
"Jadi kamu gak ke perusahaan kakak Lun?" Tanya Ken dan Bima bersamaan.
"Heheh, ke tempat Kak Aiden dulu, lalu ke perusahaan kak Bima setelah itu ke perusahaan kak Ken sambil kita nanti Ziarah ke makam Mama!" Usul Luna.
"Setuju!" Ucap mereka berdua kompak.
"Hahaha, tadi aja berkelahi kayak kucing dan tikus, sekarang kompaknya seperti Upin dan Ipin hahaha," ledek Luna sambil tertawa cengengesan.
"Untuk kamu apa sih yang nggak" balas mereka berdua.
Mobil terus melaju menuju kediaman Ken.
Sementara itu di J.B group, Mark sedang marah besar kala tuan Jae Sung masuk sembarangan ke ruangan Presdir dan duduk di kursi milik Gama.
Brakkk
"Keluarkan pria bajingan itu dari sini!!" Titah Mark dengan suara yang meninggi, ia benar-benar kesal dengan tingkah tuan Jae Sung saat ini yang bertindak seolah-olah dia adalah pemilik perusahaan itu.
Para pengawal berjalan dengan cepat dan menarik paksa tuan Jae Sung yang duduk sembarangan di ruangan Gama tepat saat Mark sedang rapat dengan kolega bisnis mereka.
"Lepaskan aku bajingaaannn!! Kau bukan siapa siapa di perusahaan ini, kau Hanay anak yang di buang ibumu!!" Teriak tuan Jae Sung meronta-ronta saat ditarik paksa oleh pengawal perusahaan.
Mata Mark mengkilat, Mark berlari ke arah tuan Jae Sung dengan amarah menggebu-gebu dan....
Bruk
Bughhh
Bughhh
Mark menghajar pria tua itu dengan tiga pukulan telak di rahang perut dan lututnya.
Mark bukan tipe orang yang menjaga perasaan orang lain, jika seseorang itu salah baik itu keluarga tuannya sendiri ia tak segan-segan menghajar mereka kecuali perempuan.
Mark memang membenci wanita tapi dia tidak memukul wanita dengan tangan, hanya dengan tamparan mental, sungguh kejam kau Mark!
"Bawa pria bau tanah itu dari sini, sebelum benar-benar ku habisi dia," titah Mark.
"Eitss.....tunggu dulu!" Ucap Mark berhenti, matanya menelisik seluruh tubuh tuan Jae Sung.
"Mau apa dia?" Batin tuan Jae Sung sedikit bergetar ketakutan.
"Kau kemarilah!" Ucap Mark pada anak buahnya.
Mark membisikkan sesuatu pada pria itu dan dia mengangguk paham.
"Bawa dia!" Ucap Mark dengan seringai jahat di wajahnya.
"Apa dia sadar?" Batin tuan Jae Sung yang mulai ketakutan.
Tuan Jae Sung di seret paksa keluar dari perusahaan itu, saat di bawa ia berpapasan dengan Laura yang membawa berkas berkas menuju ruangan Gama.
"Astaga apa yang kalian lakukan pada Om ku!!" Pekik Laura terkejut saat melihat wajah tuan Jae Sung yang berantakan bahkan pria itu mengalami luka lebam di wajahnya.
"Maaf nona ini atas perintah tuan Mark!" Ucap pengawal ini mengabaikan Laura.
"Om, ada apa?" Ucap Laura.
"Kau tenang saja," ucap Tuan Jae Sung dengan senyun tipis di wajahnya, dan Laura menyadari itu.
__ADS_1
Laura berjalan menuju ruangan Gama dengan langkah santai karena ia tau apa yang di perbuat omnya itu di ruangan tadi, sebenarnya Laura yang memberi tahukan kalau Mark sedang rapat sehingga tuan Jae Sung bisa masuk bebas ke ruangan Gama.
Sementara itu di ruangan Gama tampak Mark mengunci pintu ruangan itu, ia tersenyum smirk menatap seluruh isi ruangan itu.
Mark menatap ponselnya, ia melihat apa yang di lakukan tuan Jae Sung di dalam ruangan itu melalui kamera CCTV tersembunyi di ruangan itu yang bahkan Gama tidak tau ada CCTV disana.
"Kena kau!" Seru Mark dengan senyuman devilnya.
Mark berdiri, dia mengambil sarung tangan karet yang terletak di dalam laci mejanya.
Kreeet
Kreeet
Mark memasang sarung tangan karet berwarna hitam di kedua tangannya.
Dengan Santai Mark berjalan mendekati meja Gama lalu duduk di kursi milik Gama, ia berputar dengan kursi itu sebentar. Tangannya turun ke bawah kursi, lalu ke sudut pegangan Kursi meraba dan mencari sesuatu di bawah sana.
Crekk
Krekk
Krekk
"Dapat!" Ucap Mark sambil mengangkat sebuah alat penyadap suara yang di pasang di bawah kursi Gama.
Mata Mark tertuju pada lukisan di belakang kursi itu. Ia berdiri lalu berjalan mendekati lukisan itu. Mark mengambil lukisan yang tampak normal itu.
Diangkatnya lukisan itu lalu di hempaskannya ke lantai.
Sraaakk
"Bodoh!" Gumam Mark sambil menginjak injak kamera kecil itu.
Kejadia beberapa menit lalu,
Tuan Jae Sung masuk ke dalam ruangan Gama dengan mengendap-endap. Dengan pelan pria itu menutup pintu, tampak ia membawa sebuah paper bag berwarna hitam.
Tuan Jae Sung duduk di kursi Presdir sambil menaikkan kedua kakinya di atas meja dan ia tersenyum licik.
