan tengah terlelap menikmati mimpi mereka malam ini.
Alex telah kembali ke apartemennya, besok dia akan pindah ke rumah besar Park menuruti keinginan si gadis cerewet.
Hubungan mereka semua telah membaik, Bima dan Ken sudah meminta maaf pada Alex dan mereka menerima pria itu.
Bagaimana nasib tuan Jae Sung, Laura, Gisel dan Melly? Mereka sedang menunggu eksekusi yang akan diberikan Gama dan Ken pada mereka.
Di dalam kamar Gama dan Luna tampak kedua insan tersebut belum terlelap. Luna sedang mengelap tubuh suaminya yang tampak lusuh setelah ia membersihkan dirinya sendiri sebelumnya.
"Astaga apa kamu gak mandi hmm? Ini badan kamu kotor banget," ucap Luna yang sedang mengelap lengan suaminya.
Luna mengangkat handuk basah yang terlihat ditempeli daki daki dari tubuh Gama itu, tak ada rasa jijik pada gadis itu, dia melakukannya dengan benar-benar lembut dan penuh perhatian.
"Ck...ck...ck baru ditinggal beberapa hari aja kamu udah sejorok ini, kamu bisa sakit nanti kalau nggak hidup bersih," gerutu Luna.
"Sayang separuh hidupku pergi apa aku masih sanggup mandi sementara kamu gak jelas dimana keberadaannya, aku nggak tenang," ucap Gama.
Luna menggelengkan kepalanya, dia tidak habis pikir dengan pria ini.
"Sayang, kalau kau tidak sehat bagaimana caranya kau bisa menemukan diriku? Bayangkan kalau aku gak pulang tadi, apa kau akan menyerah begitu saja dan depresi seperti ini hmmm?" Ucap Luna.
"Jadi jika terjadi sesuatu seperti ini entah kapanpun itu kau harus kuat!" Ucap Luna.
Mendengar kata-kata Luna, pria itu langsung mengubah posisinya yang berbaring menjadi duduk menghadap Luna.
"Nggak, aku gak bakalan biarin kejadian seperti ini terjadi lagi, cukup sekali, aku tidak mau kehilangan kamu lagi," ucap Gama yang tiba-tiba memeluk Luna dengan erat.
Luna tersenyum, dia membalas pelukan suaminya setelah meletakkan handuk tadi di nakas dekat ranjang mereka.
"Makanya cepat sembuh tuan Park," ucap Luna.
"Hmmm, akan kuusahakan Nyonya Park," balas Gama.
Gama melepaskan pelukan mereka, perlahan tangannya mengelus wajah sang istri yang menurutnya kian hari kian cantik dan menggemaskan.
"Kau semakin cantik saja," ucap Gama sambil menatap Luna. Luna melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami sedangkan satu tangan Gama memeluk Luna dan tangan yang lain sedang mengelus wajah cantik itu.
"Tentu saja, ternyata semua produk itu berguna juga heheheh," ujar Luna sambil melirik deretan skincare yang tersedia di meja riasnya.
"Baguslah kalau berguna," ucap Gama.
Mata mereka saling bertatapan, menatap dalam ke netra masing-masing. Tatapan lembut dan penuh cinta bukan *****. Ketika api cinta kian membara, insting akan memimpin dalam permainan ini.
Entah siapa yang memulai dahulu kini kedua insan itu saling mengecap satu sama lain, kecupan yang lembut perlahan berubah menjadi ciuman panjang yang kian menuntut.
Gama menarik tengkuk Istrinya, dengan lembut dia mengecup sang istri membuat Luna terbuai dengan permainan Gama. Perlahan Luna mulai terbiasa dan membalas ciuman suaminya. Ia mengeratkan tangannya di leher pria pencuri hatinya itu.
