
"Awhhh...bantuin woi, tulang pan...tat..ku bengkok ini arhhhh sakit euiiii," teriak Aiden meringis kesakitan.
"Ck..ck..ck.. kebanyakan gaya sih," ledek Bima.
Aiden bangkit berdiri, jujur saja bokongnya saat ini terasa sangat kebas akibat membentur Lantai yang keras.
"Arhhhh....shhh.. ini juga karna kalian, haisshh pantatku jadi rata, harusnya tetep seksehh," kilah Aiden sambil mengusap bokongnya.
Mereka semua geleng-geleng kepala dengan tingkah Aiden yang terlalu narsis dan sudah menjadi makanan mereka setiap hari pastinya.
"Astaga kenapa otak kak Aiden sesableng ini sih?" ucap Luna sambil menatap Aiden dengan tatapan meledek.
"Sudah biarkan saja dia, ngomong-ngomong Gama dimana?" tanya Ken yang baru sadar kalau Gama tidak ada disana bersama mereka.
"Lah iya bener, Gama dimana Luna? Kok gak keliatan?" Tanya Bima yang juga baru nyariin Gama sekarang.
"Kalian berantem atau gimana?" Tanya Ken sambil menatap Luna dengan bingung.
Luna hanya diam saja tak merespon ucapan mereka, justru hal ini malah membuat mereka semua makin bingung.
"Luna, liatin Gama gih, siapa tau dia butuh bantuan kamu," ucap Ken.
"Malas, dia kan punya tangan sendiri, udah tunggu aja," ketus Luna yang masih kesal.
"Kenapa gitu Luna? Kalau dia kenapa gimana coba?" Ucap Ken.
"Ya kalo kenapa-kenapa palingan Luna ngomel iya kan Lun," sindir Aiden yang kini duduk di atas kursi tapi duduk dipinggiran sambil nahan sakit di bokongnya.
"Ck...kak Aiden diem deh," tukas Luna.
"Noh itu Gama datang, kamu bantu gih," ujar Ken saat melihat Gama sudah datang menghampiri mereka, tampak Gama kesulitan saat sesuatu terbelit di kursi rodanya, sampai ia menunduk tapi tidak bisa mengambil benda itu.
"Nggak mau biar dia datang kesini,"ketus Luna.
"Luna jangan begitu, dia suami kamu loh," ucap Bima menasehati Luna dengan pelan agar Luna melunakkan hatinya.
"Ck...bikin kesal aja, iya iya," jawab Luna dengan malas.
Luna mendekati Gama, ia melihat pria itu sedikit kesulitan dengan sebuah kain seperti sapu tangan yang entah bagaimana bisa terlilit di kursi rodanya.
"Ck...kalau gak bisa bilang dong," ucap Luna langsung mengambil benda yang terlilit di kursi roda itu.
"Ini kok bisa disini sih?" Tukas Luna sambil mengangkat sapu tangan berwarna hitam itu.
"Kamu masih marah?" Tanya Gama sambil meraih tangan Luna yang berjongkok di sampingnya.
"Tau ah," ketus Luna yang enggan menatap Gama, ia memasang wajah sebal karena di buat malu oleh suaminya.
"Luna, please maaf ya, aku cuma bercanda, sorry," pinta Gama sambil terus menatap wajah Luna.
"Hmmmm....hufffhhh....," Luna menghela nafas, ia menatap wajah Gama namun sesuatu membuatnya terkejut.
"Ya ampun ini kenapa? Kok lecet gini? Kamu jatuh? Aduh kejedot dimana tadi? Aduh sakit pasti, maaf ya...maaf gara gara aku marah kami jadi terluka, aduh maaf,"
Luna panik saat melihat luka lebam di dahi kanan Gama yang sudah berwarna biru keunguan dan ada sedikit lecet tapi sudah di beri salep.
"Luna kamu masih marah, please jawab dulu,"ujar Gama yang masih menunggu jawaban Luna.
