Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
179 ( Bima, Aiden dan Panti)


__ADS_3

"Kak Bimaaaaa!!"teriak Luna dengan senyum sumringah di wajahnya saat melihat siapa pria yang menyapa mereka dengan nada yang sangat sopan itu.



Seminggu di Swiss membuat Bima benar-benar telah mengubah seluruh penampilannya menjadi lebih keren dan wah tampan paripurna melebihi ketampanan seorang Aiden yang sedang galau.


"Wow, aktor dari mana ini!" celetuk Gama sambil menyambut sahabat baiknya.


"Oze jangan di lihat nanti kamu gak kuat, tunggu sampai aku berubah juga, okee!" ucap Ken sambil menutup mata Rose.


"Astaga Ken, pemandangan gratis gini mana boleh dilewatkan," ucap Rose sambil menyingkirkan tangan Ken.


"Pffftthhh hahahhahah, ternyata aku gak salah pilihkan jodoh ya kak Ken," sindir Luna sambil melirik kakaknya.


"Heheheh, pilihan Luna kan selalu yang terbaik," kekeh pria itu sambil menggaruk tengkuknya.


"Kau selalu saja cemburu Ken, kau pikir aku akan merebut pacarmu, tak mungkinlah kita ini saudara tak mungkin aku menikung sahabatku sendiri,lagi pula Rose mana mau samaku, dia mah udah kelepek kelepek pada mu!" celetuk Bima sambil meletakkan barang-barang nya.


"Iya kan Rose?" tanya Bima sambil menaikkan satu alisnya.


"Tentu saja," ucap Rose yang langsung membuat Ken tersenyum.


" tentu saja aku mau bersamamu kalau pria di sampingku ini bermain main denganku," lanjutnya yang langsung otomatis membuat Ken mengerucutkan bibirnya.


"ck... siapa yang bermain-main denganmu Ozee," ketus Ken.


"Hahaha, kalian lucu sekali," ucap mereka.


"Bagaimana urusanmu kak Bima, apa sudah selesai? kenapa kakak cepat sekali pulang? bukannya kakak perempuan mu baru melahirkan?" tanya Luna penasaran.


"Aku cepat pulang karena ada yang bilang merindukanku, apa aku tidak di terima disini?kalau begitu aku kembali saja kesan," ucap Bima.


"Eh jangan sekarang dong kak, entar aja heheh, Luna dan ponakan kakak udah kangen soalnya sama pria tampan ini meski lebih tampan suami Luna sih hehehe," kekeh Luna.


"Heheh kakak juga kangen sama tukang ngomel ini," ucap Bima sambil menepuk pucuk kepala Luna.


"halo ponakan Paman!" Sapa Bima sambil memandang perut bucit adiknya.


Dug.. dug.. dug


"Wah mereka merespon!"ucap Luna sambil menatap suaminya dan Bima bergantian.


"Benar, wah anak anak Papa pasti senang ketemu sama paman Bina ya," ucap Gama sambil memegang perut istrinya.


dug dug dug


"Ahahahah, Bim coba kau sentuh perut istriku sepertinya ponakanmu senang sekali bertemu denganmu," ucap Gama pada sahabatnya.


"Ahh bolehkah? apa tidak masalah?" tanya Bima sedikit ragu.


"Boleh kak, cobalah," ucap Luna sambil tersenyum.


Dengan ragu dan sedikit takut tapi penasaran, Bima menyentuh perut Luna yang sudah membuncit itu.


"Bicaralah, supaya mereka merespon!" ucap Gama.


"Halo ponakan Paman, ini Paman Bina udah kembali dari Swiss, Paman rindu kalian, sehat sehat ya disana sebentar lagi kita akan bertemu,"ucap Bima.


Dugg... dugg.. dugg


"Awhh.. wah hahaha,mereka bersemangat sekali kak," ucap Luna yang merasakan pergerakan bayinya yang selalu merespon jika diajak berbicara seperti ini.


"Me.. mereka merespon ku!!" Bima terbelalak, dia menatap tangannya sendiri sampai...

