
Luna dan yang lainnya kini berada di ruangan perawatan nenek Rose. Ruangan perawatan yang sudah ditingkatkan menjadi ruang VIP tentu saja dilakukan secara diam diam oleh Ken.
Saat tau neneknya dipindahkan, Rose sempat kebingungan dengan siapa gerangan yang memindahkan sang nenek ke kamar perawatan VIP belum lagi harus memikirkan biayanya.
Namun saat bertanya pada perawat, mereka mengatakan bahwa biaya perawatan dan biaya kamar semuanya gratis khusus untuk Rose, alasannya ada orang berbaik hati yang tidak jadi di rawat di rumah sakit itu sehingga memberikan kamar itu pada nenek Rose.
Luna melihat kamar VIP itu, dia tersenyum jahil , ditatapnya kakak laki-laki. Merasa di tatap intens oleh Luna, Ken jadi salah tingkah.
"Ekhmm....cie kakak mainnya cepat banget ya, keren," bisik Luna pada Ken.
"Ma..main apa na? Ekhmm...jangan mengada ada kamu," kilah Ken yang memalingkan pandangannya ke arah lain.
"Aku tau kalau kakak yang ganti kamar nenek, iya kan? Ciee ada yang jatuh cinta hihihi," bisik Luna yang membuat Ken terbelalak.
"Aku tidak...Ekhmm" Ken berhenti saat sadar mereka semua menatap ke arahnya.
"Aku perlu bicara dengan Luna sebentar, kalian berpamitan lah dulu," ucap Ken sambil menarik tangan Luna.
Rose, Alex ,Gama dan Mark menatap bingung pada kakak beradik itu.
Ken mengajak adiknya bicara di luar, Luna terkikik geli saat melihat wajah panik kakaknya saat ketahuan kalau dia jatuh cinta pada Rose.
"Kak pelan pelan jalannya, nanti keponakan keponakanmu kelelahan," ucap Luna pada Ken yang menarik tangannya dan membawa dia menuju kursi panjang di lorong ruangan itu.
Deg
"Keponakan? Keponakan yang mana Luna? Kamu ini ada ada saja, oh iya dan untuk yang tadi, kamu tau darimana kalau kakak yang pindahin?" Ucap Ken dengan wajah kesal, mereka kini duduk di kursi panjang itu.
"Heheheh, Luna mah bisa tau semuanya kakakku sayang, beberapa hari yang lalu, sebenarnya Luna berniat memindahkan nenek kak Rose ke ruang VIP tapi perawat bilang kalau nenek sudah di pindahkan atas permintaan orang baik hati," jelas Luna.
"Dan Luna tau kalau itu perbuatan kakak, hehehe" jawab Luna terkekeh.
"Ck..kau ini, tolong jangan bilang di depan Rose dong, kakak kan jadi malu," gerutu Ken sambil memegang lengan Luna.
"Kak, pelan pelan megang lengan Luna, nanti ponakan kakak sakit," ucap Luna.
"Ponakan apa sih maksudnya Luna? Ponakan yang mana coba ...eh.. tunggu dulu....apa kamu..." Ken tersadar dengan maksud Luna.
Luna mengangguk pelan dengan senyuman lembut sambil mengelus perutnya yang masih rata.
Ken melepaskan tangannya dari lengan Luna, dia terbelalak, saking terkejutnya Ken sampai terjungkal ke lantai.
Brukk
"Ka..kamu ha..hamil?" Ucap Ken tak menyangka. Lagi lagi Luna mengangguk pelan sambil menatap kakaknya yang duduk di atas lantai dengan wajah kaget.
"Arhh...hahahhaha YESS aku jadi pa...hemphh," Luna langsung menutup mulut Ken.
"Sstttt.....jangan bilang-bilang dulu kak, Kita akan kasih kejutan buat Gama, jangan ribut nanti dia tau," ucap Luna.
Ken mengangguk dengan mata berbinar binar, dia segera bangkit dan duduk disamping Luna. Ken masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar, dia malah menangis haru di depan Luna.
"Loh kak kenapa nangis ihk?" Tanya Luna sambil mengusap Air mata kakaknya.
"Arhhh...a.. adikku sudah dewasa, dia sekarang akan jadi seorang Ibu, selamat ya sayang, kakak bahagia untukmu, kamu jaga dia dengan baik," ucap Ken sambil memeluk Luna dengan erat.
__ADS_1
Luna terharu, dia tersenyum sambil membalas pelukan kakaknya.
"Tapi kak disini bukan 'dia' tapi 'mereka' aku hambil bayi kembar," ucap Luna saat memeluk kakaknya.
Ken terkejut sekaligus senang, dia menatap adiknya lalu kembali memeluk nya.
"Arhh... selamat sayang, selamat sekali lagi, jaga ponakan ponakanku, aku senang sekali," seru Ken .
"Eghh...pelan pelan meluknya Kaka, Luna sesak," ucap Luna saat merasa Ken memeluknya terlalu erat.
"Ehh i..iya maaf ya," ucap Ken sambil melepaskan pelukannya. Dia membelai kepala adiknya, Ken benar benar tidak bisa berkata apa apa selain ucapan syukur karena berkat yang tak ternilai ini.
"Sehat sehat ya sayang," ucap Ken.
"Terimakasih kasih kak," balas Luna.
"Emmm....kak bisa tidak bantu aku melakukan sesuatu?" Tanya Luna.
"Melakukan apa? Jangan melakukan hal berbahaya, kamu sedang hamil kakak gak mau kamu kenapa kenapa," ucap Ken yang langsung berubah menjadi kakak yang protektif membuat Luna tersenyum.
"Makanya Luna minta bantuan kakak, emmm...dan kak Rose juga udah tau kalau Luna hamil," ucap nya lagi.
