Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
75


__ADS_3

Setelah kepergian ketiga orang itu,Gama dan Bima merasa sedikit lega, pasalnya mereka tidak suka berada satu ruangan dengan orang-orang jahat seperti mereka.


"Gama!" seru Bima.


"Ada apa?" tanya Gama.


"Luna dan Aiden benar-benar luar biasa hahahhahah, ahahahhaha, astaga kita tidak boleh menyatukan mereka berdua bisa hancur dunia persilatan karena tingkah mereka hahha," Bima kembali tertawa terbahak-bahak mengingat kejadian itu.


"Kau benar, mereka benar-benar aneh, sudahlah ayo pulang," ucap Gama.


"Rendy bagaimana dengan persiapan keberangkatanku?" tanya Gama pada Rendy yang berdiri tidak jauh dari mereka, sebenarnya dia sudah sangat penasaran seperti apa tingkah nyonya mudanya, bahkan mendengar celetukan Luna tadi membuat Rendy cekikikan di sudut ruangan itu.


Rendy berjalan menghampiri Gama dan Bima.


"Semuanya sudah beres tuan, tuan akan berangkat besok pagi!" ucap Rendy.


"Baguslah, besok kau ikut denganku, biar Mark yang mengambil alih disini," ucap Gama.


"Baik tuan!" jawab Rendy.


"Lalu Andin bagaimana Gam?" tanya Bima.


"Menurut laporan Mark Dia sudah diperbolehkan pulang, kalau pun belum kita akan merawatnya di rumah besar Park, dia akan lebih nyaman disana karena ada Luna, Anna dan Ferdi," jelas Gama.


"Hmmm baguslah, apa perlu aku mengirim anak buah untuk mengkawal kalian?" tanya Bima.


"Aku tau pasti dirimu Bim, kau hanya berbasa-basi padahal setiap hari kau selalu menyuruh anak buahmu mengawasi kami dari kejauhan!" ucap Gama.


Bima tersenyum tipis, ia menggaruk kepalanya bukan hal baru jika Gama mengetahui apa yang dia lakukan, tapi Bima tetaplah Bima, ia akan melindungi sahabat-sahabat yang sudah seperti keluarga baginya.


Bima mempunyai orang tua hanya saja mereka memilih tinggal di Swiss untuk menikmati masa tua mereka bersama cucu cucu mereka hasil pernikahan kakak perempuan Bima.


Sekarang yang menjadi keluarga Bima di Indonesia adalah Gama dan yang lainnya. Kehadiran Luna di tengah-tengah mereka juga menjadi salah satu penyemangat bagi Bima, pria itu sangat menginginkan seorang adik namun saat mamanya muda terjadi kecelakaan sehingga tidak memungkinkan untuk hamil lagi.


Oleh karena itu Bima juga menjadi seorang kakak yang protektif bagi Anna dan Luna.


Gama dan Bima kembali ke rumah besar Park. Tiba di rumah besar bak istana itu mereka di sambut dengan harum masakan dari dapur.


Makan malam hari ini cukup spesial karena di masak oleh Ken dan Luna. Gama dan Bima di sambut, dengan penuh perhatian Luna langsung mengambil alih kursi roda suaminya sambil membawanya ke kamar mereka.


"Ayo bersihkan dirimu dulu, kau pasti lelah, setelah itu kita makan malam, aku akan berangkat sendiri ke rumah sakit kau istirahatlah di rumah," ujar Luna sambil membantu suaminya membuka jas dan sepatu selebihnya dilakukan sendiri oleh pria itu.


"Aku akan ikut ke rumah sakit, ya sudah aku mandi dulu sayang!" ucap Gama sebelum akhirnya ia menutup pintu kamar mandi.


"Sa.. sayang? hehehe kenapa aku selalu jantungan kalau di panggil seperti itu, padahal kan tidak sekali ini saja dia memanggilku seperti itu," gumam Luna sambil menggulung gulung ujung bajunya dan tersipu malu.

__ADS_1


Setelah selesai, mereka berdua keluar kamar dan beranjak menuju ruang makan, di meja sudah tersedia berbagai hidangan yang sengaja di masak Luna mengingat suaminya akan berangkat besok.


Sejak hari dimana Luna mengecup suaminya, hubungan mereka semakin romantis bahkan Gama tidak lagi segan-segan memanggil Luna dengan kata "Sayang".


Mereka semua duduk di ruang makan. Terlihat suasana yang begitu meriah di sana tentu saja karena celetukan Luna dan Aiden, di tambah lagi dengan cerita Anna yang sangat menyukai sekolahnya karena ia punya banyak teman baru disana.


Mereka makan sambil bercanda ria, suasana rumah yang damai tidak seperti biasanya selalu sepi dan suram.


Para pelayan begitu bahagia dengan perubahan besar di rumah tuan mereka. Nyonya mereka sangat baik bahkan sudah seperti teman bagi mereka.


Gama sebelumnya sudah membicarakan tentang keberangkatannya pada Luna dan yang lain, sehingga ia bisa dengan tenang berangkat ke luar negeri untuk berobat sekaligus melakukan perjalanan bisnis.


"Jadi kau akan berangkat besok Gam? kalau begitu boleh dong Luna kami bawa jalan-jalan, aku mau menunjukkan perusahaanku padanya!" celetuk Aiden.