__ADS_1


Brukk


Bima terjatuh ke atas lantai tak percaya dengan apa yang dia alami tadi.


"Ba.. bagaimana bisa? mereka bahkan senang bertemu denganku, ahhh aku... aku kagum sekaliiiii!!!" ucap Bima yang benar-benar terkejut dengan hal baru ini.


Mereka semua tertawa melihat tingkah Bima, respon bayi kembar Park memang saat tinggi, apalagi kedua orangtuanya sangat aktif mengajak anak-anak mereka berbicara.


Sementara itu di sebuah panti asuhan yang cukup sederhana, mobil Aiden sudah tiba di tempat itu.


Dia dan Ferdi keluar dari mobil sedan itu, kedua pria tampan mempesona itu menatap gedung panti yang tampak sederhana namun tertata dengan rapi dan terawat.


Tampaknya panti asuhan itu sudah berdiri sangat lama dapat dilihat dari ornamen bangunan yang masih mengusung konsep tahun 80 an.


"Benar ini tempatnya kan?" ucap Aiden sambil menatap Ferdi yang berdiri di sampingnya.


"Benar kak, sesuai dengan yang kirimkan oleh Luna," ucap Ferdi.


Mereka pun melangkahkan kaki mereka menuju bangunan itu.


Tok...


Tok...


Tok...


Pintu depan diketuk, Aiden memanggil siapa pun yang ada di dalam panti asuhan itu.


"Permisi," panggil Aiden.


Terdengar suara langkah kaki seseorang mendekati pintu.


Ceklek.....


Deghh


Mata Aiden dan gadis itu bertemu, waktu seolah berhenti dan mereka bertatapan untuk beberapa detik.


"Ekhmm.. a.. ada apa tuan tuan?" tanya Gadis itu, nampak sekali dia sedang menyembunyikan rasa gugupnya.


"Ahhh... Ekhmm.. kami ingin bertemu dengan pemilik panti ini, apa beliau ada disini?" tanya Ferdi menggantikan Aiden yang tampak diam dan terus menatap gadis bermata merah dan hitam itu.


"Ohh Bunda Grace, beliau ada di dalam ayo tuan tuan silahkan masuk!" ajak gadis itu.


"Terimakasih," ucap Ferdi.


Aiden dan Ferdi dipersilahkan masuk ke dalam rumah itu, sedangkan gadis bernama Mikha itu memanggil ibu panti mereka ke lantai dua.


"Mata itu, itu dia, dia benar-benar menyembunyikan dirinya di balik sosok gemuknya itu, matanya bahkan tak bisa bohong kalau dia sedang takut dan gugup," batin Aiden terus menatap Mikha hingga gadis itu menghilang dari pandangannya.


"Jadi dia kakakku, arhhh kenapa aku baru tau sekarang, Mereka benar-benar jahat," geram Ferdi.


"Ssst jangan membicarakan itu disini, sabar Fer kita harus melihat reaksi nya dulu, dia tidak pintar menyembunyikan perasaannya, huhh... aku semakin merasa bersalah Fer," bisik Aiden.


Pluk


Ferdi menepuk bahu Aiden, dia tau Aiden bukan orang jahat tetapi mereka berdua sama sama di jebak dan sama sama merugikan kedua pihak.


"Yang penting kita sudah tau sekarang kalau kak Mikha ada disini, kakak tau yang terbaik bukan? " ucap Ferdi.


"Aku memang harus bertanggung jawab Fer, aku merusak seorang gadis, kalau pria mengalami hal seperti itu, tak akan ada bekasnya tapi kalau perempuan, entah akan sehancur apa perasaannya mengetahui kalua kehormatannya direnggut," ucap Aiden, pria yang biasanya ceplas-ceplos itu kini tampak kusut dan tidak bergairah.


"Apa yang akan kukatakan pada Mama nanti," ucapnya Lagi.

__ADS_1


"Jujur saja kak, Mama pasti tidak akan berpikir yang aneh tentang kakak, karena kami hakin kakak bukan orang seperti itu dan kakak adalah orang yang bertanggung jawab," jelas Ferdi.


