Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
137


__ADS_3

Drrttt drrtt drrtt .....


Ponsel Alex, Bima dan Aiden berbunyi bersamaan. Mereka saling memandang lalu membuka ponsel masing-masing, tampak nomor ponsel si gadis cerewet yang sedang melakukan panggilan video grup.


Mereka bertiga tersenyum sampai membuat Nyonya Maureer, Ben dan Josh sedikit bingung dengan apa yang terjadi.


"Halo kakak kakakku yang tampan!" Seru Luna dari seberang sana dengan wajah cantiknya yang memenuhi layar ponsel membuat mereka bertiga tersenyum.


"Halo Luna, " jawab mereka sambil melambaikan tangan.


"Kak Aiden kapan pulang? Kakak kok pucat, kakak gak makan ya? Kenapa mata kakak merah, ihh ingusnya keluar loh kakak jorok ih, kakak belum mandi ya sejak tiba disana, kakak jorok banget sihh," ledek Luna.


"Hahahahhahah,astaga Luna sudah jauh begini tapi kau terasa berada di dekat kami, mana ada ingus kakak keluar, kamu tuh obang hidungnya berbulu ihkk," balas Aiden.


"Ck ...hahhaha, masa iya, coba cek kak," ucap Luna sambil mengarahkan hidungnya ke kamera.


"Pffthh hahhahahahaha, Luna Luna, stop kakak bisa mati kejang kejang karena ketawa hahahahh," Bima, Aiden dan Alex tertawa terbahak-bahak melihat tingkah gadis itu.


"Heheheh, kalian bagaimana disana, apa semuanya aman?" Tanya Luna yang masih menguasai ponselnya,dia tidak membiarkan yang lain berbicara dengan ketiga pria itu.


"Aman na, kakakmu bagaimana?" Tanya Alex.


"Kak Ken sudah mengikuti pengobatan, semoga saja dia cepat sembuh," ucap Luna.


"Kita doakan yang terbaik ya Na, ngomong-ngomong yang lain mana?" Tanya Bima.


"Ahhh, mereka di belakang Luna heheh, bentar ya," ucap Luna sambil mengarahkan kamera ponselnya ke arah Ferdi, Andin, Mark, Gama, Ken dan Rendy, mereka melambai pada ketiga pria itu.


"Kak Aiden jangan sedih lagi ya, ingat kita ada disini mendukung kakak!" Seru Luna menyemangati Aiden, yang lain juga ikut mengangguk menyetujui perkataan Luna.


"Terimakasih, huh...kalian baik sekali, babang tamvan mau nangis eiii, hiks hiks hiks," gurau Aiden yang memang merasa sangat terhibur.


"Utututu, jangan nangis kak Aii yang tampan, nanti kita beli permen ya, cepat pulang kita nanti jalan jalan," seloroh Luna yang malah mengundang gelak tawa.


"Hahahhahahah,"


"Hahaha, baiklah Luna, kami akan pulang tiga hari lagi, oh iya perkenalkan ini..." Aiden mengarahkan ponselnya pada Mamanya.


"Ini Mama kak Aiden, Nyonya Maureer yang cantik," ucap Aiden memperkenalkan ibu sambungnya pada Luna dan sahabat sahabatnya, Ibu sambung Aiden adalah orang Indonesia tulen jadi dia fasih berbahasa Indonesia, Inggris dan Dutch(Belanda) begitu juga dengan saudara-saudara Aiden mereka fasih berbahasa Indonesia.


"Halo Aunty!" Sapa mereka sambil melambaikan tangan dan tersenyum.


"Halo semuanya," sapa Nyonya Maureer sambil tersenyum manis.


"Wahh,Mama Kak Aiden bisa bahasa Indonesia!" Celetuk Luna yang membuat mereka tertawa akibat tingkah gadis itu.


"Mama kakak itu orang Indonesia tulen Dek, jadi bahasa Indonesianya lancar kaya air!" Jelas Aiden yang membuat Luna manggut-manggut mengerti dengan maksud Aiden.


"Ma kenalin gadis cerewet ini istrinya sahabat Aiden yang namanya Gama, dia adik kandungnya Ken yang juga pernah datang kesini waktu Aiden dipanggil papa," jelas Aiden yang dibalas anggukan oleh Nyonya Maureer.


"Mereka itu Andin, Ferdi, Anna adiknya Gama, Mark dan Kak Rendy teman teman Aiden di Indonesia," jelas Aiden lagi.


"Halo semuanya, saya Anita Maureer Ibu sambungnya Aiden, salam kenal ya," sapa wanita itu sambil tersenyum.

__ADS_1


"Salam kenal Aunty Maureer!"ucap mereka.


"Aunty cantik baanget!" Celetuk Luna.


"Cantik dong, Mamanya Aiden," ucap Aiden bangga.


"Nah kedua bocah tengil ini.." Aiden mengarahkan ponselnya pada Ben dan Josh.


"Ini adikku Benedictus dan Joshua," ucap Aiden.


"Halo kak," sapa mereka.


"Halo tampan!" Ucap Luna sambil melambaikan tangannya pada kedua adik Aiden.


"Wah kakak cantik sekali," goda Ben yang membuat Luna tersenyum.


"Wes ya cantik dong Ben, kan perempuan kalau tampan itu kamu," balas Luna yang malah membuat Ben salah tingkah.


"Hahahah, Luna semua orang mati kutu di hadapanmu," ujar Bima.


