
Terdengar suara canda tawa dari kamar Gama dan Luna. Suasana tidak semenegangkan beberapa menit lalu.
Yang terdengar adalah cerita nostalgia mengenai masa lalu. Sudah cukup bagi mereka untuk hidup dengan kebencian dari masa lalu, sekarang adalah waktunya untuk melanjutkan masa depan.
"Jadi bagaimana Lex, kau mau kembali kesini atau bagaimana?" Tanya Gama.
"Ohhh ayolah kak Alex tetaplah tinggal disini, akan menyenangkan jika rumah besar yang seperti hotel ini ramai, kita semua kan keluarga," bujuk Luna dengan jurus memelasnya.
"Ku harap kau bisa mempertimbangkan hal ini Lex, kalau kau masih sayang dengan telingamu, jika kau menolak si cerewet ini akan merengek setiap hari membuat telinga kesakitan," ujar Aiden sambil melirik Luna yang menatap tajam padanya.
"Pfhhtt.....hahaha, jangan terang terangan kak Aiden, kak Luna akan memangsamu nanti hahah," kekeh Anna saat melihat singa betina yang sudah kelaparan siap untuk menikmati mangsanya.
"Ck....aku hanya ingin semuanya berkumpul seperti semula, pasti akan menyenangkan punya keluarga bahagia, berkumpul bersama, bercanda dan banyak hal bisa kita lakukan, tapi kalau kak Alex nggak mau ya nggak apa-apa, kalian memang tidak sayang padaku hiks hiks hiks," lirih Luna dengan tangisan buaya betinanya.
"Ya Tuhan gadis ini mulai lagi," batin Aiden.
"Dasar pembuat onar, untung sayang," batin Gama.
"Kak Luna emang terhebat heheheh," gumam Anna.
Alex menggaruk kepalanya frustasi memikirkan permintaan Luna yang memaksanya pindah ke rumah besar Park seperti yang lainnya yang juga tinggal di rumah yang sangat luas itu.
"Hiks....hiks...kak Alex Jahat, kau jahat kak, sudahlah terserah kalau tidak mau, aku akan mogok makan seperti dua hari yang lalu!" Ancam Luna yang la membuat Alex kelabakan sendiri.
Gama, Aiden dan Anna saling menatap, ingin rasanya mereka tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi panik Alex yang sangat mudah dikelabui oleh Luna.
"Astaga aku tidak tahan, aku ingin tertawa, lihat wajahnya itu, pfhttt," gumam Aiden sambil menahan tawanya dengan menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Hufftt Luna kau ini ada ada saja, baiklah baiklah aku akan tinggal disini selama kalian tidak keberatan, dan kau harus makan yang banyak," ucap Alex menyerah, dia lebih baik menuruti permintaan gadis itu daripada harus mendengar ancaman Luna yang pasti akan dilakukan gadis itu.
Beberapa hari yang lalu saat Luna meminta Alex untuk ikut pulang bersamanya ke rumah besar Park, dia sempat mogok makan saat Alex mengubah keputusannya lagi.
Gadis ini benar-benar membuat semua orang bertekuk lutut di hadapannya.
"Yassss, baiklah kalau begitu kita makan sebentar lagi, aku akan memasakkan makan malam spesial untuk kita semua, terimakasih kak Alex!" Seru Luna dengan wajah girang dan bahagia.
Mereka tergelak dengan tingkah jenaka gadis itu. Dia benar tidak bisa ditebak.
"Nah kalian mengobrol lah disini, aku dan Anna akan memasak makan malam dulu, jika sudah selesai aku akan memanggil kalian," ucap Luna dengan senyuman yang tidak hilang dari wajah cantiknya.
"Baiklah nyonya Park cerewet!" Ucap mereka yang membuat Luna mencebikkan bibirnya.
Luna menggandeng tangan Anna keluar dari kamar itu meninggalkan ketiga pria itu disana untuk saling berbincang.
