Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
104


__ADS_3

Gama masuk ke dalam kamarnya, ia menatap istrinya yang terlelap dengan tenang dan damai.


Sambil tersenyum lembut pria berdarah campuran itu merebahkan tubuhnya di samping Luna.


Ia tidur menyamping dan menatap Luna, satu tangannya dibuat menjadi tumpuan kepalanya, tangan yang lain mengelus lembut wajah polos gadis itu.


"Betapa beruntungnya aku mendapatkan seorang wanita sebaik dirimu sayang, kau membawa cahaya ke dalam relung jiwaku yang gelap," batin Gama.


"Aku akan membalas semua perbuatan mereka padamu, teganya mereka membuat malaikatku ini menderita," ucapnya lagi.


Bak kebiasaan, Tubuh Luna reflek mendekat ke arah Gama dan memeluk pria itu dengan erat seperti anak kecil yang memeluk ayahnya saat tidur.


Gama tersenyum, ia memperbaiki selimut istrinya dan membalas pelukan Luna dengan erat setelah mengecup kening, pipi dan bibir gadis itu, seperti sebuah kebiasaan yang tak pernah terlewatkan oleh Gama.


Mereka terlelap malam ini, malam yang begitu tenang dan damai. Seluruh makhluk ciptaan Tuhan tengah terlelap dalam mimpinya ditemani sinar sempurna dari sang rembulan.


Rasa lelah di pundak terasa berkurang setelah merebahkan diri di atas tumpukan kapas lembut yang memberikan kehangatan bagi jiwa yang sepi.


Pagi menyingsing, sang mentari kembali duduk di singgasana kebesarannya untuk menerangi sang bumi yang terlelap semalam penuh.


"Erghhh," Luna melenguh, ia semakin memperkuat pelukannya pada sang suami yang sejak subuh tadi sudah bangun dan asik memandangi dirinya, sekarang sudah pukul 6 pagi.


Perlahan Luna membuka matanya, ia mengerjapkan matanya menatap benda di depannya, tangannya meraba benda itu dan menusuk nusuk kan tangannya di sana.


"Keras sekali," pikirnya.


"Ekhmmm...." Gama berdeham.


Luna menengadah dan menatap Gama yang memeluknya dengan erat.


Seberkas senyuman menghiasi wajah cantik gadis itu saat menatap suaminya.


"Kupikir aku bermimpi, ternyata kau benar benar sudah pulang," ucapnya.


Gama tersenyum menatap Luna sambil mengelus wajah gadis itu.


Cup


"Selamat pagi sayang," ucapnya sambil mengecup bibir Luna.


Wajah Luna memerah apalagi telinganya, jantungnya selalu berdegup kencang setiap kali suaminya melakukan itu.


Gama semakin gemas dengan Luna.


"Kau menggemaskan sekali sayang," ucap Gama sebelum akhirnya dia mengungkung Luna dan mengecup bibir ranum itu berkali-kali, tak ada penolakan dari Luna.


Perlahan Luna dapat membalas ciuman Gama meski masih kaku. Ciuman panas di pagi hari, berawal dari ciuman di bibir, turun ke leher jenjang sang istri, tangan Gama tak lupa ikut beraksi.


Instingnya memimpinnya disini, tangannya mulai menelusuri tubuh Luna, perlahan dengan lembut dia meraba perut gadis itu dan perlahan mengelusnya.

__ADS_1


Gama terlarut dengan hasratnya yang mulai membuncah, ia memperlakukan Luna dengan sangat lembut.


Merasa ada yang masuk ke dalam bajunya, tubuh Luna menegang, jantungnya berpacu dengan kuat, dia sedikit gemetar.


Gama menyadari perubahan pada Luna, dia menghentikan tangannya dan memeluk Luna yang bergetar ketakutan dengan erat.


"Maaf, aku kelepasan, aku tak akan memaksamu," ucapnya menenangkan Luna.


Tentu saja gadis itu gugup dan ketakutan, ini pertama kali baginya ada seseorang selain dirinya yang menyentuh tubuhnya selembut itu.


Meski ada gelenyar aneh dan dia merasa menikmati tetapi dia juga ketakutan.


Luna terharu dengan suaminya yang sangat pengertian, gadis itu memang belum siap untuk ini.


"Maaf," ucap Luna merasa tidak enak padahal seharusnya dia memang memberikan hak itu pada suaminya, sudah hampir dua bulan mereka menikah tapi dia belum memberi dirinya seutuhnya pada sang suami.


Gama tersenyum lembut dan mengecup pucuk kepala istrinya.


"Aku yang minta maaf, aku hampir lepas kendali dan menyakitimu," ucap Gama.


Ia sangat sayang pada gadis itu, hatinya sudah sepenuhnya menjadi milik gadis cantik dalam pelukannya itu.


"Sayang apa kamu tidak bekerja?" Tanya Luna.


"Ahhh iya aku harus ke kantor, kau ikut kan?" Ucap Gama seraya menatap sang istri.


"Iya aku ikut, aku tak mau berpisah denganmu, aku masih merindukanmu," ujar Luna seperti anak kecil yang tidak mau kehilangan mainannya.