Lidah Mereka saling bertautan menjelajahi setiap rongga yang bisa mereka jangkau. Gelenyar Aneh dan nikmat mengalir di tubuh keduanya, meski bukan ciuman pertama mereka tapi ini selalu terasa baru bagi mereka berdua.
Saat merasa kehabisan nafas Gama melepas ciumannya, tampak wajah Luna merona, gadis itu menunduk malu dan seperti biasa telinga akan memerah Semerah tomat.
Cup
Satu kecupan lembut mendarat di kening Luna.
"Aku mencintaimu sayang," ucap Gama seraya mengangkat kepala Luna sehingga mereka saling bertatapan.
Luna tersipu malu, ia membalas tatapan suaminya meski jantungnya rasanya tidak dapat dikendalikan lagi.
"Aku juga mencintaimu sayang," ucap Luna spontan memeluk Gama seperti anak kecil ia menyembunyikan kepalanya di dada bidang sang suami.
__ADS_1
"Uhhh kau menggemaskan sekali sayangku, " ucap Gama.
"Heheheh, iya dong," jawab Luna sambil mengangkat kepalanya dan menatap suaminya lagi.
"Terimakasih sudah mencintaiku, dan terimakasih sudah kembali pangeran kecil yang nakal!" Ucap Luna seraya mengelus pucuk kepala suaminya dengan gemas.
"Pangeran kecil? Emmmm....apa kau..." Ucap Gama terputus saat melihat anggukan dari Luna.
"Kenapa kau tidak memberitahukan kalau kau adalah sosok anak lelaki itu hmmm?" Tanya Luna seraya mencubit gemas kedua pipi Gama.
"Maaf sayang, suamimu ini terkadang lupa, beberapa kali aku ingin mengucapkannya tapi selalu gagal, jadi kutunggu waktu yang tepat saja," ucap Gama seraya menggaruk tengkuknya.
"Hmmm ga apa apa deh yang penting kamu ada disini dan disini sekarang," ucap Luna sambil menunjuk Gama dan dadanya secara bergantian.
"Terimakasih karena menantikan ku sayang, tak kusangka kita dipertemukan kembali Dengan cara yang unik," ucap Gama.
"Iya," jawab Luna.
"Ngomong-ngomong kamu tau dari mana?" Tanya Gama.
"Aku melihat foto masa kecilmu dengan Kak Alex terpajang rapi di apartemen kakak itu, disitu aku menyadari kalau kau adalah bocah kecil itu,"jelas Luna yang dibalas anggukan oleh Gama.
"Hmmm ternyata begitu," ucap Gama mengerti.
"Emmm...sayang ada yang ingin kutanyakan," ucap Luna.
"Apa? Tanya saja," ucap Gama seraya menatap istrinya.
Luna memperbaiki posisi duduknya, lalu menatap Gama dengan serius.
"Ada apa hmm?" Tanya Gama sekali lagi.
"Kenapa kau menanyakan itu?" Tanya Gama .
"Ummm, sepertinya ada masalah dengan tangan kak Ken, tadi aku memeluknya dapat kurasakan tangannya gemetaran, sebelumnya juga seperti itu tapi tidak separah hari ini!" Ucap Luna.
"Jadi kau menyadarinya juga, aku sudah lama memperhatikan tangan nya ,bukan hanya itu dia sering tiba tiba pusing, kalau ditanya kenapa dia hanya jawab kelelahan Bekerja, aku tidak yakin dengan jawabannya itu!" Jelas Gama.
"Huuffttt sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan kak Ken dari kita semua!" Ucap Luna.
"Iya dia mencurigakan," ucap Gama.
"Haaaahhh, aku jadi khawatir kalau begini," lirih Luna.
Gama memegang kedua bahu gadis itu dan menatapnya dengan intens.
"Jangan khawatir, aku akan cari tahu tentang hal ini, sekarang kita beristirahat ini sudah larut malam!" Ucap Gama.
"Hmmm.... baiklah, aku juga sudah mengantuk," ucap Luna.