Di dalam kamar terjadi keheningan namun hanya sebentar apalagi dengan Aiden yang benar benar sebelas dua belas dengan Luna hebohnya.
"Alex bagaimana kau bisa mengelabui kami selama ini, kau bahkan meretas sistem pertahanan markas besar, kau benar-benar gila!" Ucap Aiden
Gama menatap Alex biasa saja sebab ia sudah tau kehebatan temannya itu.
"Itu sebuah bakat alami iya kan Gam!" Ucap Alex yang dianggukkan oleh Gama.
"Dia benar den, seseorang dengan mulut ceplas-ceplos sepertimu tidak akan bisa melakukan hal seperti itu," ucap Gama yang malah ikut meledek Aiden.
"Ck...ck...ck..inilah jadinya kalau pantat ayam dan mulut beo bergabung, jadi rriiiiibuuttt.....hoooooohhhh dasar somplak!!" Ketus Aiden dengan wajah kesal, dia menggoyangkan kursinya seperti anak kecil dan.......
__ADS_1
Brukk
"Arghhhhhh tulang pantatku bengkok lagi, arhhhh, pantatku tepos tiiidakkkkk," teriak Aiden meringis kesakitan saat ia terjatuh dari kursi karena duduk hanya di ujung kursinya saja sambil menggoyang- goyang kursi itu.
"Pffthh hahahahha, rasakan dasar dodol !" Ledek Alex dan Gama.
"Arghhhhhh.....lihat kalian akan kuberitahu pada Luna, huhh....arhhhh sshhhh, pantatku sakit huhuhu, maafkan aku calon istri masa depan, kau akan mendapatkan suami yang tepos," celetuk Aiden sambil menggosok godok bokongnya yang terasa sakit dan kebas.
Blammm
Pintu di tutup dengan kasar, Aiden keluar dengan wajah kesal padahal dia sendiri yang salah, dasar Aiden!
Gama dan Alex terdiam, mereka tersenyum tipis menatap Aiden yang sudah keluar kamar.
"Dimana wanita itu sekarang Lex?" Tanya Gama tiba-tiba.
"Dia tinggal di Finlandia Gam, dia tak akan pernah kembali ke Indonesia, dia sudah berjanji tepat setelah dia mengalami keguguran, dia mengandung anak tuan Jae Sung waktu itu," jelas Alex.
"Kasihan juga dia dijadikan kambing hitam oleh pria tua itu, apa dia hidup dengan layak disana?" Tanya Gama.
"Dia hidup dengan layak, dan perlahan bisa melupakan traumanya terhadap pria tua itu, apalagi kehilangan anak dalam kandungannya membuat dia begitu terpukul, terkadang dia akan bertingkah seperti orang gila sampai aku harus mengikatnya agar dia tidak lari dan membahayakan orang sekitar," jelas Alex.
Gama hanya mendesah pelan, kasihan juga wanita itu pikirnya.
"Kuharap dia mendapat setidaknya sedikit kebahagiaan dalam hidupnya," ucap Gama.
"Kau benar," jawab Alex.
"Ngomong-ngomong kau sangat beruntung mendapatkan gadis cerewet itu, dia benar-benar membuat suasana berwarna!" Celetuk Alex, Gama mendengar dengan serius.
"Tapi kedatangan gadis cerewet itu mengubah suasana di rumah ini menjadi benar-benar menyenangkan, rasanya seperti kembali ke rumah, sangat hangat," ucap Alex.
"Kau benar, dia membuat rumah ini menjadi rumah yang sesungguhnya," tambah Gama.
"Terimakasih sudah menjaganya Lex, tanpamu aku tidak tau harus mencari gadis itu kemana, mungkin aku akan mati jika tidak bisa menemukan dia," ucap Gama.
"Kau pasti sangat mencintainya kan," ucap Alex .
"Ya aku jatuh cinta padanya, dia sudah membawa separuh jiwaku, tanpanya aku hampa," ucap Gama.