"Baiklah, ayo bersiaplah kita akan ke sekolah Anna dahulu, aku ingin melihat langsung bagaimana Anna di sekolah, kita akan mengantarnya ke sekolah," ucap Gama.


"Baik sayang, kau mandilah dahulu supaya aku mempersiapkan pakaianmu, aku harus mengecek Anna dahulu, dia sedikit teledor jangan sampai pekerjaan rumahnya ketinggalan nanti," ucap Luna seraya bangkit dari tempat tidurnya diikuti Gama.


Gama mengangguk,


Cup


"Aku mandi dulu," ucapnya setelah mengecup pipi Luna.


Wajah Luna memerah, jantungnya kembali berdegup kencang. Ia tersenyum dengan perlakuan suaminya yang sangat lembut, jika itu orang lain mungkin dia sudah dipaksa melakukan hubungan intim, tapi Gama memendam hasratnya demi melindungi sang istri.


Luna menangis haru, dia begitu bersyukur mendapatkan seorang suami yang pengertian.


"Aku mencintaimu sayang," batin Luna yang kini sedang memasang kaki palsunya.


Luna mengusap air matanya lalu berjalan menuju ruang pakaian mereka, dia memilih pakaian yang akan di kenakan oleh sang suami dan juga mengambil pakaian untuk dirinya sendiri.


Setelah itu dia meletakkan pakaian mereka di atas tempat tidur. Sementara Gama membersihkan diri, Luna keluar kamar menyempatkan diri memeriksa adik iparnya yang akan berangkat ke sekolah.


Kamar Anna terletak di lantai dua, Luna naik ke atas, ia melihat kamar kakak kakaknya masih tertutup.

__ADS_1


"Pagi Luna !" Sapa seseorang yang tak lain adalah Ken yang baru bangun pagi, tampak pria itu masih acak-acakan saat keluar kamar.


"Pfhhtt hahahah Kak kau berantakan sekali hahaha," ledek Luna.


Ken menggaruk garuk kepalanya dan mengacak acak rambutnya sendiri.


"Hoooaaammmm, kakak masih ngantuk, ya udah kakak ke dalam lagi ya," ucap Ken masuk ke dalam kamarnya tanpa menutup pintu.


Luna menggelengkan kepalanya, dia tidak melihat Ken, Aiden dan Bima pulang ke rumah besar Park semalam sebab ia sudah tidur terlebih dahulu.


Luna mendekati kamar Ken, ia melihat kamar itu cukup rapi hanya saja jaket dan tas kerja Ken berserakan di lantai.


Luna masuk perlahan lalu memungut barang barang milik kakaknya dan meletakkannya di atas nakas.


"Ck, sepertinya kau harus mencari pasangan kak Ken," ledek Luna sebelum keluar dari kamar.


Ken yang belum sepenuhnya terlelap tersenyum tipis mendengar ledekan adiknya itu.


"Pasangan ya? Apa ada yang mau sama pria seperti ku? Kalau pun ada dia harus yang seperti Luna," batin Ken sambil melanjutkan tidurnya.


Luna masuk ke dalam kamar Anna yang memang tidak dikunci. Dia melihat gadis remaja itu sedang bersolek dengan bedak tipis di wajahnya.


"Anna, kamu udah beres?" Tanya Luna sambil mengecek isi tas adiknya, hal yang selalu dia lakukan sambil melihat roster adiknya hari ini.


"Sudah kak, gimana aku udah cantik kan?" Tanya Anna sambil memeluk Luna dari belakang.


"Luna berbalik, dia menatap Anna sebentar, matanya tertuju pada satu kancing baju Anna yang terlupa.


"Harus rapi sayang, di luar sana banyak orang jahat, kamu harus pakai pakaian yang rapi dan menunjukkan kalau kamu seorang siswa teladan," ujar Luna sambil mengancingkan baju adiknya.


"Heheh, kelupaan tadi kak, terimakasih," ucap Anna sambil mengecup pipi Luna.


" Sudah sana kamu turun ke bawah, kakak dan kakakmu Gama akan mengantarmu ke sekolah," ucap Luna sambil memberikan ransel Anna.


"Ciee yang suaminya udah sehat, kapan nih aku punya ponakan," goda Anna yang membuat Luna merona, wajahnya memerah karena malu.


pletak


Luna menyentil kening adiknya,


" Apaan sih kamu jangan bikin kakak malu deh," ucap Luna sambil menutup wajahnya.


"hahahah, kau sangat lucu kak, pantas saj kak Gam sangat mencintaimu," ucap Anna tertawa terbahak-bahak.


.


.


.

__ADS_1


HAI READER AUTHOR MINTA DUKUNGAN LIKENYA DONG, BUAT SIAPA PUN YANG KETINGGALAN LIKE DI EPISODE SEBELUMNYA TOLONGIN AUTHOR DONG BUAT NGE-LIKE, AUTHOR BUTUH DUKUNGAN KALIAN 😭😭😭


PLEASE YA PLEASEEEE 🤗🤗🤗🤗🤗


__ADS_2