"Iya dong hehehe," Luna terkekeh.


Lama mereka berbincang bincang, kesedihan yang tadinya menyelimuti rumah keluarga Maureer itu kini tergantikan dengan kehangatan meskipun rasa sedih itu masih sangat membekas.


...****************...


Hari berlalu, mereka kembali melakukan aktivitas mereka seperti biasanya, sudah seminggu berlalu tapi ternyata Aiden, Bima dan Alex tidak bisa kembali sesuai dengan jadwal sudah mereka rencanakan.


Ternyata masalah di perusahaan Maureer lebih komplit, akhirnya Bima dan Alex membantu Aiden menangani masalah di sana.


Seperti biasa Luna akan menjaga dan mendampingi kakaknya di rumah sakit, bisnis aksesoris Luna sudah berpindah lokasi ke gedung baru.


Mereka sedang mengurus perizinan dan hal hal yang berkaitan dengan pendirian usaha lainnya.


Andin dan Ferdi didampingi oleh Rendy atas perintah Gama, hal ini membuat mereka lebih mudah mengerjakan pekerjaan mereka sebab Rendy sangat berpengalaman dalam hal ini.


Sedangkan Mark ditugaskan untuk mengurus kasus tuan Jae Sung. Melly, Gisel dan Laura juga akan di jeroboskan ke balik jeruji sesuai dengan perbuatan mereka. Putusan hakim akan keluar seminggu lagi.


Sedangkan kondisi Ken mulai berangsur membaik hanya saja gejala pusing, mual dan muntah kerap di alami oleh Ken.


Hal ini membuat Luna khawatir dan tidak mau meninggal kakaknya di rumah sakit sendirian, terkadang dia akan menginap di rumah sakit jika Ken kambuh.


Seperti hari ini, Luna tengah membantu Ken yang sedang mual mual dan memuntahkan semua makanannya.


"Huweekkk...uhuk...huweekkk," Ken memuntahkan semua isi perutnya padahal baru saja dia makan.


Luna berusaha tenang dan tidak panik, apalagi hanya dia yang mendampingi Ken saat ini.


Suaminya sedang mengikuti rapat dadakan dan membantu mengurus perusahaan Ken yang sedang menghadapi beberapa masalah bersama asisten Ken.


Pukk


Pukk

__ADS_1


Pukk


Luna menepuk-nepuk punggung kakaknya yang sedang memuntahkan seluruh isi perutnya ke dalam wadah penampung.


"Uhukk...uhukk," Ken terbatuk, rasa sakit di kepalanya cukup serius.


Luna dengan gesit mengurus kakaknya, dia langsung menyingkirkan wadah itu lalu memberikan air minum pada kakaknya.


"Minum dulu kak," ucapnya.


Ken meminum air hangat yang diberikan Luna padanya, kepalanya sakit bahkan lehernya sanat kaku saat ini.


Luna mengelap keringat kakaknya dan membersihkan kakaknya dengan telaten dan penuh perhatian.


"Kakak makan lagi ya, setelah itu minum obat," pinta Luna dengan suara bergetar berusaha untuk tetap kuat dan Ken menyadari itu.


Ken mengangguk lemah, meski dia tidak punya selera makan dia berusaha memakan semua makanan yang disiapkan Luna untuknya, dia ingin cepat sembuh.


"Maaf ya Na, kakak malah membuat mu kesulitan," lirih Ken.


Luna menggeleng pelan, dia menggenggam tangan kakaknya sambil tersenyum lembut.


"Kakak nggak ngerepotin Luna, justru Luna senang berada di sisi kakak saat kakak sakit seperti ini," ujar Luna menguatkan kakaknya.


"Kakak harus sembuh, kakak harus bahagia, Luna akan menjaga kakak terus, kakak jangan khawatir, sekarang kita sama-sama melawan penyakit kakak," ucap Luna.


"Terimakasih sayang, kakak bangga punya adik berhati malaikat seperti dirimu," ucap Ken sambil mengelus kepala adiknya.


"Tenang saja Kak, Luna akan selalu mendampingi kakak, ingat kami semua ada untuk kakak, jangan kecewakan kami, jangan sakit lagi ya,"pinta Luna tanpa terasa air matanya lolos begitu saja.


Ken mengelus wajah Luna, dia merasa bersalah karena seharusnya dia membahagiakan adiknya bukan malah menyusahkan gadis itu.


"Sudah ayo makan lagi, kakak harus makan setelah itu minum obat," ucap Luna sambil tersenyum.


Ken mengangguk,dia melahap semua makanannya dan setelah itu dia meminum obat yang disediakan oleh Dokter George.


"Kakak pasti sembuh!" Ucap Luna lagi.


"Amin, kakak pasti akan sembuh Na," ucap Ken.


"Nah sekarang kakak istirahat ya, Luna mau cari asisten dulu untuk bantu Luna merawat kakak disini sekaligus mau cari karyawan baru untuk toko aksesoris Luna," ujar Luna sambil meletakkan piring yang dipakai Ken tadi.


Luna bangkit berdiri dia memperbaiki selimut kakaknya dan memberi kecupan di pipi kakaknya.


Cup


"Sehat sehat ya kakak Luna yang tampan," ucap Luna sambil tersenyum.


Ken menanggapinya dengan tersenyum, kemudian memejamkan matanya untuk tidur.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like vote dan komen 😉😉😊😊


__ADS_2