"aku pasti akan mendapatkan perusahaan ini, sial sekali anak sialan itu tidak mati setahun lalu, andai itu terjadi aku sudah menjadi Presdir saat ini," gumam pria itu.
Lama dia duduk sambil tertawa dan tersenyum seperti orang gila hingga ia tersentak saat melihat jam dan dia baru ingat akan misi konyolnya yang berencana menjebak Gama dengan video yang akan mereka atur bersama Laura.
"Bodoh! cepat pasang semuanya, beberapa saat lagi aku akan duduk di singgasana itu!" gumam Jae Sung sambil menurunkan kakinya lalu mengeluarkan peralatannya.
Dengan cepat tuan Jae Sung menempelkan semua alat penyadapnya di kursi dan di lukisan di belakang meja Gama.
Tuan Jae Sung tersenyum puas, ia membuang paper bagnya ke dalam tong sampah lalu ia kembali duduk di kursi kebesaran Gama sebelum akhirnya Mark datang dan menyeretnya dengan paksa dari ruangan itu.
Mark tersenyum menyeringai saat ini, ia menatap komputer milik tuannya, ia meneliti komputer itu sepertinya Jae Sung juga mengambil data-data perusahaan dari komputer yang tidak di beri password itu.
"Kau berani bermain-main denganku pria tua bau tanah!" ucap Mark tersenyum menyeringai saat membuka file palsu di dalam komputer Gama yang sejak lama ia persiapkan disana jika ada yang membuka paksa komputer itu.
Ya komputer Gama sudah di otak Atik oleh Mark, sehingga ketika seseorang mencoba masuk ke dalam komputer itu, mereka akan membuka program rekayasa yang sudah diciptakan oleh Mark untuk mengecoh siapa pun yang berani bermain api dengan tuannya.
isi file itu tak kurang hanyalah file sampah yang di buat buat untuk menipu penipu.
Mark merogoh ponselnya, ia menelepon seseorang.
__ADS_1
"Ganti semua peralatan dalam ruangan Presdir, pastikan kalian bekerja tanpa diketahui siapa pun!" titah Mark langsung memutuskan panggilannya.
Sementara itu, Laura yang berjalan menuju ruangan Presdir merasa heran karena ia tidak diperbolehkan masuk kesana padahal sudah biasa ia keluar masuk ruangan itu untuk menyerahkan laporan.
Memang selama dua Minggu ini ia tidak melihat Gama setelah kejadian dia dipermalukan di pesta itu, bahkan teman-teman Gama tidak datang ke perusahaan seperti biasanya.
Yang terlihat hanya Mark si pria kaku yang selalu berada di ruangan itu.
"Aku hanya ingin menyerahkan laporan!" kesal Laura.
"Maaf nona, Anda tidak diijinkan masuk!" tegas penjaga itu.
"ck..kalua Gama datang ke kantor aku akan mengadukan kalian supaya kalian di pecat!!" kesal wanita itu.
"Coba saja kalau kau masih sayang dengan nyawamu!" bentak seseorang yang baru keluar dari ruangan Presdir.
Mark keluar dengan wajah dingin, ia langsung menutup ruangan itu. Ingin rasanya ia menghancurkan wanita di depannya itu sekarang.
"A...a.aku ha..hanya ingin menyerahkan laporan ini!" ucap Laura Gugup sambil menyerahkan laporannya.
"Ambilkan untukku, aku alergi dengan wanita "
"Aku alergi dengan wanita ja...Lang!" batin Mark.
Laura pergi dengan perasaan kesal, ia menggerutu sepanjang jalan.
"Sialan kau Mark, kalau aku sudah jadi nyonya di perusahaan ini aku akan memecatmu dahulu!!" gerutu Laura.
"buang dan segera sterilkan tanganmu, dia punya penyakit gatal!" ucap Mark sambil meninggalkan ruangan yang kini di jaga ketat oleh pengawal itu.
Sementara itu di sebuah rumah yang terbilang cukup mewah dan luas, tampak Ken, Bima dan Luna sudah tiba.
Mereka berjalan dengan antusias apalagi Luna, ia tampak sangat senang mendengar bahwa ia bisa bertemu dengan keluarga Pamannya yang baik hati dan juga sepupunya.
Pintu di buka, mereka masuk ke dalam rumah.
"Eh sudah datang ya!" Sapa seorang wanita paruh baya yang tampak cantik dan awet muda meski usianya hampir kepala lima.
"Maaf kami sedikit lama Bi Ayu," ucap Ken sambil menyalam Bibinya begitu pun dengan Luna dan Bima.
"Jadi ini Nana...." Bibi Ayu menatap mata Luna dengan berkaca-kaca, tanpa basa basi ia langsung memeluk gadis itu dengan erat.
"Ponakan Bibi yang cantik, hiks hiks hiks, " Bibi Ayu menangis, Luna membalas pelukan wanita yang tampak masih sama seperti terakhir kali ia mengingatnya.
"Bi Ayo ke dalam dulu,jangan nangis disini nanti banjir!" celetuk Bima yang juga akrab dengan keluarga Farenheit keluarga Paman Luna dan Ken.
"Kamu bisa aja, mana mungkin banjir dasar nakal!" ucap Bibi Ayu sambil mencubit pinggang Bima.
"awwhh sakit Bi hahahhaha," Bima tertawa.
"Ayo nak, kita masuk, Paman dan saudara sepupumu sudah menunggu!" ucap Bibi Ayu sambil merangkul Luna, Luna tersenyum hangat, ia seperti mendapat pelukan dari seorang ibu.
.
.
.
Like, vote dan komen 😊😊😉
__ADS_1