"Lalu apa yang bisa kakak bantu?" Tanya Ken.
"Besok kan ulang tahun Gama, Luna mau nyiapin acara kecil kecilan buat Gama, jadi bisa tidak kakak dan Kak Rose yang menyiapkan semua dekorasi nya? " Tanya Luna dengan penuh harap.
"Kenapa harus dengan Rose?" Tanya Ken tiba tiba salah tingkah
"Aku tau keinginanmu kak, berusahalah mendapatkan hati kak Rose," ucap Luna dengan senyum jahilnya.
"Jiah hahahahah, Kak Ken jadi bucin ya hahaha, padahal dulu aja kak Ken masih jadi kulkas pintu lima, sekarang esnya udah cair hahahhahaha," ledek Luna.
"Hehehe, kakak juga baru sadar na, kalau debaran jantung ini, rasa gugup, salah tingkah dan rasa bahagia ketika dekat Rose dinamakan cinta, maka kakak benar-benar sudah jatuh cihta pada Rose," ujar Ken sambil menyandarkan kepalanya ke dinding.
Luna tersenyum, "Berjuanglah kak, dan aku tau kalau kak Rose juga suka sama kakak, hanya saja dia merasa tidak pantas," ucap Luna.
Ken menatap Luna dengan wajah berbinar-binar.
"Apa? Ja...jadi dia juga suka?" Ucap Ken.
Luna mengangguk sambil tersenyum.
"Terimakasih Luna!!" Seru Ken sambil memeluk Luna seperti anak kecil yang mendapat hadiah di hari natal.
"Dasar bucin, kurasa perjuangan kakak akan sedikit sulit," ucap Luna.
"Karena ada seorang pria yang dekat dengan kak Rose, aku tidak tau siapa dia," lanjut Luna. Ken terdiam, sepertinya perjuangannya akan sulit pikirnya.
"Hahahah, lihatlah wajahnya dia langsung diam saat ku bilang ada pria yang dekat dengan kak Rose, tanpa Kakak berjuang pun kak Rose pasti akan menjadi milik kakak," batin Luna tertawa jahil melihat wajah sang kakak.
"Baiklah kakak akan berjuang," ucap Ken.
"Jadi bagaimana rencana ulang tahun Gama?" Tanya Ken.
"Kita akan merayakan ulangtahun Gama di luar, tapi Luna gak tau milih tempatnya kak," ucap Luna.
__ADS_1
"Masalah itu biar kakak yang urus, Kamu tenang saja," ucap Ken.
"Baiklah kak, nanti Luna beritahukan pada Kak Rose, kalian berdua yang urus, nanti Luna minta bantuan sama Andin dan Ferdi juga ," ucap Luna.
"Ya sudah, ayo cepat supaya semuanya berjalan lancar," ucap Ken.
"Kakak bertaruh pasti Gama akan pingsan atau berteriak histeris besok hahahahah, aku sudah tak sabar menantikan hal itu hahahah," tawa Ken membayangkan wajah Gama.
"Baiklah ayo kak, kita cepat-cepat pamit, ah dan lagi beritahu semua orang jangan ada yang berbicara pada Gama mulai hari ini sampai besok, jika dia bertanya katakan saja kalau dia melakukan kesalahan besar," ucap Luna.
"Baiklah ayo," ucap Ken sambil merangkul, Luna mereka berjalan perlahan tidak secepat tadi.
"Kalau ada yang kamu perlukan beri tahukan pada kakak ya Na," ucap Ken.
Mereka pun masuk ke ruang perawatan nenek Rose.
"Ingat kak berjuang, kak Rose ada yang dekati, kakak punya saingan," bisik Luna.
"Sssttt....jangan bilang-bilang, kakak malu," balas Ken sambil berbisik.
Mereka masuk dengan berbisik-bisik membuat yang lain kembali menatap bingung pada kakak beradik itu.
"Sayang ada apa? Kenapa kalian lama?" Tanya Gama yang langsung menghampiri Luna dan hendak menggenggam tangan istrinya, namun dengan gerakan secepat kilat Luna memilih berdiri di antara Mark dan Alex sambil menggandeng tangan kedua pria itu.
"Apa kalian sudah berpamitan kak?" Tanya Luna pada Rose yang duduk di samping brankar neneknya.
"Sudah," ucap Rose.
"Halo nenek," sapa Luna sambil mendekati si nenek yang terbaring di atas brankar.
"Halo cantik, nama kamu siapa cantik sekali kamu, mau berteman denganku?" Racau si nenek yang merasa kalau dirinya adalah gadis muda seumuran Luna.
"Halo wanita cantik, nama ku Luna, kita boleh berteman," balas Luna sambil tersenyum manis dan duduk di samping si nenek sambil menggenggam tangan nenek.
"Cantik sekali kamu, oh iya ini juga temanku, mamanya Oze, Oze kenalin ini Luna dia teman kita," ucap si nenek pada Rose yang menatap sedih pada neneknya.
"Halo kak Oze," ucap Luna bersandiwara sambil memegang tangan Rose agar gadis itu kuat.
"Ikuti saja permainan nenek kak," bisik Luna.
Rose mengangguk, dia membalas si nenek, akhirnya mereka berbincang-bincang disana. Gama terus menatap istrinya dengan perasaan kacau, dia benar-benar bingung dengan sikap istrinya.
"Ken ada apa dengan istriku? Kenapa dia mendiamkan aku?" Tanya Gama.
"Pikirkan kesalahanmu, kau membuat adikku kecewa," ucap Ken meninggalkan Gama di sudut ruangan itu.
Gama terkejut mendengar ucapan Ken, kesalahan apa yang dia lakukan pikirnya.
.
.
.
Like , vote dan komen 😉😉😊😊
__ADS_1