Luna membereskan peralatannya tadi lalu membuka kaki palsunya dan beranjak ke samping suaminya.
"Apa kakimu masih sakit?" Tanya Gama.
" Tidak terlalu sakit, hanya saja sering nyeri dan lecet," ucap Luna yang kini sudah berada di samping suaminya.
Gama memeluk istrinya dengan posesif begitu juga dengan Luna.
"Selamat malam sayang," ucap Gama sambil mengecup kening istrinya.
"Selamat malam juga sayang," balas Luna sambil memeluk Gama dengan erat.
__ADS_1
Mereka terlelap dalam tidur mereka yang tenang dan damai.
Tak terasa waktu berlalu, hari berganti menjadi pagi, menandakan hari ini akan dimulai aktivitas baru.
Namun terjadi kegaduhan di lantai dua, tidur semua orang terganggu akibat ulah seorang manusia minim akhlak yang berteriak-teriak di pagi hari.
"Arhhhhhhhh tiiiiidaaaaaakkkkkkkkkkkk!!!" Teriak si pembuat onar siapa lagi kalau bukan Aiden.
Dia keluar dari kamarnya sambil berteriak teriak seperti orang gila yang histeris, dia mengetuk kamar semua orang dengan panik.
"Aaaaaaaa....tolong!! Tolong tolong akuuuu, " teriak Aiden semakin kencang membuat semua penghuni rumah besar itu terbangun dan panik saat mendengar teriakan minta tolong dari si manusia minim akhlak.
"Ada apa tuan!!" Ucap Bi Eni yang segera berlari menaiki tangga bersama beberapa pelayan lain.
Andin, Anna, Ferdi, Bima dan Ken keluar dari kamar mereka masing-masing di lantai dua itu dengan wajah panik dan khawatir saat mendengar teriakan minta tolong dari Aiden.
Bahkan Mark dan Rendy yang menginap disana juga sampai terkaget dan berlari pontang-panting keluar kamar.
" Astaga ada apa Aiden??" Tanya mereka khawatir, kini semua orang berkumpul mengelilingi pria itu, selain pasangan Park yang memang tidak terganggu dengan teriakan pemecah telinga pria itu.
"Tolong aku huhuhuhu," tangis Aiden tersedu-sedu.
"Ada apa Den?'"tanya Bima panik, wajah mereka masih wajah bantal.
"Tumbuh jerawat di wajah ku huhuhuhu, tiiiiidaaakkkk, bagaimana ini arhhhhh," rengek Aiden sambil menunjuk tiga buah jerawat di wajahnya.
Mereka semuanya tepok jidat, dikira ada apa apa ternyata hanya jerawat.
"Arhhh Aiiiiideenn........!!!!" Teriak mereka kesal.
"Ck....dasar tuan Aiden, dikira ada apa apa, ganggu tidur aja!" Gerutu Bi Eni.
"Haissshhh...kau merusak mimpiku Aideeennn...." Kesal Bima.
"Aiiideeennnn ingin rasanya ku jahit mulutmu itu!!!" Ketus Ken.
"Kak Aiii kalau boleh tiap hari teriak teriak, lumayan alarm gratis!" Sindir Anna.
"Bro, sepertinya Anda dalam masalah besar!" Ucap Ferdi.
"Kupikir ada apa-apa," batin Mark dan Rendy.
Mereka semua meninggalkan Aiden disana sendirian. Aiden menggaruk kepalanya bingung, kenapa semua orang marah padanya pikirnya.
"huhuhuhu, wajah tampanku rusak gara gara jerawat tengil ini!!"rengek Aiden
kau selalu melakukan hal-hal aneh Aiden!
pengen kesal tapi ini Aiden, urgghhhh untung author sayang 😏😏
.
.
.
jangan lupa like, vote dan komen 😊😊😊😉
author upnya nanti lagi ya,
__ADS_1