"Aku tau, kau tampak seperti orang gila selama lima hari ini hahhaah, astaga kalau mengingat celotehan Luna tentang dirimu mungkin aku tidak akan tidur semalaman," tawa Alex.
"Maksudmu?" Tanya Gama sambil menyerngitkan keningnya.
"Setiap hari Luna mengawasi kalian semua, aku melihat raut khawatir di mata gadis itu, hanya saja dia banyak menutupi dengan celotehan dan tawanya itu," jelas Alex.
"Dia tidak akan tidur tenang jika belum memastikan dirimu, Anna, dan gadis yang bernama Andin itu tidur, dia akan terus menatap layar komputer," ujar Alex.
"Apa itu benar?" Tanya Gama.
"Tentu saja, dia sangat menyayangi keluarganya, itu yang membuatku tergerak untuk mengikuti kemauannya bertemu denganmu," jelas Alex.
"Dia benar-benar gadis yang baik," ucap Gama.
Sementara mereka berbincang-bincang tentang hidup mereka selama setahun ini, di dapur tampak terjadi kekacauan besar.
__ADS_1
"Sudah ku bilang jangan mendekat kesini, aku tidak suka melihatmu ada disini, aku kan hanya orang baru disini, kau tak usah ikut campur urusan orang baru ini!" Kesal Luna sambil memotong motong sayuran di depannya.
" Luna, maafkan kakak, kakaktidak ber...."
Takk
Suara pisau Luna terdengar nyaring membuat mereka yang melihat kemarahan gadis itu menelan Saliva mereka dengan kasar.
"Mampus, Luna nenek sihir mengamuk!" Batin Andin yang tengah membersihkan beras.
"Sana pergi jangan dekat-dekat dengan ku, kak Bima juga sana gak usah dekat-dekat, kalian tidka punya hati!" Ketus Luna, dia benar-benar kesal mengingat kejadian tadi.
" Kak Ken, Kak Bima, sepertinya kalian benar-benar harus pergi dari sini sebelum pisau itu yang melayang ke arah kalian, dia wanita yang nekat," bujuk Ferdi.
"Huhhffhhh...." Ken dan Bima menyesali ucapan mereka, tapi yang paling menyesal disini adalah Ken, dia sudah membuat gadis itu benar-benar kecewa.
Ken dan Bima keluar dari dapur dengan wajah Lesu dan tidak bersemangat. Aiden yang menggosok pantatnya yang masih berdenyut-denyut menatap heran pada kedua pria yang tidak menghiraukan sapaannya.
Sambil menggerutu Aiden masuk ke dalam dapur.
"Arhhhh.....sial sekali kenapa aku harus jatuh tadi.... shhhh....."
Brukk
Brakk
Prangg
"Arghhhhh wajah tampan ku, kaaak Reeeennnnndyyyy.....tiidaaaaakkk lagi arghhhh, semua asetku hancur, masa depan model internasional tidak ada lagi arhhhhhhhh," teriak Aiden saat wajahnya terkena semburan tepung dari wadah tepung yang entah bagaimana caranya terlempar dari tangan Rendy.
Aiden meringsut ke lantai, dia duduk merengek disana.
Plukk
"Ehhh aduh upss maaf kak, gak sengaja," ucap Anna yang tanpa sengaja tersenggol tangan Aiden saat berjalan sampai membuat satu telur dari tangannya terjatuh tepat di kepala Aiden.
"Arhhhhh tiiiiidaaakkkk, " Aiden merana, hari ini hari sial baginya.
"Pfhhtt hahhahahahaha," merkea semua tanpa terkecuali tertawa terbahak-bahak melihat Aiden yang menangis dan merengek seperti anak kecil, sungguh suasana yang sangat menyenangkan.
Ken dan Bima harus gigit jari melihat kebersamaan mereka.
"Ken," ucap Bima.
"Bim," balas Ken.
Mereka berpelukan meratapi nasib mereka diabaikan oleh Luna.
.
.
.
__ADS_1
jangan lupa like, vote dan komentarnya ya 😉😉😊