"Terimakasih Fer, dan maaf telah merusak kakakmu," ucap Aiden.


"Justru aku bersyukur lewat kejadian ini aku tau kalau aku punya seorang kakak yang sangat unik dan cantik dan ternyata dia akan bersanding dengan seorang pria hebat seperti kak Aiden," ucap Ferdi lagi.


"Hmmm.. entah bagaimana responnya nanti," ucap Aiden.


"Tenang kak, semua akan berjalan lancar, eh.. itu mereka datang," ucap Ferdi sambil bangkit berdiri, Aiden ikut berdiri menyambut Bunda Grace pemilik sekaligus pengurus panti itu.


"Selamat malam Bu, maaf kami mengganggu malam malam seperti ini," ucap Ferdi.


"Perkenalkan saya Ferdi," ucap Ferdi sambil menyalam tangan Bunda Grace.


"Saya Aiden Miller Bu," ucap Aiden ikut menyalam tangan Bunda Grace.


"Ahh saya Grace Vernon, panggil saja Bunda Grace, silahkan duduk nak," ucap Bunda Grace sementara Mikha pergi ke belakang untuk menyiapkan minuman bagi tamu mereka.


"Ada apa gerangan tuan tuan sekalian datang ke tempat sederhana ini?" tanya Bunda Grace.


"Ahh kami hanya ingin melihat tempat ini Bun, sebenarnya kedatangan kami kesini, jika sekiranya Bunda Grace berkenan, kami ingin menjadi salah satu pihak yang mensponsori panti asuhan ini, itu pun jika Bunda berkenan," ucap Aiden menyatakan niatnya.


Bunda Grace terkejut, dia benar-benar tidak menyangka dengan apa yang disampaikan eh Aiden.


"Bisa jelaskan alasan kalian ingin mensponsori panti ini nak? " tanya Bunda Grace.


"Alasan terbesarnya karena panti ini telah menyelamatkan seorang anak perempuan yang sangat berharga, dan alasan lainnya memang niat kami ingin berbagi kepada anak anak di tempat ini," ucap Aiden.


"Anak perempuan?" ucap Bunda Grace.


"Ya, suatu saat Bunda akan tau siapa yang saya maksud," ucap Aiden.


"Jika memang niat kalian begitu, Bunda tidak keberatan, anak anak disini juga butuh dana , sudah lama sejak terakhir kali kami menerima bantuan dari orang lain," ucap Bunda Grace sambil menunduk sedih.


"Lalu selama ini bagaimana biaya operasional di panti ini Bun?" tanya Ferdi.


"Semua dari dompet Bunda Sendiri, dan dibantu oleh gadis tadi serta beberapa anak panti yang sudah dewasa," jelas Bunda Grace.


"Berapa jumlah anak anak di panti ini Bun?" tanya Ferdi lagi.


"Jumlahnya ada 46 orang, 20 laki laki dan 26 perempuan," ucap Bunda Grace.


"Silahkan diminum tuan-tuan," ucap Mikha sambil menghidangkan minuman dan beberapa cemilan di atas meja.


Aiden menatap gadis itu, tampak tangan Mikha bergetar, dia mengulum bibirnya menahan sesuatu dalam dirinya.


"Dia pria itu, arhhh... apa dia akan mengenaliku, akhhh... bagaimana kalau dia meminta ganti rugi padaku hiks hiks hiks, bagaimana ini, kalau dia menuntutku bagaimana nanti anak anak panti," batin Mikha yang meletakkan gelas dengan tangannya yang gemetaran.


Prang...


Gelas di tangan Mikha terjatuh dan pecah, air minumnya tumpah mengenai celana dan sepatu Aiden.


"Mikha ya ampun kamu kenapa begitu? apa yang kamu pikirkan nak!" ucap Bunda Grace.


.


.


.


like, vote dan komen 😉😉


maaf author lama up, lagi sakit 🙃🙃

__ADS_1


__ADS_2