"Aku nggak marah, cuma kesal aja, udah ayo sini aku obati pasti sakit banget, maaf ya, maaf banget aku cuma gugup sama malu aja tadi, harusnya aku bantuin kamu, maaf," Luna terus melontarkan kata-kata maaf pada Gama, ia merasa sangat bersalah karena meninggalkan suaminya sendiri di kamar dan tidak membantunya tadi.
"Iya iya, ini bukan salah kamu kok, tadi aku yang kurang hati-hati jadi kejedot ke meja dekat tempat tidur, udah di kasih salep kok, jangan khawatir ya," ucap Gama sambil tersenyum menatap wajah Luna yang sangat khawatir dengan dirinya.
__ADS_1
"Apa perlu kita bawa ke rumah sakit, kamu gak usah ya berangkat hari ini, tunggu sembuh aja aku khawatir," ujar Luna sambil bangkit berdiri, ia menyentuh kening Gama dengan pelan lalu melihatnya dengan teliti.
"Jangan khawatir cuma luka kecil kok, lagian keberangkatanku gak bisa di tunda, udah ayo sarapan, jam 9 aku udah berangkat soalnya," ucap Gama seraya menenangkan gadis cantik itu.
"Hufftt aku jadi khawatir kalau begini," ujar Luna.
"Tenang aja, aku kuat loh, lagian biar kamu mikirin aku tiap hari hehehe," balas Gama sambil tertawa kecil.
"Kamu ini ya," ucap Luna sambil mentoel hidung Gama.
"Woy gak lapar atau dimana nih, sarapannya udah mau beku nungguin adegan romantis kalian," teriak Aiden.
"Cacing babang Aiden udah meronta-ronta minta di kasih makan!!" Teriak Aiden lagi.
Pletak,
Kepala Aiden di getuk oleh Anna yang duduk di sampingnya.
"Ngaku ganteng tapi cacingan dasar kakak somplak!" Ledek Anna.
"Awuuuu sakit yayang Anna, kepala babang Aiden ini aset berharga, ini aset ketampanan internasional, kalau ada lecet sedikit pun akan turun harganya," ucap Aiden sambil mengelus kepala nya sendiri dengan pelan lalu memperbaiki tatanan rambutnya sambil memandang ke arah cermin yang selalu di bawanya ke mana-mana.
Pletak
Tak
Tuk
Bima, Anna, dan Ken menghajar Aiden hingga membuat penampilan pria itu acak-acakan.
"Arhhhh...kalian jahat, ck aku buatnya sampai lima jam kalian menghancurkannya dalam lima detik,jahat kalian!" rengek Aiden.
"Pffthh hahahah,kau lebih cocok seperti itu Aiden, rambut acak-acakan, pakaian sobek, celana sobek dan wajah belepotan, hhahhah," ledek Ken sambil tertawa terbahak-bahak.
"Kalian benar kak hahahah, ahh tunggu sebentar ya,"Anna mengeluarkan ponselnya lalu memotret Aiden dengan gaya acak-acakannya yang walau terlihat seperti orang setengah waras ia tetap keren.
"Ck..jangan motret waktu moncongku panjang dong entar gak unyu, begini aja," ujar Aiden yang sadar kamera dan malah bergaya bak model profesional, hahh Aiden kau sungguh meresahkan.
"Hiyaaa....hiyaaa ini dia model gelandangan kita Aiden wohooo!" Teriak Bima membuat suasana semakin heboh, Ken merotasikan kedua bola matanya, ia kembali ke tempat duduknya di samping Ferdi yang menatap mereka sambil tertawa cekikikan.
" Apa kalian akan terus bercanda seperti itu?" Suara Gama menghentikan aktivitas mereka tapi sedetik kemudian mereka kembali bertingkah seperti anak kecil di taman bermain.
"Astaga, sudah sudah nanti kita lanjutkan sesi foto-foto aku akan ikut nanti, ayo makan dulu!" Seru Luna .
"Siap nyonya Park!" Seru mereka sambil menghormat membuat Luna merona, lain halnya dengan Gama yang malah bermuka masam karena kata-katanya tidak di hiraukan.