"Wah semoga kau lama disana Gam, jadi Luna bisa meluangkan waktunya sepenuhnya untuk kami hahahah," ucap Ken.


"Kau benar, kalau kau disini Luna hanya akan merawatmu terus dia sampai tidak ada waktu berkunjung ke rumah kakaknya," celetuk Aiden yang tanpa sadar membuat Gama terdiam.


Benar Kata Aiden selama ini Luna hanya mengurus segala keperluannya dan tidak pernah keluar rumah, kalaupun keluar ia hanya berkunjung ke rumah sakit atau ke toko penjual bahan aksesoris untuk barang jualannya.


Bahkan Gama tidak memberikan apa-apa sebagai hadiah pernikahan mereka, cincin pernikahan pun mereka tak punya tapi Luna tak pernah mengeluh.


Pasti lelah mengurus dirinya yang lumpuh, belum lagi harus mengurus segala keperluan Anna dan mengurusi toko onlinenya, selain itu fisik Luna juga tidak sempurna.


"Egois sekali kau Gama!" batin Gama di dalam hatinya. Ia menunduk sambil merenungkan semua itu, kenapa dia sampai tidak memperhatikan perasaan istrinya, ia terlalu senang karena bertemu adiknya, ia hanya memperhatikan perasaannya, tapi ia tidak memperhatikan bahkan menanyakan perasaan Luna pun ia tidak pernah.


"Gam!" panggil Luna yang melihat Gama menunduk dan tidak menanggapi panggilan mereka.


Luna mengerti apa yang terjadi, ia menatap Aiden seraya menyuruhnya berhenti bicara yang tidak-tidak.


Bima dengan cepat menyimpan mulut pria itu dengan paha ayam agar mulut embernya tidak menganga lagi.


"Hey, ada apa?" tanya Luna sambil memegang pundak pria itu.


Gama mengangkat kepalanya ia bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa.


"Ah...maaf aku mengantuk tadi hehehe, kalian bilang apa tadi?" kilah Gama sambil tertawa canggung.


"Ohh..tidak ada, sudah ayo selesaikan makananmu, setelah ini kau istirahatlah!" ucap Luna yang dianggukkan oleh Gama.


"Kakak baik-baik saja kan?apa ada masalah?" tanya Anna yang bingung dengan ekspresi kakaknya.


"Kakak baik-baik saja An sudah ayo makan," jawab Gama sambil tersenyum.


"Baiklah," jawab Anna.

__ADS_1


Ken, Bima dan Luna menatap tajam ke arah Aiden, yang di tatap hanya bersikap santai sambil melanjutkan makanannya, toh yang diucapkannya adalah fakta jadi buat apa merasa bersalah.


"Dasar otak dodol, awas kau nanti ku gantung Aiden!!" geram Ken sambil menatap Aiden yang asik dengan makanannya.


"kita butuh tukang jahit disini!" batin Bima.


"Dasar Kak Aiden, Gama kan jadi sedih, kenapa harus ngomong begitu sih!!" kesal Luna di dalam hati.


Mereka semua mengakhiri makan malam mereka. Luna mengantarkan Gama ke kamar mereka, dia akan berangkat ke rumah sakit bersama Ken, Aiden dan Bima.


"Kau istirahatlah, jangan banyak pikiran, lupakan kata-kata kak Aiden tadi, dia hanya asal bicara," ucap Luna yang duduk di samping Gama, ia baru saja membantu pria itu berbaring.


"Cukup istirahat yang banyak, besok kau akan berangkat aku tidak mau kau sakit, aku akan ke rumah sakit bersama kak Ken, Kak Aiden dan Kak Bima," ujar Luna sambil merapikan selimut suaminya.


"Maaf," ucap Gama pelan sambil menatap Wajah Luna.


"Sudah tidak apa-apa," ucap Luna sambil tersenyum ia menggenggam tangan suaminya.


"Lagi pula kalau aku lelah aku tidak akan ikut kesini untuk merawatmu kan? apa kau pernah mendengar aku mengeluh? aku nggak capek kok, malah aku senang bisa jadi istri yang berbakti pada suaminya, jika kau tak mau aku kelelahan maka cepatlah sembuh supaya kita bisa pergi kemana-mana dengan bebas, pasti akan menyenangkan," ujar Luna.


"Jadi sekarang suamiku yang tampan ini tidurlah dulu, kau sudah lelah sa..sayang," ucap Luna merasa gugup memanggil suaminya dengan kata-kata itu, lain halnya dengan Gama yang tersenyum bahagia mendengar panggilan sayang pertama kali dari istrinya.


"Terimakasih sayang, aku mencintaimu!" balas Gama sambil mengecup punggung tangan istrinya.


"Hmm... tidurlah," ucap Luna.


"Aku ikut saja boleh kan?" tanya Gama.


"Nggak usah kami cuma sebentar disana, lagian Andin kan sudah pulang besok," ucap Luna.


"Baik lah, kalian hati-hati di jalan,"ucap Gama.


" Aku pergi dulu ya,"


Cup


Luna mengecup pipi suaminya lalu beranjak meninggalkan pria itu disana.


Gama tersenyum menatap punggung istrinya, ia semakin merasa tidak berguna karena kakinya yang lumpuh itu.


"Kau harus sembuh Gama, demi Luna, dia butuh Gama yang normal," ucap Gama.


.


.

__ADS_1


.


like, vote dan komen 😊😉😉


__ADS_2