Mereka menikmati makan pagi mereka yang sudah ya begitulah, tanpa ada perbincangan karena wajah Gama sepertinya siap menerkam siapa saja yang berani berbicara kecuali dua gadis kesayangannya tentunya.
Setelah selesai sarapan pagi, mereka semua bersiap dengan pakaian rapi menuju bandara untuk mengantarkan Gama yang akan terbang ke negeri ginseng kampung halaman keluarga Park.
Sesampainya di Bandara mereka sudah di sambut oleh Rendy dan beberapa pengawal yang akan ikut serta dengan mereka.
Gama akan naik pesawat pribadinya untuk menghindari media massa yang selalu ribut dan heboh.
"Sayang aku pergi dulu ya, kamu hati-hati disini, kalau ada apa-apa langsung hubungi aku, atau minta tolong sama mereka," ucap Gama sambil menggenggam tangan Luna.
Luna menunduk di hadapan Gama, sambil tersenyum ia berkata," tenang ya sayang, aku malah khawatir sama kamu,"
"Heheh, kita sama sama khawatir dong, uhhh manisnya," ucap Gama sambil mencubit gemas kedua pipi Luna.
"Buciiiiiinnnnnn," teriak mereka semua saat mendengar ucapan Gama.
__ADS_1
"Iri? bilang bos!" balas Gama yang membuat mereka semua tergelak.
Rendy membisikkan sesuatu yang menandakan bahwa perjalanan mereka sudah siap.
"Kalau begitu kami berangkat dulu, Ken jaga istri dan adikku, Anna kakak pergi dulu ya, kamu baik-baik di rumah, yang rajin belajarnya," ucap Gama.
"iya Kak," ucap Anna sambil memeluk kakaknya.
"Tenang aja bro, mereka bakal aman bareng kita iya kan?" ucap Aiden pada kedua sahabatnya.
"Iya lah, masa nggak hahahha," ucap Ken dan Bima.
"Ya ampun, sayang, Anna , aku jadi ragu meninggalkan kalian disini, kalian ikut aja ya," ujar Gama.
"Hahaha, gimana ya Sayang, kami mau bersenang senang soalnya hahaha," balas Luna sambil tertawa.
"Jadi kalian senang aku pergi?" ucap Gama menatap mereka satu persatu.
"Senang banget hahahahahahah," tawa mereka memenuhi tempat itu, bahkan para pengawal berusaha menahan tawa mereka di balik wajah ketat mereka itu.
"Ya udah, Rendy kita batalkan perjalanan!" ucap Gama yang merasa kecewa.
"Idih ngambek hahahha," mereka kembali meledek Gama, wajah Gama cemberut tapi dia tau ini semua hanya akal akalan mereka saja.
Luna mendekati Gama lalu memeluk Gama dengan erat.
"Kalau udah sampai langsung telepon ya sayang, makan obat yang teratur, nanti aku bakal sering telepon, semoga semuanya berjalan lancar," ucap Luna.
"Terimakasih sayang," ucap Gama , kini mereka saling bertatapan.
Cup
Gama mengecup kening Luna, ia tersenyum menatap wajah Luna.
"Aku akan merindukanmu," ucapnya.
Akhirnya rombongan Gama berangkat, mereka semua melambaikan tangan pada Gama.
"Sampai ketemu bro, entar kami kunjungi kesana ya hahahha," teriak Bima.
"Gam kalau ada cewek cantik kasih nomorku ya, biar Aiden si pria tampan gak jomblo terussss," celetuk Aiden yang langsung mendapat getukan dari Ken dan Bima.
"Hati-hati Gam!" teriak Ferdi
"Bye kaak!" ucap Anna.
Luna melambaikan tangannya sambil tersenyum.
"Semoga kamu cepat sembuh sayang, kami mengharapkan yang terbaik untukmu," batin Luna, hampir saja ia menangis untung masih bisa di tahan.
Ken dan Anna menggandeng tangan gadis itu untuk menguatkan dia.
Mereka tau walaupun Luna tersenyum, pikirannya tak pernah lepas dari suaminya.
.
.
.
like, vote dan komen 😊😉😊😊😉
__ADS_1
Doakan Gama sembuh ya